Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 27


__ADS_3

Davin mulai membuka matanya dan bangkit. Tampak ruangan asing dan sempit yang pertama dilihatnya.


"Mas, anda sudah sadar?"


Davin mencari sumber suara yang mulai mendekat dan kini telah berada di sampingnya. Si penjual bakso semalam, dan Davin bertanya-tanya dia di mana dan apa yang terjadi padanya.


"Syukurlah masnya sudah siuman. Saya takut terjadi sesuatu pada anda. Saya juga bingung mau menghubungi siapa sedangkan handphone anda kunci. Tapi tenang mas, untung sepupu saya segera menolong anda."


Di tengah kesadarannya Davin masih bisa mendengar jelas setiap ucapan si penjual bakso.


"Terimakasih, tapi apa yang terjadi dengan saya?" tanyanya.


"Mas semalam mengeluh pusing lalu tiba-tiba pingsan. Saya langsung telpon menelpon sepupu saya dan saat ini mas berada di clinic sepupu saya."


Davin meneliti setiap ruangan, memang ruangan itu serba putih bahkan aroma obat-obatan mampu tercium di indra penciumannya.


"Sepupu saya seorang tabib, jadi mas tak perlu khawatir. Dia sedang meracik obat untuk mas. Nah ini orangnya yang saya maksud, dia namanya Hendrik dan saya Haris," ucap si penjual bakso memperkenalkan.


Davin tersenyum dan memperkenalkan dirinya."Bagaimana mas, apa yang anda rasakan saat ini? Apa kepalanya masih terasa pusing?" tanya Hendrik memeriksa kondisi Davin.


"Sekarang tidak pusing. Tetapi apa yang terjadi dengan saya sebenarnya, mas?" tanya Davin masih belum mampu mengartikan sakit di kepalanya.


"Apakah anda pernah kecelakaan? Ini hanya dugaan saya saja. Untuk memastikan anda bisa datang ke dokter syaraf. Menurut saya ada sedikit kerusakan di bagian kepala anda sebelah kiri. Hal itu menyebabkan anda banyak melupakan sesuatu di masa lalu."


"Maksud anda saya amnesia?"


"Sepertinya begitu, dan saya semalam melakukan terapi jarum. Saya menemukan banyak racun pada diri anda."


"Racun!!" Davin terkejut. Tapi seketika dia percaya setelah Hendrik memperlihatkan hasil terapinya semalam.


"Tenang saja, mas. Anda boleh datang kesini setiap satu Minggu sekali. Saya akan membantu mengeluarkan sisa sisa racun pada tubuh anda yang belum sepenuhnya terkeluarkan. Karena racun itu sangat ber effect negative untuk syaraf anda. Tapi saran saya, anda juga harus memeriksakannya ke dokter spesialis syaraf," ujar Hendrik.

__ADS_1


Davin mengangguk, pikirannya menerawang bagaimana bisa dia terkena racun. Ponsel Davin berdering, dia melihat panggilan menumpuk dari Renata dan Vey. Lalu dia melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Pukul dua siang, itu artinya dia tidur di clinik ini cukup lama.


Davin mengangkat telpon dari Renata. Wanita itu pasti mencarinya karena semalaman tidak pulang. Dan benar saja, setelah Davin mengangkat teleponnya, terdengar suara Renata yang melontarkan ribuan pertanyaan padanya.


"Mas, kau di mana? Kenapa semalaman kamu tidak pulang. Bahkan aku ke kantormu, kau juga tidak ada?" tanya Renata di seberang telpon.


"Maaf sayang, semalam aku pingsan dan sekarang berada di clinic. Kamu tenang saja, kamu masih di kantor, kan? Aku kesana sekarang."


Davin menutup telponnya. Dia merogoh dompet di saku jasnya. Karena uangnya habis di berikan semua pada Haris. Davin memberi kartu nama pada Hendrik.


"Terimakasih atas bantuan kalian. Saya harus pergi, tunangan saya mencari saya. Ini kartu nama saya, tolong hubungi saya nanti dan setiap Minggu sekali, saya akan datang ke sini."


Davin mencari kunci mobilnya, Haris memberikan kunci yang semalaman di simpannya. "Maaf, tapi mobil anda masih terparkir di lokasi semalam, mas. Saya akan mengantar anda."


Haris mengantar Davin menggunakan motornya. Terlihat lucu membayangkan DavinĀ  naik motor dengan setelan jas mahalnya. Tapi apa boleh buat, dia harus secepatnya menemui tunangannya.


Setelah tiba di lokasi, Davin langsung pergi mengemudi mobilnya. Lima belas menit dia telah sampai di kantornya. Semua karyawan memperhatikan penampilan bosnya, yang sepertinya mengenakan pakaian yang sama seperti yang dipakainya kemarin.


Vey yang lebih dulu melihat Davin, langsung menghampirinya. Terlihat raut wajah penuh kekhawatiran nampak jelas di wajahnya.


