Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 45


__ADS_3

Jam tujuh malam Davin baru pulang ke rumahnya. Dia memaksakan senyumannya ketika melihat Renata menghampirinya. Seperti yang Bagas katakan tadi siang, Davin melakukan ini demi istrinya.


"Sayang kau sudah pulang?" sapa Renata, Davin tersenyum mengecup kening Renata demi melancarkan dramanya.


Jangan tanya bagaimana respon Renata yang begitu senang mendapat ciuman dari Davin. Lalu Davin mengajaknya masuk ke dalam kamar sambil mengelus perut Renata yang masih rata.


Jangan kira Davin tidak tahu tentang kebohongan Renata soal kehamilannya. Davin sudah mengetahui semuanya dari ipad milik Bagas.


"Duduklah, kau sedang mengandung. Aku ingin mandi sebentar, tunggulah!!" ucap Davin, masuk ke dalam kamar mandi.


Renata berbaring di atas ranjang sambil melihat-lihat ponselnya. Lusa adalah hari pernikahannya dengan Davin. Betapa senangnya Renata, karena sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi nyonya Damian. Dan pastinya dengan kehamilan pura-pura-nya ini, maka dia bisa leluasa menguasai harta Davin.


"Pyaar!!" suara jendela kaca pecah, karena ada seseorang yang melempar batu dari luar.


Renata berteriak, matanya melihat jendela kaca kamarnya rusak. Diambilnya batu besar yang terbungkus kertas. Renata mengambil kertas tersebut yang tak lain adalah foto dirinya bersama Retno di saat membunuh Vey.


Renata membelalakkan matanya, setelah melihat isi dari kertas tersebut. Di baliknya terdapat tulisan yang seketika membuatnya takut.


"Kalian membunuhku, sukmaku akan menuntut balas. Kalian harus ikut mati bersamaku Renata dan Retno."


Isi text berupa ancaman dari Vey, sukses membuat Renata ketakutan. Tak lama Davin pun keluar dari kamar mandi. Dia langsung menghampiri Renata yang terlihat ketakutan.


Renata langsung memeluk erat tubuh Davin. Sebenarnya Davin risih dan merasa tidak sudi di peluk Renata. Tapi kembali lagi, ini semua demi istrinya.


"Ada apa , Renata? Kenapa jendela itu bisa pecah?" tanya Davin, melihat pecahan kaca berserakan di lantai.


Renata hanya menggeleng, bahkan foto teror barusan disembunyikan di bawah bantalnya. Dia takut Davin melihat foto tersebut. Bisa gagal serta terancam semua rencananya.

__ADS_1


"Tidak mungkin Vey gentayangan dan ingin menuntut balas dendam padaku!!" gumam Renata dalam pikirannya memikirkan hal itu.


"Apa ini semua pekerjaanmu, sayang!!" batin Davin, menduga semua ini adalah kerjaan Vey.


Mereka berdua dalam pikiran masing-masing. Davin menyuruh Renata tidur di sampingnya. Semakin lama matanya memandang Renata, semakin muak Davin. Tidur lebih baik daripada meladeni wanita jahat seperti Renata.


Davin memejamkan matanya, tapi dia tidak benar-benar tidur. Dia ingin tahu apa yang dilakukan Renata setelah ini.


Renata beranjak dari ranjang, setelah memastikan Davin telah tidur. Dia keluar dari kamar, menuju kamar Retno.


Davin membuka matanya, melirik Renata keluar dari kamar. Diam-diam dia mengikuti wanita itu menuju kamar Retno.


Renata mengetuk pintu kamar ibunya, pelan. Tak lama Retno keluar, Davin bersembunyi di balik dinding.


"Ada apa malam-malam membangunkan mama, Ren?" tanya Retno, setengah mengantuk.


"Hantu Vey menterorku lagi, ma. Sepertinya kita harus mengundang orang pintar untuk mengusirnya!!" ucap Renata.


"Kau membangunkan mama hanya untuk mengatakan hal tahayul seperti ini? Vey telah mati dan orang mati lenyap dari bumi!!" ujar Retno, masih tidak percaya.


