
Vey langsung menggerai rambut panjangnya, setelah mendapat protes dari Davin. Jarang-jarang suami sekaligus bosnya protes soal penampilannya.
Davin terus memperhatikan Vey, dari awal dia menarik pita rambutnya hingga rambutnya tergerai indah. Bahkan Vey mengkibas-kibaskan rambutnya bak model shampo. Harum rambutnya sampai tercium oleh Davin.
"Aroma ini mengingatkanku pada seseorang, tapi siapa?" gumam Davin.
"Bagaimana pak? Apakah seperti ini?" tanya Vey menyadarkan Davin dari lamunannya.
"Ya, begitu lebih bagus!!" jawab Davin kemudian.
Davin masuk ke dalam ruangannya, Vey memandang kepergiannya dengan pandangan berbeda. Pasalnya di dalam ruangan Davin ada Renata.
Tiba-tiba Vey teringat mimpinya semalam dan juga foto kiriman Renata. Mati-matian dia tadi berusaha menyembunyikan kesedihannya. Ternyata dia tidak sekuat yang dia kira.
Rasa takut itu ada, takut mimpinya akan menjadi nyata. Mendadak Vey di serang kegelisahan, bahkan pekerjaannya menjadi terbengkalai hanya karena memikirkan mimpinya semalam.
Di dalam sana, Davin menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, lalu memejamkan matanya. Bayangan wajah cantik sekretarisnya tadi masih terbayang oleh Davin.
Davin meraup wajahnya lalu menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan lewat mulut. Renata keluar dari toilet, dia langsung menghampiri Davin lalu duduk diatas pangkuannya.
"Tok...tok!!" Vey mengetuk pintu ruangan Davin. Setelah mendapat jawaban dari dalam, Vey langsung masuk.
Dia disuguhkan dengan pemandangan yang melukai hatinya. Renata tidak mau turun dari pangkuan Davin. Padahal Davin sudah memintanya turun. Memang sengaja Renata ingin memanas-manasi Vey.
Davin melirik Vey, dia merasa tidak enak hati pada Vey. Tapi Vey tetap berusaha menutupi lukanya dengan sikapnya.
"Tolong tanda tangani semua berkas ini, pak!!" pinta Vey. Meskipun sebenarnya tidak perlu, karena tanda tangan dia lebih penting daripada tanda tangan Davin. Tapi mau bagaimana lagi, dia masih dalam penyamaran.
"Mas, kita keluar makan, yuk. Tiba-tiba aku ingin makan salad buah, pengen yang asem-asem!!" ujar Renata.
"Deg!!" Jantung Vey serasa ingin berhenti. Rasa takut akan mimpinya semalam hadir kembali. Dia sangat takut jika Renata hamil anak Davin.
__ADS_1
Davin tidak merespon ucapan Renata, dia fokus menandatangani semua berkas-berkas yang diminta Vey.
"Mas. Kok aku dicuekin sih!!" Rengek Renata.
"Aku masih sibuk Ren. Tunggu aku menyelesaikan berkas-berkas ini, bisa?"
Renata langsung diam, setelah mendengar nada suara Davin yang terlihat marah. Vey melirik Renata dan tersenyum meledek. Membuat Renata bertambah kesal padanya.
"Tolong kosongkan jadwal saya sore ini. Saya akan keluar sebentar, terima kasih!!" ucap Davin, lalu memberikan beberapa berkas yang telah ditandatanganinya.
"Baik, pak!!" balas Vey sopan. Lalu kembali ke meja kerjanya dengan perasaan campur aduk.
Tak lama Renata dan Davin keluar dari ruangannya. Davin sempat meliriknya sekilas sebelum memasuki lift.
"Ya Tuhan, semoga dugaanku salah. Jangan biarkan mimpiku semalam menjadi nyata, Tuhan. Jangan biarkan wanita itu mengandung benih suamiku," batin Vey terluka.
Ponselnya bergetar, ada chat masuk dari Devano mengalihkan pikiran Vey. Devano berada di cafe tak jauh dari Wings Corporation. Dia meminta Vey makan siang bareng dengannya.
Sesampainya di cafe, Vey melihat Devano duduk di bangku paling ujung, sambil menikmati live musik. Vey melambai-lambaikan tangannya ke arah Devano. Devano menoleh, membalas melambaikan tanganya pada Vey.
