
Waktu menjelang pukul sembilan pagi, Mita baru saja terbangun dari tidurnya. Diambilnya jam weker di atas nakas, sontak membuatnya terkejut setelah melihat letak jarum jam berhenti.
Gadis itu buru-buru bangkit dari ranjangnya, keluar kamarnya dan berlari menuju lantai bawah.
Sesampainya di lantai bawah, Mita hanya melihat dua asisten rumah tangga yang sedang berkutat di dapur.
"Mbak, pak Bagas sudah berangkat?" tanya Mita.
"Den Bagas berada di kamarnya, non. Oh ya tadi den Bagas berpesan kepada kami, non Mita di suruh meminum soup ini!!"
Semangkuk soup panas di hidangkan di depan Mita. Dia heran pada Bagas, sepagi ini Bagas menyuruhnya minum soup.
"Ini soup apa, mbak? Apa pak Bagas juga sudah meminumnya?"
"Ini soup khusus untuk non Mita. Kemarin non Mita mabuk berat, jadi den Bagas meminta kami membuatkan sup untuk non Mita, agar tubuh non Mita kembali segar serta menghilangkan sisa Alkohol di dalam tubuh non Mita."
Mendengar ucapan asisten rumah tangga itu membuat Mita teringat ulahnya kemarin. Sontak Mita langsung menutup bibirnya menggunakan dua tangannya.
Mita mengingat semua dari awal dia meneguk dua kaleng minuman hingga samar-samar terlintas ketika dia mencium bibir Bagas.
"Astaga, apa yang aku lakukan kemarin. Gila, bagaimana aku menghadapi pak Bagas setelah ini. Ya Tuhan, aku sangat malu bertemu dengannya!!" gumamnya lirih.
"Lantas yang membawaku masuk ke dalam kamar dan siapa yang menggantikan ku pakaian, mbak? jangan bilang pak Bagas!!"
Sedangkan Darmi dan Ira malah senyam senyum tidak jelas melihat kepanikan di wajah Mita. Apa lagi wajah Mita yang memerah menambah keimutan pada dirinya.
"Tenang non, kami yang membantu non Mita. Den Bagas meminta kami membersihkan tubuh non Mita sekalian membantu menggantikan baju non Mita!!" jawab Darmi.
"Hufff!!" Mita langsung bernafas lega. Untung bukan Bagas yang membantunya mengganti pakaiannya. Tapi dia tetap saja merasa malu, karena dia telah mencium Bagas.
Batinnya menjerit, karena first kissnya telah diambil Bagas. Sebenarnya bukan Bagas yang menciumnya, lebih tepatnya dia sendiri yang memberikan first kissnya pada Bagas.
"Ayo non, mumpung masih hangat silahkan diminum soupnya. Nanti den Bagas bisa marah pada kami jika sampai non Mita tidak meminum soup ini!!" pinta Ira.
__ADS_1
Mita duduk di kursi ruang makan, lalu meminum soup itu pelan-pelan.
"Ternyata kau sudah bangun!!" terdengar suara Bagas yang tiba-tiba duduk di seberang kursinya. Mita yang sedang meminum soupnya dan tidak mengetahui kehadiran Bagas pun tersedak.
"Pak Bagas. Selamat pagi, pak!!" sapa Mita, malu bertatap muka dengan Bagas. Bagas sendiri tetap bersikap tenang seolah tidak terjadi sesuatu pada mereka berdua.
"Mbak Ira, buatkan saya kopi!!" perintah Bagas sambil membaca koran di tangannya. Mita menghentikan acara minum soupnya, sesekali melirik Bagas. Dia merasa heran kenapa sikap Bagas tenang-tenang saja, seolah tidak ada yang pernah terjadi di antara mereka berdua.
"Kenapa Mita? Ada yang ingin kamu katakan padaku? Cepat habiskan soup itu lalu mandi. Tubuhmu masih bau alkohol!!" ucap Bagas tanpa melihat ke arah Mita.
"Pak Bagas. Saya minta maaf soal kemarin. Pasti saya sangat merepotkan anda!!"
Bagas menghentikan acara membaca koran nya, lalu memandang ke arah Mita. "Baguslah kalau kau sadar diri. Lain kali sebelum meminum sesuatu baca dulu, minuman itu beralkohol atau tidak. Untung saja minuman itu tidak beracun."
Ucapan Bagas sedikit menohok, tapi memang kebenarannya memang begitu. Mita pun mengakui kecerobohannya. Untung saja Bagas tidak mengambil kesempatan di saat dia mabuk. Malahan dia yang membuat ulah di saat mabuk berat.
