Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 59


__ADS_3

Vey benar-benar memborong seisi mall hanya untuk merubah penampilan Mita. Orang kaya memang berbeda, tinggal gesek-gesek apapun yang di suka tinggal ambil.


Setelah berbelanja keperluan seperti pakaian, sepatu, cosmetic. Selanjutnya Vey mengajak Mita ke sebuah salon langganannya. Penampilan Mita akan di rumah seratus persen jauh lebih cantik. Bukan berarti saat ini dia jelek. Tanpa make up pun Mita sangat cantik. Akan lebih sempurna jika kecantikannya di rawat.


Mereka menghabiskan waktu satu harian penuh untuk memanjakan diri. Hingga waktu berganti malam, Bagas menelpon adiknya beberapa kali. Davin pun juga sangat mencemaskan istrinya. Semenjak banyaknya kejadian buruk yang menimpa Vey, Davin menjadi lebih waspada.


"Kakakku mencarimu. Kamu ganti dress ini, gih!!" pintanya.


Vey harus totalitas memperhatikan penampilan Mita. Dia akan membuat kakaknya tidak mampu berkedip ketika melihat Mita.


Bagas dan Davin sama-sama menuju mall dari arah yang berbeda. Dua lelaki itu sama-sama mencemaskan dua wanita yang keluyuran sejak siang tadi.


Mita keluar dari ruang ganti dan telah mengganti pakaiannya dengan dress berwarna pink.


Vey menatap kagum, gadis itu terlihat jauh lebih cantik. Inilah yang dinamakan kecantikan yang tersembunyi.


Rambutnya pun di warnai, yang tadinya hitam pekat berubah menjadi dark brown. postur tubuhnya tidak ada yang perlu diubah, sudah sempurna di mata Vey.


"Sempurna. kakakku pasti terpesona melihatmu!!" ucap Vey tersenyum dan memegang kedua bahu Mita lalu memutar-mutar tubuh Mita guna meneliti penampilannya.


Tak lama ponsel di dalam mini bag-nya berbunyi. Bagas menunggu mereka bersama Davin di sebuah cafe.


Vey bergegas mengajak Mita menemui Bagas dan Davin.


"Vey, apa pak Davin tidak akan marah jika melihat penampilanku seperti ini?" tanya Mita. Sepertinya gadis itu kurang percaya diri karena belum terbiasa.


"Tenanglah, dia tidak akan marah, paling membisu kaku seperti patung Pancoran, hehehe!!"

__ADS_1


Mita ikut tersenyum membayangkan wajah kaku Bagas. Dua pria yang sedang menikmati coffe pun langsung meletakkan cangkirnya ketika melihat dua wanita berjalan anggun menghampiri mereka berdua.


Vey terlihat bertambah cantik dan segar setelah menjalani perawatan. Sedangkan gadis di sampingnya membuat dua pria itu memperjelas penglihatannya karena mereka pangling dengan perubahan Mita.


"Sayang, kakak. Apa kalian telah menunggu lama?" tanya Vey, melihat Davin dan Bagas bergantian.


Davin tersenyum menarik pelan tangan kanan istrinya dan memintanya duduk di sampingnya. Sedangkan Bagas meneliti penampilan gadis yang masih berdiri dan menundukkan wajahnya.


"Hey, jangan menatapnya seperti itu, kak, tatapan mu menakutinya. Mita, duduklah di sebelah kakakku!!" perintah Vey.


Tapi Bagas masih menatap Mita, bahkan tubuhnya enggan bergeser, memberi ruang untuk Mita duduk.


"Apa boleh pak?" tanya Mita memecah lamunan Bagas.


Bagas langsung tersadar dan berdehem. Lalu dia berdiri, mempersilahkan Mita duduk di sebelahnya. Ada desiran halus ketika indra penciumannya mencium aroma harum pada tubuh Mita. Vey memang pandai membuat kakaknya mati kutu.


Vey memberikan buku menu pada Mita, agar gadis itu memilih makanan yang akan dia makan.


"Apa? Jadi kalian belum makan dari tadi?" nada suara Bagas seperti memarahi mereka berdua. Vey hanya menjawab lewat ekspresi imutnya.


