
Pagi hari ini di lokasi TPU jakarta pusat, banyak pelayat berdatangan untuk mengantar almarhum Vey di peristirahatannya yang terakhir. Lebih tepatnya wanita gila pengganti Vey.
Orang-orang memerankan aktingnya masing-masing. Seperti Bagas yang berakting berduka demi mengelabui Renata. Begitupun Renata turut hadir di pemakaman Vey dan berakting menangis.
Mungkin hanya Davin, Sarah, Rizal, Devano dan orang-orang yang selama ini memihak Vey lah yang benar-benar berduka.
Davin menatap tak berkedip, ketika jasad pengganti Vey telah di masukan di liang lahat. Jangan tanya bagaimana perasaan Davin saat ini. Hatinya hancur, bahkan dia menyesal tidak bisa melindungi sekretaris yang dicintainya.
Seseorang menarik tangan Renata dan membawanya menjauh dari lokasi pemakaman Vey. Lalu dia mendorong tubuh Renata hingga tubuhnya membentur pepohonan besar.
"Devano. Mau apa kamu?" ucap Renata dengan nada lantang. Devano segera membungkam mulut Renata menggunakan tangannya.
"Pasti ini semua ulahmu, bukan? Kau yang sengaja membayar seseorang untuk membunuh Vey!!"
Renata memberontak. "Jangan menuduhku tanpa bukti. Mana buktinya kalau aku yang menyuruh seseorang untuk membunuh Vey?"
"Tanpa bukti akupun tahu dalang dari kematian Vey. Wanita serakah sepertimu mampu menghalalkan segala cara demi uang. Bahkan kali ini kau berhasil membunuh Vey. Bukankah sebelumnya kau juga yang menyebabkan kecelakaan mobil antara Vey dan juga Davin?"
"Tolong...tolong!!" teriak Renata, ketika Devano mencekiknya.
Jika dulu Devano sangat mencintai wanita di depannya. Kini Devano sangat membenci Renata, berawal dari cara Renata menipunya, meninggalkannya, apa lagi karena Renata telah membunuh Vey.
Sebagian pelayat menghampiri mereka berdua dan mencoba melepaskan tangan Devano yang mencekik leher Renata.
"Pak, lepaskan. Anda bisa dipenjara kalau sampai anda membunuh mbak Renata!!" ucap salah satu pelayat.
"Cih, bahkan saya tidak takut di penjara asalkan wanita ini mati," timpal Devano, telah muak dengan semua perbuatan Renata.
Bahkan Davin pun tidak menghiraukan keributan yang terjadi. Dia tetap terdiam, terus memandangi gundukan tanah yang telah bertabur bunga mawar dan terdapat mahesan terukir nama Vey.
Hati Davin benar-benar hancur saat ini. Dia merasa kehilangan seseorang untuk kedua kalinya. Tapi sampai saat ini ingatannya belum juga pulih. Amnesia yang dialami adalah amnesia total. Semua memori lama telah hilang, apalagi efek obat pemberian Renata yang masih belum semuanya keluar dari tubuhnya.
__ADS_1
Berbeda dengan Bagas. Dia tersenyum miring melihat Devano mencekik Renata. Bahkan dia mendukung jika Devano membunuh Renata sekalian.
Dari kejauhan nampak Vey mengenakan hoodie hitam, berkaca mata hitam dan bermasker hitam. Tubuh dan wajahnya tertutup sepenuhnya sehingga tidak ada orang yang bisa mengenalinya.
Dia melihat suaminya terlihat berduka di samping pusara wanita penggantinya. Ingin rasanya Vey berlari memeluk Davin. Dan berkata dia masih hidup dan yang meninggal bukanlah dia.
Tapi Bagas sudah mewanti-wanti padanya. Untuk sementara Vey tidak boleh menunjukan dirinya di depan publik, bahwa dia belum mati.
"Mas Davin, tolong. Kenapa kamu tetap disitu dan tidak menolongku. Lihatlah pria gila ini berusaha membunuhku, mas!!" teriak Renata.
"Jika kehadiranmu hanya membuat onar di pemakaman ini, lebih baik enyah dari sini. Ini pemakaman, bukan lapangan bola, yang bisa kau buat berteriak-teriak sesuka hatimu!!" bentak Bagas yang sedari tadi diam.