Mita segera meneguk habis soupnya, lalu kembali ke kamarnya untuk mandi. Satu jam kemudian Bagas mengetuk pintu kamar Mita. Mita yang sedang mengeringkan rambutnya pun mematikan hairdryernya lalu membuka pintu kamarnya.
"Pak Bagas. Ada yang bisa saya bantu, pak?"
"Ganti pakaianmu yang lebih tertutup, lalu ikut saya. Hari ini kita ke rumahmu menemui ayahmu!!" ucap Bagas.
Wajah Mita langsung berseri mendengar Bagas akan mengajaknya bertemu ayahnya. Dia segera mengganti pakaiannya dan Bagas akan menunggunya di lantai bawah.
"Gadis itu benar-benar menguji imanku. Ini tidak bisa dibiarkan, bagaimanapun aku lelaki normal," gumam Bagas uring-uringan menuruni anak tangga.
Kemudian dia menunggu Mita di sofa ruang tamu. Sepuluh menit kemudian Mita baru turun ke lantai bawah.
Bagas mengenakan kaos polo warna putih dan celana jeans panjang. Mita mengenakan kaos berwarna putih juga dengan jeans panjang. Seolah mereka seperti mengenakan pakaian couple dengan warna kaos dan celana yang senada.
"Sudah siap?" tanya Bagas, Mita mengangguk.
Mata Mita melihat motor sport di depan gerbang. Bagas tidak menaiki mobilnya karena percuma saja, mobilnya tidak bisa masuk di gang sempit rumah Mita.
__ADS_1
Bagas memilih menggunakan motor sportnya yang berwarna merah. Bagas terlihat keren setelah memakai helm yang berwarna senada dengan motor sportnya apalagi ketika dia telah duduk di atas motor itu.
Bagas membantu Mita memakaikan helmnya, lalu menyuruh gadis itu segera naik ke atas motor. Mereka terlihat sangat sweet, sayangnya Mita tidak berani terlalu dekat, karena jika dia terlalu dekat, tubuh bagian depannya akan nempel dengan punggung Bagas.
Bagas mulai menjalankan motornya dan membuat Mita terkejut. Reflek dia memeluk perut Bagas saking takutnya. Tubuhnya menempel di punggung Bagas, membuat pria itu tersenyum.
"Pegangan yang erat. Kau sangat kecil, aku tidak bertanggung jawab jika kau sampai terjatuh atau terbang tertiup angin!!" ucap Bagas.
Mita segera mempererat tangannya memeluk perut Bagas. Bibirnya manyun karena olokan Bagas barusan. Pria itu memang tidak bisa romantis. Selalu saja kaku seperti patung Pancoran.
"Ayahmu suka apa? kita beli sesuatu dulu untuk ayahmu!!"
Walau bagaimanapun Mita sangat senang, Bagas perhatian pada ayahnya Mita. Mereka mampir ke toko buah dan kue. Mita bilang, ayahnya sangat menyukai buah apel dan brownies.
Setelah apa yang mereka beli sudah cukup, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Mita. Hingga tibalah mereka di gang sempit menuju rumah Mita.
Bagas teringat tempo dulu, pertama kali dia datang ke kampung kumuh itu. Rasanya dia akan mati jika berlama-lama berada di sana. Bau got serta bau sampah membuatnya sesak nafas.
Tapi kali ini berbeda, kampung itu terlihat sangat bersih dan rapi. Bahkan gubuk kayu yang selama ini ditempati Mita dan ayahnya telah berubah menjadi rumah gedung yang lumayan bagus dibanding rumah-rumah tetangganya.
Mita sampai heran, bahkan semua mata tidak lepas memperhatikan Mita dan Bagas yang melewati mereka. Hingga mereka telah tiba di depan rumah Mita dan masing-masing turun dari motor.
"Ini rumah saya dulu, pak?" tanya Mita masih menganga karena terkejut.
"Ya, bukankah sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya!!" ucap Bagas.
"Jadi pak Bagas yang merenovasi rumah saya?"
Bagas hanya tersenyum, dan demi Tuhan senyumnya sangat manis sehingga membuat Mita dan gadis-gadis tetangga Mita yang melihatnya terpana.
Tidak menjawab pertanyaan Mita, Bagas langsung memencet bel pintu rumah Mita. Tak lama ayahnya Mita keluar dengan kondisi jauh lebih sehat dan sedikit berisi.
"Ayah!!"
__ADS_1
Bagas menyalami tangan ayah Mita yang bernama Rudi. Setelah itu Mita langsung berhambur memeluk ayahnya sambil menangis karena rindu.
Bagas tersenyum, dia tahu gadis itu sangat merindukan ayahnya. Maka dari itu Bagas mengajaknya menemui ayahnya. Tapi bukan itu tujuan utama Bagas datang ke sana.