Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 54


__ADS_3

Setelah melewati pagi, siang, malam berdua di dalam hotel. Siang ini baik Davin maupun Vey akan kembali ke rutinitas mereka. Davin meminta Vey pergi ke kantor bersamanya. Katakanlah hari ini adalah kali pertama mereka ke kantor bersama setelah semuanya terungkap.


Vey ke kantor Wings corporation dengan status nyonya Damian istri CEO Davin Damian sekaligus pemegang tertinggi Wings corporation.


Penampilannya sederhana namun sangat elegan dan cantik. Semua kesempurnaan fisik seorang wanita ada padanya.


Davin tak ingin melepaskan pelukannya sedari tadi pada tubuh istrinya. Dia terus memeluk Vey dari belakang. Bahkan ketika Vey berdandan, suaminya tetap memeluknya seperti lintah yang melekat pada kulit seseorang.


"Bisakah kita menunda pergi ke kantor siang ini sayang? Bagaimana kalau besok pagi saja?" tawar Davin.


"No!! Apa mas Davin belum puas mengurungku seharian penuh di kamar hotel ini? Hari ini kita tetap ke kantor, sayang. Jadilah CEO yang bisa dijadikan teladan bagi karyawan kita."


Vey melepaskan tangan Davin yang melingkar di perutnya. Dia berjalan mengambil jas suaminya dan membantu Davin memakainya.


Tangan terampil Vey juga merapikan dasi suaminya dan mengecek penampilan suaminya dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.


"Ayo Mas, kita berangkat sekarang. Sudah jam sepuluh, kita sudah kesiangan!!" ajak Vey.


Davin sangat malas pergi ke kantor hari ini. Namun dia tetap menuruti kemauan istrinya.


Mereka sudah berada di dalam mobil yang terparkir di basement hotel. Davin hanya diam saja dan fokus pada jalanan di depannya. Tidak ada suara sama sekali yang terucap di bibirnya.


"Sayang, apa kau marah padaku? Ayolah kita harus profesional kerja. Toh kita bisa bermesraan lagi di ruangan itu!!" ucap Vey membujuk. Seperti mendapat angin segar, mata Davin langsung berbinar.


"Benarkah?" tanya Davin memastikan dan langsung di angguki Vey.

__ADS_1


Mendadak Davin menjadi semangat dan ingin secepatnya tiba di kantornya. Ketika mobil telah sampai di depan Wings corporation, Davin dan Vey melihat para karyawan menyambut kedatangannya.


Davin turun lebih dulu dari mobilnya lalu membantu membukakan pintu istrinya. Ketika Vey telah keluar dari mobil, semua mata karyawan memandangnya penuh kekaguman. Vey jauh lebih cantik dibanding biasanya.


Davin menggenggam tangan istrinya, mengajaknya masuk ke dalam kantornya. Semua karyawan menunduk hormat menyambut kedatangannya.


Vey telah mengenal mereka semua, dia tersenyum kepada para karyawannya. Bahkan aura Davin hari itu juga sangat berbeda dari sebelumnya. Davin telah kembali menjadi CEO yang baik dan ramah kepada semua karyawannya.


Dari semua karyawannya yang menyambutnya, ada satu karyawan yang tidak disukai Vey. Karyawan itu adalah Andin, yang pernah bertengkar dengannya dan mengata-ngatainya.


Bahkan hari itu pula ekspresi Andien masih terlihat tidak menyukai Vey. Langkah Vey terhenti ketika berhadapan dengan Andin.


"Kau masih ingin kerja di perusahaan ku? Maka bersikaplah sebagai karyawan yang baik kepada atasannya!!" ucap Vey.


Vey memutus kontak mata dengan Andin, ketika Davin mengajaknya melangkah. Vey dan Davin masuk ke dalam lift petinggi perusahaan. Para karyawan langsung berbisik membicarakan atasannya.


"Untung mbak Vey. Oops, maksudku nona Vey tidak marah pada kita. Membayangkan kita dulu pernah berpihak kepada mbak Renata. Aslinya nona Vey sangat baik jika kita tidak mencari masalah dengannya," ucap melody, salah satu karyawan di situ.


