Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 19


__ADS_3

"Suara apa itu, ma?" tanya Renata yang terkejut.


"Sepertinya suara kaca pecah! Lebih baik kita periksa dulu," saran Retno mengajak putrinya.


Mita tersenyum dan segera melancarkan tugas pertamanya dari Bagas. Ini kesempatan baginya dan Bagas akan marah jika sampai dia gagal.


Suara pecahan kaca barusan adalah ulah anak buah Bagas yang diperintahkannya untuk mengalihkan perhatian Renata dan Retno.


Tanpa membuang-buang waktu, Mita telah menukar ramuan dalam bentuk sama persis di tangannya dengan ramuan yang berada di atas meja makan.


Setelah itu dia pura-pura terkejut dan menghampiri dua orang wanita yang saat ini menjadi majikannya.


"Arrrrrgh!!" terdengar teriakan dua wanita di lantai atas. Mira tidak terkejut karena dia sebelumnya sudah di wanti-wanti oleh Bagas. Semua teror yang akan ditemuinya di rumah Davin tidak lain adalah ulah Bagas.


Davin yang baru selesai mandi dan baru berganti pakaian, segera menuju ke sumber suara. Suara kaca pecah tadi, tak lain adalah kaca jendela di kamar Retno.


"Izrail sebentar lagi akan mencabut nyawa kalian berdua, Retno dan Renata."


Begitulah isi teror kali ini yang di kirim bagas. Kali ini bagas meneror dengan batu yang di balut kain berdarah dan terselip selembar kertas yang baru saja Retno baca.


"Ma, ini gila. Peneror menginginkan kematian kita, ma!!" jerit Renata ketakutan.


Davin masuk ke kamar Retno, pandangannya tertuju pada kaca jendela yang telah pecah dan batu yang di balut kain berdarah.


"Ini bukan kali pertama ada teror masuk di rumah ini. Sebenarnya apakah kalian punya musuh, hah? Di kertas ini hanya tertulis nama kalian berdua," tanya Davin.


"Apa-apaan ini?" tanyanya merebut secarik kertas di tangan Retno, lalu segera membacanya. Davin langsung merobek kertas itu hingga hancur.


Sampai sekarang, dia belum mengetahui pelaku yang meneror di rumahnya. Mita masuk dan segera membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai.


"Pak Bagas bertindak sangat cepat di luar yang ku kira," gumam Mita sambil melirik wajah kebingungan orang-orang yang menjadi majikan sementaranya.

__ADS_1


Davin memeluk Renata yang nampak sangat ketakutan. Retno mengambilkan segelas air putih untuk putrinya, sekaligus minuman untuk Davin yang belum sempat di campur dengan ramuan tadi.


"Minumlah," perintah Retno pada putrinya. Dia juga menyodorkan minuman pada Davin. Davin meletakan minuman itu di nakas. Tetapi Retno memaksanya segera meminumnya.


"Minum juga punyamu, Davin. Sekalian mama bawa kembali gelasnya ke dapur," perintah Retno, mendapat lirikan Renata.


Retno memberi kode pada putrinya, bahwa dia telah mencampur air yang diteguk Davin dengan ramuan miliknya. Renata tersenyum, matanya memperhatikan Davin yang sedang meneguk air putih di dalam gelas hingga tandas.


"Terimakasih, ma!!" ucap Davin dan Renata bersamaan.


Retno tersenyum. "Kalian istirahatlah, tolong jaga Renata, Vin," pinta Retno.


Davin mengangguk dan memeluk Renata kemudian. "Mama tidur di mana? Kamar mama, besok Davin akan menyuruh seseorang untuk membenahi kaca jendelanya," ucapnya.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mama. Sementara mama akan tidur di kamar tamu malam ini. Kalian istirahatlah, kasian Renata ketakutan," ucap Retno berlalu keluar meninggalkan Davin dan Renata di kamar.


Renata memeluk erat tubuh Davin yang telah segar. Dia akan berpura-pura meminta maaf pada Davin soal tadi.


Lain halnya dengan Davin yang merasa bersalah. Karena sebenarnya tuduhan Renata padanya memang benar adanya. Davin berselingkuh dengan sekretarisnya. Bahkan saat ini, bayangan Vey masih melekat di pikirannya. Apa lagi setelah melakukan hal gila di apartemen Vey tadi sore.


"Ya, lupakan saja soal tadi dan istirahatlah," ucap Davin kemudian.


Renata memejamkan matanya di dalam pelukan Davin. Sedangkan Davin masih memikirkan soal Vey. Dia merasa bersalah telah bersikap kasar pada Vey.


