
Setibanya di ruangan Bagas, Mita sampai terkagum-kagum. Ruangan itu sebenarnya ruangan CEO atau kamar. Sangat luas dan terdapat kamar pribadi serta kamar mandi pribadi.
Tanpa sadar Mita menelusuri setiap sudut ruangan. Bagas membiarkan saja, dia memaklumi.
"Sudah cukup kamu mondar mandirnya? Saya mau meeting sebentar, jangan kemana-mana!!"
Apa yang bisa Mita lakukan selain mengangguk menuruti perintah Bagas. Dia memilih duduk di sofa sambil membaca-baca majalah yang menumpuk di atas meja.
Mita mendadak haus, dia membuka kulkas mini di dekat sofa. Begitu banyak minuman kaleng yang nampak asing baginya. Karena dia kehausan, Mita tak banyak pikir langsung meminumnya.
Pertama rasanya aneh, tapi karena dingin dan menyegarkan tenggorokannya, dia tetap meneguknya hingga tandas. Tak cukup satu kaleng, Mita menghabiskan dua kaleng sekaligus.
Tiba-tiba matanya berkunang-kunang dan tubuhnya terasa melayang-layang. berdiri pun rasanya tidak sanggup. Dia akhirnya membaringkan tubuhnya di atas sofa sambil memejamkan matanya.
Bagas telah selesai meeting dan melirik arlojinya yang menunjukan jam makan siang. Dia memanggil sekretarisnya untuk membelikannya makanan.
"Ton, pesankan saya makanan seperti biasanya. Harus sehat, bersih dan satu lagi, saya tidak suka segala jenis junk food."
Sekretarisnya siap melaksanakan perintah atasannya. Bagas memasuki ruangannya, dan langsung mengernyitkan dahinya. Dia melihat Mita terkapar di atas sofa dan ada dua kaleng bir di atas meja.
Bagas mendekat untuk mengecek kondisi Mita. Apa gadis itu benar-benar mabuk dan tak sadarkan diri.
Baru juga berjongkok dan mulai menggoyang-goyangkan lengan Mita. Gadis itu tiba-tiba menariknya hingga kini tubuh Bagas menempel di tubuhnya.
Mita masih menutup matanya seranya bibirnya meracau tidak jelas. "Hai manusia patung, kenapa kau ada didepanku. Kau tahu, kau menyebalkan. Kau selalu membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat saat bersamamu. Apa kau tahu, kau manusia paling tidak peka di dunia ini. Kau mempermainkan ku, kau sama sekali tidak menyukaiku padahal aku menyukaimu."
__ADS_1
Bagas hanya mendengarkan rancangan Mita yang sedang mabuk berat. Dia hanya tersenyum sembari menatap wajah cantik Mita. Jari telunjuk dan jari tengahnya menelusuri setiap pahatan wajah Mita.
"Dasar gadis bodoh. Bagaimana bisa kau minum minuman tanpa membaca dulu, minuman apa yang sedang kau minum."
Tangan Mita berbalik ke leher belakang Bagas dan menguncinya. Membuat wajah Bagas sangatlah dekat dengan wajah Mita. Kurang lebih hanya berjarak satu cm.
Bagas ingin bangkit dan mencoba melepaskan tangan Mita. Namun gadis itu semakin menariknya dan terjadilah kejadian yang membuat jantung Bagas hampir terlepas dari sarangnya.
"Cup!!" bibir keduanya saling menempel. Bahkan Mita sendiri yang menggerak-gerakan bibirnya, mempermainkan bibir Bagas. Di bayangannya, dia sedang memakan dan menjilati ice cream. Dia tidak sadar karena dia sedang mabuk. Berbeda dengan Bagas yang sadar 100%.
"Ceklek!!" pintu terbuka, menampakkan sekretarisnya yang bernama Tono dan di tangannya sedang menenteng makanan pesanan Bagas.
Tono sudah mengetuk pintu berkali-kali sebelum masuk. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya dia nekat masuk, toh biasanya dia juga begitu.