"Namanya juga perempuan, kakak. Semua perempuan akan lupa makan jika sudah berada di dalam salon. Bay the way, bagaimana penampilan Mita sekarang, kak?" goda Vey.


"Cantik!!" jawab Bagas singkat, namun mampu menciptakan semburat merah di pipi Mita.


Dua orang itu sangat menggemaskan di mata Vey. Vey berbisik di telinga suaminya, "si patung Pancoran sedang jatuh cinta, mas".


Davin mengusap rambut istrinya seraya tersenyum memandang wajah Vey. "Jadi ini misi yang kau katakan tadi, sayang?" bisik Davin. Vey mengangguk, misinya salah membuat Mita dan Kakaknya bertambah dekat. Karena Vey menginginkan Bagas agar segera menikah.

__ADS_1


Davin dan Vey mengulum senyum, melihat Bagas dan Mita duduk berdampingan tapi terasa kaku. Persis seperti dua orang remaja yang tertangkap basah sedang pacaran.


Setelah menikmati makanannya, mereka kembali ke rumah masing-masing. Namun sebelum pergi, Vey membicarakan sesuatu pada Mita.


"Ini semua buatmu Mita, semua pakaian ini wajib kamu pakai setiap hari. Cosmetic ini juga wajib kamu pakai tiap hari. Sepatu ini terserah kamu bagaimana cara kamu memakainya. Pokoknya kamu wajib memakainya. Jika kamu tidak memakainya, maka aku akan marah padamu," ucap Vey seperti sebuah ancaman.


"Apa yang sedang kau lakukan? Kau seperti mengancamnya!!" ucap Bagas mengeluarkan suaranya, padahal sedari tadi dia hanya diam mematung.


Vey terkekeh. "Jangan takut padaku Mita, aku tidak memaksamu. Tapi kau akan terlihat jauh lebih cantik jika bergaul denganku."


"Terimakasih atas semuanya, Vey. Aku sangat senang menghabiskan waktu seharian denganmu!!" ucap Mita.Vey hanya tersenyum lalu melambaikan tangannya memasuki mobilnya.


Mereka kembali ke rumah masing-masing. Vey bersama Davin, Mita bersama Bagas.


Di dalam mobil, dua orang yang belum memiliki seratus yang jelas itu saling diam. Mita tidak lagi heran, karena biasanya memang seperti itu.


Bagas memang pendiam, sekali bersuara seperti petasan. Tapi meskipun begitu, Bagas adalah orang yang baik. Buktinya selama ini Bagas tidak pernah menyakiti fisiknya. Meskipun awal kali mereka bertemu, Mita menawarkan dirinya padanya.


Sesampainya di halaman luas rumah Bagas, mereka turun dari mobil. Jangan membayangkan seperti yang ada di sinetron dan drama-drama Korea. Di mana si lelaki membukakan pintu mobilnya untuk si wanita. Mereka membuka pintu dan keluar dari mobil sendiri-sendiri.


Bagas menyuruh Mita masuk ke kamarnya lebih dulu. Sedangkan dia entah kemana, sepertinya dia masih duduk di teras rumah sambil mengeluarkan sebatang rokoknya.


Bagas nampak tenang, tapi siapa yang tahu kondisi hati dan jantungnya saat ini. Lelaki itu memang menyukai Mita, tapi terlalu gengsi untuk menyatakan perasaannya.


Bukan berarti setelah melihat perubahan penampilan Mita, dia jadi menaruh hati pada Mita. Sejak awal pertemuan mereka, Bagas sudah menyukai gadis itu. Karena ada jiwa almarhumah ibunya pada diri Mita.


Ponsel di saku celana Bagas berbunyi, ada pesan masuk dari Vey.

__ADS_1


"Kalau memang suka katakanlah, jangan gengsi, kakak. Aku tahu kau menyukai Mita, cepat utarakan perasaanmu padanya. Apa kau mau menjadi perjaka tua seumur hidup."


Bagas tersenyum membaca chat dari adiknya. "Cih, mentang-mentang sudah berpengalaman, menggurui kakaknya."


__ADS_2