Sarah membenarkan ucapan Melody. Kemudian dia menghampiri Andin yang terlihat kesal.


"Makanya jadi karyawan jangan sok, kalau sudah kayak gini baru nyadar kamu? Makanya jangan suka cari muka pada atasan, apalagi atasan yang salah seperti mbak Renata. Gue saranin Lo perbaiki sikap Lo kalau masih betah kerja disini, ndin," ucap Sarah.


"Diam Lo. Urusin aja urusan Lo sendiri, kanan ngurusin gue!!" ucap Andin beranjak pergi dari sana.


Jika yang lain sedang heboh membicarakan atasan mereka. Berbeda dengan Rizal yang hanya diam sejak tadi. Lelaki itu mulai menyadari bahwa perempuan yang dia sukai tidak semestinya dia sukai. Karena jelas-jelas Vey adalah istri bosnya.

__ADS_1


Sarah menyadari sikap diam Rizal sedari tadi. Wanita itu menepuk pundak Rizal, lalu mengatakan sesuatu padanya.


"Masih banyak wanita diluar sana, jangan mencintai istri orang terlebih bos kita sendiri. Ingat zal, se cinta-cintanya Rahwana pada Sinta, tidak ada salahnya. Yang salah adalah cara dia mencuri Sinta dari Rama. Gue harap Lo gak bakal jadi Rahwana yang ingin merebut nona Vey dari pak Davin, hehehe," ucap Sarah.


"Gue gak akan segila itu, Sar. Gue tahu diri siapa gue dan siapa nona Vey dan pak Davin. Yang ada sama saja gue bunuh diri kalau sampai gue menirukan jejak Rahwana. Gue sadar, dan gue udah membuka mata gue lebar-lebar," sahut Rizal.


Sarah dan yang lain hanya terkekeh mendengar penuturan Rizal. Mereka kembali ke meja kerja mereka masing-masing.


Sedangkan Andien berada pada pikirannya sendiri. Dia sangat tidak menyukai Vey, meskipun sekarang Vey adalah atasannya. Dia tidak terima Vey bersatu kembali dengan Davin. Karena diam-diam Andin juga menyukai Davin. Tujuan Andin mendekati Renata dulu hanya untuk lebih dekat Dengan Davin. Melihat semuanya menjadi kacau di luar rencananya, membuat Andin semakin marah. 


"Kalau Renata gagal merebut pak Davin darimu, apa salahnya jika aku mencoba!!" gumam Andin. Bahkan tangannya terkepal di atas meja menahan emosinya.


Sepertinya masalah Vey dan Davin tidak selesai hanya dengan menjebloskan Renata dan Retno di penjara. Ternyata masih banyak bibit pelakor di luaran sana salah satunya adalah Andin.


Ketika Vey dan Davin baru saja masuk ke dalam ruangannya. Bahkan Davin telah mengungkung tubuh istrinya di dinding. Tiba-tiba ponsel Davin berdering menggagalkan niat nya untuk mencumbu istrinya.


"Hallo!!" Davin langsung mengangkat teleponnya. Di sebrang sana, ternyata yang menelponnya adalah pihak kepolisian. Mereka mengabarkan kabar duka yang lebih tepatnya hanya Renata yang berduka tidak untuk Davin ataupun Vey.


"Apa? Bagaimana bisa terjadi?" ucap Davin terkejut setelah mendengar telepon dari pihak kepolisian. Vey pun tak kalah penasaran, sebenarnya apa yang diberitakan sehingga suaminya sampai terkejut.


Vey masih memperhatikan suaminya dan menunggu telpon dimatikan, baru dia akan bertanya pada Davin. Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya Davin menutup panggilan itu.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti terkejut? Katakan padaku, apa yang terjadi?" tanya Vey penasaran.


Davin meletakkan ponselnya di atas meja lalu berbalik menatap istrinya. "Retno meninggal dunia lima belas menit yang lalu," ucap Davin membuat Vey ikut terkejut.

__ADS_1


__ADS_2