Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 13


__ADS_3

Vey dibuat mati kutu dengan pertanyaan Davin. Bahkan dia masih merutuki kebodohannya tadi. 


Dia memang tak pandai berpura-pura menjadi orang lain di samping suaminya sendiri. Dia terlalu lama mengenal sosok Davin suaminya. Bahkan dalam kondisi berbeda pun, Vey tetap terbiasa dengan Davin yang dulu.


"Kenapa diam saja? jawab pertanyaan saya!!" tegur Davin.


Vey menarik nafas dalam-dalam, agar pikirannya bisa memunculkan alasan yang tepat. Davin masih menunggu jawabannya dan masih menatap ke arahnya.


"Oh, yang tadi ya pak. Saya pernah mendengar dari karyawan lain. Mereka bilang, pak. Davin alergi makanan mentah," ucap Vey beralasan. Davin percaya begitu saja, sehingga Vey bisa bernafas dengan lega.


Kalau dia mau, dia akan mengatakan karena dia adalah istrinya. Tentu saja sebagai seorang istri, dia tahu lebih tentang suaminya. Namun Vey tidak ingin mengatakan bahwa dia adalah istri Davin. Percuma saja, besok paginya, suaminya akan kembali melupakanya.


Yang terpenting saat ini, Vey hanya berharap kakaknya Bagas bisa segera menemukan penangkal dari ramuan yang Renata berikan kepada Davin. Hanya itu cara satu-satunya, agar pikiran suaminya tidak selalu dicuci oleh Renata dan ibu tirinya.


Setelah mendengar jawaban dari Vey. Bertepatan dengan pintu lift yang telah terbuka. Davin berlalu lebih dulu menuju ke ruang kerjanya. Tak lama kemudian dia keluar lagi dan sepertinya akan pulang ke rumahnya.


"Pak. Davin akan pulang?" tanya Vey.


"Ya!!" jawab Davin singkat, membuat mud Vey berubah begitu saja.


Vey memandangi suaminya yang berjalan semakin jauh, hingga menghilang dari pandangannya. Vey mengusap wajahnya, dia lelah dengan semua ini. Berharap semua ini segera berakhir.


Vey memilih berkutat kembali pada pekerjaanya. Ingin mengikuti suaminya pulang? Tidak mungkin. Banyak sekali pekerjaan terbengkalai suaminya yang harus dia selesaikan.


Kalau bukan Vey yang menangani, bisa dipastikan perusahaannya akan bangrut dalam waktu dekat. Karena kondisi suaminya saat ini, tidak memungkinkan mengurus Wing Corporation.


_________________


Di lokasi lain, tepatnya di rumah Davin. Bagas lagi-lagi membuat kekacauan. Menteror Renata dan Retno adalah hiburan terbarunya.


Tapi kali ini Bagas akan meneror asisten rumah tangga di rumah itu. Demi bisa memasukan Mita menjadi asisten baru di rumah Davin.


Kelicikan memang harus dibalas dengan kelicikan pula. Renata dan Retno, tidak ada apa-apanya dibanding kelicikan yang dimiliki Bagas. Bisa dibilang, Renata dan Retno kurang modal materi dan trik, jika melawan Bagas.


Apalagi yang di serang mereka adalah adik kesayangannya. Seekor kucing pun mendadak bisa berubah menjadi singa, jika anggota keluarganya diusik.

__ADS_1


Bagas tertawa terbahak-bahak,  menonton drama live di laptopnya. Orang suruhannya memasang cctv di rumah Davin, yang tidak mampu dilihat orang lain. Seperti saat ini, Bagas menyaksikan wajah ketakutan Surti ketika hendak memasuki kamarnya .


"Arkkkkkk!!" teriak Surti, asisten rumah tangga di rumah Davin.


Mendengar teriakan dari arah dapur, membuat Renata dan ibunya turun untuk melihat. Sedangkan Surti telah pingsan setelah melihat teror di dalam kamarnya berupa lima ekor tikus yang tertancap di pintu kamarnya.


Darah tikus-tikus itu menetes hingga mengotori lantai keramik berwarna putih di kamarnya yang terletak di samping dapur.


Siapa lagi yang mengirim tikus-tikus itu, kalau bukan orang-orang Bagas yang dengan mudahnya menyelundup masuk. Bagas sangat heran dengan penjagaan di rumah Davin. Bagaimana petugas keamanan di rumah itu bekerja. Sehingga membiarkan saja penyelundup masuk tanpa diketahui siapapun.


Bodohnya lagi, kabel penyambung cctv di rumah itu terputus tidak ada satupun yang tahu. Renata dan Retno yang baru tiba di depan kamar Surti pun berteriak. Lagi-lagi Retno lah yang menemukan secarik kertas yang terselip di samping kelima tikus itu.


"H-2 menuju kematian kalian."


Retno berteriak memanggil penjaga keamanan rumahnya. Dia ngomel-ngomel karena kelalaian petugas keamanan menjaga rumahnya. Teriakan Retno terdengar hingga ke telinga Davin yang baru saja pulang dari kantornya. Davin segera turun dari mobil, berlari menuju sumber teriakan tadi berasal.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Davin setelah menemukan sumber teriakan yang tak lain adalah Retno calon ibu mertuanya.


