Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 21


__ADS_3

Lima menit kemudian, Vey keluar dari toilet. Dia ke toilet hanya untuk membenahi penampilannya serta menetralkan hatinya. Melihat suaminya bersama Renata membuatnya sakit hati.


Dia merasa kesal pada sikap suaminya yang tidak mengabarinya. Seharusnya Davin mengabarinya jika dia tidak jadi mengajaknya ke undangan Devano.


"Kenapa kamu ngeselin banget sih, mas. Apalagi si rubah betina itu, ingin rasanya ku cakar habis wajahnya," omel Vey pada pantulan dirinya di cermin.


Setelah penampilannya rapi, Vey berjalan keluar, hendak kembali ke tempat di mana suaminya dan yang lain berada. Tiba-tiba tangan seseorang menarik tubuhnya dan memojokkannya di dinding.


Mata Vey membelalak ketika suaminyalah yang membekap mulutnya. Sehingga Vey tidak mampu berteriak.


"Emm," Vey terus memberontak meminta Davin melepaskannya. Davin melepaskan bekapan di mulut Vey. Namun tubuhnya semakin mendekat, bahkan hidung keduanya pun saling menempel.


"Apa yang anda lakukan di sini, pak? lepaskan saya," Vey tetap memberontak. Di tambah kekesalannya pada Davin tadi, membuatnya bertambah emosi.


"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Devano," Bisik Davin, namun nadanya penuh tekanan.


Vey tersenyum melihat sikap suaminya padanya. Bahkan matanya menatap mata suaminya yang di penuhi api kecemburuan.


"Kenapa anda tidak suka, pak? Lagian, bukankah anda membawa pasangan? Jadi, lebih baik anda kembali sebelum pasangan anda mempergoki kita."


"Apakah kamu marah padaku, Vey? Maaf jika aku tidak menjemputmu tadi. Kau tahu


Vey menutup mulut suaminya menggunakan jari telunjuknya. Percuma Davin menjelaskan, Vey sudah bisa menebak apa yang akan suaminya katakan padanya.


"Karena tunangan anda, bukan?" ucapnya kemudian, bahkan Vey tersenyum pahit. "Dia adalah penting bagi anda, pak. Maka kembalilah padanya, jangan permainkan perasaan saya. Saya punya perasaan dan saya berhak dengan siapapun dan anda tidak berhak melarang saya dengan siapapun," ucap Vey menekankan setiap ucapannya.


Semua yang diucapkan Vey hanyalah kata-kata pancingan. Mana mungkin Vey rela suaminya bersama Renata. Vey hanya ingin memporak porandakan hati dan pikiran suaminya. Anggap saja terapi agar ingatannya kembali pulih.


Vey berhasil lepas dari kungkungan Davin. Vey hendak berjalan meninggalkan Davin, namun lagi-lagi Davin mencekal pergelangan tangannya.


"Ada apa lagi, pak? Tolong lepaskan saya, sebelum pak Devano dan tunangan anda mencurigai kita."

__ADS_1


Bukannya melepas, Davin menarik tubuh Vey hingga ke pelukannya. Dia mencari-cari bagian tubuh Vey yang akhir-akhir ini membuatnya nyaman.


Vey tersenyum, merasa suaminya mulai menemukan kenyamanan pada dirinya. "Maafkan saya, Vey," ucap Davin kesekian kalinya.


Bahkan Davin tidak mampu menjelaskan alasan kenapa dia meminta maaf pada Vey. Yang dia tahu, dia melakukan kesalahan dan membuat Vey kecewa. Padahal hubungan mereka sebatas bos dan sekretarisnya. Kecuali Davin mengingat bahwa Vey adalah istrinya.


Dugaan Vey ternyata salah, dia kira suaminya lupa tentang malam ini. Ternyata suaminya ingat, bahkan mengingat kejadian kemarin.


"Itu berarti, apakah Mita berhasil menukar ramuannya?" batin Vey.


Davin melepaskan pelukannya, matanya menatap wajah Vey yang malam ini jauh lebih cantik dibanding biasanya. Bahkan Davin tersenyum, meskipun Vey marah padanya, Vey masih mau mengenakan gaun pemberiannya.


"Kamu nampak cantik malam ini, apa lagi dengan gaun ini."


"Terimakasih atas pujiannya, pak. Kita sudah terlalu lama di sini. Mereka akan mencurigai kita, sebaiknya kita kembali," pinta Vey.


