
"Bagaimana, kondisi adik saya, dok?" tanya Bagas, setelah melihat dokter yang menangani Vey keluar dari ruang UGD.
"Kami membutuhkan golongan darah A, karena pasien banyak kehilangan darah!!" ucap dokter tersebut.
Bagas segera menggulung lengan kemejanya. Dia meminta dokter mengambil darahnya yang juga sama dengan Vey.
"Ambil, dok. Ambil darah saya sebanyak mungkin asalkan adik saya bisa selamat!!" ucap Bagas.
Ini hanya darah, bahkan nyawanya pun akan dia korbankan jika bisa menjamin hidup adiknya bahagia.
Seorang perawat meminta Bagas mengikutinya. Mereka akan mengambil beberapa kantong darah Bagas. Waktu yang diperlukan untuk transfusi darah cukup lama. Dalam hati Bagas berdoa, semoga adiknya bisa bertahan.
Beberapa jam kemudian setelah operasi pengeluaran peluru di lengan Vey berhasil. Keadaan Vey pun telah membaik meskipun belum sadarkan diri.
Bagas memandang wajah pucat adiknya untuk kedua kalinya. Sama-sama terbaring di atas brankar rumah sakit, di negara yang berbeda.
Seseorang mengirimkan video rekaman pada Bagas. Bagas beranjak dari duduknya, menuju balkon ruangan rawat Vey.
"Mampus kau, Vey. Lihatlah wajahmu telah rusak tak berbentuk. Selama ini kau sok kecantikan, memiliki segala yang aku inginkan. Sekarang wajahmu rusak, nyawamu melayang. Selamat tinggal, selamat menuju ke surga saudara tiriku, hahaha." Renata menertawakan mayat wanita yang dia kira adalah Vey.
Bagas memutar video kiriman anak buahnya. Melihat wanita pengganti adiknya yang telah meninggal dengan kondisi wajah yang mengenaskan, membuat bagas ingin muntah.
Dia akan memberi bayaran mahal pada anak buahnya yang cerdik itu. Entah bagaimana cara mereka mendapatkan wanita pengganti adiknya. Sepertinya tidak mudah, dan Bagas akan memberi bayaran yang besar untuk kinerja anak buahnya.
"Apakah wanita itu memiliki keluarga? Dimakamkan dengan cara yang benar," ucap Bagas, memerintah anak buahnya lewat sambungan telepon.
"Kami memerlukan sedikit kehadiran anda di pemakaman, untuk mengelabui saudara dan ibu tiri anda, tuan," ucap seseorang di seberang sana.
Ternyata wanita itu dipergunakan anak buahnya sebagai pengganti Vey adalah orang gila. Malang sekali nasib wanita itu, harus mati dalam kondisi tragis.
Bagas mengepalkan kedua tangannya, mengingat wajah Renata dan Retno menertawai kematian wanita itu. Meskipun wanita itu bukanlah Vey, tindakan buruk Renata dan Retno harus di balas.
"Ach, lenganku sakit!!"
__ADS_1
Vey tersadar, setelah lima jam tidak sadarkan diri setelah operasi. Bagas meninggalkan balkon, menghampiri Vey, setelah mendengar suara Vey mengaduh kesakitan.
"Vey, kau sudah sadar?" tanya Bagas mengusap dahi adiknya.
"Kakak, bukankah tadi aku di...!!"
"Kau selamat. Untung saja orang-orang ku lebih dulu menemukanmu. Pulihkan dirimu, dan kau akan tahu siapa dalang di balik semua ini."
"Siapa, katakan?" Vey tidak akan tenang sebelum Bagas memberitahunya.
"Siapa lagi kalau bukan dia wanita setan itu. Mereka merencanakan semua itu untuk membunuhmu. Tapi mereka salah sasaran dan saat ini mereka sedang merayakan kematianmu, lebih tepatnya wanita malang yang mereka kira dirimu.
"Apa? Bagaimana bisa, kak? Siapa wanita itu?"
Karena Vey penasaran dan terus melontarkan banyak pertanyaan pada Bagas. Akhirnya Bagas menunjukan video yang dikirimkan orang-orang nya tadi.
Vey membekap mulutnya, air matanya pun menetes setelah melihat wajah mengerikan wanita di dalam video itu.
"Siapa dia kak? Bagaimana bisa wajahnya sehancur itu?"
Vey menggeleng, dia terlalu syok setelah melihat video tadi. Dia merasa, karenanya nyawa orang lain jadi korbannya.
"Kak, kasihan wanita itu. Dia tidak berdosa dan ini semua gara-gara aku!!" Vey menangis histeris merasa bersalah.
