Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 17


__ADS_3

Mobil Renata berhenti di lampu merah, tepat di depan butik Maharani. Matanya tak sengaja melihat Davin dan Vey keluar dari butik itu. Bahkan dia melihat Davin dan Vey, masuk ke dalam mobil milik Davin.


Mobil Davin keluar dari gerbang butik, menuju ke apartemen Vey. Renata mengikuti mereka dari belakang.


"Sialan, bagaimana bisa aku kecolongan?" umpat Renata emosi.


Dia terus mengikuti mobil Davin, hingga mobil itu memasuki kawasan apartemen elit yang diyakini milik Vey.


Sialnya lagi, Apartemen itu hanya bisa dimasuki oleh orang yang memiliki kartu akses khusus. Renata semakin mengumpat karena tidak bisa memasuki apartemen elit itu.


Mobilnya hanya bisa berhenti di pinggir jalan, tak jauh dari lokasi apartemen. Dia melihat Davin mengikuti Vey masuk ke dalam apartemen.


"Sialan, brengsek!!" lagi-lagi Renata mengumpat, lalu dia pergi meninggalkan lokasi dengan penuh amarah.


Sedangkan Davin masih mengikuti Vey. Dia sendiri yang memaksa ingin mampir ke apartemen Vey. Davin sempat heran, Vey hanyalah seorang sekretaris biasa. Bagaimana bisa Vey memiliki apartemen semewah ini, yang harganya puluhan milyar.


Apalagi ketika Davin telah memasuki apartemen Vey. Dekorasi di dalamnya bukanlah dekorasi biasa. Semuanya serba mahal dan hanya orang-orang kaya yang mampu membelinya.


Davin mencekal tangan Vey, ada sesuatu yang ingin dia tanyakan padanya. Bukan hanya mencekal, bahkan Davin mendorong Vey hingga tubuh mereka berdua terjatuh di atas sofa.


Davin menindih tubuh Vey, matanya menatap mata Vey lekat. Vey tersenyum, sepertinya suaminya menginginkan sesuatu darinya.


"Ada apa pak?" tanya Vey, membalas tatapan suaminya.


"Ada apa? Tentu saja melanjutkan yang tadi di kantor!!" ucap Davin.


Vey hendak mengucapkan sesuatu, tetapi bibir Davin lebih dulu mencium bibirnya. Kali ini ciumanya tidak seperti sewaktu mereka di kantor. Ciuman Davin semakin ganas dan menuntut.


"Apa anda sedang menggodaku, pak?" tanya Vey,  membelai wajah rupawan suaminya.


Sinar mata, pahatan wajah nan sempurna milik suaminya yang sangat ia rindukan. Vey memberi kecupan tepat di kedua mata suaminya ketika terpejam.


"Bukankah kamu yang sering menggodaku? Maka ini balasan untukmu yang sering menggodaku," bisik Davin, melanjutkan ciumannya menelusuri leher jenjang milik Vey.

__ADS_1


"Ahh. Berarti anda tergoda, pak," ucap Vey.


"Hanya pria bodoh yang tidak tergoda denganmu, Vey. Kamu terlalu indah untukku sia-siakan," ucap Davin. Bahkan tangannya mulai nakal, membuka satu persatu kancing kemeja Vey.


Davin melempar kemeja Vey ke sembarang tempat. Kini terpampang nyata, sesuatu yang biasanya membuat Davin tergoda dan ingin menyentuhnya.


Keduanya telah dipenuhi kabut gairah, namun sayang, lagi-lagi Renata mengganggu mereka berdua. Bunyi ponsel di saku celana Davin membuat Davin mengumpat berkali-kali umpatan.


Secepat mungkin Davin mematikan ponselnya yang mengganggu aktivitasnya dengan Vey. Vey tersenyum, dia tahu telepon itu dari Renata. Sedangkan si penelpon juga terus terusan mengumpat karena Davin mematikan ponselnya.


"Brengsek, akan aku bunuh kau, Vey!!" teriaknya menggelegar sehingga terdengar di telinga Retno.


Retno langsung turun menghampiri putrinya. Bahkan Renata hendak membanting guji mahal mamanya, saking emosinya.


"Stop, Ren. Taruh kembali guci mama, apa kau sudah gila ingin membanting guci mahal itu? Ada apa sebenarnya? Apa yang membuatmu pulang-pulang langsung ngamuk?" tegur Retno.