Melihat kepulangan Davin, Renata langsung berhambur ke dalam pelukan Davin. Dia mencari perhatian ke dalam dekapan Davin.


"Tenanglah. Siapa yang berbuat seperti ini?" tanyanya.


"Aku tidak tahu. Aku baru saja turun dari lantai atas dan melihat ini semua. Sayang, aku sangat ketakutan saat ini," lagi-lagi Renata merengek manja.


"Tenanglah. Nanti aku cari tahu siapa pelakunya!!" bujuk Davin, mencoba menenangkan Renata.


Davin mengajak Renata duduk di ruang tamu. Surti yang masih gemetaran karena takut pun membawakan segelas air putih untuk Renata. Surti yang di teror, tetapi Retanatalah yang seolah menjadi korban.


Sepertinya Surti sudah tidak sanggup bekerja di rumah Davin. Ini kali kedua si peneror mengirim teror tikus mati di rumah itu. Surti ketakutan, dia tidak ingin menjadi salah satu korban yang akan di bunuh si peneror.


Saat itu adalah momen yang tepat bagi Surti meminta berhenti bekerja di rumah Davin. Daripada mentalnya terganggu karena teror. Lebih baik Surti pindah kerja ke tempat lain.


"Maaf pak. Davin, nona Renata dan nyonya Retno. Saya ingin berhenti bekerja saja, saya sangat ketakutan," ucapnya gemetaran.


"Kenapa mendadak? Saya akan segera mencari pelakunya. Kamu tidak harus berhenti bekerja hanya karena sebuah teror," ujar Davin.

__ADS_1


"Tidak, pak. Saya benar-benar ingin berhenti. Rasanya saya akan jantungan jika terus bekerja disini. Maafkan saya pak, nona, dan nyoya. Izinkan saya berhenti bekerja dan pulang kampung," mohon Surti.


Tak ada cara lain, Davin Pun akhirnya mengabulkan permohonan Surti, yang ingin berhenti bekerja. Bahkan Renata dan Retno merengek minta pindah rumah.


"Apakah kalian punya musuh? Siapa yang mengirim teror semacam itu di rumahku?" tanya Davin kemudian.


"Pasti ini ulah wanita yang tempo hari datang ke sini dan mengaku menjadi istrimu," Renata menuduh Vey sebagai pelakunya.


Davin bingung, siapa orang yang Renata maksud. Karena sebagian ingatannya telah samar-samar menghilang akibat ramuan yang diberikan Renata kepadanya.


Retno merutuki kebodohan putrinya yang membahas Vey di hadapan Davin. Padahal mereka sudah berusaha mencuci pikiran davin dengan ramuan pemberianya.


"Ah, kamu pasti lupa sayang. Kejadiannya sudah lama, lupakanlah. Sebaiknya kita pindah rumah saja, aku takut berada di rumah ini," rengeknya kembali.


Antara berat hati untuk mengabulkan permintaan tunanganya, Davin pun bingung. Sepertinya dia berat meninggalkan rumah ini. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang mengganjal di rumah ini. Seperti ada ribuan kenangan yang tidak bisa dia ingat sama sekali namun masih bisa samar samar dia rasakan.


"Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Atau kalian tinggal di apartemen saja dan biarkan aku tinggal di tempat ini sendiri," tawar Davin, Renata menggeleng.


"Tidak. Aku tidak ingin jauh-jauh darimu sayang. Nanti kamu tidur siapa yang akan memelukmu? Kita pindah rumah saja, ya."


Renata terus menerus merengek, membuat Davin muak. Davin melepaskan tubuh Renata, dia berdiri dengan wajah garangnya.


"Terserah kamu pilih yang mana. Ingin tinggal di rumah ini bersamaku atau kalian tinggal di apartemen. Aku tidak akan meninggalkan rumah ini sampai kapanpun," bentak Davin. Lalu dia berlalu meninggalkan Renata dan ibunya yang tercengang dengan kemarahan Davin.


"Ma, kenapa dia tidak menuruti kata-kataku?" tanya Renata pada Retno.


"Kamu terlalu rewel. Pasti Davin risih mendengarkan rengekanmu. Beri saja dia obat seperti biasanya, pasti dia luluh kembali padamu," ucap Retno dengan santainya.


Sedangkan Davin masih heran dengan si peneror. Dia merasa tidak memiliki musuh, kenapa ada teror di rumahnya. Bahkan dia tidak mengingat Vey pernah datang ke rumahnya sekedar memberitahu bahwa dia adalah istrinya.


Bagas telah menyaksikan semua drama Renata, Retno, Surti dan juga Davin. Bisa dipastikan, besok ataupun lusa, Mita bisa menggantikan posisi Surti.


Ditutupnya laptop yang dari tadi dipandanginya. Pancaran matanya menyiratkan rasa kebenciannya terhadap Renata dan Retno. Jika dengan menghancurkanya mampu membuat dunia adiknya kembali, maka dengan senang hati akan dia lakukan.


"Tunggu teror selanjutnya saudara dan ibu tiriku," ucap Bagas menyeringai puas.

__ADS_1


__ADS_2