
Setiap hari, Vey harus membiasakan melihat sikap suaminya yang selalu berubah-ubah. Itu semua karena pengaruh obat pemberian Renata. Hingga saat ini baik Vey maupun Bagas belum menemukan penangkalnya.
Hati Vey teriris, terkadang melihat suaminya seperti orang linglung. Terkadang juga dingin, kasar, dan tidak bisa di tebak.
Sedikitpun kenangan tentang mereka berdua tidak ada di dalam pikiran Davin. Vey melihat sosok yang lain pada diri suaminya.
Tapi Vey tidak pernah putus asa, selalu mencoba mengambil hati suaminya. Terkadang dia hampir berhasil, keesokan harinya suaminya berubah lagi.
"Pak davin sudah makan siang? Atau mungkin ingin saya belikan lagi, pak?" tawarnya, ketika matanya menangkap suaminya hanya diam melamun.
"Gak usah. Kamu makanlah, kepalaku sedang pusing."
Mendengar ucapan suaminya, reflek Vey menghampirinya. Dia ingin memberi pijatan lembut di kepala Davin, seperti yang biasa dilakukan dulu.
"Bagaimana, pak? Apakah pijatan saya enak?"
"Ya!!" jawab Davin singkat. Matanya terpejam, menikmati jemari lentik Vey memijat kepalanya.
Vey tersenyum, karena Davin tidak menolaknya hari ini. Dengan senang hati, Vey terus memijat kepala suaminya.
Saking nyaman nya, tidak sadar Davin menyenderkan kepalanya di dada Vey. Sehingga Davin mampu mendengar degup jantung Vey yang terdengar sangat nyaring di telinganya.
Davin membuka matanya. Ia terkejut setelah mendapati dirinya bersandar di dada sekretarisnya. Vey hanya diam saja, karena dia sudah terbiasa dengan tingkah suaminya. Dulu, Davin sangat menyukai bersandar di dada Vey. Dia mungkin amnesia, tetapi kebiasaan Davin tidak pernah berubah. Seperti yang dia lakukan saat ini, bagi Vey adalah hal yang wajar. Namun berbeda dengan Davin yang nampak terkejut dengan ulahnya sendiri.
"Maaf, aku tidak sengaja bersandar di dadamu!!" ucapnya, menjauhkan kepalanya dari dada Vey.
Vey menarik kepala Davin kembali, memintanya tetap bersandar di dada Vey. Entah kenapa, setelah bersandar di dada Vey. Rasa sakit di kepala Davin terasa lebih ringan. Dia merasakan kenyamanan bersandar di dada Vey.
"Tidak masalah, pak. Jika dengan bersandar di dada saya, mampu membuat anda nyaman, maka lakukanlah," ucapnya.
Seolah mendapat izin, Davin tersenyum lalu menyandarkan kepalanya kembali di dada Vey. Sementara Vey menghentikan pijatanya, setelah melihat suaminya tidak merasa kesakitan lagi.
__ADS_1
Vey mengelus lembut rambut Davin, seperti mengelus anak kecil yang bersandar di pelukan ibunya. Semakin lama bersandar di dada Vey, membuat Davin tertidur. Tingkah Davin seperti layaknya anak kecil yang di nina bobokan ibunya.
"Ternyata kebiasaanmu tidak pernah berubah, mas. Kau tahu, aku sangat merindukan tingkah manjamu ini. Kapan kamu bisa mengingatku lagi? Aku sangat merindukanmu, mas. Bahkan setiap malam, ada hal yang hilang dariku. Biasanya, kamu selalu memelukku, memberi kehangatan di sepanjang malam kita.Sekarang, wanita itu telah mengambil pelukan hangatmu dariku," ucap Vey, matanya menatap suaminya yang sedang tertidur.
Vey, mengecup lembut bibir suaminya yang sedang tidur. Setelahnya dia terisak, membayangkan dirinya seperti pencuri yang mencium suaminya secara diam diam.
Davin masih tertidur di dalam pelukan Vey. Mereka duduk berdua di atas sofa di ruang kerja Davin. Lelah menunggu suaminya, Matanya pun ikut terpejam.
Setengah jam kemudian, Davin terbangun lebih dulu. Lagi-lagi dia terkejut mendapati dirinya di dalam pelukan sekretarisnya.
"Apa yang sedang kau lakukan? Bangun!!" bentaknya. Membuat Vey terkejut dan langsung membuka lebar matanya.
Seperti itulah sikap Davin yang sekarang. Kadang lembut, kadang kasar dan tidak bisa di tebak. Vey hanya bisa mengelus dada, menyabarkan diri, menghadapi suaminya.
