Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 44


__ADS_3

Siang harinya Davin menemui Bagas di Angkasa group. Semenjak dia mengingat segala nya, pikirannya menjadi gusar. Membawa Nya ingin segera menemui Bgas hari itu juga.


Bagas sendiri merasa heran, karena jarang-jarang Davin mengunjungi kantornya. Bagas menatap penuh penasaran, apalagi saat ini Davin berada di hadapannya.


"Ada angin apa kau kemari?" sambut Bagas, ketika melihat Davin masuk ke ruangannya dan menutup pintunya.


Davin duduk tanpa di persilahkan, memang begitulah sikapnya pada Bagas. Bagas pun melihat hal yang beda pada diri Davin. Seolah Bagas melihat sosok Davin sebelum amnesia.


"Apa kau tahu siapa pembunuh istriku?" ucap Davin. Bagas yang sedang membolak balikan buku di tangannya pun langsung menatapnya.


"Istri? Apa kau telah mengingat istrimu?"


Bagas mencondongkan kepalanya menunggu jawaban Davin. Setelahnya dia tersenyum melihat Davin menganggukan kepalanya.


"Tolong katakan siapa pembunuh istriku? Pasti kau tahu semuanya!!"


Bagas tak langsung menjawab. Dia malah bangkit mengambil dua gelas yang terisi wine. Satu untuknya dan satu untuk Davin.


Setelah memberikan segelas wine pada Davin, Bagas duduk kembali di kursinya. Dia melirik Davin yang masih menunggu jawaban darinya. Bagas berdecak kemudian tersenyum.


"Aku mempercayakan adiku padamu setelah kau melamarnya untuk kau jadikan istrimu. Aku kira kau mampu menjaganya seperti aku menjaganya selama ini. Aku tanggung jawabku akan adikku bisa kau gantikan. Tapi apa yang terjadi? Adikku malah menderita bahkan mati."


Davin menggeleng, seolah ucapan Bagas padanya itu tidak benar. Seolah Bagas mengira Davin tidak menjaga Vey selama ini.


"Kau jangan berpikir seolah aku tidak menjaga Vey. Jika aku bisa memilih, akupun tidak ingin amnesia dan melupakan segala nya. Walaupun aku bisa memilih, lebih baik aku yang mati asal Vey bisa tetap hidup."

__ADS_1


"Cih. Jangan terlalu banyak teori, Davin. Aku ingin melihat caramu melindungi adiku, bukan hanya omongan-mu. Sekarang lakukan, aku ingin tahu bagaimana caramu melindungi adikku!!"


Bagas menuangkan wine kembali di gelasnya yang telah kosong. Sedangkan Davin belum meminum winenya sedari tadi.


"Apa kau bercanda? Istriku sudah tiada, aku sudah terlambat jika untuk melindunginya. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah mencari tahu siapa pembunuh istriku. Kau pasti tahu, sekarang cepat katakan siapa pembunuh istriku."


Davin menaikan suaranya karena Bagas terlihat meremehkannya dan bersikap terlalu santai. Padahal dari tadi dia sudah serius, bertanya baik-baik mengenai siapa orang yang membunuh Vey.


"Istrimu aman di tempatku, dia belum mati. Kau pikir aku akan membiarkan saja, ketika orang lain ingin membunuhnya?"


Davin terkejut bukan main, sekaligus merasa senang istrinya masih hidup.


"Kau tidak bercanda? Jadi istriku masih hidup? Lantas siapa orang yang dikubur tempo hari?"


"Orang lain yang bernasib malang. Orang-orang suruhanku yang sengaja memanipulasi keadaan untuk menyelamatkan Vey waktu itu. Apa kau ingin tahu siapa orang yang membunuhnya? Orang itu adalah Renata dan Retno," ucap Bagas, lagi-lagi membuat Davin terkejut.


"Aku harap kau jangan mengambil tindakan gegabah. Tetaplah berpura-pura amnesia, jangan meninggalkan kesan mencurigakan. Ku harap kau bisa ku ajak bekerja sama. Jika tidak, jangan harap kau bisa bersama adikku lagi," ucap Bagas, lebih seperti sebuah ancaman untuk Davin.


"Aku tahu, apa yang harus aku lakukan. Sekarang katakan, dimana istriku berada?"


