
Pihak kepolisian masih mencari keberadaan Renata saat ini. Wanita itu masih menjadi buronan karena kabur dari penjara. Devano terlalu berani mengambil resiko besar, dengan menyembunyikan Renata di rumahnya.
Kalau bukan untuk membalaskan dendamnya, Devano tidak akan mau menampung wanita itu di rumahnya. Apalagi dengan risiko yang sangat besar jika sampai pihak kepolisian mengetahui keberadaan Renata di dalam rumahnya.
Sudah tiga bulan lamanya Renata terkurung di dalam rumah milik Devano. Setiap kali Devano berangkat ke kantor, maka setengah jam berikutnya Renata akan keluar diam-diam tanpa sepengetahuan Devano.
Bagi Renata Devano tidak pernah tahu ketika dia pergi dari rumah itu. Dia selalu kembali sebelum Devano pulang dari kantornya. Faktanya Devano selalu tahu dan pura-pura tidak tahu.
Seperti pagi ini setelah kepergian Devano Renata menghentikan taxi di depan rumahnya dan pergi entah ke mana. Tanpa dia sadari Devano masih memantaunya dan mobilnya mengikuti taxi yang dia tumpangi dari belakang.
Devano sudah menduga ternyata Renata pergi ke kos-kosan Andien. Wanita itu telah merencanakan kejahatan bersama Andien.
"Dasar wanita licik, tidak akan kubiarkan rencana kalian berhasil!!" ucap Devano yang masih memantau Renata dari dalam mobilnya.
Devano tidak langsung pergi tapi dia tidak bisa terus-terusan menunggu Renata di sana. Dia lebih memilih menyuruh seseorang untuk membuntuti Renata.
Setelah orang yang Devano suruh telah datang, Devano langsung pergi dari lokasi. Tak lama Renata dan Andien keluar dengan pakaian yang serba tertutup, sehingga tidak ada satupun orang yang bisa mengenali mereka.
"Dua wanita itu baru saja keluar dari kos-kosan bos. Gerak-gerik mereka sepertinya sangat mencurigakan. Saat ini mereka sudah masuk ke dalam taxi dan kami sedang mengikuti mereka!!" info dari salah satu orang suruhan Devano.
"Ikuti kemanapun perginya mereka. Jangan sampai kalian kehilangan jejak mereka. Segera beri kabar padaku apapun yang dilakukan oleh mereka!!" perintah Devano.
"Baik laksanakan, bos!!"
Dua orang suruhan Devano mengikuti taksi yang ditumpangi Renata dan Andien. Ternyata taxi yang mereka tumpangi menuju ke rumah Davin dan Vey.
Genap kehamilan ke 3 bulan, siang hari ini Davin menemani Vey memeriksakan kehamilannya. Ternyata Renata dan Andien sudah mengetahuinya sebelumnya. Itulah yang menyebabkan Renata dan Andien menjalankan rencananya hari ini yang sudah mereka rencanakan jauh-jauh hari.
Taksi yang mereka tumpangi berhenti tak jauh dari lokasi rumah David dan juga Vey. Mereka akan menunggu sampai Davin dan Vey keluar dari gerbang rumahnya.
"Itu mereka baru saja keluar. Pak, tolong ikuti mobil di depan!!" pinta Andien kepada sopir taxi.
Taxi yang ditumpangi Renata dan Andien pun mengikuti mobil yang ditumpangi Davin dan juga Vey. Sedangkan orang-orang yang disuruh Devano mengikuti di belakang taxi yang ditumpangi Renata dan Andien.
Tiga mobil itu berbaris rapi dengan jarak yang tidak terlalu dekat agar tidak mencurigakan. Rencananya Davin akan memeriksakan kandungan istrinya di Rumah Sakit Kasih Bunda.
Vey merasakan sesuatu yang tidak enak di hatinya. Dia menoleh ke belakang sepertinya taxi di belakangnya sedang mengikuti mereka berdua.
__ADS_1
"Mas, kamu merasa nggak? taxi di belakang mobil kita sedang mengikuti kita?" tanya Vey, seperti ada guratan kecemasan di wajahnya.
Davin langsung mengintip dari spion mobilnya.Dia juga merasa taxi di belakang mobilnya sedang mengikuti mereka berdua.
"Sayang kamu tenang ya, kita akan baik-baik saja!!" ucap Davin.
"Mas aku takut, firasatku tidak enak!!"
"Tenanglah jangan takut!!"
Beberapa detik kemudian ponsel Davin berdering. karena dia sedang menyetir, dia meminta tolong Vey, untuk melihat siapa yang menelponnya.
"Pak Devano Mas, kenapa dia menelponmu ya?"
"Coba kamu angkat, sayang. Siapa tahu penting, dan loudspeaker biar aku bisa mendengar!!" pinta Davin.
