
Renata dan Retno masuk ke dalam ruang kerja Davin. Mereka sedang mencari berkas-berkas penting Wings Corporation. Niat jahat mereka yang ingin menguasai perusahaan, mulai dijalankan.
Sayangnya mereka kalah cepat dengan Vey. Vey telah mengantongi semua berkas-berkas miliknya. Jauh-jauh hari, dia sudah menduga hari ini akan terjadi.
Berkat bantuan Bagas, masalah Vey menjadi lebih ringan. Terkadang orang baik tidak harus diam dan mengalah. Sesekali bertindak licik demi melawan orang-orang licik seperti Renata dan Retno.
"Cepat Ren. Davin keburu pulang!!" ucap Retno.
Renata masih mencari berkas-berkas yang sedari tadi belum ditemukan. "Bantuin, ma. Di mana sebenarnya dia menyimpan berkas itu?" Renata terus mengobrak abrik tumpukan dokumen dan buku-buku bisnis milik Davin.
Suara mobil memasuki garasi, membuat kedua wanita itu menghentikan aksinya. Retno dan Renata mengumpat, karena hanya itu yang dapat mereka ucapkan saat tidak menemukan yang mereka cari.
"Sial, kenapa dia harus pulang secepat ini, sih!!"
"Sudahlah, kita lanjutkan besok pagi setelah dia berangkat ke kantornya. Atau jangan-jangan berkas itu dia simpan di kantornya, Ren."
"Bisa jadi, ma. Besok aku akan ke kantor Davin, mencarinya!!" ucap Renata, keluar menyambut kepulangan Davin.
Dilihatnya Davin tampak pucat, mereka tidak tahu, Davin baru saja terapi pengeluaran racun di tubuhnya. Bahkan jalannya sedikit sempoyongan karena lemas.
"Mas Davin kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Renata.
"Aku hanya lelah dan butuh istirahat sebentar!!" ucapnya berlalu menuju lantai atas tempat di mana kamarnya berada.
Renata mengikuti langkah Davin, Retno menarik tangan putrinya. "Beri dia obat tidur," Perintahnya.
"Untuk apa, ma?" Renata yang bingung atas perintah ibunya pun bertanya.
"Agar dia tidur, lalu kita lanjutkan pencarian berkas tadi," ucap Retno. Dia menyodorkan sebutir obat tidur pada Renata.
Wanita tua itu seolah menyetir anaknya agar menuruti kemauannya. Renata segera berjalan ke lantai atas, untuk menjalankan perintah ibunya.
__ADS_1
Ketika dia sudah berada di dalam kamar dan melihat Davin sudah berbaring di atas ranjang. Bahkan Davin belum melepas sepatu serta pakaian kerja nya. Davin sudah terlelap, lantas apa gunanya obat di genggaman tangannya.
Renata mengurungkan niatnya, setelah melihat Davin sudah terlelap. Dia kembali keluar menemui ibunya di lantai bawah.
"Bagaimana, apa dia sudah tidur?" tanya Retno. Renata mengangguk mengiyakan tanpa memberitahu ibunya, bahwa Davin sudah terlelap tanpa meminum obat tidur pemberiannya.
"Bagus. Sekarang kita kembali ke ruang kerja nya. Jangan buang-buang waktu dan kesempatan sebelum keduluan Vey."
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruangan Davin. Mereka belum menyadari, bahwa rumah itu ada kamera hidup. Siapa lagi kalau bukan Mita, wanita yang mengabdikan hidupnya pada Davin demi kesembuhan ayahnya.
Dengan sangat hati-hati, Mita mengikuti Retno dan Renata. Tak lupa dia juga merekam semua tingkah laku mencurigakan dua wanita tersebut.
Bagas tidak butuh informasi tanpa bukti. Maka Mita selalu memberinya bukti berupa foto candid dan video.
"Benar-benar serakah. Aku harus mengirim video ini ke pak Bagas," gumamnya pelan.
Tak ingin aksinya di ketahui, Mita segera pergi setelah Retno dan Renata akan keluar dari ruang kerja Davin. Dia bersembunyi di balik dinding, akan pergi setelah memastikan Retno dan Renata telah pergi.
"Kau harus ke kantor Davin besok. Pasti semua berkas-berkas itu berada di sana. Mama tidak mau tahu bagaimana caramu mendapatkannya. Yang penting kamu harus segera mendapatkan semua berkas-berkas kekayaan Davin," ucap Retno.
"Sudahlah ma, besok saja aku pikirkan. Sekarang mataku ngantuk, aku ingin tidur."