"Maaf pak Dev, membuat anda menunggu lama!!" ucap Vey sekedar basa-basi.
"Sepuluh menit bukan waktu yang lama, nona Vey. Silahkan duduk, anda mau pesan apa? Maaf kalau saya tadi pesan lebih dulu!!" ujarnya memberikan buku menu pada Vey.
Vey menerima buku menu dari Devano. Matanya melihat deretan menu yang tertulis di buku itu, lengkap dengan gambarnya.
"Saya pesan tiramisu dan coklat hangat!!" ucapnya pada pelayan cafe.
"Sepertinya anda sangat menyukai segala macam coklat, nona Vey?" tanya Devano. Vey mengangguk, memang benar dia adalah pecinta coklat. Apalagi dalam suasana hatinya yang gundah saat ini. Coklat mampu memberi sedikit ketenangan pada dirinya.
Vey dan Devano berbincang-bincang, sesekali mereka tertawa bersama. Entah apa yang membuat mereka tertawa. Mereka terlihat semakin akrab dan orang-orang di cafe itu mungkin mengira mereka mempunyai hubungan.
__ADS_1
"Bagaimana hubungan anda dengan pak Davin, nona? Apakah ada kemajuan? Maksud saya, apakah kondisi suami anda membaik?"
Wajah Vey mulai berubah setelah Devano membahas Davin. Baru juga dia tertawa dan melupakan soal suaminya. Tiba-tiba dia mengingatnya kembali, apalagi soal mimpinya semalam.
"Maaf jika pertanyaan saya membuat anda tidak nyaman, nona!!" ujar Devano. Dia menyadari perubahan raut wajah Vey.
"Ah, tidak apa-apa, pak. Entahlah, kondisi mas Davin saya sendiri tidak bisa menebak. Sikapnya tetap berubah-ubah. Apa lagi jika membahas pak Devano maupun kakak saya."
Devano tertawa kecil, dia faham maksud Vey. Dia juga baru menyadari ada yang aneh pada sikap Davin, saat rapat kemarin siang. Sepertinya memang Davin sedang cemburu padanya.
"Saya rasa suami anda cemburu pada saya, nona. Sepertinya perasaannya pada anda tidak berubah, meskipun kondisinya yang amnesia."
"Atau mungkin pak Davin menyukai anda bukan sebagai istri, tetapi rasa suka pada secretaris. Apakah selama ini dia masih mengistimewakan anda?" tanya Devano kepon.
Vey tersenyum saja. Mana mungkin dia menceritakan apa saja yang dilakukannya dengan suaminya. Bagaimana cara Davin mengistimewakannya. Walaupun lebih banyak mengecewakannya.
Vey tetap tidak menjawab, dia malah membahas perihal mimpinya pada Devano. Mungkin berbagi cerita dengan Devano, mampu meringankan beban yang membuat dadanya sesak.
"Semalam saya bermimpi buruk, pak. Dalam mimpi saya, Renata dan mas Davin menikah di hadapan saya langsung. Dua orang laki-laki bertubuh besar mengikat kedua tangan saya. Ada Retno juga di sana, bahkan dia memaksa saya menyaksikan pernikahan Renata dan mas Davin."
Devano masih menyimak, dan dia meminta Vey melanjutkan ceritanya. Vey menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya pelan.
"Di dalam mimpi itu, Renata telah berbadan dua. Dia mengandung benih suami saya. Walaupun hanya Mimpi, tetapi rasa sakitnya masih saya rasakan. Saya takut, jika mimpi itu menjadi nyata, apalagi tadi
Vey menjeda cerita nya, kedua tangannya menutupi wajahnya. Sepertinya dia tidak sanggup melanjutkan ceritanya. Namun Devano memintanya melanjutkan ceritanya.
"Tadi Renata mengajak mas Davin beli salad dan makanan asam. Apakah itu pertanda dia benar-benar hamil? Apa mimpi saya akan menjadi kenyataan, pak?" ucap Vey. Bahkan kedua matanya berkaca-kaca.
Devano memegang tangan Vey, tepatnya jemari tangan Vey. Dia hanya ingin menguatkan Vey, tidak ada maksud lain.
Devano dan Vey, mengalihkan tatapannya, saat mendengar suara derit kursi yang berada di belakang kursi Devano. Mereka berdua terkejut, setelah melihat orang yang duduk memperhatikan mereka berdua dengan pandangan yang berbeda.
__ADS_1