"Halo selamat siang Pak Devano. Apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya Davin. Posisi tangan Vey masih memegang ponsel Davin. Sedangkan Davin tetap menyetir mobilnya menjawab telepon dari Devano.
"Halo Pak Davin, apakah kalian berdua saat ini sedang berada di jalan? Saya hanya ingin memberitahu, apakah kalian melihat taxi di belakang mobil kalian? Kalian harus berhati-hati karena di dalam taxi itu ada Renata dan juga Andien. Mereka sedang merencanakan sesuatu yang akan membahayakan kalian berdua. Tapi kalian tenang saja, di belakang taxi itu ada orang-orang suruhanku yang akan melindungi sekalian!!" ucap Devano memberikan kabar di balik teleponnya.
Seketika Davin dan Vey langsung menoleh ke arah belakang. Vey langsung panik dan ketakutan. Bagaimanapun dia belum bisa melupakan kejadian kecelakaan yang pernah mereka alami dulu.
Tangan kiri Davin menggenggam erat tangan istrinya. Sedangkan tangan kanannya tetap mengendalikan kemudinya.
"Tenang sayang, kita akan baik-baik saja. Sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit kamu tenang ya!!"
Davin mempercepat kemudinya, kini mobil yang mereka tumpangi telah tiba di rumah sakit. Setelah mobil yang mereka tumpangi telah masuk di area Rumah Sakit. Davin mengintip dari spionnya, taxi yang Renata dan Andien tumpangi berhenti tak jauh dari lokasi rumah sakit.
Davin mengajak Fi keluar dari mobilnya lalu memasuki rumah sakit. Mereka berpura-pura tidak melihat Renata dan Andien yang masih dalam taxi.
Setelah melihat Davin dan Vay masuk ke dalam rumah sakit, Renata dan Andien keluar dari taxi. Mereka berdua menuju ke tempat di mana mobil Davin diparkirkan.
"Ren, yakin lo mau merusak rem mobil ini?" tanya Andien.
"Diamlah, Aku dulu juga pernah melakukan ini. Kau jangan kemana-mana tetap di situ dan beritahu aku jika ada orang yang ke sini."
Renata mencoba merusak rem mobil Davin sedangkan Andien masih berjaga-jaga kalau ada orang yang lewat.
__ADS_1
Seperti tidak ada cara lain, Renata mengulang kembali kejadian yang dulu pernah dia lakukan bersama ibunya.
Orang-orang Devano merekam Setiap tindakan yang Renata dan Andien lakukan lalu mengirimkan video itu kepada Devano.
Di dalam kantornya Devano tersenyum miring melihat video yang baru saja masuk ke dalam handphonenya. Dia menertawai kebodohan Mantan istrinya.
Setelah Renata dan Andien berhasil merusak rem mobil Davin, lalu mereka pergi memantau Davin dan Vey di sebuah Cafe tak jauh dari rumah sakit.
"Kau yakin rencana kita akan berhasil dan membuat dua orang itu mati?" tanya Andien.
Sedangkan orang-orang seruan Devano mencoba memperbaiki rem mobil Davin seperti semula, setelah memastikan Renata dan Andien sudah pergi dari lokasi.
2 jam kemudian Davin dan Vay keluar dari rumah sakit. Renata dan Andien melihat mobil mereka setelah keluar dari area rumah sakit.
"Lihat Ren, mereka sudah keluar!!" seru Andien memberitahu Renata.
"Baguslah berarti rencana kita berhasil!!"
Mereka berdua tertawa mengira rencana mereka telah berhasil. Lalu mereka menunggu kabar kematian dari Davin dan Vey.
Tiba-tiba handphone Renata berdering panggilan masuk dari Devano membuatnya ketakutan.
"Duh mampus aku, dia menelpon ku bagaimana ini?" Renata terlihat gugup karena saat ini dia tidak berada di rumah.
"Siapa?" tanya Andien.
"Devano. Dia sedang menelpon ku!!" jawab Renata.
"Langsung angkat aja!!" saran dari Andien.
Renata menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Lalu dia mengangkat telepon dari Devano.
"Kau di mana? Bisakah aku minta tolong?" terdengar suara Devano di seberang sana.
"Tentu saja aku di rumah, Apa yang bisa aku bantu?" jawab Renata.
"Bisakah kau mengambil mobilku yang saat ini berada di bengkel xxx? Bawa mobil itu pulang ke rumah. Mungkin malam ini aku pulang agak malam, sehingga aku tidak punya waktu untuk mengambil mobilku," ucap Devano.
__ADS_1
"Baiklah aku akan mengambilkannya untukmu!!" jawab Renata. Seperti mendapat kesempatan emas, Renata segera menarik tangan Andien menuju bengkel yang tak jauh dari lokasi rumah sakit itu.