Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 15


__ADS_3

"Eh, pak Rizal, saya tidak apa-apa, pak!!" ucap Vey, menarik tangannya yang dipegang Rizal.


Tangan Vey memerah terkena air panas saat dia membuatkan kopi untuk Davin. Rizal yang melihatnya pun reflek memegang tangan Vey, lalu meniupnya.


"Diobati dulu mbak. Vey. Takutnya melepuh nantinya!!" saran Rizal.


"Baik pak, setelah ini akan saya obati. Permisi pak, saya harus mengantarkan dulu pesanan pak. Davin," ucap Vey berlalu.


Rizal memandang kepergian Vey. Tidak dipungkiri, Rizal menyukai Vey sejak pandangan pertama. Saat pertama kali Vey melamar di kantor ini untuk menjadi sekretaris Davin.


"Tok...tok. Permisi pak. Davin. Ini kopi pesanan pak. Davin!!" ucap Vey meletakan secangkir kopi di atas meja kerja suaminya.


Davin yang sedang fokus pada ponselnya, tiba-tiba meletakkan ponselnya setelah melihat tangan Vey yang memerah.


"Kenapa tanganmu?" Tanya Davin. Reflek dia langsung memegang tangan Vey. Vey membiarkan saja Davin memegang tangannya, karena dia suaminya. Berbeda dengan Rizal, dia alaha orang lain.


"Kecelakaan sedikit ketika membuat kopi barusan, pak. Saya akan mengobatinya sebentar lagi, permisi, pak," ucap Vey menarik tanganya.


"Berhenti. Siapa yang menyuruhmu pergi? Duduklah di sofa," perintah Davin. Vey mengernyitkan dahinya penuh tanda tanya.


Tak lama Davin membawa sesuatu di tangannya, lalu berjongkok di depan Vey. Reflek Vey yang hendak berdiri pun ditahan oleh Davin.


"Duduklah, saya bantu kamu mengobatinya!!" ucap Davin, meniup serta mengoleskan obat ke tangan Vey.


Vey terharu menatap wajah suaminya, ketika mengobatinya. Kenangan masa lalu terlintas kembali di ingatannya. Di saat dulu dia pernah terjatuh dari sepedah. Davin berlari lalu menggendong tubuh Vey dengan penuh kecemasan.


Jika dulu Vey menangis kesakitan, sama halnya seperti saat ini. Vey menangis bukan karena kesakitan, tapi karena teringat saat-saat kebersamaan dengan suaminya. Teringat betapa suaminya sangat menjaganya dan mencemaskannya.


Vey merasa, Davin yang sedang mengobati lukanya saat ini adalah Davinnya yang dulu. Davin melirik Vey yang terisak.


"Apakah sangat sakit?" tanya Davin. Vey menggeleng lalu berhambur memeluk suaminya. Davin terkejut mendapat serangan dadakan dari sekretarisnya. Dia membiarkan saja, Vey memeluknya.


"Terimakasih, hik. Sebentar saja pak, biarkan saya memeluk anda!!" ucap Vey.

__ADS_1


Degup jantung Davin berdetak kencang, di saat Vey memeluknya. Aroma sampo di rambut Vey, masuk di indra penciuman Davin. Bahkan aroma tubuh Vey, yang beraroma bunga lily pun membuat Davin merasa tenang.


Ada perasaan aneh yang muncul pada dirinya. Davin merasakan ketenangan di dalam pelukan sekretarisnya. Sebuah rasa yang berbeda ketika Renata memeluknya.


Vey melepas pelukannya, lalu menghapus air matanya. Dia tersenyum menatap suaminya yang sedang memandangnya.


"Maafkan saya telah lancang memeluk anda, pak. Terima Kasih telah membantu mengobati luka ini, saya permisi."


Vey hendak bangkit dari duduknya, tetapi tangan Davin menahannya. Davin menatap Vey lekat, entah kerasukan setan dari mana, tiba-tiba Davin mencium bibir Vey.


Lagi-lagi Davin mendapatkan rasa yang berbeda ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir Vey. Vey masih di dalam terkejutnya, sekaligus hatinya bersorak-sorai karena suaminya menciumnya.


Davin semakin memperdalam ciumannya, semakin menekan tengkuk Vey. Vey pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya padannya. Bahkan tangan Vey bermain di rambut suaminya. Menekan kepala suaminya di saat Davin mempermainkan bibirnya.


Tangan Davin meraba-raba pinggang serta paha Vey. Membuat Vey mendesah lirih karena ulah suami nya. Mereka berdua saling menikmati, lupa dengan status masing-masing.


