
"Jelaskan, bagaimana kamu bisa tahu, saya menyukai kopi tanpa gula?"
Davin bertopang dagu, menunggu jawaban dari Vey. Ini bukan suatu kebetulan lagi baginya, karena Vey banyak mengetahui tentangnya.
"Ya ampun, astaga pak. Davin. Berarti saya tadi lupa memberi gula. Bagaimana jika saya buatkan lagi kopi manis untuk pak. Davin?"
Lagi-lagi Vey menemukan alasan yang tepat di saat dia terdesak. Dia merutuki kebodohannya, lain kali dia akan lebih berhati-hati. Sulit merubah segala kebiasaan Davin yang telah melekat pada diri Vey.
"Tidak perlu. Mulai besok jangan buat teh untuk saya. Saya lebih menyukai kopi pahit tanpa gula," perintahnya.
Vey tersenyum mengangguk, lalu meminta izin keluar ruangan. Bisa habis dimakan suaminya hidup-hidup, jika dia masih di ruangan yang sama dengan suaminya.
"Berhenti. Saya belum mengizinkan kamu keluar."
Vey mengibaskan tangannya di udara setelah mendengar ucapan suaminya. Dia membalikan badan, memandang penuh tanya pada Davin.
"Besok kita ada jamuan makan malam dengan pak. Devano. Kamu harus tampil maksimal, jangan bikin malu saya. Sekarang ikut saya, saya akan membelikan gaun untuk kau kenaka besok," ujar Davin bangkit dari duduknya.
"Tapi, pak. Saya masih mempunyai banyak gaun."
"Tidak ada penolakan, karena ini bukan permintaan melainkan sebuah perintah," ucap Davin membuka pintu ruang kerjanya dan menyuruh Vey mengikutinya.
Banyak karyawan yang memandang aneh pada saat Davin dan Vey keluar dari ruangan. Apalagi posisi tangan Davin yang menyeret tangan Vey.
Rizal yang juga melihat mereka pun terkejut. Semua karyawan berada pada asumsi masing-masing.
Davin menyetir mobilnya sendiri, tanpa ada sopir yang mengantarnya. Di dalam mobil mereka hanya berdua saja. Mereka adalah suami istri, tetapi sangat mirip anak abg yang sedang pdkt.
Tiga puluh menit dalam perjalanan menuju butik yang Davin pilih. Kini mereka telah sampai, butik yang sama ketika mereka memesan gaun pengantinnya dulu.
Kenapa bisa kebetulan, kenapa harus butik yang sama. Padahal banyak butik tak jauh dari lokasi kantor. Kenapa Davin membawa Vey ke butik yang sama yaitu butik maharani.
"Suatu kehormatan tuan dan nyonya Damian berkunjung kembali ke butik kami," ucap wanita setengah pria yang bernama Betty.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Kami baru pertama kali datang ke butik ini," ujar Davin.
Betty hendak menjawab, tetapi Vey memotong ucapannya. Dia tahu, Betty sangat mengenal Vey dan Davin. Vey berbisik pada Betty, mengenai kondisi suaminya. Untuk saja Betty cepat paham, lalu menyesuaikan dengan kondisi saat ini.
"Carikan gaun yang cocok untuknya," perintah Davin.
Vey mencoba semua gaun yang dipilihkan Betty untuknya. Dari mulai yang tertutup hingga terlalu terbuka.
Vey keluar mengenakan gaun berwarna merah. Bahu putih mulusnya terlihat begitu indah, serta warnanya kontras dengan kulit putihnya. Bagian dada rendah, memperlihatkan belahan dada yang sedikit menonjol, terkesan sexy namun tetap terlihat sopan.
Davin melihat penampilan Vey, hingga sulit mengedipkan matanya. Vey sangat cantik mengenakan gaun itu. Tapi dia tidak suka, bagian dadanya terlalu terekspos.
Davin yang melihatnya saja, tiba-tiba nafsu liarnya muncul. Apa lagi jika Devano juga melihatnya, pasti dia pun sama dengan Davin. Entah kenapa ada perasaan tidak rela di dalam dirinya, jika Vey memakai gaun itu.
"Jelek, beri dia gaun yang lebih tertutup. Atau beri saja dress tanpa lengan yang panjangnya sebatas lutut," perintah Davin.
Vey memasuki kembali ruang ganti bersama Betty. Pilihan Davin jatuh pada dress tanpa lengan berwarna mint. Vey sangat anggun mengenakannya, meskipun tetap saja bagian dadanya terlihat menonjol.
Apa boleh buat karena Vey memiliki dada yang montok. Meskipun dia mengenakan model gaun seperti apapun, bagian itu tetap saja menonjol.
