
Vey membuka kedua matanya yang baru akan terpejam. Ketika bunyi ponselnya mengganggu pendengarannya.
Notive whatsapp dari Davin mengalihkan pandangannya. Bergegas Vey membuka aplikasi berwarna hijau itu, karena tumben suaminya mengirim whatsapp padanya.
Seketika matanya melotot tajam, ketika nomor Davin mengiriminya foto percintaannya dengan Renata. Hanya saja bagian tubuhnya dibuat blur dan bagian wajahnya sangat jelas.
"Mas Davin!!" teriaknya sambil menangis sesenggukan.
Dia tidak terima suaminya disentuh wanita lain, apalagi wanita itu adalah Renata. Walau sebenarnya dia tahu, selama ini suaminya sering melakukan hubungan haram dengan Renata. Tetapi foto yang baru saja dia lihat, seolah menyakiti hatinya.
Bagas baru pulang dari Singapura malam itu. Dia langsung menuju apartemennya yang ditempati Vey saat ini. Baru juga dia membuka pintu apartemen. Suara tangisan adiknya membuatnya bergegas menutup pintu lalu membuka paksa kamar adiknya.
Vey terkejut, melihat pintu kamarnya dibuka secara paksa oleh seseorang. Bagas reflek langsung memeluk adiknya ketika melihat adiknya menangis histeris.
Matanya melirik ponsel Vey yang masih menyala. Menampilkan dengan jelas kiriman foto percintaan Davin dan Renata. Jelas Bagas dalam keadaan lelah bertambah emosi setelah melihat foto di layar ponsel adiknya.
"Kak, hatiku sakit. Aku tidak terima suamiku di sentuh wanita itu. Kenapa mas Davin tega mengirim foto percintaannya dengan Renata padaku?"
Vey terus menangis di dalam dekapan kakaknya. Salah satu sosok yang selalu memberi ketenangan dan selalu dia rindukan telah kembali.
"Kau percaya ini adalah ulah Davin? Bisa jadi ini adalah manipulasi yang wanita setan itu buat, untuk memancing kemarahan mu. Jangan menangis, jangan pedulikan foto ini, karena kakak yakin, ini adalah ulah Renata."
Vey melepas pelukan kakaknya, dia mendongakkan wajahnya menatap Bagas. Bagas mengusap wajah Vey yang di penuhi air mata.
"Sudah berkali-kali kakak bilang padamu, kakak tidak menyukai air matamu. Sudah jangan pikirkan ini dulu. Kamu istirahat, ya? biar kakak yang membalas wanita itu."
__ADS_1
Vey membaringkan tubuhnya. Bagas menyelimuti tubuhnya sebelum dia beranjak dari ranjang Vey. Namun sebelumnya dia berpesan satu hal lagi pada Vey.
"Jangan membahas tentang foto itu pada Davin. Pura-pura saja tidak tahu dan tetap bersikap seolah kau tidak pernah melihat foto tadi. Jangan membuat wanita itu senang melihat kesedihanmu. Ingat Vey, kamu adalah wanita kuat. Kau masih memiliki kakak sepertiku yang masih bisa di andalkan."
Vey mengganggu. "Baiklah kak, aku akan diam dan bersikap biasa saja."
Bagas berlalu membuka handle pintu kamar Vey dan mematikan saklar lampu di kamar Vey. Bagas sangat lelah, bahkan dia belum sempat mandi. Pulang-pulang sudah di suguhi tangisan adiknya. Tubuh lelah serta emosinya menyatu dan ingin meledak saat itu juga.
Dia bisa saja menyuruh Mita untuk meracun Renata dan Retno agar mati secepatnya. Tapi dia masih bisa memikirkan dampak buruk akan menimpa Mita, jika dia menyuruhnya melakukan itu.
Bagas akan mencoba main cantik, meskipun pelan tapi akan menghancurkan Renata dan ibu tirinya.
Bagas memasuki kamarnya yang nampak gelap. Ditekannya saklar di samping pintu, kamar yang tadinya gelap berubah terang.
Matanya melihat papan cantur berada di pojok kamarnya. Bagas berjalan mendekat ke arah papan catur yang dia lihat. Tangannya memegang raja dan ratu catur berwarna hitam, yang di artikannya adalah sosok Renat dan Retno.