"Mas, kenapa kamu berubah aneh lagi? Apa kamu masih marah soal tadi malam?" gumam Vey. Matanya masih memperhatikan suaminya masuk ke dalam ruang kerjanya.


Mengingat ada Renata di dalam sana, hati Vey menjadi terbakar. "Seharusnya aku yang di sana, bukan dia. Kapan kamu mengingatku kembali, mas? Rasanya aku tidak sanggup lagi berpura-pura tegar."


Butiran air mata lolos begitu saja di pipinya, Vey langsung menghapusnya. Dia berjalan kembali ke meja kerjanya. Tiba-tiba ada yang menggebrak mejanya, membuat Vey terkejut.


"Eh, wanita genit. Emang enak di cuekin pak Davin? Lo mau merayu dia seperti pak Devano dan pak Bagas, ya? Dasar rakus Lo jadi cewek. Lo jual tubuh Lo dengan tarif berapa pada mereka?" ucapan menohok terlontar di bibir karyawan yang membenci Vey.


"Prakkkk!!" Vey langsung menampar karyawan yang bernama Andin. "Jaga mulutmu, ya," ucap Vey memperingatkan. Andin tidak terima atas perlakuan Vey padanya. Dia menampar balik wajah Vey.


Lagi-lagi terjadi keributan di luar ruangan kerja Davin. Davin yang sedang bermesraan dengan Renata pun keluar.

__ADS_1


"Ada apa lagi? Kenapa ribut-ribut?" bentak Davin yang telah keluar dari ruangannya.


"Vey tiba-tiba menampar saya, pak. Saya tidak merasa memiliki salah padanya, tiba-tiba dia menampar saya begitu saja," bohong Andin.


"Dia lagi, dia lagi yang berulah. Pecat saja wanita ini, mas. Bikin masalah saja di kantor dan mengganggu ketenangan karyawan lain," ucap Renata mengompor-kompori.


"Saya tidak akan menampar dia, kalau kata-kata dia tidak keterlaluan pak," Vey mencoba membantah. Tapi Andin mengeluarkan air mata buaya agar Davin memihaknya.


Vey mengeluarkan ponselnya. Sewaktu Andin menggebrak mejanya, dia langsung menekan aplikasi record.


"Eh, wanita genit. Emang enak di cuekin pak Davin? Lo mau merayu dia seperti pak Devano dan pak Bagas, ya? Dasar rakus Lo jadi cewek. Lo jual tubuh Lo dengan tarif berapa pada mereka?"


Rekaman suara Andin, yang melontarkan kata-kata kasar padanya diputar Vey. Davin dan Renata mampu mendengarnya, karena suara rekaman sangat jelas. Mata Andin melebar, tidak menyangka Vey akan berbuat seperti itu.


Vey melirik ekspresi Andin, lalu dia tersenyum. Tapi senyumnya tidak bertahan lama, setelah ucapan Davin mampu menusuk hingga ke ulu hatinya.


"Bukankah ucapannya memang benar? sekarang saya bertanya padamu, berapa tarif service dalam semalam? Sehingga Bagas dan Devano mampu kau tundukkan," ucap Davin menatap tajam pada Vey.


Renata menyeringai, dia tidak menduga Davin berkata seperti itu pada Vey. Vey mengontrol kesabarannya, ditariknya nafas dalam-dalam lalu dia mendekati Davin.


"Apakah saya meminta tarif mahal pada anda setelah memberikan servis pada anda, pak?" bisik Vey di antara Davin dan Renata. Renata langsung membelalakkan matanya terkejut.


"Dasar wanita penggoda, ku bunuh kau!!" teriak Renata, tangannya hendak memukul Vey, namun Vey dengan cepat menahannya.


"Kata-kata itu sepertinya lebih pantas untukmu, Renata. Bahkan pengemis lebih terhormat daripada wanita yang merampok harta dan suami orang sekaligus sepertimu," bisik Vey, yang hanya mampu di dengarnya dan Renata.


"Nikmatilah semua harta dan suamiku selagi waktumu masih ada. Tunggu pembalasanku, wanita sepertimu sangat menjijikan," bisik Vey sekali lagi.


Davin melerai keduanya, dan menyeret Renata kembali ke dalam ruangannya. Vey tersenyum puas, mampu membuat wajah Renata Merah padam. Lalu matanya melirik pada Andin dan karyawan lain yang sedari tadi menonton.


Vey tersenyum mengacuhkan keberadaan mereka. Dia duduk kembali ke meja kerjanya dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


Wajahnya tersenyum namun hatinya menangis. Luka yang tak berdarah namun terasa perih. Ingin menyerah tapi dia tidak mau kalah. Dia tetap ingin mengambil kembali haknya. Merebut kembali cinta suaminya dan berharap Davin mengingatnya kembali.


Luka yang berdarah masih bisa terobati dan mengering. Sedangkan luka yang tak berdarah, sakitnya lebih berkali lipat. Entah sampai kapan luka itu berhenti menyakitinya.


__ADS_2