Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 37


__ADS_3

Saat ini Vey telah berada di dalam mobil ambulan. Vey ikut menemani suaminya menuju rumah sakit. Tapi saking paniknya, dia tidak sadar ada Rizal yang turut ikut ke dalam mobil ambulan


"Mas Davin. Maafin aku mas, pasti semua ini karena ku. Pasti karena ucapanku tadi membuatmu jadi seperti ini."


Mobil ambulan masih melaju menuju rumah sakit. Lima menit kemudian tibalah mereka di rumah sakit yang bukan sembarang rumah sakit bagi penderita amnesia seperti Davin.


Vey tahu kemana dia harus membawa suaminya agar mendapat pertolongan yang tepat. Pintu belakang mobil ambulan terbuka, petugas ambulan segera membawa Davin masuk ke rumah sakit agar segera mendapat penanganan.


Vey dan Rizal mengikuti di belakang, Vey menangis dan Rizal tidak mampu berbuat apapun selain menjaganya dari belakang. Bahkan sampai saat ini Vey belum sadar ada Rizal di dekatnya.


"Tolong suami saya, beri perawatan terbaik untuknya!!" teriak Vey, ketika petugas rumah sakit mulai membawanya masuk di ruang perawatan khusus.


Tanpa ada yang tahu keterkejutan Rizal ketika Vey berucap kata suami tadinya. Tapi Rizal mencoba menyembunyikan terkejutnya sekaligus rasa ingin tahunya lebih.


Pintu ruangan tertutup, Vey dan Rizal tidak diizinkan masuk selama masa penanganan pasien. Tubuh Vey melemah hingga dia hampir terjatuh pingsan di lantai. Untung Rizal dengan sigap membantunya dan membawa Vey duduk di sebuah kursi tunggu.


"Pak Rizal. Anda di sini juga?" tanya Vey yang baru menyadari.


"Ya, mbak. Saya dari tadi berada di samping mbak Vey. Tapi mbak Vey sepertinya baru menyadari adanya saya," ucap Rizal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ah, maafkan saya, saya tidak menyadari ada anda tadi," ucap Vey.


Rizal terus memperhatikan Vey yang duduk di sebelahnya. Kedua tangan Vey saling menggenggam erat, menahan ketakutannya akan kondisi suaminya.


Tak lama dokter yang menangani Davin keluar, yang tak lain adalah dokter Danu. Vey segera bangkit dari duduknya menemui dokter Danu.


"Bagaimana kondisi pak Davin, dok?" tanya Vey.


"Kalau boleh tahu apakah anda keluarganya pak Davin?" tanya Dokter Danu.


"Saya istrinya, dok!!" ucap Vey kemudian.

__ADS_1


Dokter Danu meminta Vey ikut dengannya menuju ruangannya. Ada sesuatu hal yang ingin dokter Danu sampaikan pada Vey.


Sebelum Vey mengikuti dokter Danu, Vey berkata sesuatu pada Rizal. "Tolong rahasiakan semua yang anda ketahui tentangku dan pak Davin," ucapnya berlalu meninggalkan Rizal.


Rizal masih mematung di tempat, merasa pendengarannya tadi memang tidak salah. Tadinya dia merasa pendengarannya salah. Namun ketika Vey meminta padanya untuk merahasiakan semua yang dia tahu, Rizal Pun sadar.


"Jadi benar, mbak Vey adalah istri pak Davin!!" gumamnya lirik. Seperti ada nada putus asa pada ucapan Rizal. Diam-diam dia memang menyukai Vey semenjak Vey melamar menjadi sekretaris Davin.


Di dalam ruangan yang lumayan luas, kini Vey telah berada di ruangan dokter Danu. Dokter Danu menunjukan ada luka di bagian kepala Davin bagian kiri. Vey hampir saja menangis, tapi dia berusaha menahannya.


"Sebenarnya pak Davin adalah pasien saya. Beberapa hari ini pak Davin sering menemui saya untuk cek kondisi syarafnya," ujar dokter Danu.


"Jadi suami saya tahu kondisinya saat ini, dok?" tanya Vey di angguki dokter Danu.


Dokter Danu juga menceritakan apa saja yang dialami Davin. Termasuk tentang sekretaris Davin yang mengundang perhatian Vey.


"Yang dimaksud suami saya adalah saya, dok. Saya adalah sekretarisnya, sengaja saya menyamar menjadi sekretarisnya agar bisa dekat dengan suami saya. Itu semua saya lakukan karena suami saya tidak mengingat saya, dok."