"Wanita itu berhasil menjerat Davin, ma. Kita kecolongan, Vey telah bergerak lebih cepat dari dugaan kita," teriak Vey emosi.


Retno terkejut, tidak menyangka dengan ucapan putrinya. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya.


"Kurang ajar, wanita itu memang harus segera dimusnahkan," desis Retno, tak kalah emosi setelah mendengar cerita putrinya.


Lain halnya di sebuah apartemen, dua orang pasutri sedang sibuk bercinta.Vey merasakan kembali sentuhan dari suaminya, setelah sekian lamanya. Sedangkan Davin merasakan sesuatu yang tidak asing ketika menyatukan tubuhnya dengan tubuh Vey.


Davin semakin lupa diri, dia merasa dirinya terhanyut pada masa lalu, entah apa itu, dia pun tidak tahu. Vey sangat berbeda, Vey mampu membuat Davin gila.


"Bagaimana bisa kau memiliki apartemen elite semahal ini?" tanya Davin, di sela-sela permainan mereka.


"Ini milik kakakku!!" ucap Vey.


"Benarkah?" tanya Davin menyelidik. Setelah mendapat jawaban dari Vey, Davin melanjutkan permainannya. Vey benar-benar membuatnya menggila dalam hitungan detik.


Vey dan Davin saling menatap, terlebih mata Davin menatapnya sangat dalam. Melihat suaminya terus menatapnya, membuat Vey malu. Segera dia menyembunyikan  wajahnya di dalam pelukan Davin. Dia akan menikmati hari ini sepuas-puasnya. Sebelum Renata memberi suaminya ramuan yang mampu menghapus memory Davin hari ini.

__ADS_1


"Kenapa aku seperti seorang istri rasa selingkuhan. Ingin bersama suamiku saja, aku harus sembunyi-sembunyi," batin Vey.


Davin beranjak dari sofa dan mengenakan kembali semua pakaiannya yang berserakan di lantai. Vey menatap tidak rela, sepertinya suaminya akan segera pulang dan meninggalkannya.


"Apa anda akan pulang sekarang, pak?" tannyanya, Davin pun mengangguk.


"Tentu. Hari sudah malam, nanti Renata akan mencurigaiku."


"Pulanglah!!" ucap Vey. Dia merasa sangat risih mendengar nama rubah betina si penghancur rumah tangganya. 


Davin memperhatikan wajah Vey yang terlihat tidak menyukai ucapannya barusan. Davin menghampiri Vey yang sedang meminum sebotol air mineral di dalam dapur.


Davin merebut botol di tangan Vey, lalu membalikan tubuh Vey, menghadap padanya. Bahkan Vey enggan menatapnya kembali seperti tadi. Sepertinya Vey benar-benar marah padanya.


"Kenapa kau tiba-tiba berubah? Apa kau tidak menyukai ucapanku tadi?" tanya Davin, memicingkan matanya, menatap Vey.


"Ya, aku tidak suka anda menyebut wanita lain di saat bersamaku," ucap Vey, menatap lekat wajah suaminya.


"Dia adalah tunanganku, Vey. Dia bukan orang lain, jadi kau tidak berhak marah seperti ini."


Vey tidak menyangka suaminya akan berkata seperti itu. Padahal mereka baru saja bercinta, secepat itu mud suaminya berubah.


"Jadi, anda anggap apa saya, pak? Setelah semua yang kita lakukan tadi?" tanya Vey semakin emosi, namun dia masih bisa mengontrolnya.


"Kau yang menggodaku duluan, bukan? Jadi jangan salahkan aku jika aku tergoda," ucap Davin. Ucapan Davin benar-benar menyakiti hati Vey, hingga Vey tidak mampu lagi menahan air matanya.


Dadanya terasa sesak, dia benar-benar tidak menyangka, suaminya akan berucap seperti itu padanya. 


"Anda memperlakukan saya seperti wanita murahan saja, pak. Oke, lebih baik anda segera pulang dan temui tunangan anda."


Davin langsung keluar meninggalkan apartemen Vey. Sepeninggal suaminya, Vey menangis sejadi-jadinya. Perkataan suaminya sungguh melukai harga dirinya.


Dia adalah istri sah Davin, tapi Davin menganggapnya tak lebih dari wanita murahan. Apa itu semua adalah efek ramuan yang diberikan Renata pada Davin. Sehingga sikap suaminya bisa berubah-ubah secepat itu.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau lakukan, Vey? Jangan nekat!!" teriak seseorang yang baru masuk ke dalam apartemen.


__ADS_2