
"Eh, kalian sudah pernah lihat foto almarhumah istri bos?" bisik-bisik antar karyawan tak sengaja terdengar di telinga Davin di jam istirahat.
"Belum pernah sih, memangnya kenapa?" sahut karyawan lain.
"Sayang banget semua yang bekerja di sini tidak pernah melihat wajah almarhumah istrinya bos. Aku sih denger bos pernah menikah juga dari anak-anak lain."
"Eh, kalian tahu apa penyebab istrinya bos meninggal?" mereka saling sahut-sahutan karena kepo.
"Dengar-dengar karena kecelakaan. Bos mengalami amnesia, dari sikapnya saja sudah berbeda. Dulu, bos selalu murah senyum dan penyabar. Gak seperti sekarang, gampang marah-marah gak jelas. Tapi anehnya, setelah istrinya meninggal, kok ada kabar si bos tunangan dengan mbak Renata. Kapan tunangannya? Kok kita gak di undang."
Davin pura-pura tidak mendengar, dia berlalu menuju ruangannya sambil memegangi kepalanya yang mendadak pusing. Diliriknya meja sekretarisnya kosong, entah kemana Vey pergi.
"Sayang kamu lama banget sih? Dari mana saja? Aku masih menunggumu," ucap Renata manja.
Davin memijat keningnya yang terasa pusing. Memikirkan ucapan karyawannya, sehingga dia tidak merespon ucapan Renata.
"Ren, ceritakan bagaimana kronologi kecelakaanku dulu!!" tanya Davin tiba-tiba, di saat Renata bergelayut manja di tubuhnya. Renata langsung menjauhkan tubuhnya setelah mendengar pertanyaan Davin.
"Kenapa kamu tiba-tiba tanya hal itu?" Renata mengalihkan pandangannya sambil berfikir penyebab Davin tiba-tiba membahas soal kecelakaannya.
"Akhir-akhir ini aku sering bermimpi bahkan saat sadar pun pernah terlintas bayangan samar seseorang yang tak jelas di pikiranku. Apakah aku pernah menikah dan istriku meninggal?
Renata langsung berdiri, menjauhkan dirinya dari Davin. Dia ******* ***** tangannya karena gugup dengan pertanyaan Davin.
"Awalnya hanya mimpi, tapi akhir-akhir ini bayangan itu selalu hadir sekilas di saat aku sadar. Apakah itu bayangan mantan istriku? Apakah semua mimpi dan bayangan-bayangan samar ada kaitanya dengan kecelakaan yang menimpaku? Soalnya bayangan perempuan itu tidak jelas," lanjutnya lagi.
Renata masih diam tidak menjawab pertanyaan Davin. Bahkan dia malah mondar mandir tidak jelas karena bingung harus menjawab apa.
"Ren, jawab!!"
"Sayang, sudah kamu jangan mikir yang berat-berat dulu. Nanti kepalamu pusing lagi, lagian aku juga gak tahu kronologi kecelakaan yang menimpamu," ucap Renata.
__ADS_1
"Gak bisa, Ren. Aku lagi penasaran, apakah mimpi dan bayangan samar itu ada kaitannya dengan kecelakaan yang menimpaku. Apa aku amnesia dan ada seseorang yang ku lupakan di masa lalu. Lantas di mana makam istriku, jika memang benar istriku meninggal."
"Sialan, bagaimana Davin tiba-tiba membahas ini. Pasti gara-gara Vey, siapa lagi kalau bukan Vey," gumam Renata.
"Sayang, memangnya kamu mimpi apa, sih?" tanya Renata membelai tubuh Davin, sengaja supaya Davin terangsang dan melupakan pertanyaannya. Sayangnya Davin tidak terpancing, dia malah menceritakan mimpinya pada Renata.
"Aku mimpi ada dua orang pria dan wanita naik mobil. Lalu Rem mobilnya blong, sehingga terjadilah kecelakaan. Kira-kira seperti itu walaupun samar-samar."
"Itu cuma bunga tidur. Jangan terlalu dipikirkan, sayang. Memang benar kamu pernah punya istri dan istrimu sudah meninggal. Aku sendiri tidak tahu di mana dia dimakamkan. Dia hanya menitipkanmu padaku dan memintamu agar menikah denganku. Begitulah pesan dia sebelum meninggal, sayang."
Renata berkata bohong di bumbui tangisan buayanya. Davin terlihat sedih mendengar kenyataan bahwa dirinya pernah menikah. Apa lagi istrinya sudah meninggal, membuat Davin semakin sedih.
''Apa kamu memiliki foto almarhumah istriku?" tanya Davin, Renata menggeleng.