Renata melenggang pergi meninggalkan ibunya. Sebenarnya dia risih mendengar ibunya yang suka memerintahnya.
Mita mengirim video hasil rekamannya pada Bagas. Saat ini Bagas masih di singapura, tepatnya di rumah sakit tempat ayah Mita menjalani pengobatan.
Setelah membuka video kiriman dari Mita, Bagas langsung menelponnya. Mita segera menerima panggilan dari Bagas.
"Kerja yang bagus, Mita. Bagaimana kabarmu di rumah itu? Apa mereka memperlakukanmu dengan buruk?" tanya Bagas di seberang telpon.
"Saya baik-baik saja, pak. Bahkan mereka tidak memperdulikan keberadaan saya di rumah ini. Oh ya, pak. Bolehkah saya bertanya kondisi ayah saya?" tanya Mita gugup. Padahal mereka berdua tidak bertatap muka.
__ADS_1
"Ayahmu sedang ditangani dokter terbaik di negara ini. Karena kinerjamu selalu memuaskanku, maka akupun akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan ayahmu."
Mendengar ucapan Bagas, menimbulkan rasa haru serta rasa syukur yang luar biasa. "Terimakasih pak Bagas. Saya akan lebih bersemangat lagi. Saya tidak ingin mengecewakan anda," ucap Mita.
Tanpa Mita ketahui, Bagas tersenyum mendengar ucapan Mita. Bagas merubah panggilan telepon menjadi video call. Mita terkejut karena belum siap, tapi tetap saja menerima video call dari Bagas.
"Apa kau belum mandi? Kamu terlihat sangat jelek!!" tanya Bagas yang sebenarnya hanya basa-basi, namun Mita menganggapnya serius. Dia bahkan mengangguk dengan sikap polosnya. Bagas mengulum senyum, di benaknya berkata " dasar gadis bodoh".
"Lihatlah, di dalam sana ayahmu sedang tidur. Beliau baru saja menjalani operasi tadi siang. Kabar gembiranya operasi ayahmu berjalan dengan lancar. Tapi kau jangan senang dulu
Bagas memotong ucapannya setelah melihat Mita akan tersenyum. Sialnya senyum gadis yang menjadi budaknya terlalu manis.
Bagas sendiri tidak pernah memuji wanita lain selain Vey adiknya. Tapi kali ini lelaki itu mampu memuji gadis yang menjadi budaknya, meskipun pesannya tidak diucapkan langsung lewat bibirnya.
"Kau tetap ingat janjimu padaku, bukan? Meskipun ayahmu telah sembuh, kau tetap menjadi budak ku untuk selamanya," ucap Bagas menyeringai.
Luntur sudah senyuman di wajah Mita, setelah mengingat janjinya. "Saya masih ingat, pak. Pak Bagas tenang saja. Saya tidak akan mengingkari janji saya pada pak Bagas," ucap Mita menyembunyikan kesedihannya.
Bagas terlalu pega meskipun Mita mencoba menyembunyikan kesedihannya. Tapi apa Bagas peduli? Janji tetaplah janji yang harus gadis itu tepati.
Bagas memberi waktu pada Mita, memandangi ayahnya di balik jendela kaca, sebelum dia memutus sambungan video callnya.
Mita menangis, setelahnya. "Jika memang takdirku menjadi budak pak Bagas selamanya, aku ikhlas. Melihat ayah sembuh, aku sudah bahagia," ucapnya meneteskan air mata yang membasahi pipinya.
Sedangkan di singapura Bagas tersenyum, teringat perubahan wajah Mita tadi. Dia mencoba tidak peduli, lalu membuka kembali video kiriman Mita.
Send
Video itu langsung dikirimkan ke nomor adiknya. Vey yang sedang gabut langsung membuka ponselnya setelah mendengar notifikasi masuk.
"Berhati-hatilah, Vey. Dua wanita setan sedang mengincar berkas-berkas perusahaan. Apakah kau sudah menyimpannya di tempat aman?" tanya Bagas melalui pesan whatsapp.
__ADS_1
"Kurang ajar, dasar wanita-wanita serakah, penjilat harta orang lain. Jangan kira kalian akan mendapatkan berkas-berkas itu, karena semua sudah berada di tanganku. Tunggu tanggal mainnya, maka semua yang ku miliki akan kembali ke tanganku." ucapnya, matanya tak lepas dari layar ponselnya yang masih memutar video kelakuan Renata dan ibu tirinya.