
"Apa yang baru saja kamu kerjakan di ruangan pak Davin?" tegur Vey.
Si office boy terkejut melihat Vey tiba-tiba menghadang langkahnya. Dia hanya terkejut, bukan berarti gugup. Meskipun si office boy masih menundukan kepalanya.
"Saya baru saja menata buku dan berkas-berkas berserakan di lantai ruangan pak Davin, mbak Vey," ucapnya pelan sambil menengok ke belakang, takutnya Renata melihatnya.
"Siapa yang menyuruhmu? Apakah Renata?" bisik Vey. Si office boy pun mengangguk singkat, lalu Vey menyuruhnya pergi.
Vey tersenyum, dalam benaknya menertawai Renata. Mau mencari hingga ke ujung langit dan gunung berubah menjadi bulat pun, berkas itu tidak akan mampu Renata temukan.
Vey terus tersenyum tanpa sadar Davin sudah berada di hadapannya. Vey terkejut, dia langsung menetralkan ekspresinya.
"Sebahagia itu kah kau bertemu dengannya? Hingga sampai detik ini kau tersenyum sendiri membayangkan muka Devano, hah?"
Vey di buat menganga mendengar penuturan suaminya barusan. Terlihat jelas ekspresi kurang bersahabat di wajah Davin.
"Pak Davin ngomong apa sih? Jangan ngaco deh, pak. Saya dan pak Devano tidak memiliki hubungan spesial selain rekan bisnis.
Ucapan Vey bagai angin lalu bagi Davin. Davin hendak melangkah, namun tiba-tiba Vey menghadangnya. Dia ingin meluruskan kesalahpahaman suaminya saat itu juga.
"Tunggu pak. Jangan pergi, dengarkan dulu penjelasan saya!!"
Tapi Davin tetap mengacuhkan Vey. Bahkan tangan kanannya sudah memegang handle pintu ruangannya.
"Pak Davin masih ingat jamuan makan malam di restoran bersama pak Devano tempo hari? Pak Davin juga masih ingat saya berkelahi dengan tunangan anda di depan toilet? Anda tahu? Seberapa parah luka saya saat itu dan hanya pak Devano yang peduli kepada saya."
"Wah, bagus! Jadi apakah dia dewa penolongmu? Lantas untuk apa kau ceritakan kembali kejadian itu pada saya?"
Vey menarik nafas dalam-dalam. Berbicara dengan suaminya kali ini benar-benar menguras kesabarannya. Mumpung Renata masih di dalam ruangan Davin. Vey akan terus berusaha meyakinkan suaminya.
__ADS_1
"Pak Davin hanya peduli dengan tunangan anda, pak. Meninggalkan saya begitu saja yang terluka pada saat itu. Lantas apa salahnya jika saya menerima bantuan pak Devano? Apa anda ingin saya pulang sendiri dalam keadaan terluka?" ucapnya, nadanya sedikit emosi namun dengan suara pelan.
Davin bungkam, dia mengingat kesalahannya waktu itu. Benar kata Vey barusan, dia hanya memikirkan Renata waktu itu dan melupakan kondisi Vey yang lebih terluka karena amukan Renata.
Seolah bibirnya tak mampu berucap apapun. Davin berlalu begitu saja tanpa permohonan maaf pada Vey. Dia masuk ke dalam ruangannya, membawa rasa bersalah yang masih mengganggu pikirannya.
Renata yang duduk di sofa segera berdiri menghampiri Davin. Bergelayut manja di bahu Davin. Davin hanya diam, membiarkan semua yang Renata perbuat pada dirinya.
"Sayang, aku pulang duluan. Aku lelah ingin istirahat di rumah. Aku akan menunggu kepulanganmu. Jangan terlalu larut pulangnya, ya," ucapnya berlalu pergi meninggalkan Davin di ruangannya sendiri.
"Kenapa mendadak ada perasaan bersalah yang menggangguku? Apa mungkin benar, hubungan Devano dan Vey hanyalah gosip. Lantas bagaimana dengan Bagas? Apakah hubungan Vey dan Bagas juga gosip? Tapi tempo hari aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Betapa Bagas marah melihat Vey hampir mati dicekik Renata."
"Arrk. Kenapa semua ini membuatku pusing? Lantas untuk apa aku marah? mau berhubungan dengan siapapun itu urusan Vey. Tidak ku pungkiri, aku menyukai Vey. Apa lagi setelah semua yang kami lewatkan berdua."
