Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 50


__ADS_3

Sepertinya antara Bagas dan ayahnya tidak baik-baik saja. Setelah saling diam tanpa bertegur sapa, Bagas pergi meninggalkan lokasi begitu saja. Dia tidak pergi sendiri, melainkan menarik tangan Mita untuk ikut pergi bersamanya. Tugas wanita itu telah selesai. Bukan berarti Bagas akan melepaskannya, karena Mita sendiri yang bersedia menjadi budaknya untuk selamanya.


Bagus menatap nanar, memandang kepergian putranya. Terlihat jelas putranya masih belum bisa memaafkannya. Bagus sangat menyesal, jika dulu dia lebih mendengarkan ucapan Bagas, pasti semua keadaan tidak akan seperti ini.


Bagas adalah satu-satunya orang yang menentang pernikahannya bersama Retno, dulu. Mungkin karena Retno menghasutnya, membuat Bagus lebih memilih Retno di banding putranya. Sejak itulah Bagas memilih pergi meninggalkan rumah yang selama ini penuh kehangatan keluarga, menjadi hancur karena kehadiran Retno dan Renata.


Bahkan lebih parahnya lagi, Bagus menikahi Retno di saat almarhumah istrinya baru saja meninggal. Bagus sangat menyesal, apa lagi teringat pertengkarannya dengan Bagas waktu itu.


Flashback on


"Aku menentang pernikahan ayah dengan wanita ini. Bahkan tanah makam ibu masih basah, ayah ingin menikahi wanita lain!!" teriak Bagas emosi, setelah mendengar ayahnya akan menikah lagi dengan Retno.


"Jaga sikapmu, Bagas. Ayah tidak pernah mendidikmu seperti ini. Dimana sopan santunmu terhadap orang yang lebih tua?" bentak Bagus.


Keduanya sama-sama keras, jadi seperti itulah jika mereka bertengkar. Hanya almarhumah ibunya dan adiknya yang bersikap lembut. Jadi tidak bisa disalahkan jika Bagas mewarisi sikap keras ayahnya.


"Sopan santunku masih ada, ayah. Tetapi untuk apa aku bersikap sopan pada wanita ini?" 


Bagus langsung melayangkan tamparan di wajah Bagas, ketika mendengar putranya semakin bersikap kurang ajar. Bagas mengusap wajahnya kasar, bekas tamparan pertama dari ayahnya. Bahkan kedua matanya menyorotkan kebenciannya pada ayahnya apalagi wanita yang berdiri di belakang ayahnya yang tak lain adalah Retno.


"Terima Kasih atas tamparan-mu, ayah. Dari aku kecil hingga se dewasa ini, baru kali ini ayah memukulku."

__ADS_1


Bagas tersenyum kecut, bahkan tamparan ayahnya membuat sudut bibirnya robek dan mengeluarkan sedikit darah. Rasanya perih, namun lebih perih hatinya kala itu.


"Karena wanita ini ayahku menamparku. Baiklah, jika memang itu kemauan ayah menikahi wanita ini, maka menikahlah. Tapi jangan lagi menganggapku anak, aku tidak sudi memiliki ayah sepertimu. Lebih baik aku pergi, selamat bersenang-senang denga pelacur-mu, ayah."


Bagus hendak menampar putranya lagi, namun Vey menghalanginya. " Jangan pukul kakak lagi ayah, sudah cukup jangan lagi bertengkar," ucap Vey menghalangi Bagus.


Bagas lagi-lagi tersenyum kecut namun tatapannya tajam. Dia berlalu pergi meninggalkan rumah mewah yang ditempatinya selama ini. Meninggalkan kenangan hangat keluarganya sebelum ibunya meninggal.


Vey berlari mengejar kakaknya, hingga Bagas mengurungkan dirinya yang hendak masuk ke dalam mobilnya. "Jangan halangi kakak, Vey. Jaga dirimu baik-baik, kakak akan selalu menjagamu meskipun kita tinggal terpisah. Kakak akan tinggal di apartemen. Datanglah, karena pintu apartemen kakak selalu terbuka untukmu. Apa kau juga ingin ikut pergi denganku?"


Ketika Bagas menawarinya untuk pergi dengannya, Vey menggeleng. Dia takut melukai ayahnya, jika semua anaknya pergi meninggalkannya. 


"Jika ini pilihan kakak, aku tidak bisa melarang kakak pergi. Tapi aku tidak bisa pergi dari sini dan meninggalkan ayah, kak," ucap Vey.


Flashback off


Bagus menyesali keputusannya waktu itu, bahkan matanya masih memandang kepergian putranya hingga Bagas menghilang dari pandangannya.


