
Niat hati ingin berbicara serius empat mata dengan ayah Mita. Mendadak para tetangga Mita berdatangan dan ikut menyambut kedatangan Mita dan Bagas.
Tak banyak di antara para wanita mencuri pandang ke arah Bagas. Sepertinya mereka salah target, yang di lirik sama sekali tidak merespon. Jujur Bagas merasa risih dan hanya Mita yang mampu mengartikan raut wajah Bagas.
"Mita kamu kok tambah cantik dan semakin putih. Kamu pakai skincare merk apa, Mit?"
"Oh ya, mas nya ini namanya siapa? Ganteng banget, pintar kamu cari pacar, Mit!!"
"Kenalin dong kita-kita sama temanmu itu, Mit!!"
Banyak perkataan warga yang membuat Bagas dan Mita mendadak pusing. Mita berbisik di telinga Bagas, setelah melihat ekspresi kurang nyaman di wajah Bagas.
"Pak Bagas. Kalau anda tidak nyaman di sini, lebih baik pak Bagas masuk ke dalam kamar saja. Lagian mereka centil-centil, sedari tadi curi pandang sama pak Bagas!!" bisik Mita.
Bagas menaikan sebelah alisnya, dia memang terganggu tapi akan lebih terganggu jika Bagas pergi meninggalkan Mita sedangkan para lelaki menatap lapar ke arah Mita.
Karena mereka semua tidak segera pulang ke rumah masing-masing. Alhasil Bagas nekat mengutarakan maksud kedatanganya kesitu kepada pak Rudi.
Tidak peduli banyak orang di sana, malah lebih bagus, biar saja semua warga di sana tahu.
"Ehmm, permisi bisa diam sebentar?" tanya Bagas, mendadak suasana menjadi hening.
"Pak Rudi. Sebenarnya ada yang ingin saya katakan kepada bapak. Sebenarnya saya ingin bicara empat mata saja. Berhubung di sini banyak orang, maka saya akan langsung mengatakannya. Karena tidak baik menunda sesuatu. Niat kedatangan saya kemari, selain mengantar Mita, saya juga meminta izin kepada anda, saya ingin mempersunting putri anda. Apakah pak Rudi mengizinkan dan merestui?"
Semua warga yang menyaksikan penuturan Bagas menganga. Bagas terang-terangan melamar Mita untuk dinikahi. Berbeda dengan Mita yang mematung karena terkejut. Ini terlalu mendadak, dan Bagas tidak mengatakan padanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Apa saya mampu menolak lamaran anda nak Bagas. Apalagi setelah anda banyak membantu keluarga kami. Bahkan kami sendiri bingung bagaimana cara kami membalas budi. Bapak mengizinkan dan merestui, karena hanya itu yang bisa bapak lakukan, selebihnya saya serahkan kepada yang menjalani. Bagaimana ndok? Apakah kamu menerima lamaran nak Bagas?" tanya pak Rudi.
Mita susah payah menelan ludahnya sendiri. Dia masih terkejut serta memastikan pendengarannya tidak salah.
Tiba-tiba Bagas memegang kedua jemari tangan Mita. Gadis itu tersadar dari lamunan dan berganti kegugupan.
"Bagaimana Mita, apa kamu mau menikah denganku?" tanya Bagas menatap manik mata Mita yang berkilau karena terharu.
"Mita, buruan jawab. Kalau kamu menolak aku bersedia menggantikan mu!!" ucap salah satu gadis di sana.
Bukannya menjawab, Mita malah menarik Bagas pergi dari kerumunan warga. Mereka yang ada di sana malah tersenyum mengira Mira malu menjawab di depan semua orang. Sebagian juga ada yang mencibirnya.
Entah mendapat keberanian dari mana, sehingga Mita mampu menarik Bagas masuk ke dalam dapur. Setelah sampai di dapur, Mita membalikan badan menatap Bagas.
"Pak Bagas jangan bercanda, maksud pak Bagas tadi apa? Apa pak Bagas benar-benar melamar saya? Tapi kenapa mendadak tanpa memberitahu pada saya, pak?"