"Di sebuah tempat yang pastinya aman. Selesaikan urusanmu dengan Renata. Seret mereka berdua ke dalam penjara. Atau bunuh saja sekalian, manusia seperti mereka tidak layak hidup di dunia."


Kalau Bagas sudah berkata demikian, berarti memang benar dia membatasi Davin bertemu dengan Vey. Karena nyawa adiknya akan terancam bila Renata dan Retno tahu, Vey masih hidup.


Davin mencoba memahami maksud Bagas berkata seperti itu. Bila dia di posisi Bagas, pasti dia akan bersikap sama seperti Bagas. Melindungi adiknya dari hal-hal yang membahayakan Vey.

__ADS_1


"Baiklah jika itu yang terbaik untuk Vey, tapi aku ingin meminta bukti-bukti keterlibatan Renata dan ibunya pada kasus pembunuhan tempo hari," lanjut Davin.


Bagas langsung melempar ipadnya pada Davin. Di sana Bagas menyimpan semua bukti-bukti kejahatan Renata dan ibunya. Bukan hanya bukti-bukti tentang pembunuhan tempo hari. Bahkan Bagas memiliki rekaman cctv beberapa tahun lalu, ketika Renata merusak rem mobil Vey dan menyebabkan kecelakaan pada Vey dan Davin.


Davin membuka semua video di dalam ipad milik Bagas. Terlihat jelas perubahan wajah Davin setelah melihat semua bukti-bukti kejahatan Renata. 


Diserahkannya kembali ipad milik Bagas pada pemiliknya. Kemudian Davin menatap Bagas dengan ekspresi dipenuhi kemarahan.


"Kamu memiliki semua bukti-bukti kejahatan mereka. Lantas kenapa tidak langsung kau jebloskan mereka ke dalam penjara, hah?"


"Karena ada lelaki bodoh yang melindungi mereka. Apa kau tidak ingat? Sewaktu kau amnesia, kau lebih percaya pada mereka. Mereka berlindung di belakangmu. Tentu saja tidak mungkin aku gegabah, yang ada adiku yang menjadi korbannya," ujar Bagas santai.


Davin berdiri, dia hendak keluar dari ruangan Bagas. Nun Bagas menahannya agar tidak buru-buru pergi. Takutnya Davin akan mengacaukan semua rencananya, apa lagi kondisinya saat ini yang sedang emosi.


"Mau kemana kau? Jangan sampai kau bertindak gegabah dan merusak semua rencanaku!!"


"Ke kantor polisi. Aku akan membuka kembali kasus kecelakaan beberapa tahun yang lalu dan juga pembunuhan tempo hari!!" jawab Davin, tangannya hendak memegang handle pintu.


Bagas tertawa, membuat Davin mengurungkan niatnya pergi. Lalu dia berbalik melihat Bagas yang masih saja tertawa.


"Tidak perlu, karena aku sudah mengurus semuanya. Tinggal permainan waktu yang akan menjalankan segala nya. Kau cukup tetap pura-pura amnesia. Awas saja kau mengacaukan rencanaku dengan tindakan bodohmu. Jangan harap kau bisa bertemu lagi dengan adiku," ancam Bagas.


"Aku sudah menyuruh pengacaraku untuk membuka semua kasus ini. Hanya saja mereka terlalu pintar dan tidak gegabah. Kita main halus, yang terpenting Vey saat ini aman dan kau cukup jalankan perintahku," lanjutnya lagi.


Davin menyugar rambutnya ke atas. Apalagi yang bisa diperbuat selain menjalankan perintah kakak iparnya. Apa lagi Bagas mengancamnya seperti itu. Lebih baik memang Davin menuruti perintah Bagas daripada tidak bisa bertemu dengan istrinya.

__ADS_1


Davin pergi meninggalkan kantor Bagas, dia akan kembali ke kantornya. Pria itu masih memikirkan semua ucapan Bagas tadi, sambil menggigit kuku ibu jarinya.


"Renata, ternyata ini adalah jawaban dari kecurigaanku padamu. Baiklah, kita akan mulai permainan, sebelum kau dan ibumu membayar semua yang kalian perbuat padaku, Istriku dan calon anakku," ucap Davin, pandangannya menatap lurus ke depan.


__ADS_2