Dia seperti pria bejat yang hanya memanfaatkan tubuh Vey, demi nafsu liarnya. Entah bagaimana jadinya bila dia bertemu Vey besok. Apakah dia harus meminta maaf pada Vey, atau bersikap seolah tidak ada masalah.


Mita sedang chatingan dengan Bagas. Bagas melarang Mita menelponnya, jika posisinya berada di rumah Davin. Hal itu untuk menghindari terbongkarnya misi mereka.


"Kerja yang bagus, Mita. Kamu bekerja sangat baik di hari pertamamu. Maka sebagai imbalan, besok saya akan menyuruh seseorang agar segera membawa ayahmu berobat ke singapura."


Mita tersenyum sekaligus meneteskan air matanya. Tugas pertamanya mendapat pujian dari Bagas. Serta Bagas akan membawa ayahnya berobat ke singapura besok.

__ADS_1


"Andai saja aku bisa ikut kesana dan menemanimu, ayah. Tapi aku harus bekerja demi kesembuhanmu, ayah. Mita hanya bisa mendoakan dari sini untukmu, semoga ayah bisa sembuh. Semoga pencangkokan jantung ayah bisa berhasil," ucap Mita meneteskan air matanya.


Dia tidak menyesali jalan yang dia pilih untuk menjadi budak Bagas. Meskipun selamanya dia akan menjadi budak Bagas, Mita ikhlas. Semua ini dia lakukan demi keselamatan ayahnya. Karena hanya sosok ayah yang dia miliki di dunia ini.


Setidaknya dia tidak jadi menjual kehormatannya pada lelaki hidung belang di luar sana. Mita masih diberi kesempatan menjaga bagian berharga pada dirinya sebagai seorang gadis.


Mita memandang poto tampan Bagas, yang di jadikan photo profil whatsappnya. Diakuinya Bagas sangat tampan, melebihi lelaki yang pernah dia lihat. Tapi sayang, ketampanan Bagas tertutup oleh sikap dingin dan angkuhnya.


Dia juga melihat foto Vey, yang sengaja dikirim Bagas untuk di lihatnya. Waja Bagas dan Vey memiliki sedikit kesamaan. Vey lebih mirip dengan Bagus, lelaki tua yang sempat Mita lihat di kamarnya.


"Mbak Vey sangat cantik. Orang kaya memang kebanyakan cantik-cantik dan tampan-tampan. Seandainya aku terlahir kaya, apa aku akan secantik mbak Vey?" gumam Mita, mengucap sesuatu hal yang konyol.


Sebelum tidur, Mita akan menemui Bagus di kamarnya. Sesuai perintah bagas, dia akan rutin memberi Bagus obat, untuk memulihkan kesehatannya.


"Pak Bagus. Ini saya Mita, pak," bisik Mita membangunkan Bagus yang telah tidur.


Bagus membuka matanya terkejut. Pasalnya dia belum pernah melihat Mita. Mita faham keterkejutan Bagus, dia pun langsung memperkenalkan dirinya pada Bagus.


"Pak Bagus tidak perlu takut. Saya Mita, saya adalah orang suruhan pak Bagas untuk menolong anda. Percayalah, pak Bagus pasti bisa sembuh, asalkan pak Bagus rutin meminum obat ini," ucap Mita menunjukan obat di tangannya.


Bukan hanya lumpuh, bahkan saat ini kondisi Bagus semakin parah dan tidak mampu berbicara. Dia hanya mampu memberi bahasa isyarat kepada Mita.


Untung saja Mita memiliki pengalaman berkomunikasi dengan orang tunawicara. Jadi dia bisa paham maksud dari kode yang ditunjukkan Bagus padanya.


Bagus percaya pada Mita, terlihat dari pancaran ketulusan di mata gadis itu. Mita membantu Bagus meminum obatnya. Meskipun agak kesulitan mengingat kondisi Bagus yang lumpuh. Tetapi Mita tetap berusaha telaten seperti dia merawat ayahnya sendiri.


"Istirahatlah kembali pak, besok saya akan menemui anda lagi. Maaf telah membangunkan pak Bagus, saya permisi keluar," ucap Mita sopan.


Setelah menjalankan tugas keduanya, Mita kembali lagi ke dalam kamarnya. Dia memelankan langkahnya agar tidak terdengar oleh Retno. Karena Mita sembunyi-sembunyi masuk menemui Bagus di kamarnya.


"Ah, syukurlah. Terimakasih Tuhan, kau telah melancarkan tugasku hari ini," ucap Mita merasa lega.

__ADS_1


__ADS_2