
Semua mata tertuju kepada Vey, bahkan mereka semua di buat terkejut akan kehadirannya. Wanita yang dikabarkan tewas secara mengenaskan beberapa hari lalu, kini berada di sana, di tempat pernikahan Davin di gelar.
Bagas menginterupsi semua orang-orangnya untuk menjaga keamanan. Mulai dari depan rumah Davin, belakang dan sekelilingnya. Takut-takut Renata dan Retno akan kabur nantinya. Bahkan di depan sana sudah ada polisi yang diam-diam di mintanya datang kesana.
Renata terkejut melihat kedatangan Vey yang tiba-tiba. "Jadi yang mati kemarin siapa? Kenapa dia masih hidup?" gumamnya pelan.
Renata segera berdiri, melihat Davin berdiri, dia pun ikut berdiri. Renata melihat pandangan Davin berfokus pada Vey. Membuatnya tidak terima jika sampai Davin mengingat Vey.
"Sayang, apapun yang diucapkan wanita itu semuanya bohong. Kamu percaya denganku bukan?" ucap Renata memulai drama barunya. Davin menoleh memandang Renata singkat, sebelum pandangannya berpindah kembali pada Vey.
Renata beranggapan dari cara Davin memandang Vey, Davin telah mengingat Vey sebagai istrinya. Tetapi berbeda dengan Davin, dia memandang Vey karena penampilan istrinya hari itu sangatlah cantik dan membuatnya terpesona.
Vey semakin berjalan mendekati Renata dan Davin. Bahkan dia naik ke atas panggung, tidak menghiraukan banyaknya pasang mata memandang ke arahnya. Dia semakin dekat hingga kini posisinya berada tepat di depan Davin dan Renata.
"Mau apa kau kemari?" tanya Renata dengan ekspresi tidak suka. Dia menatap tajam Vey, karena dia terganggu atas kedatangan Vey, di hari pernikahannya.
Vey menatap Renata dan dia tersenyum memandang penampilan Renata. Perut sedikit membuncit yang membuat Vey ingin tertawa saat itu juga. Dia sudah tahu bahwa kehamilan Renata hanyalah kebohongan semata.
"Apa perlu kau bertanya kepadaku jika kamu sendiri sudah tahu jawabannya? Merebut kembali suamiku, karena dia adalah milikku!!" ucap Vey, menekankan setiap ucapannya.
"Tidak! Tutup mulutmu, dia adalah calon suamiku dan saat ini aku sedang mengandung anak kami. Kau tahu apa itu artinya? Aku sedang mengandung calon penerus Wings Corporations!!" ucap Renata bangga.
Tawa Vey yang ditahannya sejak tadi, meledak begitu saja, setelah mendengar ucapan Renata. Vey mendekati suaminya, menarik lengan Davin dan bergelayut manja di sana.
Renata semakin emosi lalu mencoba melepaskan tangan Vey dengan mendorongnya. Bukannya berhasil mendorong Vey, malah dia yang hampir terjatuh karena didorong Davin.
"Sayang, kau mendorongku? Kau hampir saja mencelakai bayi kita!!" ucap Renata sendu, lebih tepatnya hanya acting.
__ADS_1
"Tutup mulutmu Renata. Justru kamu yang ingin mencelakai istriku untuk kesekian kalinya. Kau pikir aku tidak tahu? Aku sudah mengingat semuanya dan sudah mengetahui semua kejahatanmu pada kami."
Renata semakin terkejut, bahkan kepalanya menggeleng seolah ucapan Davin salah.
"Jadi kau telah mengingat semuanya? Jadi kau sengaja menjebakku? Kenapa tidak kamu laporkan saja aku ke polisi? Biar saja aku dan anak kita mendekam di penjara," Renata berteriak sangat kencang dan hanya di balas dengan tawa dari Davin.
"Hamil? Kau yakin hamil anakku?"
Davin menjeda ucapannya, tangannya merogoh paksa bantalan di perut renata yang Rena gunakan untuk mengelabuhinya. Hingga bantalan itu kini berada di tangan Davin, membuat Renata malu karena di saksikan banyaknya tamu undangan yang hadir di sana.
Retno yang melihat putrinya di permalukan pun maju. Tanpa ada satupun yang tahu, kini Retno menodongkan pistol di kepala Vey. Semua orang yang ada di sana dibuatnya panik.
