
"Maksud kamu apa sih, Ren? Kamu bicara seperti tadi seolah kamu sedang hamil."
"Mas, aku serius. Aku sedang mengandung anak kita. Ini buktinya kalau mas Davin tidak percaya," Renata mengeluarkan tespek sekaligus surat keterangan hamil dari dokter.
Bola mata Davin membulat setelah membaca semua isinya. Tak lama Retno masuk kembali ke ruang rawat Davin dan meminta pertanggung jawaban Davin atas putrinya.
"Kau harus bertanggung jawab, Vin. Kapan kamu akan menikahi anak saya. Jangan menunggu perut anak saya membuncit baru kamu nikahi dia. Mau ditaruh dimana muka saya dan anak saya."
Davin merasa terpojok. Disisi lain dia merasa ragu, disisi lain dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ada bayi yang tidak berdosa yang sedang berada di perut Renata.
Dia tidak bisa berbuat apapun selain mengangguk mengiyakan ucapan Retno. Ibu dan anak itu saling pandang, karena Davin telah masuk dalam perangkap mereka.
"Apakah mama sudah memerintahkan orang-orang suruhan mama, untuk menghabisi wanita itu?" bisik Renata.
"Beres. Kita tunggu kabar kematian wanita itu," bisik Retno.
Jika tidak ada Davin di sana, sudah pasti dua wanita ibu dan anak itu akan tertawa lepas. Menertawai nyawa Vey yang tinggal beberapa waktu lagi.
"Mampus kau, Vey. Kau pikir, kau bisa merebut Davin dariku. Jangan bermimpi, bahkan jika aku tidak bisa memiliki Davin dan hartanya, kau pun juga tidak boleh memilikinya kembali!!" batin Renata.
Sedangkan Vey saat ini duduk di halte bus, menunggu bis yang akan ditumpanginya. Karena menunggu terlalu lama, akhirnya Vey memilih naik taxi.
Vey telah berada di dalam taxi yang dia tumpangi, menuju ke apartemennya. Dia memutuskan untuk pulang dan tidak kembali ke kantornya.
Vey merogoh cermin kecil di dalam tasnya, guna meneliti wajahnya. Pasalnya dia baru saja menangis, takutnya kakaknya akan melontarkan banyak pertanyaan jika melihat matanya sembab.
Dari pantulan cermin kecilnya, Vey melihat hal yang mengganjal dari arah belakang taxi. Sepertinya mobil sedan berwarna hitam sedang mengikutinya. Awalnya dia mengira mobil itu adalah mobil yang kebetulan juga lewat di jalur yang sama dengannya.
__ADS_1
Kemudian pandangan Vey menatap sekitar jalanan yang nampak sepi berbeda dari biasanya. Apa mungkin karena dia pulang lebih awal. Tetapi tetap saja ada rasa yang mengganjal di hatinya.
Lagi-lagi Vey terus melihat mobil sedan hitam itu dari pantulan cerminnya. Vey meminta sopir taxi agar mempercepat laju taxinya. Semakin taxi itu melaju cepat, semakin mobil sedan itu tak kalah cepat pula.
Vey merogoh ponselnya yang terletak di dalam tasnya. Dia akan menelpon Bagas dan memberitahu Bagas bahwa saat ini ada mobil sedan hitam yang mengikutinya.
"Hallo!!" terdengar suara Bagas di seberang sana.
"Hallo, kak. Tolong aku, kak. Ada mobil sedan warna hitam sedang mengikuti taxi yang ku tumpangi. Aku tidak bisa berhenti dan aku tidak tahu harus kemana, kak. Mobil itu semakin mengejarku."
"Posisi kamu dimana? Aktifkan gps sejarang!!" perintah Bagas.
"Aku lagi di perjalanan pulang ke apartemen, kak. Tadi aku dari rumah sakit, jadinya melewati jalur yang berbeda. Aku akan segera mengaktifkan gps sekarang, tolong aku, kak."
Nada suara Vey terlihat gugup serta ketakutan. Bagas segera memerintahkan semua orang suruhannya untuk berpencar di setiap jalur penghubung jalur yang akan dilewati Vey.
