
Bagas bangun dari tidurnya dan hari telah berganti malam. Pasti di luar ruangannya sudah di ramaikan oleh para pengunjung bar-nya. Dia melirik arloji di pergelangan tangannya dan benar saja waktu telah menunjukan pukul sembilan malam.
Kemudian dia melirik kamar yang di dalamnya ada Mita. Pasti gadis itu sangat kelaparan di dalam sana. Bagas merogoh ponselnya, memerintahkan pekerjanya untuk membawakan dua porsi makanan ke dalam ruangannya.
Sementara Mita di dalam sana nampak uring-uringan memegangi perutnya sedari tadi terus memberontak minta diisi. Bisa dibilang dia belum makan sejak pagi tadi. Karena di pesta pernikahan Vey dan Davi sangat dipadatkan oleh tamu undangan, membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk makan. Apa lagi Bagas mendadak membawanya pergi dari sana.
Ingin keluar tapi gadis itu takut kena marah Bagas. Karena pria itu mewanti-wantinya jangan keluar jika Bagas tidak memanggilnya.
Mita berjalan menuju jendela kamarnya, melihat Suasana di luar sana. Hari sudah gelap, bahkan di bawah sana dia bisa melihat para pengunjung bar berdatangan.
"Apakah aku akan terkurung di sini selamanya?"
Gadis itu menghembuskan nafas kasar, ingin memberontak pada takdir namun tak mampu. Jika dia kabur dari Bagas pun percuma. Jika tertangkap maka akan menimbulkan masalah besar. Karena Bagas telah menepati janjinya, begitupun dia juga.
Makanan telah siap, Bagas mengetuk pintu kamar Mita. "Hei, apa kau masih tidur? Keluarlah sekarang," ucap Bagas dengan nada sedikit ditinggikan.
Mita langsung bergegas membuka pintu dan melihat Bagas berdiri di ambang pintu kamarnya. Bagas memberi kode lewat dagunya, menunjuk makanan yang siap santap di atas meja. Dalam hati Mita berucap, "Akhirnya."
"Makanlah!!" perintah Bagas yang telah duduk di atas sofa. Sedangkan Mita telah mengambil sepiring makanannya namun dia bingung harus duduk di mana.
Melihat Mita masih berdiri di depannya, Bagas Pun menegurnya. "Apa kau akan tetap berdiri seperti itu? kemarilah," perintahnya menepuk sofa di sebelah duduknya.
Sofa di ruangan itu hanya ada satu, jadi mau tidak mau Mita harus duduk bersebelahan dengan Bagas.
Mita masih memandangi makanan di hadapannya. Sedangkan Bagas sudah menyantapnya hingga tersisa setengahnya. Melihat makanan Mita masih utuh, lagi-lagi Bagas menegurnya.
__ADS_1
"Jadi kau tak suka makanan mahal seperti ini? Apa kau tidak tau cara makannya?"
Mita mengangguk, membuat Bagas berdecak dan menggelengkan kepalanya.
"Jadi kau tidak tahu caranya makan steak? Mana tanganmu, aku ajari. Dasar gadis kampung, makan steak saja tidak bisa," omelnya.
Bagas memegang kedua tangan Mita dan mengajarinya cara memegang garpu dan pisau daging dengan benar. Jangan tanya jantung Mita saat itu terasa ingin keluar dari tubuhnya.
Bayangkan saja posisi Bagas di samping Mita, bahkan dada Bagas telah menempel di punggung Mita. Kedua tangannya telah memegang kedua tangan Mita. Sedangkan wajah Bagas hampir menempel di pipi Mita. Jika Mita bergerak sedikit saja, sudah di pastikan dia akan mendapat ciuman perdana dari Bagas.
"Perhatikan baik-baik, aku tidak akan mengulanginya jika kau tetap tidak mengerti nantinya. Pertama-tama, letakkan garpu di tangan kiri dan pisau di tangan kanan. Saat memotong daging steak, kamu bisa menahan daging menggunakan garpu kemudian memotongnya dengan pisau. Untuk menyantap daging, kamu harus meletakan pisaunya terlebih dahulu di atas piring. Kemudian, pindahkan garpu ke tangan kanan dan mulailah menyantapnya."