"Semua ada waktunya, begitupun men skak mat lawan seperti kalian berdua!!" ucap Bagas. Matanya menatap tajam ratu dan raja catur berwarna hitam.
Bagas masih emosi, hingga membanting papan catur di hadapannya. Langkahnya menuju balkon, membuka pintunya dan dia berdiri melihat kerlap kerlip lampu kota di malam hari.
Diambilnya sebatang rokok untuk di sesap nya. Pandangannya lurus ke depan, seolah menerawang hal apa yang akan dia lakukan besok.
____________
"Kalian mau apakan aku? Mau kalian bawa kemana aku? Lepaskan. Dimana suamiku? Aku ingin bersamanya," teriak Vey, ketika dua orang pria bertubuh besar mengikat kedua tangannya.
__ADS_1
Renata muncul bersama Davin. Mereka berdua mengenakan pakaian pengantin berwarna putih gading.
Dua pria berbadan besar itu, memaksa Vey menyaksikan pernikahan Renata dengan Davin. Air matanya tumpah, dia merasa tidak rela suaminya menikahi Renata.
Apa lagi kondisi Renata yang telah berbadan dua, mengalihkan fokus Vey yang bertambah histeris.
"Jangan ambil suamiku, kembalikan dia padaku Renata. Kau mengambilnya dariku dengan cara licik. Lepaskan dia brengsek, wanita iblis tidak punya hati. Lepaskan suamiku dari jeratmu, selama nya aku tidak akan ikhlas dengan pernikahan kalian."
"Kamu mau apa? Percuma kau berteriak. Putriku sebentar lagi akan menjadi penggantin. Kau akan ku lenyapkan setelah ini, Vey. Anak tiriku yang malang dan bodoh, nikmati pemandangan di depanmu ini. Bagaimana rasanya melihat suami tercinta menikahi wanita lain? Hahahaha.
Retno tertawa lepas melihat banyaknya luka di wajah anak tirinya. Vey memalingkan muka nya, dia tidak sanggup melihat pernikahan suaminya dengan Renata.
Retno menjambak rambut Vey, memaksannya mendongakkan wajahnya melihat pernikahan Davin dengan Renata.
"Saksikan pernikahan suamimu, bodoh. Nikmati sisa waktumu sebelum nyawamu ku lenyapkan dari dunia ini. Kau tahu? Kehadiranmu akan menghambat kebahagiaan putriku. Kau pantas mati Vey, dasar anak tiriku yang bodoh dan malang."
"Tidak. Aku tidak ingin melihat mereka, lepaskan aku. Biarkan aku menggagalkan pernikahan suamiku. Dia milikku, aku istri sah Davin. Restuku menentang pernikahan mereka berdua. Sampai kapanpun aku tidak akan ikhlas. Lepaskan aku, perempuan tua sialan," teriak Vey. Retno hanya menertawakan tingkah Vey yang dianggapnya mendekati gejala kegilaan.
Vey terus memberontak ingin lepas dari ikatan di kedua tangannya. Namun begitu sulit, tidak seperti yang dia bayangkan. Dua pria yang mengikat kedua tangan Vey, mengikatnya sangat erat.
"Hei, kalian berdua, lepaskan ikatan di kedua tanganku. Berapa mereka menggaji kalian untuk melakukan pekerjaan yang menjijikan ini," teriak Vey, meneriaki dua pria bertubuh besar agar melepaskan ikatan tangannya.
"Brengsek lepaskan aku sekarang juga," teriak Vey semakin emosi ketika matanya menyaksikan suaminya berucap ijab kabul. Renata telah sah menggeser posisi Vey menjadi istri Davin.
Kedua Nya saling berciuman, di saksikan langsung di depan mata Vey. "Mas, kenapa kamu tega melakukannya padaku? Kau menghancurkan hatiku hingga kepingannya tidak lagi terlihat.
__ADS_1
Davin dan Renata menatap kearah Vey dengan senyum bahagiannya. "Sekarang istriku bukan lagi kamu, Vey. Renata telah menggantikan posisimu menjadi istriku,'' ucap Davin, tersenyum lalu mencium bibir Renata di hadapan Vey.
"Tidaaaaaaa!!" teriak Vey kemudian. Dia langsung terbangun dari mimpinya dalam kondisi syok. Keringat bercucuran menyatu dengan lelehan air matanya.