Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 23


__ADS_3

"Apa ada perubahan pada Davin, setelah kau tukar obat itu?" tanya Bagas melalui sambungan telpon dengan Mita.


"Tidak ada perubahan sama sekali, pak. Sama seperti biasanya, saya juga heran kenapa tidak ada perubahan," jawab Mita di sebrang telpon.


Suara pintu apartemen terbuka, Bagas melihat Vey baru tiba. "Beri tahu saya, jika ada kabar terbaru," ucap Davin memerintah Mita, lalu menutup telponnya.


"Apa yang terjadi pada wajah dan lenganmu, Vey?" tegur bagas, berjalan menghampiri adiknya.


"Di cakar rubah, kak!!" jawabnya singkat.


"Yang jelas kalau bicara. Katakan padaku, siapa yang melakukan ini padamu?" Bagas terus mencecar hingga Vey mau menjawab.


"Renata!!" jawabnya singkat. Dia berjalan dan menyenderkan tubuhnya di sofa. Bagas mengikutinya, penjelasan Vey belum membuatnya puas.


"Baiklah kakak, aku akan menceritakan padamu. Pak Devano mengundangku dan Mas Davin di jamuan makan malam bersamanya di sebuah restoran. Renata tiba-tiba ikut dan terjadilah perkelahian antara aku dan Renata."


"Jawab yang jelas, Vey. Tidak mungkin kalian asal berkelahi jika tidak ada hal yang memicu. Apa lagi restauran adalah tempat umum," Bagas masih mencecar Vey dengan berbagai macam pertanyaan hingga dia puas.


"Karena aku mencium dan memeluk suamiku. Dia melihat, lalu menjambak rambutku dan mencakar lenganku," jawab Vey sambil memejamkan matanya karena lelah.


"Brengsek, akan ku beri pelajaran pada wanita itu," ucap Bagas bangkit dengan emosinya.


"Eits, mau kemana, kak? Aku belum selesai bercerita. Ada hal yang lebih penting yang akan aku ceritakan. Ini mengenai kolega bisnis kita, pak Devano."


Bagas menatap penuh tanya pada Vey. "Devano. Ada apa dengannya?" tanyanya penasaran.


"Dunia ini terlalu sempit kakak. Kau tahu, ternyata pak Devano pernah di tipu Renata dan ibu tiri kita. Dan kau tahu, ternyata Renata adalah mantan istri pak Devano."


"Hah, Kau serius?" Bagas terkejut.

__ADS_1


"Serius, kak. Pak Devano sendiri yang bercerita padaku."


Vey mencondongkan tubuhnya mendekatkan wajahnya menatap Bagas. "Kau tahu kenapa mereka bisa bercerai, kak?" tanya Vey, Bagas menggeleng. Tentu saja Bagas tidak tahu, bahkan dia baru tahu.


"Katakanlah semua yang kau ketahui, Vey. Jangan berbelit-belit dan membuat kakakmu ini penasaran," ucap Bagas mendengus kesal.


"Hahaha, kakaku ternyata penasaran dengan masalalu kolega bisnisnya," ucap Vey menertawakan Bagas. Bagas menajamkan matanya, Vey langsung menghentikan tawanya.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya tanpa berbelit-belit lagi. Renata menguras habis semua harta dan aset berharga milik pak Devano. Kau pasti akan bertanya hal yang sama seperti yang ku tanyakan pada pak Devano, kak. Jadi, sebelum pak Devano sesukses yang saat ini kita lihat. Dia pernah melalui masa-masa sulitnya. Bahkan dia memulai bisnisnya kembali dari nol."


Bagas masih diam, menyimak cerita Vey tentang Devano. "Dia pernah merantau ke luar negeri demi mencari modal. Jadi dia memulai semua dari nol setelah tertipu oleh Renata dan ibunya," ucap Vey selanjutnya.


Tangan Bagas mengenggam erat kertas di genggamanya hingga hancur. Betapa bencinya dia pada Renata dan Retno. Bahkan semakin benci setelah mendengar cerita Vey.


"Kenapa Devano terlalu bodoh. Kenapa dia tidak menjebloskan wanita itu ke penjara. Atau membunuhnya sekalian."


"Lalu, kakak merasa paling pintar di antara mereka?" tanya Vey, walau dia sudah bisa menebak jawabannya. Kakaknya hanya trauma dengan wanita. Dia sebenarnya kawatir, jika kakaknya tidak memiliki pendamping hidup. Mengingat kakaknya tidak semudah itu mempercayai wanita.


