
Keesokan harinya, di lokasi tempat Renata dan Retno di tahan. Terjadi perselisihan antara tahanan satu dengan tahanan lainya. Yaitu antara Retno dan tahanan lainnya.
Tahanan itu memerintah Retno agar memijat kakinya. Retno menolak karena dia bukalah pembantu dari wanita itu. Bahkan seumur-umur Retno tidak pernah memijat siapapun.
"Jadi kau melawanku, hah?" ucapnya.
Bahkan wanita itu menarik kasar rambut Retno, membuat Renata yang melihat ibunya diperlakukan seperti itu pun berteriak.
"Arrrrk!! Lepaskan," teriak Renata, mencoba melerai tahanan lain yang sedang berkelahi dengan ibunya.
Seorang wanita yang menyerupai lelaki. Bertubuh besar dan tinggi, yang merupakan tahanan terlama di situ. Mendengar Retno dan Renata ditahan karena percobaan pembunuhan disertai merebut harta dan suami korban, membuat wanita yang bernama Thelma membully Renata dan Retno.
Renata diam saja saat Therma membullynya. Berbeda dengan Retno yang terus melawan Therma bahkan menantang si preman wanita itu.
"Kau tahu kenapa aku di tahan di sini? Aku adalah seorang pembunuh. Semua tahanan di sini tunduk akan perintah-ku kecuali kau. Jika kau melawanku dan tidak menuruti perintahku, apa kau ingin mati?" ucap Therma dengan nada lirik namun penuh penekanan.
"Tidak. Aku tidak mau tunduk dengan orang yang kastanya di bawahku!!" ucap Retno, membuat Therma semakin emosi.
Retno sama sekali tidak takut, bahkan dia tidak mau menuruti perintah Therma. Selama ini dia selalu memerintah dan tidak mau diperintah. Melihat Retno terus melawannya membuat Therma naik pitam lalu mencekiknya.
Tahanan lainnya hanya menjadi penonton serta bersorak-sorak siapa di antara Therma dan Retno yang akan menang. Sedangkan Renata memohon pada ibunya agar diam dan tidak melawan Therma lagi. Namun Retno tidak mendengarkan ucapan putrinya. Dia tidak akan mau di injak-injak oleh preman miskin seperti Therma.
__ADS_1
Renata menjerit ketika Therma membentur-benturkan kepala Retno ke dinding hingga Retno mengalami pendarahan di kepalanya.
Reflek Renata berteriak memanggil petugas keamanan untuk menghentikan aksi Therma.
"Wanita sepertimu sepantasnya mati!!" ucap Therma, ketika melihat Retno telah terkapar di lantai dengan kondisi kepala yang mengeluarkan darah segar.
Tak lama petugas kepolisian yang sedang berjaga pun masuk, lalu mengasingkan Therma ke dalam sel individu. Sedangkan petugas lainnya membawa keluar Retno dan akan dibawa ke klinik khusus tahanan.
Renata ingin ikut, namun dilarang oleh salah satu petugas keamanan. Yang dia lakukan hanya menangis mengkhawatirkan kondisi ibunya.
Bisa dibilang itu semua adalah sedikit karma atas perbuatan jahatnya selama ini. Renata terus berteriak memohon kepada petugas, agar mengizinkannya menemani ibunya.
Petugas kepolisian datang, tapi bukan untuk memenuhi permintaan Renata melainkan ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Penasaran siapa yang datang, Renata pun segera menghapus air matanya lalu keluar untuk menemui orang tersebut.
Devano menoleh, memperhatikan penampilan mantan istrinya yang jauh dari kata glamour se glamour sebelumnya. Sudut bibirnya terangkat dan dalam hati menertawai Renata.
Renata memakai baju tahanan bahkan wajahnya yang sebelumnya mulus berubah kusam. Kecantikan yang di sombongkannya selama ini ternyata tidak mampu bertahan tanpa uang.
"Mau apa kau kemari? Apa kau senang melihatku seperti ini? Jika kesayanganmu hanya untuk menertawakan ku, maka pergilah!!" ucap Renata ketus.
Devano tersenyum, dia duduk di hadapan Renata dan hanya meja sebagai pembatas di antara mereka.
__ADS_1
"Seharusnya kau senang karena aku masih peduli denganmu. Aku tahu tidak ada yang akan menjengukmu di tempat ini. Karena satu-satunya keluargamu juga ditahan di tempat ini."
Renata memalingkan muka, muak dengan setiap kata yang terucap di bibir Devano.
"Apa dengan tinggal di sini bisa merubah sosok Renata? Ku rasa kamu sudah kapok. Em, dengar-dengar kau akan mendekam di sini untuk selamanya, bukan?"
"Tutup mulutmu Devano. Jika kau datang hanya untuk mengacaukan pikiranku, lebih baik kau pergi dari sini."
"Jadi kau mengusirku? Padahal aku berencana membantumu keluar dari sini," ucapnya beranjak pergi. Tiba-tiba Renata menahannya setelah mendengar ucapan Devano beberapa detik lalu.
Devano menoleh menatap mantan istrinya. Bahkan raut wajah Renata telah berubah seperti kelinci. Padahal tadi wajahnya sangat mirip seperti serigala. Tentu saja karena Renata tergiur dengan ucapan Devano tadi.
"Apa ucapanmu tadi serius? Apa kau bisa membantuku keluar dari sini?" tanya Renata memastikan pendengarannya tidak salah.
Devano mengabaikan pertanyaan Renata, dia malah pergi begitu saja. Tentu saja Renata marah, bahkan dia meneriaki nama Devano. Sedangkan yang di teriaki namanya pura-pura tuli.
Petugas kepolisian membawanya kembali ke dalam sel. Renata semakin kesal karena seperti di permainkan oleh Devano.
Entah tawaran Devano tadi serius atau bercanda. Pria itu masih menyimpan dendam pada mantan istrinya dan mantan mertuanya. Namun Selama ini dia tidak memperlihatkannya. Dia selalu bersikap santai seolah mengikhlaskan semua perbuatan Renata dan Retno padanya.
Pria itu sempat berhenti saat petugas polisi membawa Renata kembali masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ini baru permulaan karmamu, Renata. Ini baru hukuman dari Vey dan Davin untukmu. Bahkan aku belum sempat menghukummu.Aku juga ingin mengambil bagianku untuk menghukum mu. Kau tahu rasanya terjatuh dan berusaha bangkit kembali dari nol. Rasanya sakit, dan aku ingin kau dan ibumu merasakannya juga."
Devano tersenyum, namun senyumnya tidak mampu di artikan. Seperti ada dendam dari sorot matanya. Lelaki tampan itu pun melangkah meninggalkan kantor kepolisian.