Setelah mengucapkan itu, Vey melirik di tempat tak jauh dari mereka berada. Ternyata Renata mengintip dari kejauhan. Davin yang hendak kembali ke tempat lebih dulu, ditarik tangannya oleh Vey.


"Saya merindukan anda, pak," ucap Vey setelah melepas ciumannya. Tangannya merapikan tuxedo yang dikenakan Davin.


"Anda sangat tampan malam ini. Kembalilah, saya tidak akan menahan anda lagi," bisik Vey. Renata berjalan menghampiri mereka berdua dan dia langsung menjambak rambut Vey.


"Dasar wanita penggoda, kau apakan calon suamiku," bentak Renata, tangannya masih menjambak rambut Vey. 


Vey mengaduh kesakitan, dia tidak terima dengan perlakuan Renata padanya. Vey tak mau kalah, dia langsung mendorong tubuh Renata hingga tersungkur ke lantai.


"Apa apaan kalian berdua! Apa kalian sudah gila?" bentak Davin yang kewalahan.


"Kau yang gila, mas. Kau selingkuh dengannya di belakangku," teriak Renata dramatis. Seolah dialah korban sebenarnya, padahal dialah pelakor sebenarnya.


Melihat keributan di depan toilet, semua pekerja dan orang-orang yang berada di restoran itu berdatangan untuk melihat. Devano yang sedang merokok pun ikut berjalan menuju toilet saking penasarannya.

__ADS_1


"Wanita gila, ku bunuh kau!!" lagi-lagi Renata menghampiri Vey dan menamparnya. Davin menghalangi dan Davin lah yang mendapat tamparan dari Renata.


Semua orang hanya menyaksikan mereka bertiga tanpa ada yang ingin melerai. Devano yang baru tiba pun terkejut dengan ulah mereka bertiga.


Devano berjalan menghampiri mereka bertiga, terutama langkahnya menghampiri Vey yang terlihat kacau.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi denganmu nona Vey?" tanya Devano khawatir. Devano hendak memeluk Vey, namun tangan Davin mencegahnya.


"Biarkan nona Vey bersama saya, pak Davin. Lebih baik anda bawa pulang tamu yang tidak saya undang ini," ucapnya menunjuk Renata.


Perasaan Davin bercampur aduk antara tidak rela Devano membawa Vey pergi. Tetapi dia malu dengan sikap Renata dan ingin segera membawa Renata pulang.


"Kau gila, kau membuatku malu," bentak Davin ketika dirinya dan Renata telah berada di dalam mobil.


Renata pura-pura menangis dan terluka atas ucapan Davin. Membuat Davin merasa bersalah dengan perbuatannya tadi.


"Kau jahat, mas. Kau yang selingkuh di belakangku, kau yang melukaiku. Sekarang kau menyalahkanku, siapa yang salah sebenarnya, mas?" ucap Renata terisak.


Davin mengusap wajahnya kasar, lalu dia memeluk tubuh Renata. "Maafkan aku, aku yang salah," ucapnya kemudian, membuat Renata menang. Renata tersenyum, tetapi dia akan membalas dua kali lipat perbuatan Vey padanya.


Renata tidak akan membiarkan Vey mendapatkan kembali Davin. "Jangan kau ulangi lagi, mas. Aku terluka dengan perbuatanmu di belakangku," ucap Renata, lagi-lagi memporak porandakan hati dan pikiran Davin.


Sedangkan Devano dan Vey saat ini juga berada di dalam mobil milik Devano. Tepatnya mereka di depan apotik 24 jam. Devano membeli obat untuk mengobati bekas luka cakaran Renata di tubuh dan wajah Vey.


"Wanita itu benar-benar gila. Bagaimana pak Davin bisa mengenal wanita itu," ucap Devano, tangannya sambil mengobati luka di lengan dan wajah Vey.


Vey mengaduh kesakitan, seluruh tubuhnya terasa perih akibat serangan Renata. Namun luka di lengan dan wajahnya tak sesakit luka pada hatinya.


"Dia adalah saudara tiriku sekaligus orang yang merebut suami dan menguasai suamiku," ucap Vey tanpa sadar namun terlanjur terdengar di telinga Devano.


"Apa?" Devano terkejut mendengar ucapan Vey.

__ADS_1


__ADS_2