Vey yang sedari tadi hanya memperhatikan dari kejauhan akhirnya berjalan menemui ayahnya dan meninggalkan Davin yang masih berbincang-bincang dengan kolega bisnisnya.


Vey menepuk bahu ayahnya, membuat fokus Bagus teralihkan pada sosok cantik di depannya yang sangat mirip dengan almarhum istrinya.

__ADS_1


"Ayah kenapa? Pasti ayah memikirkan kakak, bukan?" tanya Vey, dan hanya mendapat senyuman dari ayahnya. Seolah Bagus menutupi dukanya dengan senyumannya. Tapi terlambat, karena Vey sudah memperhatikan interaksi ayah dan kakaknya sedari tadi.


"Sabar, yah. Beri waktu kakak, mungkin dia terlalu terkejut akan kehadiran ayah hari ini. Vey akan berusaha pelan-pelan bicara pada kakak. Vey tidak ingin antara ayah dan kakak terus saling diam seperti ini. Bisakah keluarga kita kembali seperti dulu meskipun sudah tidak ada ibu di antara kita, ayah?"


Bagus tak kuasa menahan air matanya setelah mendengar penuturan putrinya. Rasa sedih akan penyesalan membuat dadanya terasa sesak.


"Ayah sayang menyesal, Vey. Andai saja waktu itu ayah lebih mendengar ucapan Bagas, semua ini tidak akan terjadi. Keluarga kita tidak akan terpecah belah. Karena hasutan wanita itu, membuat ayah jadi ayah terburuk di dunia ini. Ayah memang pantas mendapatkan karma dari perbuatan ayah. Kakakmu pantas membenci ayah, karena ayah yang salah."


Vey langsung memeluk tubuh ayahnya yang mulai bergetar karena penyesalannya. "Ayah, hari ini adalah pernikahanku. Ayah jangan bersedih, seharusnya ayah bahagia karena rumah tangga ku kembali utuh lagi. Ayah tenang ya, kakak pasti akan kembali. Dia hanya butuh waktu, tersenyumlah ayah, setidaknya ikutlah berbahagia di hari bersatunya aku dan suamiku," ucap Vey, Bagus mengangguk seraya mengelus rambut putrinya.


Davin tak sengaja melihat istrinya berpelukan dengan ayah mertuanya. Davin membiarkan dan memberikan ruang untuk ayah dan anak itu saling melepas kerinduan.


Setelah beberapa waktu kemudian dan para undangan sudah kembali pulang ke rumah masing-masing dan hanya menyisakan Vey, Davin dan Bagus di sana.


"Davin, jaga putriku dengan baik. Semoga pernikahan kalian kali ini selalu dalam lindungan Tuhan. Ayah hanya bisa memberi kalian doa, bahagiakanlah putriku."


Davin mengangguk, mendekat dan memegang kedua tangan mertuanya. "Davin janji akan selalu membahagiakan Vey, yah. Ayah tidak usah khawatir, tidak akan ada lagi Renata yang kedua. Bahkan Davin dan Bagas sudah menjerat mereka berdua dengan pasal berlapis yang akan memberatkan hukuman mereka. Bahkan mereka bisa dihukum seumur hidup atas perbuatan mereka."


"Pertama, bukti lelah membuktikan Retno dan Renata Lah yang meracuni almarhumah ibu, sehingga beliau meninggal. Kedua, mereka merencanakan dua kali pembunuhan pada Vey. Ketiga, mereka telah membuat ayah lumpuh dengan memberi ayah beberapa obat-obatan yang membuat ayah lumpuh. Keempat, mereka juga memberikan obat pencuci otak agar aku tidak mengingat masa lalu dan masih banyak kejahatan-kejahatan mereka termasuk rekan saya sendiri yaitu pak Devano yang merupakan mantan suami Renata. Hartanya dikuasai oleh Retno dan Renata, membuatnya harus bangkit kembali mulai dari nol. Untung saja Tuhan masih baik padanya, sehingga pak Devano masih diberi kesempatan sukses seperti sekarang," ucap Davin panjang lebar.


"Jadi dua wanita itu akan di penjara seumur hidup?" tanya Bagus memastikan pendengarannya tidak salah. Davin Pun mengangguk, membenarkan, karena begitulah hukuman yang pantas untuk mereka berdua.

__ADS_1


Tidak mungkin Davin mengotori tangannya dengan membunuh mereka berdua. Ada hukum di negara ini, dan biarlah hukum di negara inilah yang menghukum mereka berdua. Soal karma pasti ada, dan biarlah Tuhan yang memberi karma yang pantas untuk dua wanita itu.


__ADS_2