Ketika dia masuk, mata Tono langsung ternoda karena tak sengaja melihat adegan live bosnya yang sedang ciuman dengan seorang wanita.
"Maaf bos, saya taruh di meja pesanan anda, permisi!!" Tono langsung cepat-cepat keluar. Jiwa jomblonya meronta-ronta setelah melihat adegan live bosnya.
"Dasar gadis ini, kau membangunkan anakonda di dalam sarangnya, sial!!" umpat Bagas langsung melepas paksa ciuman Mita.
Gadis itu tak sadarkan diri setelahnya. Bagas masih mengumpulkan pasokan oksigen yang hampir habis karena Mita.
"Gadis ini membahayakan. Jangan sampai kau meminum-minuman beralkohol lagi. Bisa-bisa keperjakaanku lepas sebelum waktunya!!"
Tak menghiraukan Mita lagi, Bagas langsung masuk ke dalam kamar mandi di dalam ruangannya dan membanting cukup keras pintunya. Entahlah apa yang dia lakukan di dalam, mungkin mandi.
__ADS_1
Dan benar saja setelah keluar dari kamar mandi. Tubuh Bagas menjadi lebih segar dan tangannya sedang mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecil.
"Mabuk saja kau sampai besok pagi!!" gerutunya lalu pandangannya teralihkan pada sekantong makanan di meja.
Bagas teringat sekretarisnya tadi melihatnya sedang ciuman dengan Mita. "Sial, Tono melihatku tadi!!"
Ternyata Bagas bisa mempunyai rasa malu juga. Setelahnya dia bersikap Bodo amat, dan segera menyantap makanannya. Perutnya sudah memberontak, dan dia menyantap makanannya sambil melirik Mita.
"Tidur saja kau, sudah kenyang dengan hanya mencium ku!!" ucapnya seraya tersenyum.
Hingga jam pulang kantor, Mita belum juga sadar. Akhirnya Bagas menggendong Mita ala bridal style atau ala pengantin baru melewati banyak pasang mata yang melihatnya.
Bagas tetap bersikap dingin seperti patung Pancoran. Sedangkan karyawannya mengucek mata satu persatu. Memastikan apa yang sedang mereka lihat tidak salah lagi.
"Astaga, beneran kataku tadi, wanita itu adalah kekasih pak Bagas. Pakai adegan gendong-gendongan segala. Apakah ini hari patah hati sedunia?" ucap salah satu karyawan Bagas.
Toni diperintahkan menyiapkan mobil Bagas tepat di depan pintu utama. Dia juga membantu membukakan pintu mobil bagian depan untuk Bagas. Pelan-pelan Bagas mendudukkan tubuh Mita di kursi samping kemudi lalu menutup kembali pintunya.
"Thanks, Ton. Dan rahasiakan apa yang kamu lihat di ruangan itu tadi!!" ucap Bagas pada Tono, sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Selepas kepergian Bagas, semua karyawan geger. Semua sedang membicarakan tentang Bagas dan juga Mita. Sampai salah satu di antara mereka bertanya langsung pada Tono.
"Eh, Ton. Yang tadi itu beneran pacarnya pak bos?"
Tono memanyunkan bibirnya dan kedua matanya melirik ke atas seolah sedang berpikir. "Sepertinya iya, atau mungkin calon istrinya bisa jadi. Bos kita sudah saatnya menikah, biar gak kaku terus. Bukankah begitu? Ayo kita pulang, jangan ngomongin bos terus, kena pecat baru tahu rasa!!" ujar Tono.
__ADS_1
Mendengar kata-kata pecat, apa lagi dari sekretarisnya Bagas langsung, membuat semua karyawan yang sedang membicarakan tentang Bagas dan Mita pun berhenti.
Mereka langsung bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Seolah kata pecat telah melekat di perusahaan Angkasa group. Dan kata-kata itu tidak main-main. Sekali Bagas bilang pecat, maka dia akan sungguh-sungguh memecat karyawannya. Oleh karena itu semua karyawannya takut dengan kata-kata pecat.