Orang di dalam mobil sedan itu menembak ban taxi yang ditumpangi Vey. Membuat taxi itu berhenti mendadak. Vey semakin ketakutan, dia keluar berlari meninggalkan taxi yang tadinya dia tumpangi.
"Kakak tolong aku!!" ucapnya lirih di tengah kejaran dua orang lelaki berpakaian serba hitam.
Vey terus berlari sekuat tenaganya, berharap kakaknya segera menemukannya melalui gps yang telah diaktifkan.
Keringat bercucuran membasahi dahinya dan sekujur tubuhnya. Bahkan rasa sakit di kakinya tidak dihiraukan asal dia bisa terus berlari dari kejaran dua orang asing itu.
Orang-orang suruhan bagas sebagian berhenti tepat di tempat taxi yang tadinya di tumpangi Vey berhenti. Mereka menemukan supir taxi dalam keadaan sekarat. Namun supir taxi itu masih bisa memberitahu orang suruhan bagas, bahwa Vey berlari ke arah mana.
Orang-orang suruhan Bagas itu segera menghubungi anggotanya yang telah berpencar. Sedangkan Vey terus berlari hingga lengan kanannya tertembak oleh orang suruhan Retno dan Renata.
__ADS_1
Vey berhenti di semak-semak di balik pohon besar. Dia kesakitan, bahkan darah segar mengalir di lengan kanannya. Diambilnya syal tipis yang berada di tasnya dan ia gunakan untuk mengikat lengan kanannya yang terluka.
"Kemana perginya wanita itu?" tanya salah satu orang suruhan Retno dan Renata. Vey membungkam mulutnya sendiri, setelah mendengar suara orang yang mengejarnya semakin dekat.
"Tuhan, tolong aku. Kakak, cepatlah tolong aku,kak!!" batin Vey memohon.
Setelah melihat dua orang yang mengejarnya telah pergi. Vey berlari ke lain arah, berharap dua orang itu tidak menemukannya.
Dia terus berlari, bahkan kondisi tubuhnya sudah melemah dan tidak baik-baik saja. Bahkan syal yang digunakan untuk mengikat tangannya yang tertembak pun tidak berguna. Darah Vey tetap tembus, menetes entah berapa banyak darahnya yang terbuang.
Bagas terus melacak adiknya lewat ponselnya. Vey semakin dekat, Bahkan Bagas membentak semua orang suruhannya agar bertindak lebih cepat.
"Jika salah satu dari kalian tidak ada yang bisa menyelamatkan adiku, maka kalian semua akan mati!!" teriak Bagas.
Suasana semakin mencengkam, semua orang di buat panik semua oleh Bagas. Mereka mempercepat pencahariannya, mencari keberadaan Vey.
Bagas sudah tidak sabar hanya duduk berdiam diri sambil menunggu kabar dari orang-orangnya. Akhirnya dia pun turun tangan ikut mencari adiknya di titik lokasi gps saat ini.
"Akan aku bunuh siapapun kalian yang berani mencelakai adikku!!" ucap Bagas di tengah emosinya yang meledak-ledak.
"Bersabarlah, Vey. Kakak datang, kakak akan menolongmu."
Bagas berlari menuju titik lokasi adiknya berada. Tubuh Vey sudah melemah, darahnya sudah banyak yang terbuang sia-sia. Bibirnya memucat, dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berlari.
"Aku sudah tidak sanggup, Tuhan. Aku pasrah jika memang ini adalah akhir hidupku!!" ucapnya sebelum dia pingsan.
Dua orang pria telah menemukan keberadaan Vey. Entah mereka orang suruhan Bagas atau malah sebaliknya. Dua orang pria itu membawa Vey pergi dari lokasi.
__ADS_1
Dua orang itu lebih cepat daripada Bagas. Bahkan Bagas hampir saja tiba di titik lokasi adiknya, namun keduluan orang lain.
Mereka menemukan Vey karena darah Vey menetes di sepanjang arah. Dan dua orang itu mengikuti jejak darah itu hingga sampailah kepada orang yang mereka cari.