
Pagi-pagi sekali, Vey sudah tiba di kantor. Setelah melihat video rekaman yang dikirim kakaknya semalam. Dia yakin, Renata akan ke kantor hari ini untuk mencari berkas-berkas yang diinginkannya.
Di ingin melihat reaksinya, karena berkas yang dia cari sudah tidak ada di ruangan Davin. Dia pikir Vey bodoh, dia tidak akan kecolongan untuk kedua kalinya.
Setelah menunggu satu jam lamanya, orang yang ditunggu telah tiba. Mata Renata melirik ke arah Vey yang berdiri memberi hormat pada atasannya. Tangan Renata menggandeng erat lengan Davin.
"Selamat pagi, pak!!" sapanya, meskipun yang disapa tidak merespon.
Davin dan Renata berlalu begitu saja memasuki ruangannya. Namun baru dua langkah, Davin berhenti karena mendengar ucapan Vey.
"Hari ini ada jadwal rapat bersama pak Devano pukul satu siang, pak!!" ucap Vey memperlihatkan schedule yang dicatat.
"Batalkan!!" ucap Davin.
"Tidak Bisa, pak. Anda tidak bisa mendadak membatalkannya."
Davin menyuruh Renata masuk ke dalam ruangan lebih dulu. Dengan langkah pelan, dia mendekat ke arah Vey.
"Saya adalah bos di sini. Terserah saya ingin membatalkan rapat dengan siapapun dan kapanpun," ucapnya menekankan setiap kata.
"Anda masih marah soal tempo hari? Saya berharap anda tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan, pak."
Vey tetap membantah, karena dia tahu, suaminya masih cemburu dengan Devano. Renata yang belum sepenuhnya masuk ke dalam ruangan, mendengar pembicaraan mereka berdua.
Ini adalah kesempatan baginya untuk mencari berkas-berkas yang dia inginkan. Kali ini dia memihak Vey, dan mencoba merayu Davin agar mau menghadiri rapat dengan Devano.
"Sayang, benar kata perempuan ini. Seharusnya kamu hadir di rapat itu," ucap Renata.
Vey tersenyum kecut, dia sudah tahu maksud Renata memihaknya. Apa lagi kalau bukan memanfaatkan waktu rapat, untuk membongkar berkas-berkas di dalam ruang kerja Davin.
Jam dinding terus berputar dan kini sudah menunjukan pukul satu siang. Vey mengetuk pintu ruangan suaminya di dalam. Renata juga masih berada di dalam, menunggu kepergian Davin demi melancarkan niatnya.
Tak lama Davin keluar dari ruangannya dan melihat Vey telah berdiri menunggunya dengan beberapa berkas di tangannya.
Vey meletakkan berkas-berkas yang dipegang ke atas meja kerjanya. Lalu melangkah lebih dekat tepat di hadapan Davin.
__ADS_1
Vey membantu membenarkan dan merapikan kerah jas Davin yang terselip. Davin berdiri terpaku sembari menatap Vey yang saat ini masih merapikan ikatan dasinya.
Setelah selesai, Vey mendongak menatap suaminya. Dia sudah dari tadi merasakan suaminya sedang menatapnya. Keduanya sama-sama terpaku dan saling tatap.
"Sudah rapi, pak. Mari kita menuju ke ruang rapat sekarang!!" ucap Vey kemudian.
"Arrc!" Davin berdesis sakit. Dia memegangi kepalanya yang mendadak terasa pusing. Entah kenapa, setelah menatap wajah Vey dari jarak dekat. Tiba-tiba terlintas kilasan memory buram yang akhir-akhir ini dia alami.
"Pak Davin kenapa?" Vey menatap Davin khawatir sambil memegangi kedua lengan Davin.
Davin menggeleng, dia memejamkan matanya demi menetralkan rasa sakit yang mendera kepalanya. Kemudian dia membuka matanya, setelah di rasa pusingnya sedikit berkurang.
"Ayo kita pergi sekarang!!" Ajak Davin, melangkah lebih dulu dari Vey. Vey mengikuti langkah suaminya di belakang.
Dia masih memikirkan kondisi suaminya yang akhir-akhir ini mengeluh pusing. Dalam hatinya merasakan ketakutan yang mendalam. Dia takut terjadi hal buruk pada Davin jika pusing yang diderita suaminya didiamkan begitu saja.
"Pak Davin benar tidak apa-apa? Kalau pak Davin kurang sehat, pak Davin istirahat saja. Saya bisa mewakili rapat," tawar Vey. Ketika mereka berdua telah berada di dalam lift khusus petinggi.
Davin menatap Vey, kemudian berucap kata-kata yang membuat Vey menghembuskan nafas kasarnya.
