Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 42


__ADS_3

Jam makan siang, Wings corporation di hebohkan dengan kedatangan Renata membawa undangan pernikahannya dengan Davin.


Tanpa sepengetahuan Davin, Renata telah menyebarkan undangan pernikahannya pada banyak orang.


"Akhirnya mbak Renata menikah dengan pak Davin. Saya turut berbahagia dan saya pasti hadir, mbak!!" ucap Andin, mencari muka.


"Tentu saja, kau harus datang dan semua yang ada di sini harus datang!!" ucap Renata, yang saat ini merasa di atas awan.


Mungkin hanya Andin saja yang merasa senang mendapat undangan dari Renata. Tidak dengan karyawan lain yang masih berduka atas meninggalnya Vey.


Apa lagi mereka juga telah mengetahui, sampai detik ini bosnya belum pulih dari amnesia yang di deritannya.


Renata sudah tidak sabar menjadi nyonya Damian seutuhnya. Tidak akan ada yang merebut posisinya. Karena satu-satunya ancaman terbesarnya telah mati.


Mendengar kehebohan di luar membuat Davin keluar dari ruangannya.


"Sayang, lihatlah aku sudah menyebarkan undangan pernikahan kita!!" ucap Renata, setelah melihat Davin keluar dari ruangannya.


Davin mengacuhkannya, dia sudah tidak peduli lagi apapun yang Renata lakukan. Jiwanya terasa mati dan terkubur bersamaan dengan jasad Vey yang dikubur kemarin.


Renata merasa dipermalukan di depan banyaknya karyawan yang melihatnya. Davin mengacuhkannya, dia terus berjalan hingga ke parkiran mobil.


Bahkan teriakan memanggil dari Renata tidak dihiraukannya. Davin butuh ketenangan, dia akan mencari ketenangan di tempat lain.


"Suami anda keluar meninggalkan kantor, nona!!" suara seseorang menelpon Vey.


"Ikuti dia dan beritahu aku kemanapun dia pergi!!" perintah Vey.


Davin memilih pergi menemui dokter Danu. Ada sesuatu hal yang ingin disampaikan kepada dokter Danu. Sekaligus kalau bisa dia ingin mencuci otaknya agar kenangan Vey lenyap dari pikirannya.


Davin pergi hingga waktu berganti malam. Di rumah Renata hanya sendirian di dalam kamar. Di bawah ada Mita, tetapi gadis itu mendapatkan tugas dari Bagas agar keluar meninggalkan rumah Davin.


Sedangkan Retno masih ada acara perkumpulan dengan teman-teman arisannya di luar.


Tak lama seluruh lampu di rumah Davin, mati.Renata yang berada di dalam kamar meraba-raba laci untuk mencari senter.

__ADS_1


Tiba-tiba ada cahaya berwarna putih masuk lewat jendela kamarnya. Tak lama pintu kamarnya terbuka dan menampakkan seseorang berdaster putih dengan kondisi wajahnya yang rusak.


"Aaaaaaa, siapa kau?" teriak Renata ketakutan.


"Kau melupakanku Renata? Lihatlah wajahku yang kau rusak ini," ucap orang itu sambil tertawa cekikikan.


"Gak, gak mungkin. Kamu sudah mati, Vey!!" Renata berteriak histeris ketika orang itu semakin mendekat.


"Lihat aku Renata. Lihat wajahku yang kau rusak. Bayiku yang kau bunuh menuntut pertanggungjawaban darimu. Kau telah membunuh kami, sekarang giliranmu yang akan kami bunuh."


"Vey, jangan macam-macam. Pergi dari sini, kau sudah mati, pergi ku bilang," teriak Renata semakin ketakutan. Apalagi wajah Vey semakin jelas dilihat begitu hancur dan menyeramkan.


"Aku hanya ingin nasibmu sama sepertiku, Renata. Jika wajahku hancur, maka wajahmu juga hancur. Jika bayiku mati kau bunuh, maka bayi di dalam perutmu juga harus mati sebagai gantinya," ucap Vey lalu tertawa cekikikan seperti hantu pada umumnya.


Renata semakin histeris ketika tangan Vey menjambak rambutnya dengan sangat kuat. Bahkan Vey mendorong tubuh Renata hingga terbentur ke dinding kamarnya.


"Bersiaplah Renata, sebentar lagi kau akan menyusulku," ucap Vey semakin menakut-nakuti.