"Tidurlah. Ada hal yang lebih penting daripada membahas mereka. Besok pagi, kakak akan ke singapura, melihat perkembangan kesehatan ayahnya wanita itu," ucap Bagas keluar. Wanita yang dia maksud adalah Mita.


Besok paginya, setelah mengantar Bagas, Vey langsung berangkat menuju kantor. Hari itu suasana nampak berbeda, semua orang memandangnya dengan pandangan yang tak seperti biasanya.


Vey meneliti penampilannya tidak ada yang aneh. Lalu apa yang memicu semua orang melihat ke arahnya.


Sarah yang lewat di depannya, langsung dia panggil. "Sarah, apakah penampilanku ada yang aneh? Aku merasa semua orang memperhatikanku," tanya Vey.


"Tentu saja mereka memperhatikanmu, Vey!!" ucap Sarah, lalu menatap Vey seolah mengintimidasinya.   "Sekarang kamu jawab pertanyaanku. Apakah kamu ada hubungan dengan pemilik Evergreen group?" bisik Sarah, bertanya.


"Apa maksudmu, Sar?" tanya Vey terkejut. Sarah langsung memperlihatkan bukti-bukti foto yang tersebar di kantor Wings Corporation. Mata Vey membulat seketika, setelah melihat foto-foto dirinya bersama Devano di dalam mobil.

__ADS_1


Foto itu terlihat seolah Vey dan Devano sedang berciuman. Padahal aslinya, Devano sedang membantu mengobati luka di lengan dan wajah Vey.


"Ini tidak benar. Siapa yang menyebarkan foto-foto ini?" tanya Vey terlihat marah. Bahkan Sarah baru kali ini melihat kemarahan Vey.


"Kalau memang kalian ada hubungan gak masalah kok. Yang menjadi masalah adalah, kabar tentangmu yang juga menggoda bos kita, pak Davin. Aku benar-benar terkejut, dan gak menyangka kamu seperti itu, Vey," ucap Sarah.


Vey menggeleng, tidak membenarkan dugaan sarah. "Gak, Sar. Ini semua gak benar, aku bisa jelasin semua kebenarannya padamu."


"Gak usah, Vey. Aku cuma ngasih pendapat padamu. Lebih baik kamu dengan pak Devano saja, karena pak Davin sudah memiliki tunangan. Meskipun jujur aku tidak menyukai mbak Renatan, tetapi melihat caramu, aku lebih tidak setuju," ucap Sarah.


Sarah berjalan meninggalkan Vey, Vey mengejar Sarah. Hingga langkah mereka tepat berada di depan ruangan Davin. Semua mata karyawan lain memandang ke arah Vey. Bahkan banyak yang mengatai Vey yang tidak-tidak.


"Cari jalan pintas supaya cepat kaya, Vey? Yang lo rayu Ceo Ceo semua. Mentang mentang punya wajah cantik dan body gold," celetuk salah satu di antara mereka.


Vey tidak menanggapi, dia memilih duduk di meja kerjanya. Fikiranya melayang menduga duga siapa pelaku yang menyebarkan fotonya dengan Devano.


"Mbak Vey, apakah berita dari karyawan-karyawan lain tentangmu itu semua benar?" tiba-tiba Rizal sudah berada di depan Vey. Vey mendongakkan wajahnya, kemudian dia berdiri.


"Pak Rizal. Jadi anda juga tahu tentang berita itu?" tanya Vey, Rizal mengangguk. Dari sorot wajahnya seperti memendam kekecewaan. Tetapi dia sadar diri, orang secantik Vey tidak akan mungkin meliriknya. Pantas Vey melirik para konglomerat seperti Davin dan Devano.


"Itu semua tidak benar, pak Rizal," ucap Vey hendak menjelaskan. Keburu Davin dan Renata keluar dari ruangannya.


"Ini loh mas, secretarismu yang sekarang berpacaran dengan kolega bisnismu tadi malam," ucap Renata, menggandeng tangan Davin sangat mesra.


Mata Davin menyorotkan kemarahan sekaligus rasa kecewa pada Vey. Renata memperhatika Davin dan Vey secara bergantian. Dia tersenyum puas, melihat Davin menatap tajam pada Vey.


"Kalau sudah memiliki Ceo kaya raya, jangan menggoda tunangan saya, dong. Malu, apa lagi mereka semua sudah tahu perbuatanmu," ucap Renata, matanya melihat para karyawan sedang menyaksikan interaksinya dengan Vey.


"Sabar Vey, jangan terpancing!!" gumam Vey dalam hati. Mencoba mengontrol emosinya, karena Renata terus memancing amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2