Tanpa sadar mereka merasa, apa yang mereka lakukan adalah sebuah kewajiban. Tidak ada dosa diantara keduanya. Karena mereka berdua adalah pasangan sah.


Davin semakin menggila, sekretarisnya benar-benar membuatnya kehilangan akal sehat dalam sekejap. Davin sangat menyukai cara berciuman Vey dengannya.


"Ada apa lagi? Terserah kamu saja, belanjalah sesukamu!!" ucap Davin merasa pusing mendengar suara Renata.


Dia melirik sekretarisnya yang sedang membenahi kemejanya. Itu semua adalah ulahnya barusan. Davin merutuki kebodohannya serta menyayangkan ciuman yang membuatnya candu, harus terhenti gara-gara Renata.


Suasana menjadi canggung. Davin terus memperhatikan pergerakan sekretarisnya. Vey yang merasa diperhatikan suaminya di saat membenahi kemeja nya pun membuka satu kancing di kemeja bagian atasnya.


Dia akan menggoda suaminya kembali, sampai suaminya tergoda padanya. Vey beranjak dari duduknya, meletakkan kembali obat yang tadinya digunakan Davin untuk mengobatinya.


Davin masih memperhatikan gerakan sekretarisnya. Membuat Vey tersenyum puas dengan apa yang dia lakukan.


Lekuk tubuhnya yang indah seolah menari-nari di depan penglihatan Davin. Perut langsing, bokong yang berisi bahkan dada yang montok, membuat Davin susah payah menelan ludahnya sendiri.


Davin menghampiri Vey, bodoh jika dia menyia-nyiakan pemandangan indah di depannya. Tangannya tiba-tiba melingkari pinggang sekretarisnya.

__ADS_1


Vey tidak terkejut, dia sudah menduga sebelumnya.  Sepertinya benar, suaminya sedang dirasuki setan mesum.


Davin menyibak rambut panjang Vey yang menutupi leher jenjangnya. Lalu dia mendaratkan satu kecupan di leher jenjang Vey. Tubuh Vey meremang menikmati sentuhan bibir suaminya.


Davin membalikan tubuh Vey, mendorongnya hingga duduk di atas meja kerjanya. Davin melanjutkan kembali ciuman panasnya tadi. Dia sangat menyukai ketika Vey mengimbanginya.


"Oh, my god. Kenapa dia membuatku gila!!" Batin Davin.


Bahkan tangan Davin telah berada tepat di dada Vey. Meneruskan membuka kancing kemeja Vey yang tadinya telah terbuka satu.


Vey semakin bersorak-sorak di dalam hatinya. Dia berhasil menggoda suaminya. Tatapan mata Davin telah dipenuhi kabut gairah. Membuatnya semakin tampan berkali lipat di mata Vey.


"Aku menyukai permainanmu, Vey!!" bisik Davin di telingannya sebelum mencium kembali leher putih mulus yang terpampang di depan matanya.


"Pak, sebaiknya anda menghentikan semua ini. Ini adalah kantor, bagaimana jika ada orang yang masuk?" bisik Vey.


"Jadi kau mau melakukanya di luar kantor?" bisik Davin, menatap mata sekretarisnya yang juga dipenuhi kabut gairah.


Davin semakin menindih tubuh Vey, hingga tangan Vey menyenggol secangkir kopi di meja kerja Davin.


"Auh,panas!!" ucapnya, bangkit mengusap-usap tangannya. Membuyarkan suasana romantis di antara mereka berdua.


Davin mengumpat kesal, karena tidak bisa menuntaskan hasratnya. Dia kembali duduk di kursi kebesarannya. Tatapan kembali dingin seperti semula karena merasa kesal.


Vey menahan senyumnya, melihat suaminya menahan kekesalan padanya. Lagi pula kalau di biarkan, mereka bisa melakukan yang lebih di ruangan itu. 


Vey tidak masalah, tapi dia juga tahu tempat mana yang cocok untuk melakukanya. Contohnya di apartemen atau hotel mungkin.


"Silahkan diminum kopinya, pak!!" ucap Vey membetulkan kembali kancing kemeja nya.


Davin meminum kopi yang mengganggu momen romantisnya tadi hingga tandas tak tersisa. Dahinya mengernyit, menemukan keanehan satu lagi.


Vey melihat cangkir di meja Davin telah kosong. Dia mengambilnya untuk dia kembalikan ke tempatnya. Tangan Davin menahannya, tatapan menyelidik pada Vey.

__ADS_1


"Jelaskan, bagaimana kamu bisa tahu, saya menyukai kopi tanpa gula?"


__ADS_2