"Tenanglah, Vey. Kalau bukan dia maka kaulah yang akan mati di tangan Renata dan Retno. Kau pikir aku akan membiarkanmu mati? Tidak akan."
"Tapi, kak. Wanita itu tidak bersalah, kenapa harus dia yang mati?"
Bagas menggenggam tangan adiknya, meminta Vey agar sedikit tenang. Dia sendiri juga tidak tahu kalau akhirnya akan seperti itu.
"Kakak telah memerintahkan seseorang untuk memakamkan wanita itu secara layak. Yang terpenting kita memiliki bukti rekaman video ini untuk menjebloskan kedua wanita itu ke dalam penjara. Atau kau ingin kakak membunuhnya sekalian?"
Vey menggeleng, dia tidak ingin kakaknya menjadi seorang pembunuh. Tanpa Vey ketahui, Bagas sudah pernah membunuh orang. Yang Vey tahu, kakaknya adalah orang yang baik.
__ADS_1
"Ini adalah masalahku dengan mereka, biarkan aku yang membalas semua perbuatan mereka, kak. Selama ini aku diam karena mas Davin. Mereka sudah merencanakan membunuhku untuk kedua kalinya. Aku tidak ingin ada korban lagi setelah ini."
Tatapan penuh dendam di mata Vey bisa dilihat jelas oleh Bagas. Bagas tidak bisa menahan keinginan adiknya. Dia akan tetap mendampingi adiknya untuk mendapatkan keadilan. Membalas semua perbuatan Renata dan Retno pada Vey.
Berita kematian Vey telah tersebar di sosial media. Orang-orang suruhan Bagas menjalankan tugasnya dengan sangat rapi. Bahkan mereka mampu mengelabui polisi.
Di dalam rumah sakit, di ruangan tempat Davin di rawat. Retno, Renata dan juga Davin sedang menyaksikan siaran berita. Davin nampak syok melihat foto wajah sekretarisnya terpajang di dalam berita itu.
"Astaga, sayang. Bukankah itu Vey sekretaris-mu? Astaga malang sekali nasibnya. Bagaimana dia bisa terbunuh dan pelakunya kabur dan belum ditemukan!!" ucap Renata, pura-pura terkejut.
"Gak, gak mungkin. Berita ini pasti salah, wanita itu pasti bukan Vey," ucap Davin menggeleng.
"Bukan bagaimana? Jelas-jelas itu secretaris-mu, sayang."
Renata dan Retno saling pandang, seolah fikiran mereka berdua sama. Mereka akan mengadakan party untuk merayakan kematian Vey.
Sedangkan di sebuah perusahaan Wings corporations saat ini di gegerkan dengan tangisan sebagian para karyawan yang mengenal Vey. Terutama Rizal, dia merasa bersalah telah meninggalkan Vey di rumah sakit.
Kalaupun dia tidak meninggalkan Vey waktu itu, pasti Rizal bisa menolong Vey. Lelaki itu menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Bukankah kemarin dia ke rumah sakit bersama denganmu, Zal?" tanya salah satu karyawan. Rizal mengangguk, selanjutnya dia menjelaskan bahwa dia kembali ke kantor lebih dulu.
"Kenapa kamu tinggalin Vey sendirian? Lihatlah dia sekarang meninggal. Jika kamu tidak meninggalkannya, setidaknya dia tidak akan dibunuh orang!!" ucap Sarah semakinĀ memojokan Rizal.
"Aku tidak tahu kalau akan berakhir seperti ini. Aku kira mbak Vey akan menemani pak Davin di rumah sakit. Makanya aku kembali lagi ke kantor," ucap Rizal.
Semua orang menyalahkan Rizal, tanpa mereka tahu Rizal juga merasa bersalah. Kalaupun waktu bisa diputar, pasti Rizal akan memutar waktu kembali ke waktu kemarin.
"Cukup. Silahkan kalian semua menyalahkan aku. Kalian tidak tahu apa yang aku rasakan kemarin? Bagaimana rasanya terkejut dengan sebuah kenyataan."
"Memangnya apa yang terjadi denganmu? Kau cemburu melihat Vey menemani pak Davin?" sambung karyawan lain yang mengetahui perasaan Rizal pada Vey.
"Diamlah. Asal kalian tahu, mbak Vey adalah istri dari pak Davin yang selama ini kita anggap telah meninggal!!" teriak Rizal, lalu pergi meninggalkan gerombolan karyawan yang sedari tadi menyalahkannya.
__ADS_1
Mereka semua terkejut atas pernyataan Rizal barusan.