"Arrrk. Ini gila, hubunganku dengannya di luar batas hubungan bos dengan sekretarisnya. Aku telah menghianati Renata dan apa itu artinya? Arrk. Tidak, aku tidak boleh menyakiti Renata yang selama ini menemaniku."
Davin masih berperang melawan pikirannya sendiri. Dia sungguh dilema memikirkan antara Vey dan Renata.
"Ma. Keluarlah, ada yang ingin ku bahas denganmu!!" teriak Renata, mengundang Mita mempersiapkan ponselnya untuk merekam interaksi ibu dan anak itu.
Retno yang terbangun dari tidur sorenya pun keluar dari kamarnya lalu menemui putrinya yang duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa sih? Lama-lama kuping mama budek gara-gara mendengar teriakanmu setiap hari," omel Retno.
"Ma. Kau tahu aku lelah sekaligus merasa kesal seharian ini. Aku tidak menemukan berkas perusahaan itu di kantor Davin. Kemana lagi aku harus mencarinya dan di mana Davin menyimpannya.
"Apa? Jadi kau pulang membawa tangan kosong? Apa jangan-jangan
Retno menerawang, bisa jadi berkas itu di tangan Vey. Renata langsung menyangkal dugaan ibunya.
__ADS_1
"Sepertinya tidak mungkin, ma. Masuk ke rumah ini saja dia tidak bisa apalagi mengambil berkas itu di ruangan kerja Davin. Apalagi di sana ada kamera tersembunyi di setiap
Renata menggantung ucapannya setelah menyadari sesuatu. "Astaga, ma. Bagaimana bisa aku melupakan satu hal. Aku lupa ada kamera di ruangan Davin, saat aku membongkar berkas-berkas serta buku-buku di ruangan itu."
"Bagaimana bisa kau seceroboh itu, Renata. Besok pagi kau harus menghapus jejakmu. Mama tidak ingin karena ulah bodohmu, rencana kita berantakan. Dan ada satu lagi, secepatnya kau harus berpura-pura hamil. Kita tidak bisa menemukan berkas-berkas itu. Setidaknya dengan kau berpura-pura hamil, maka Davin akan menjadikan bayi itu sebagai pewarisnya.
"Tapi bagaimana dengan Vey, ma? Dia masih berstatus istri sah Davin?"
Retno tersenyum licik, dia membisikan sesuatu di telinga Renata. Keduanya sama-sama tertawa membuat Mita yang dari tadi menguping pembicaraan keduanya menjadi penasaran.
"Ide yang bagus, ma. Mama tahu, aku pun sudah muak melihat wanita itu setiap hari di kantor Davin. Kematiannya Lah yang kita tunggu-tunggu, bukan? Setidaknya jika dia mati, maka kita tidak akan repot-repot membuat Davin menceraikannya."
Bayangan keduanya membayangkan kematian Vey, membuat keduanya terus menerus tertawa. Seolah kematian Vey adalah hal yang menarik bagi mereka.
"Masuklah ke kamarmu dan temui Davin. Ingat pesan mama, jangan ceroboh jika tidak ingin usaha kita selama ini sia-sia."
Renata menuruti perintah ibunya. Dia memasuki sebuah kamar yang selama beberapa bulan di tempatinya dengan Davin.
Renata melepas semua pakaiannya, menggantinya dengan gaun tidur tembus pandang. Dia akan memulai aksinya, agar Davin bisa yakin ketika dirinya berpura-pura mengandung bayi Davin.
Kakinya melangkah menuju ranjang, di mana Davin telah terlelap. Dilepasnya kancing kemeja Davin satu persatu. Kemudian resleting celananya hingga menyisakan ****** ******** saja.
Renata ikut membaringkan tubuhnya di samping Davin. Membuat Davin seolah-olah sedang mencium lehernya.
Diambilnya ponsel Davin yang berada di nakas. Lalu dia memfoto dirinya dengan Davin, yang seolah sedang bercinta.
Send...
Satu foto telah Renata kirimkan pada seseorang, melalui ponsel Davin. Dia menyeringai puas, lalu menghapus notif pengiriman di ponsel Davin.
__ADS_1
"Nikmatilah kejutan spesial, ini," ucapnya, tersenyum licik.