Vey berdesis kesal. Itu terus yang dibahas suaminya. Tapi dalam hati dia tersenyum, pertanda suaminya sedang cemburu.
Vey tidak menanggapi ucapan suaminya, hingga mereka tiba di ruangan rapat. Mereka berdua terlambat lima menit dari jam yang ditentukan.
Devano sudah duduk menunggu kedatangan mereka dari sepuluh menit yang lalu. Matanya menatap ke arah Vey dan Davin secara bergantian.
"Selamat siang semuanya, maaf atas keterlambatan kami!!" ucap Davin menyapa pada semua orang yang menghadiri rapat tak terkecuali Devano.
Sudut mata Davin melirik Vey yang tersenyum ke arah Devano pun Devano juga demikian.
"Ehm, rapat akan segera saya mulai, di harapkan semua fokus selama rapat berlangsung, jangan fokus dengan yang lain," sindir Davin menyadarkan Vey sekaligus Devano.
Vey tersenyum simpul, suaminya sedang cemburu. Pasti setelah rapat selesai, Davin akan menceramahinya.
Selama rapat berlangsung, Renata yang masih di dalam ruangan Davin, saat ini sedang mengobrak-abrik tumpukan berkas-berkas perusahaan.
__ADS_1
"Sial, di mana dia menaruhnya? Di rumah tidak ada, di sini juga tidak ada. Harus di kemana lagi aku mencarinya?"
Buku-buku bisnis yang tadinya tersusun rapi di lemari dinding, kini berserakan di lantai. Renata malas merapikannya kembali. Dia memanggil office boy untuk merapikannya.
"Heh, kesini kamu!!" teriak Renata memanggil office boy.
Merasa terpanggil, si office boy pun segera mempercepat langkahnya menghampiri Renata. Saat ini Renata berdiri di depan pintu ruangan kerja Davin, dengan posisi kedua tangannya dilipat di dada.
"Ya, mbak Renata. Ada yang bisa saya bantu?"
"Masuk dan susun kembali semua buku-buku dan berkas-berkas yang berserakan di lantai itu ke lemari," perintahnya.
Melihat ruangan kerja bosnya yang tak jauh beda dengan gudang penyimpanan barang rongsok, membuat si office boy itu pusing duluan sebelum membereskannya.
"Kenapa bengong? Cepat kerjakan sebelum Davin kembali. Saya tidak mau tahu, sepuluh menit harus selesai. Awas kalau tidak selesai, besok kamu tidak akan bekerja lagi di sini!!" ancamnya, merasa dirinya adalah bos di kantor itu.
Mendengar keributan di depan ruang kerja bosnya, membuat beberapa karyawan mengintip. Andin yang melihat ada Renata di sana pun mencoba menghampiri. Dia ingin cari muka, lantaran tempo hari Renata memujinya karena memihaknya.
"Selamat siang mbak Renata. Ada apa kok ribut-ribut? Apakah ada yang bisa saya bantu, mbak?" sapa Andin tersenyum.
Renata melirik Andin sekilas, setelah mengingat siapa wanita di depannya, Renata Pun membalas sapaan Andien.
"Oh, kebetulan saya haus. Tolong buatkan saya es jeruk. Dan satu lagi, jangan memanggil saya dengan sebutan, mbak. Panggil saya nyonya, karena sebentar lagi saya akan menjadi istri bos kamu, mengerti?"
Andin mengangguk, menyesal dia menghampiri Renata. Ternyata benar yang dikatakan rekan-rekan kerjanya. Renata orangnya sombong, padahal masih berstatus tunangan, belum juga menikah dengan bosnya.
Rapat selesai. Davin menyuruh Vey kembali ke meja kerjanya. Dia tidak akan membiarkan sekretarisnya bertegur sapa dengan Devano.
"Kembali ke meja kerjamu sekarang juga!!" perintahnya. Vey yang baru bangkit dari duduknya pun mengangguk. Sesekali matanya melirik ke arah Devano.
"Saya bilang cepat kembali ke meja kerjamu. Apa kamu tidak mendengar ucapan saya, Vey?" bisiknya dengan nada penuh tekanan.
Entahlah, saat ini dia menjadi possesive bos atau suami possessive. Yang jelas, dia tidak ingin Vey menemui Devano. Vey menuruti kemauan suaminya. Dia berjalan lebih dulu menuju ke meja kerjanya.
Setelah keluar dari lift, matanya melihat seorang office boy baru saja keluar dari ruangan Davin. Vey menghentikan langkah si office boy itu.
__ADS_1
"Apa yang baru saja kamu kerjakan di ruangan pak Davin?" tegur Vey.