Entah kenapa masih ada hal yang mengganjal di hati dan pikiran Davin. Seolah dia tidak puas dengan jawaban Renata.
"Mas, aku mau pergi shoping dulu. Mama sudah nungguin di mall, gak enak kalau membuat mama menunggu terlalu lama."
"Pergilah!!" ucap Davin singkat, masih memegangi kepalanya yang terasa semakin pusing.
"Terimakasih, sayang!!" ucap Renata mencium pipi Davin lalu berbalik keluar meninggalkan ruangan. Renata menutup pintunya lalu menghela nafasnya. Dia mengusap kasar wajahnya, lalu berjalan menuju lift.
"Sayang, jangan lupa bawa bekal. Ini sudah aku siapkan sejak pagi untukmu. Aku tahu kamu sangat menyukai unagi. Daripada beli di luar, jadi aku buat sendiri khusus untukmu. Ini juga, kopi tanpa gula kesukaan mas Davin. Diminum sayang, mumpung masih hangat."
"Arrk. Siapa dia sebenarnya? Kenapa bayangannya selalu muncul. Kenapa hanya samar-samar, siapa sebenarnya wanita itu? Apakah dia adalah istriku."
Davin berteriak kesakitan. Vey yang baru kembali langsung membuka pintu ruangan Davin tanpa permisi.
"Pak Davin. Anda kenapa, pak?" tanya Vey panik, memegang bahu Davin.
"Menyingkir kau!!" Teriak Davin mendorong tubuh Vey hingga tersungkur ke lantai. Vey terkejut mendapati sikap kasar suaminya. Tapi matanya melihat suaminya memegangi kepalanya yang sakit.
__ADS_1
Vey bangkit, tidak mempedulikan tubuhnya yang sakit akibat di dorong Davin. "Saya panggilkan dokter, pak?" ucap Vey merogoh ponselnya.
"Tidak perlu. Keluar kamu dari sini, saya ingin sendiri!!" ucap Davin dengan nada mulai melemah.
Vey tidak tega melihat kondisi suaminya seperti itu. Tapi mengingat dirinya tidak diinginkan, Vey keluar. Dia menghubungi Bagas, menanyakan apakah orang suruhan kakaknya sudah mendapatkan obat untuk suaminya.
Beberapa kali panggilan tidak ada satupun yang diangkat oleh Bagas. Mungkin kakaknya sangat sibuk, sehingga tidak sempat mengecek ponselnya.
Di luar ruangan Vey masih mencemaskan kondisi suaminya. Bayangan Davin kesakitan sambil memegangi kepala, membuat Vey ingin menangis. Bahkan dia tidak mempedulikan tubuhnya yang masih terasa sakit. Davin mendorongnya cukup keras hingga tubuh Vey tersungkur di lantai.
"Kasihan kamu, Mas. Sabar mas, semoga orang-orang suruhan kakakku segera menemukan obat untukmu. Dadaku rasanya sesak, melihatmu tersiksa seperti itu," gumam Vey menangis.
Vey menghapus air matanya, dia mencari cara agar bisa kembali masuk ke ruangan Davin. Dia tidak bisa tenang jika hanya duduk di meja kerjanya. Sedangkan pikiran memikirkan kondisi suaminya di dalam sana.
"Kopi, aku akan membuat kopi sebagai alasan yang tepat!!"
Vey bergegas membuatkan kopi untuk Davin sebagai alasan untuk dia bisa melihat kondisi suaminya saat ini.
Setelah mengetuk pintu dan mendengar sahutan di dalam, perlahan Vey masuk ke dalam ruangan Davin.
Nampaknya suaminya sudah tidak kesakitan lagi. Davin terlihat memejamkan matanya di posisi berbaring di atas sofa.
"Kopinya, pak!!" ucap Vey. Matanya melirik kondisi suaminya saat ini. Rasanya, dia ingin membantu pijatan ringan di kepala suaminya, namun di urungkannya.
"Apakah kondisi pak Davin sudah membaik?" Vey memberanikan diri bertanya.
"Ya. Kalau boleh kembali ke meja kerjamu!!" perintah Davin, masih di posisi mata terpejam.
"Jangan lupa diminum kopinya, pak. Saya permisi keluar!!" Vey enggan melangkah keluar, rasanya berat meninggalkan suaminya.
Setelah Vey keluar dari ruangannya, Davin duduk lalu meminum kopi buatan sekretarisnya. Lagi-lagi kopi pahit tanpa gula mengingatkannya pada bayangan seorang wanita yang sempat terlintas di pikirannya.
__ADS_1