"Astaga, kenapa orang kaya cara makannya seribet ini. Tinggal makan saja, kenapa serepot ini," batin Mita.
Mita telah menyantap daging steaknya, Bagas masih memperhatikan cara Mita mengunyahnya. Saking groginya membuat gadis itu tersedak.
"Cih, dasar gadis kampung!!" ucap Bagas tertawa.
"Setelah selesai kamu bisa meletakkan garpu dan pisau berdampingan di atas piring dengan posisi garpu menghadap ke bawah. Bukan seperti ini, ini salah cara kamu meletakkannya," omel Bagas lagi dan lagi membuat telinga Mita panas.
"Pak. Saya lapar, bisakah saya langsung memakan steak ini tanpa ribet?" protes Mita, langsung mendapat pelototan dari Bagas. Gadis itu langsung menutup mulut dan menundukkan pandangannya.
Bahkan setelah itu Mita enggan menyantap steaknya lagi. Karena dia belum bisa memakannya dengan prosedur yang Bagas ajarkan tadi.
Bagas langsung mengambil alih piring Mita, dan membantu gadis itu memotong steaknya menjadi kecil-kecil. Lalu Bagas memberikannya pada Mita, langsung di tangannya.
__ADS_1
"Tuh, tinggal makan. Besok kau harus belajar sampai kau bisa. Jangan membuatku malu hanya gara-gara kau tidak bisa cara memakan steak yang benar."
Bagas beranjak masuk ke dalam kamar Mita, dia berniat mandi. Mita yang kepo pun langsung bertanya, ketika melihat Bagas memasuki kamarnya.
"Pak Bagas mau kemana?"
"Mandi. Di ruangan ini hanya ada satu kamar mandi. Cepat habiskan makananmu, jangan banyak tanya."
"Satu kamar mandi? Untung ada dua kamar. Bagaimana jika satu kamar, apa kami akan tidur sekamar?"
Mita langsung menghapus pikiran ngawurnya dari otaknya. Cepat-cepat dia memakan habis steaknya tanpa menggunakan prosedur dari Bagas. Yaitu menggunakan garpu tanpa pisau dan dalam hitungan detik langsung tandas tak tersisa.
Tak lama Bagas keluar, penampilannya pun telah rapi dan wangi. Bagas akan melihat suasana di luar dan meninggalkan Mita di sendiri.
"Aku akan mengecek di luar sana. Jangan keluar dari ruangan ini. Jika kau merasa jenuh, kau bisa nonton televisi atau bermain ponsel," ucapnya lalu keluar meninggalkan Mita sendiri.
Gadis itu merasa menjadi tahanan yang terkurung di ruangan VIP. Tidak melakukan apapun, hanya duduk manis bermain ponsel sendirian. Berselancar melihat sosial medianya, dan hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
Berbeda dengan Davin dan Vey. Dua pengantin yang bukan pengantin baru lagi itu, kini sedang bermesraan di dalam kamar hotel.
Dunia terasa milik mereka berdua, melepaskan rindu bersama. Tidak ada yang mengganggu aktivitas mereka yang saling bercinta. Jangan dibayangkan karena pasti sudah tahu apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri di dalam kamar hotel.
Seakan mereka merasa puas telah melewatkan ujian-ujian yang berliku. Seakan mereka telah merasa lega karena ancaman terbesar mereka telah terkurung di dalam penjara.
"Sayang, kenapa kamu semakin pintar sekarang dan semakin sexy!!" ucap Davin membelai wajah Vey.
__ADS_1
"Apa mas Davin baru menyadarinya? Aku harus lebih pintar dan sexy, agar suamiku ini tidak melirik wanita lain. Tidak akan kubiarkan pelakor kedua merusak rumah tangga kita."
Davin tersenyum, diakuinya Vey semakin hebat soal urusan ranjang. Davin juga masih mengingat saat istrinya itu menjadi sekretarisnya dulu. Sangat sexy dan membuat dia tergila-gila.