"Apa yang kau lakukan pada adikku, Retno?" teriak Bagas emosi. Retno hanya tersenyum meremehkannya.
"Lepaskan pistolmu dari kepala istriku!!" pinta Davin dengan nada penuh amarahnya.
Para rombongan petugas kepolisian yang telah di undang Bagas pun masuk. Mereka menegur Retno agar membuang jauh-jauh pistolnya. Namun Retno tidak takut, dia malah tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.
Seseorang menembak tangan Retno, hingga pistol di tangannya terlepas. Moment itu dimanfaatkan Renata untuk kabur. Dia tidak mau di tangkap polisi karena kasus pembunuhan yang dilakukannya untuk kedua kalinya.
Melihat Renata mencoba kabur, orang yang menembak Retno tadi, juga menembak kaki Renata. Membuat wanita itu jatuh karena tidak mampu lagi berlari.
Kini fokus semua orang tertuju pada sosok pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari pelaminan.
"Ayah!!" sapa Vey.
Orang itu adalah Bagus, ayah kandung Vey dan Bagas, sekaligus suami Retno.
__ADS_1
"Penjara adalah tempat yang pantas untuk kalian berdua. Setelah apa yang kalian perbuat padaku dan putriku. Aku sudah tahu semua kebusukanmu, bahkan kau sengaja membuatku lumpuh selama ini. Tangkap mereka dan bawa mereka ke penjara, kalau bisa hukum mati adalah hukuman yang pantas untuk mereka berdua," ucap Bagus dengan mosinya yang terkeluarkan semua, karena menahannya selama ini.
Seluruh anggota kepolisian yang berada di sana segera memborgol tangan Renata dan Retno. Tidak peduli mereka berdua sedang terluka. Hukum tetaplah hukum, bahkan penjara saja tidak cukup untuk mereka berdua.
Semua mata menyaksikan detik-detik Renata dan Retno di seret polisi, meninggalkan tempat acara. Davin memeluk Vey, Vey tersenyum puas serta merasa lega.
"Apakah kau puas, sayang?'' bisik Davin pada Vey.
Vey tersenyum menatap suaminya. "Sebenarnya aku belum puas, mas. Penjara adalah hukuman ringan untuk mereka. Apakah selepas dari penjara mereka tidak akan mengganggu kita lagi?"
"Lalu apa kau ingin mereka mati? Agar mereka tidak mengganggu kita lagi?" tanya Davin menatap mata istrinya. Dia melihat kebingungan di wajah istrinya. Davin tahu, Vey bukanlah orang jahat yang tega membunuh seseorang.
"Kau melupakan seseorang sayang. Lihatlah, ayahmu sedang melihatmu dari tadi. Temui beliau, kau pasti merindukannya, bukan?" ucap Davin. Vey segera melangkah menemui ayahnya dan langsung memeluk ayahnya sesampainya di sana.
"Ayah, aku sangat merindukanmu!!"
Bagus memeluk erat putrinya, membuat suasana menjadi haru. Seolah mereka terpisah sangat lama, walau kenyataannya memanglah begitu.
Bagas menemui adik, dan juga adik iparnya, serta ayahnya. Suara Bagas membuat Vey melepaskan pelukan ayahnya. "Apa kalian akan terus berdiri di sana? Daripada penghulu sia-sia datang kemari, lebih baik kalian segera menikah lagi. Bukankah surat-surat nikah kalian telah dibakar oleh dua wanita beracun tadi? Menikahlah kembali," pinta Bagas.
Vey menatap suaminya, lalu berpindah menatap ayahnya. "Ayah, maukah kau menikahkan kami kembali?" pinta Vey, dan di angguki Bagus.
Vey dan Davin tersenyum, mereka segera menghadap penghulu untuk dinikahkan kembali. Semua tamu undangan duduk kembali di kursi masing-masing, setelah dibuat takut oleh adegan live tadi.
Davin mengucapkan ijab qobul dengan sangat lancar. Kini mereka telah menikah kembali demi mendapatkan surat-surat nikah.
Semua tamu undangan bertepuk tangan memeriahkan kebahagiaan kedua mempelai yang telah kembali. Semua tamu undangan naik ke panggung satu persatu, memberi ucapan selamat pada mereka berdua.
__ADS_1
Bagas masih berdiri di samping Bagus. Entahlah dua ayah dan anak itu sepertinya belum bertegur sapa. Apa mungkin Bagas masih memendam kemarahan kepada ayahnya?