"Pulanglah Renata!!" perintah Davin, tanpa melihat ke arahnya.
Renata di buat kesal dengan sikap Davin yang acuh padanya. Bahkan Davin lebih memilih menatap gundukan tanah di depannya daripada Renata.
Renata menghentakkan kakinya lalu pergi meninggalkan lokasi. Devano ingin mengejarnya dan akan membunuhnya. Namun tangannya masih dicekal oleh pelayat.
Cuaca pagi itu tidak baik-baik saja. Langit tampak mendung dan para pelayat pun satu per satu pergi meninggalkan TPU sebelum hujan turun.
Hanya tersisa Davin yang masih betah menatap gundukan tanah di depannya. Sedari tadi dia menahan air matanya. Baru setelah para pelayat pergi semuanya, air mata Davin pun tumpah.
Dia merasa benar-benar kehilangan Vey. Semua kenangannya bersama Vey, ketika Vey menjadi sekretarisnya berputar di pikirannya.
"Maafkan saya, Vey. Maafkan saya tidak bisa melindungimu!!"
Hujan turun membasahi sekujur tubuh Davin. Namun pria itu tetap tidak ingin bangkit meninggalkan lokasi. Tangan kirinya memegang batu nisan, sedangkan tangan kirinya meremas bunga-bunga yang bertaburan di atas gundukan tanah, makam pengganti Vey.
"Apa kau ingin mati dan menyusul Vey? Apa kau tidak melihat tubuhmu basah kuyup?"
Terdengar suara berat menegur Davin, yang tak lain adalah Bagas. Karena permintaan Vey, Bagas kembali ke TPU hanya untuk membawa pergi Davin dari lokasi.
__ADS_1
Vey menangi di dalam mobil melihat kondisi suaminya saat ini. Dia benar-benar tidak menyangka, Davin akan serapuh itu.
"Bangunlah. Vey akan sedih melihatmu selemah ini!!"
Davin menggeleng, tidak ingin bangkit. Memang sengaja dia ingin menyiksa dirinya atau bahkan dia ingin mati agar bisa menyusul Vey.
"Bangunlah, jangan menjadi pria bodoh."
Bagas tidak henti-hentinya membujuk Davin, meskipun cara membujuknya terbilang kasar. Melihat Davin tidak juga bangkit, Bagas memberi kode pada orang-orang nya agar mengurus Davin.
"Dasar pria lemah. Kenapa aku harus memiliki adik ipar selemah dia!!" gerutu Bagas, melihat orang-orangnya membius Davin, lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
Vey keluar dari mobil, menghampiri kakaknya. Dia berlari melihat suaminya di bius oleh orang-orang suruhan kakaknya.
"Kakak. Kau apakan suamiku, hah?" protes Vey.
"Suamimu terlalu lemah. Hanya cara itu agar dia pergi dari sini. Apa kau ingin melihat suamimu mati di sambar petir di atas makam wanita itu? sangat tidak lucu, Vey."
"Kau mau kemana?" imbuhnya, ketika melihat Vey menghampiri Davin.
Bahkan saat ini Davin telah berada di dalam mobil dalam kondisi pingsan dan basah kuyup. Vey hendak masuk semobil dengan suaminya. Namun Bagas menarik kerah hoodie adiknya.
"Jangan membuat rencana yang sudah kita susun hanya karena kebodohan-mu, Vey. Kembali ke mobil, biarkan suamimu mereka yang urus," perintah Bagas mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
Dengan sangat terpaksa, Vey meninggalkan Davin bersama orang-orang suruhan kakaknya. Bahkan pandangannya enggan terlepas, terus saja melihat ke arah mobil yang di dalamnya ada suaminya.
Vey telah masuk ke dalam mobil bersama Bagas. Bagas melirik adiknya yang terus melihat ke arah belakang. Bahkan Bagas menghembuskan nafas kasarnya.
"Cinta benar-benar merepotkan. Terlalu banyak drama di dalamnya!!" ucap Bagas, mulai menyalakan mesin mobilnya.
Tatapan Vey beralih menatap kakaknya. "Aku sumpahin kau bucin dengan seorang wanita, kak. Agar kau tahu apa itu cinta!!" celetuk Vey, lalu pandangannya berfokus pada jalan yang dilewatinya. Bagas hanya berdecak mendengar ucapan adiknya.
__ADS_1