"Jangan lupakan kita yang membunuh Vey, ma. Bisa jadi arwahnya gentayangan menuntut balas pada kita. Mama tahu? Baru saja kaca jendela kamarku pecah di lembar batu teror darinya. Mama lihat tulisan di kertas ini," Renata memperlihatkan kertas berisikan teror dari Vey, kepada Retno.


"Kalian membunuhku, sukmaku akan menuntut balas. Kalian harus ikut mati bersamaku Renata dan Retno."


Retno menyobek kertas teror dari Vey, hingga hancur tak tersisa. Dia tetap tidak mempercayai arwah Vey gentayangan menuntut balas dendam pada mereka. Retno lebih menduga semua ini adalah ulah Bagas.


"Ikut mama, kita periksa cctv, kita buktikan apakah benar hantu Vey yang menterormu!!'' Retno menarik paksa tangan Renata mengecek cctv rumah itu.

__ADS_1


Vey sebelumnya telah menduga, oleh karena itu Vey meminta kakaknya memerintahkan Mita untuk merusak kabel cctv di rumah itu. Sudah berapa kali cctv di rumah itu dirusak oleh Bagas dan Vey. Semua itu hanya untuk meninggalkan jejak mereka.


"Kenapa kosong? Apa cctv di rumah ini rusak lagi?" gumam Retno. Dia curiga ada yang tidak beres di rumah ini. Karena seringkali cctv di rumah itu rusak tanpa diketahui. Padahal mereka sudah beberapa kali mengundang orang untuk memperbaikinya.


"Sudah ku bilang pasti arwah Vey gentayangan, ma. Aku tidak mau tahu, besok kita harus mengundang orang pintar ke sini. Aku tidak mau mati muda dibunuh arwah Vey, ma."


Renata semakin gila karena teror dari Vey. Anak dan ibu beda pemikiran. Retno masih tidak sependapat dengan pikiran Renata. Karena sebelum Vey mati, mereka pernah mendapatkan teror yang sama.


Davin merekam semua pembicaraan Renata dan Retno. Setelahnya dia kembali ke kamarnya, namun sebelumnya dia mengganti layar kunci ponselnya agar Renata tidak bisa membuka nya lagi.


"Selama ini aku menjadi bodoh karena mereka. Selama ini aku memelihara dua iblis betina seperti mereka. Kalau bukan demi Vey dan ucapan Bagas kemarin, sudah pasti kalian sudah mendekam dibalik jeruji penjara," ucap Davin lirih.


Setelah keluar menui Retno, Renata tidak lagi kembali ke kamar Davin. Dia memilih tidur di kamar ibunya. Dia merasa kamar Retno lebih aman daripada kamar Davin.


Pagi harinya Davin bangun pagi-pagi sekali dan tidak mendapati Renata di kamarnya. Dia keluar dari kamarnya bertepatan dengan Renata yang juga keluar dari kamar ibunya.


"Kenapa kau bisa keluar dari kamar ibumu sepagi ini? Apa kau semalam tidak tidur di sampingku?" tanyanya mengintrogasi, dia ingin mendengar alasan Renata.


Wanita itu langsung pura-pura mual, seolah berdekatan dengan Davin membuatnya mual. Lagi-lagi Renata menggunakan kehamilan palsunya untuk beralasan.


"Bayi kita yang tidak ingin di dekatmu, sayang. Maafkan aku, ini semua bukan keinginanku. Badanmu bau, jadi aku mual jika berdekatan denganmu."


Davin berpura-pura selayaknya orang bodoh yang mempercayai alasan Renata.


"Baiklah, demi bayi kita aku akan jauh-jauh darimu," ucap Davin, membuat Renata menggeleng.


"Tidak sayang, aku tidak ingin jauh-jauh darimu, aku akan menahannya. Apa lagi besok adalah hari pernikahan kita. Aku tidak ingin jauh-jauh darimu, aku ingin selalu di dekatmu."

__ADS_1


Davin memutar bola matanya karena merasa muak dengan sandiwara Renata. Dia sendiri juga tidak sadar kalau besok adalah hari pernikahannya dengan Renata.


Davin akan membicarakannya dengan Bagas. Bagaimanapun dia tidak sudi menikahi wanita iblis seperti Renata. Persetan dengan perintah Bagas, mau tidak mau Bagas harus bertindak untuk menggagalkan pernikahannya.


__ADS_2