Tidak ada cara lain selain bersabar, karena sementara ini hanya itu yang dapat dia lakukan. Vey bangkit dari duduknya, menjauh dari Davin yang sedang menatapnya tajam.
"Keluar dari ruangan saya!!" lagi-lagi Davin membentaknya. Vey pun keluar meninggalkan suaminya.
Vey melangkah menuju patiseri, melewati para karyawan yang memandangnya. Secangkir teh hangat mungkin bisa memperbaiki mudnya saat ini.
"Ehm, sekretaris barunya pak. Davin, ya?" tanya seorang karyawan wanita bernama Sarah. Vey tersenyum dan mengangguk saja.
"Kenalkan, namaku Sarah!!" ucapnya, mengulurkan tanganya. Vey membalas uluran tangan Sarah yang terlihat seperti orang baik.
"Namaku, Vey. Senang bisa berkenalan denganmu, Sarah!!"
Mereka berdua tersenyum. Kelihatannya memang Sarah adalah orang yang baik. Sarah mengajak Vey duduk di dekat jendela. Vey mengikuti langkah Sarah, teman barunya.
"Bagaimana bekerja di sini? Maksudku menjadi sekretaris pak. Davin yang super galaknya minta ampun," ucap Sarah. Vey tersenyum mendengar Sarah mengatai suaminya galak.
"Aku senang bekerja di sini!!" jawabnya, Sarah Pun dibuatnya heran.
__ADS_1
"Are you sure, Vey? Setelah dibentak seperti tadi, kamu masih betah menjadi sekretaris pak. Davin. Kamu tau, gak? Pak. Davin sudah bergonta-ganti secretaris dan gak ada satupun yang betah."
Lagi-lagi Vey tersenyum mendengarkan ucapan Sarah. Dia menyimak baik-baik ucapan teman barunya ini.
"Sepertinya kamu sangat tahu banyak tentang pak. Davin, Sar?" tanya Vey.
"Tentu saja. Aku sudah lama bekerja di sini, kurang lebih tiga tahunan. Kamu tahu? Dulu pak. Davin jauh berbeda dengan pak. Davin yang sekarang. Dulu dia sangat ramah senyum, pokok berbanding terbalik dengan sikapnya yang sekarang. Semenjak kecelakaan beberapa waktu lalu, pak. Davin berubah. Aku juga sempat dengar, istrinya pak. Davin meninggal."
Vey terkejut mendengar cerita Sarah, hingga dia yang sedang meneguk tehnya pun tersedak.
"Aduh Vey, pelan-pelan minumnya. Sampai tersedak gitu!!"
"Kata siapa istri pak. Davin sudah meninggal?" tanya Vey penasaran. Sarah mengedikan bahunya, karena dia juga mendengar cerita berbeda-beda dari teman kantornya yang lain.
"Aku sih gak begitu tahu banyak. Soalnya aku sendiri belum pernah melihat wajah istrinya pak. Davin. Tapi yang sering aku lihat malah mbak. Renata tunanganya pak. Davin yang sekarang."
Mendengar nama si rubah betina, membuat Vey risih. Pasti rumor tentang kematiannya adalah ulah Renata juga. Wanita rubah itu, sangat totalitas merusak kehidupan Vey.
"Vey, kamu gak kenapa-kenapa, kan? Kok, kelihatanya kamu sedang kesal gitu!!" tanya Sarah. Reflek, Vey segera mengubah ekspresinya tersenyum memandang Sarah.
"Gak, aku hanya kesal saja, setelah mendengar ceritamu. Bagaimana bisa pak. Davin secepat itu memiliki tunangan di saat istrinya baru saja meninggal," ujar Vey, terlihat kesal.
"Sepemikiran! Lagian menurutku, mbak. Renata orangnya angkuh dan sombong. Cantikan kamu dibanding dia, malah," bisik Sarah. Dia takut suaranya kedengaran yang lain ketika dirinya sedang membicarakan tunangan bosnya.
Melihat ekspresi Sarah, membuat Vey tersenyum. Tapi Vey merasa senang berteman dengan Sarah. Secara tidak langsung, Vey mengetahui Sarah tidak berada di pihak Renata.
Vey akan mempertahankan pertemanannya dengan Sarah. Sebagai pemilik saham terbesar di Wing corporation, suatu saat Vey akan menaikan jabatan pada Sarah.
Siapapun yang berpihak kepadanya, maka Vey akan bersikap baik. Sebaliknya, siapapun yang memihak Renata, maka Vey akan mencatatnya ke dalam list orang-orang yang akan dipecatnya suatu saat.
"Saya menggaji kalian untuk bekerja, bukan ngerumpi di jam kerja!!" bentak seseorang yang tak lain adalah Davin.
__ADS_1