Vey tersenyum menanggapi ucapan Betty. Betty tidak mengetahui kejadian pahit di dalam rumah tangga Vey dan Davin. Yang Betty tahu, dia dulu adalah perancang gaun pernikahan Vey dan Davin.
"Nona Vey tetap cantik, bahkan lebih cantik dari sebelumnya. Dulu waktu nona datang untuk fitting gaun pernikahan, nona begitu polos tanpa make up. Sekarang sudah pintar berdandan hingga eike pangling melihatnya," ucap Betty, membuat Vey teringat masa-masa kebahagiaannya dulu.
Dulu, setelah menjalani masa pacaran selama tiga tahun dengan Davin. Vey dan Davin memutuskan menikah. Di butik inilah mereka fitting gaun pengantin. Dulu keduanya masih sama-sama polos, belum berubah seperti sekarang.
Sekarang keadaanya sudah berbeda. Dulu Vey datang ke tempat ini bersama calon suaminya. Kini dia datang kemari tetap bersama suaminya namun dalam kondisi yang berbeda.
Membayangkannya saja, membuat Vey merasakan kesedihan. Dia ingin kembali ke masa masa itu, bahagia bersama suaminya. Betty yang melihat perubahan Vey, mendadak bingung.
"Aduh aduh aduh. Kenapa you terlihat sedih, nona? Apa ada yang salah dengan kata-kata eike?" tanya Betty.
Vey segera menghapus air matanya yang menetes sedikit di pipinya. Dia menggeleng dan tersenyum lewat pantulan cermin di depannya.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya terharu mengenang betapa indahnya moment pernikahan kami waktu itu," ucap Vey, yang tidak semuanya bohong.
"Oh, begitu rupanya! Wajar saja, kalian berdua adalah pasangan yang sangat serasi. Yang satu ganteng dan yang satu cantik. Pasti anak-anak kalian nantinya ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Apakah kalian sudah memiliki anak?" tanya Betty, lagi-lagi memancing kesedihan Vey.
Vey mengangguk, tersenyum dengan tetesan air mata. "Kami sudah memiliki anak, tetapi Tuhan lebih menyayanginya," ucap Vey.
Betty ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Vey. "Maafkan eike nona, eike tidak bermaksud membuat you sedih."
"Tidak, ini kamu tidak perlu minta maaf. Baiklah, tolong bungkus dress ini untuk ku," ucap Vey, lalu keluar menemui suaminya.
Sebelum keluar, Vey memoleskan sedikit bedak untuk menutupi sisa tangisnya. Dia tidak ingin membuat Davin cemas. Setelahnya dia keluar menemui suaminya dengan memasang senyuman termanisnya.
"Sudah selesai?" tanya Davin memperhatikan Vey.
"Sudah, pak!!" jawab Vey.
Davin berjalan menghampiri Betty, dia akan membayar gaun yang telah dipilih. "Gaun berwarna merah tadi, bungkus juga gaun itu," pinta Davin.
Meskipun terlalu terbuka, gaun itu sangat indah di tubuh Vey. Dia tidak ingin Vey memakainya di depan umum. Tetapi dia ingin Vey menyimpannya untuknya.
Davin memang amnesia, tapi sikap posesifnya kepada Vey tetaplah sama. Setelah mengemas semua pesanan, Betty menyerahkannya kepada Davin.
"Terimakasih untuk kalian yang selalu menyukai gaun-gaun rancangan eike. Semoga kalian berdua selalu bahagia dan langgeng," ucap Betty.
Vey tersenyum dalam hati mengaminkan ucapan Betty. Berbeda dengan Davin menatap bingung pada ucapan Betty.
Davin sama sekali tidak mengingat, bahwa butik itu adalah butik langganannya dengan Vey. Apalagi ucapan Betty yang mendoakan mereka berdua langgeng. Davin beranggapan, mungkin Betty mengira antara dia dan Vey memiliki hubungan seperti sepasang kekasih.
Davin menyerahkan paper bag yang berisi gaun-gaun yang baru dia bayar. "Saya ingin kamu mengenakan dress di acara besok. Untuk gaun yang warna merah, simpan saja," ucap Davin.
Vey tersenyum, dia sangat hafal kebiasaan suaminya yang tidak berubah dari dulu, meskipun kondisinya saat ini tidak seperti dulu. Vey sangat merindukan sikap possesive suaminya itu.
Mereka berjalan beriringan memasuki mobil yang terparkir tepat di depan butik. Mereka tidak akan kembali ke kantor. Davin akan mengantar Vey pulang ke apartemennya.
__ADS_1
"Brengsek. Bagaimana mereka berdua bisa bersama saat ini," ucap seseorang di dalam mobil.