"Pantas saja pak Davin mengeluh kepalanya sakit setelah berinteraksi dengan anda. Mungkin kepingan memorinya bersama anda mulai kembali. Tetapi saran saya jangan terlalu memaksanya untuk mengingat. Karena masih adanya luka yang belum sembuh total di kepalanya bagian kiri."


"Tenanglah, nona. Sebentar lagi pak Davin akan segera sadar. Mungkin kedepannya dia akan sering seperti ini. Tapi anda jangan takut, cukup awasi saja. Syarafnya mulai bereaksi mengumpulkan kepingan-kepingan memori yang telah hilang. Bersabarlah, suami anda akan mengingat anda kembali," ucap dokter Danu mencoba meyakinkan Vey.


Vey tersenyum, setidaknya masih ada harapan pada suaminya mengingatnya kembali. Vey sangat berterima kasih pada dokter Danu. Dia juga memohon agar dokter Danu membantunya memberikan pengobatan yang terbaik untuk suaminya.


Vey keluar meninggalkan ruangan dokter Danu dengan perasaan lega. Matanya melihat tempat duduk yang tadinya di tempatinya dengan Rizal telah dipenuhi oleh orang.


Vey mencari keberadaan Rizal, tapi matanya tidak menemukannya. Dia takut Rizal akan memberitahu karyawan lain tentang rahasia nya.


"Sudahlah, kalaupun harus terbongkar lebih awal. Lebih baik aku melihat kondisi mas Davin sekarang!!"


Vey melangkah menuju ruang rawat suaminya. Di lihatnya Davin sudah sadarkan diri dan pandangannya tertuju padanya.

__ADS_1


"Pak Davin. Anda sudah sadar, pak?" tanya Vey menghampiri Davin.


"Apa yang terjadi padaku, Vey?" tanya Davin bingung.


"Anda tadi pingsan, dan dilarikan ke rumah sakit ini. Apakah kepala anda masih terasa sakit, pak? Apa saya panggilkan dokter?"


Davin menggeleng, dia ingin kembali ke kantor. Dia ingin beristirahat di ruangannya. Dia merasa tidak nyaman berada di ruangan yang asing baginya.


"Baiklah, saya tanyakan dulu pada dokter Danu, apakah anda sudah boleh meninggalkan rumah sakit ini!!"


Davin menahan tangan Vey, ketika dia baru akan pergi. Dia menggeleng, meminta Vey duduk saja dan tidak pergi meninggalkannya.


Vey melirik tangannya, Davin segera melepaskan tangannya yang masih memegang tangan Vey. Tak lama pintu ruangan rawat Davin terbuka, menampilkan Renata dan Retno menghampirinya.


"Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Renata dengan suaranya yang di buat manja. Vey menatap tidak suka dengan kehadiran dua wanita yang paling dibencinya.


Retno menatap Vey seolah ingin menantang Vey. Wanita tua itu adalah salah di balik hancurnya rumah tangga Vey dan Renata adalah pion yang dia gerakkan demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Tetapi sampai di sini ibu dan anak itu sama saja, sama-sama serakah dan berambisi.


"Sayang, kamu tahu setelah aku mendapat kabar kamu pingsan, aku ketakutan. Apa lagi mengingat kondisiku saat ini. Aku takut terjadi sesuatu padamu, aku takut bayi kita terlahir tanpa ayah," ucap Renata sambil melirik Vey.


Nampak keterkejutan di wajah Vey, membuat Renata dan Retno saling pandang. Tak hanya Vey, Davin pun juga terkejut setelah mendengar ucapan Renata. Vey masih berusaha bersikap biasa sambil meremas dress-nya.


"Saya permisi, pak. Sudah ada mereka yang menjaga anda!!" 


Ada rasa tidak rela pada diri Davin melihat kepergian Vey. Tubuhnya yang lemah tak mampu mengejar kepergian Vey. Apa lagi ada Renata dan Retno di sana.


Vey keluar dari ruang rawat Davin. Setelah berada di luar, tumpahlah air mata yang dia tahan. Vey merasa mimpinya menjadi kenyataan.


"Tidak, pasti aku salah dengar. Tidak mungkin Renata hamil. Tidak, semua ini tidak boleh terjadi."


Vey berjalan meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yang campur aduk. Tubuhnya terasa lemas dan dadanya terasa sesak.

__ADS_1


Di dalam sana Retno keluar dari ruang rawat Davin. Dia merogoh ponselnya yang berada di dalam tasnya.


"Habisi wanita itu sekarang juga!!"


__ADS_2