"Apa menurutmu aku bercanda? Gara-gara kamu pikiranku semakin liar. Apa lagi setelah kemarin kamu menciumku di dalam ruangan kantorku. Kamu harus bertanggung jawab, karena aku telah berjanji untuk tidak menyentuhmu, kecuali kita menikah. Aku menghargaimu sebagai wanita, karena aku memiliki adik wanita. Jadi menurutmu apakah aku bercanda?"
Mita tak mampu menatap wajah Bagas apalagi sedekat ini. Bayangan ciuman mereka kemarin, menari-nari di pikirannya. Bagas semakin mendekatkan wajahnya, hingga jarak mereka hanya tersisa satu cm saja. Bahkan hembusan nafasnya yang beraroma mint, mampu menembus indra penciumannya.
"Bagaimana Mita? Apakah kamu mau menikah denganku? Ku harap aku tidak akan mengulangi pertanyaan yang sama. Aku juga hanya meminta di antara dua jawaban, ya atau tidak!!"
Bodoh jika Mita bilang tidak, tapi degup jantungnya sulit dikontrol. Terlebih Bagas sedekat ini, membuatnya sesak.
"Pak, saya akan menjawab tapi jauhkan dulu wajah anda. Ini terlalu dekat, saya jadi susah bernafas!!"
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah kemarin kita melakukan yang lebih dari ini? Mau mengulanginya lagi?" tanya Bagas menggoda. Mita hendak menjawab, tapi tiba-tiba Bagas telah menempelkan bibirnya pada bibir Mita.
"Jedag jedug jedag jedug!!" begitulah suara jantung Mita saat ini.
Melihat Mita hanya diam saja, Bagas menggigit sedikit bibir Mita, membuat gadis itu membuka sedikit bibirnya.
Merasa ada celah, Bagas segera mengulang apa yang diperbuat Mita kemarin padanya. Mita terhanyut dan memejamkan matanya menikmati sensasi nyata tanpa pengaruh alkohol. Bahkan nalurinya membuat dia mengimbangi ciuman Bagas.
Bagas melepas pagutannya, lalu menghapus sudut bibir Mita. "Jangan diteruskan, aku bisa nekat. Sekarang jawab pertanyaan ku tadi!!"
Mita menganggukkan kepalanya tanda dia menerima lamaran Bagas. Bagas tersenyum lebar, menambah kadar ketampanannya. Jika boleh jujur, Mita sangat menyukai momen langka ketika Bagas tersenyum lebar.
Kedua tangan Bagas menangkap kedua pipi Mita. "Terimakasih telah menerima lamaran ku. Kau tahu artinya? Setelah kau menerimaku, kita akan menikah. Tidak ada acara pertunangan, hanya membuang-buang waktu. Aku ingin kita langsung menikah, dan artinya kau akan semakin terpenjara di sampingku!!" ucap Bagas menatap lekat wajah Mita.
"Bukankah saya memang telah anda penjara selamanya di samping anda, pak!!"
Bagas menutup bibir Mita menggunakan jari telunjuknya. Lalu mengusapnya lembut dan pandangannya terarahkan di bibir Mita.
"Itu beda konsep. Kali ini kau ku penjara sebagai istriku, bukan bundaku dan hanya aku yang berhak memilikimu seutuhnya. Kau harus siap-siap memiliki suami sepertiku!!"
Mita menahan senyum malu-malunya. Dia merasa sangat bahagia, karena pada akhirnya cintanya terbalaskan. Selama ini dia hanya memendam perasaannya pada Bagas. Karena baginya sangat lancang jika mencintai atasannya sendiri sedangkan dia hanyalah seorang budak.
Puas menatap wajah Mita, tiba-tiba Bagas mendaratkan ciuman singkat di kening Mita. Dia telah yakin dan tidak akan salah memilih istri. Karena baginya, Mita adalah kandidat calon istri terbaik. Vey juga mendukungnya menikahi Mita.
"Ayo kita umumkan kepada orang-orang di depan sana!!" ajak Bagas.
__ADS_1
Setelah menunggu lama dan penasaran, akhirnya orang yang di tunggu-tunggu kembali duduk di tempat semula. Bahkan Bagas menggenggam tangan Mita, membuat yang memandang menatap iri pada mereka.
"Karena Mita telah menerima lamaran saya, maka kami putuskan sebentar lagi kami akan menikah!!" ucap Bagas.