"Tidak. Tolong,,,Mama, Davin, tolong aku!!" teriak Renata sambil memejamkan mata.


Tak lama lampu kembali menyala. Renata langsung berlari keluar menuju lantai bawah mencari pertolongan.


"Ma, tolong aku, ma!!" teriak Renata sambil berlari menuruni anak tangga.


Bertepatan dengan Retno yang baru saja pulang dari acara arisannya. Mendengar putrinya berteriak bahkan melihat putrinya menangis ketakutan, membuat Retno segera menghampirinya.


"Ada apa Renata? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Retno.


"Ma, tadi Vey datang menemuiku. Dia ingin membunuhku dan wajahnya hancur, ma. Sepertinya arwahnya gentayangan menuntut balas. Ma, lakukan sesuatu, aku sangat takut, aku tidak ingin mati muda, ma."


"Jangan bicara sembarangan, Renata. Dimana? Tunjukan dimana Vey saat ini berada."


Renata memeluk tubuh Retno dengan sangat erat. Seolah dia akan aman di pelukan ibunya.


"Tadi dia ada di kamarku, tetapi dia telah pergi. Pasti dia akan kembali untuk membunuhku, ma."

__ADS_1


"Kau pasti hanya berhalusinasi!!" ucap Retno melonggarkan pelukan Renata yang membuat dadanya terasa sesak saking eratnya.


Bahkan Renata mengikuti Retno, masuk ke dalam kamarnya. Malam ini dia akan tidur di kamar Retno. Merasa kamarnya tidak aman lagi, membuat Renata enggan kembali ke kamarnya sendirian.


Di luar sana, di dalam mobil Vey melepas topengnya lalu tertawa terbahak-bahak, membayangkan wajah ketakutan Renata.


Kedua tangannya di angkatnya, mengingat tangannya tadi telah menjambak rambut Renata serta mendorong tubuh Renata hingga membentur dinding.


"Ini belum seberapa dengan semua yang kamu perbuat padaku, Renata."


Vey melihat mobil suaminya memasuki gerbang rumahnya. Dia sudah tahu kemana perginya Davin tadi sore. Orang-orang yang ditugaskan untuk mengikuti suaminya lah yang memberitahunya.


Mata Vey terus melihat dari kejauhan hingga suaminya masuk ke dalam rumahnya. Entah pandangannya yang salah atau pikirannya yang bermasalah. Vey melihat keanehan pada diri suaminya.


Apa yang dilakukan Davin saat menemui dokter Danu tadi. Vey penasaran, besok dia akan bertanya langsung pada dokter Danu.


Davin melihat suasana rumahnya yang hening. Sepertinya semua orang sudah tidur, karena dia pulang terlalu malam.


Davin bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia akan mencari benda-benda yang mampu memancing ingatannya. Dia bertekad akan berjuang mengingat masa lalunya kembali.


Semua lemari, laci di dalam kamarnya sudah dia lihat. Namun semua isinya hanya miliknya dan milik Renata saja.


"Gudang, pasti ada sesuatu yang di simpan di dalam gudang. Aku harus mencari sesuatu yang mampu membantu memancing ingatanku."


Davin meninggalkan kamarnya, menuruni anak tangga menuju ke gudang yang terletak di belakang rumahnya. Entah kenapa feeling-nya kuat, bahwa di dalam gudang itu terdapat benda-benda yang mampu mengingatkannya pada masa lalunya.


Sesampainya di gudang, Davin langsung membuka pintunya. Dengan cahaya yang cukup terang, Davin mulai membongkar satu persatu tumpukan barang yang ada di dalam gudang itu.


Matanya melihat sebuah foto berukuran besar terbingkai indah di dalam pigura. Namun kaca pigura itu telah hancur. 


Karena penasaran, Davin menyingkirkan perlahan pecahan kaca pigura itu. Dia terus menyingkirkan pecahan kaca menggunakan sarung tangan.


Matanya melihat dirinya di dalam foto itu, mengenakan busana pernikahan. Davin semakin menyingkirkan pecahan kaca yang masih menutupi Poto sebelahnya. Hingga foto itu bisa terlihat jelas di penglihatannya. Bahkan Foto itu membuat Davin terkejut dan membuat kepalanya mendadak sakit.


"Vey!!" gumamnya sebelum jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2