
Setelah mendengar Bagas telah melamar Mita secara mendadak tanpa memberitahunya, Vey segera pergi ke mansion kakaknya. Kabar itu membuatnya terkejut, tidak menyangka kakaknya benar-benar melamar Mita.
Vey sebenarnya sangat bahagia mendengarnya, tapi dia merasa kesal karena Bagas tidak melibatkannya di acara lamaran.
Pagi itu Mita sedang melayani Bagas, menyiapkan sarapan paginya. Vey tiba-tiba datang dan marah-marah pada kakaknya.
"Keterlaluan kakak tidak melibatkan ku di acara lamaran kemarin!!" teriak Vey di ambang pintu utama.
Mita dan Bagas kompak menoleh pada sumber suara. Bagas dan Mita segera berdiri ketika Vey menghampiri mereka.
"Ada apa sepagi ini teriak-teriak, Vey?" tanya Bagas sok tidak tahu.
"Kenapa kakak tidak melibatkan ku kemarin?" tanya Vey sekali lagi dan memperjelas ucapannya.
Bagas duduk kembali memakan sisa rotinya yang belum habis. Lalu dia meneguk segelas susu buatan Mita hingga tandas tak tersisa. Sedangkan dua wanita di sampingnya masih memperhatikannya.
"Sarapan dulu, sepagi ini kau kemari, pasti kau belum sarapan. Lagian apa yang membuatmu marah-marah sepagi ini? Kemarin hanya lamaran biasa, hanya aku dan Mita yang datang ke rumah ayahnya. Kalau hari H hampir tiba, kakak akan melibatkan mu!!" ucap Bagas menjelaskan.
__ADS_1
Tapi Vey mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan suasana yang begitu ramai di rumah Mita kemarin. Vey menduga, kakaknya mengadakan lamaran besar-besaran tanpa melibatkannya di moment penting itu.
Bagas melihat Foto yang ditunjukkan adiknya, lalu dia tersenyum memandang ke arah Mita. "Mita, jelaskan pada dia, apa yang sebenarnya terjadi!!" perintah Bagas. Mita pun menjelaskan yang sebenarnya pada Vey.
"Kemarin memang benar pak Bagas melamarku, Vey. Tapi kamu jangan salah paham hanya karena melihat poto-poto ini. Aku sendiri juga tidak tahu kalau pak Bagas akan melamarku di hari itu. Semua serba mendadak, dan soal banyaknya orang yang ada di rumahku adalah tetangga-tetanggaku. Mereka tiba-tiba datang tanpa kami undang, hanya untuk melihat pak Bagas. Jadi pak Bagas yang tadinya ingin bicara empat mata dengan ayahku jadi terganggu karena tetanggaku yang terus berdatangan. Akhirnya pak Bagas nekat melamar ku di hadapan mereka semua. Jadi begitulah cerita yang sebenarnya, bukan karena pak Bagas tidak melibatkan mu. Tolong kamu jangan salah paham lagi pada kami, Vey!!"
Panjang kali lebar, Mita menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Vey. Akhirnya Vey mengerti, tapi mendadak dia senyum-senyum sendiri lalu beranjak memeluk Mita.
"Aku sangat bahagia, akhirnya kakakku akan menikah. Aku semakin bahagia karena gadis yang akan dinikahi kakakku adalah kamu, Mita. Sebentar lagi kamu akan menjadi kakak iparku, aku sangat senang. Terimakasih, berkat dirimu, kakakku tidak akan menjadi perjaka tua!!" ucap Vey sangar girang, Mita tersenyum sedangkan Bagas memutar bola matanya mendengar ucapan adiknya tentangnya.
"Baiklah, kalau begitu kau harus mempersiapkan dirimu sebelum hari H, aku akan membantumu mempercantik diri. Kakak, hari ini aku akan mengajak Mita ke salon. Dia harus perawatan tubuh sebelum hari pernikahan kalian!!"
"Tunggu, sepagi ini salon mana yang buka? Lagian dia belum mandi!!"
Yang diucapkan Bagas memang benar adanya. Mita belum mandi, dan Bagas menyuruhnya mandi. Gadis itu segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. Vey mengikuti Mita dan ikut masuk ke dalam kamarnya.
Tak lama setelah Mita sudah rapi dan wangi, mereka berdua berpamitan dengan Bagas. Lagi-lagi Bagas menghadang mereka, entah kali ini apa lagi yang salah.
__ADS_1
"Aku akan mengantar kalian!!" ucapnya selanjutnya. Vey mengangguk antusias, jadi dia tidak perlu repot memesan taxi online.
Akhirnya dua wanita itu di antar oleh Bagas, sekalian Bagas berangkat ke kantornya yang merupakan sejalur dengan salon yang akan didatangi Vey dan Mita.
Bagas memaklumi para wanita memang paling tidak bisa diganggu gugat kalau soal mempercantik diri. Sesekali membiarkan Vey mengajari Mita, cara-cara merawat diri. Karena Bagas perhatikan dari dulu, Mita tidak pernah merawat dirinya. Kecantikannya memang alami, tapi kecantikan itu akan memudar jika kurang perawatan.
Uang tidak masalah baginya, asal Mita dan Vey bisa bahagia. Lagi pula uang Bagas dan uang Davin tidak akan habis hanya untuk perawatan para wanitanya. Sampai tujuh turunan pun harta mereka tidak akan habis.
"Hubungi aku jika kalian sudah selesai perawatan, aku akan menjemput kalian!!"
"Tidak perlu, kak. Kau fokus kerja saja, cari uang yang banyak untuk pesta pernikahan kalian. Lagipula masih ada taxi, dan grab online," canda Vey.
"Baiklah, tapi kalian harus berhati-hati. Kabari aku jika butuh sesuatu dan jika terjadi sesuatu!!" pesan Bagas sebelum menjalankan kembali mobilnya meninggalkan Vey dan Mita.
"Yuk Mit, saatnya perawatan!!" ajak Vey. Mereka langsung memasuki salon perawatan kecantikan terkenal di kota itu. Sebelumnya Vey telah mem booking terlebih dahulu. Karena pengunjung di salon itu terlalu banyak dan Vey tidak suka antri dan menunggu terlalu lama.
Vey tidak menyadari ada sepasang mata yang sedari tadi memandang ke arahnya dengan tatapan tajam. Dia adalah seorang wanita, tentunya menaruh dendam pada Vey. Dia yang hendak pergi langsung mengurungkan niatnya setelah melihat Vey.
__ADS_1
Matanya mengikuti Vey masuk di sebuah salon terkenal. Dia akan menunggu sampai Vey keluar dari salon itu. Matanya berapi-api, bayangan tempo hari membuat dendamnya pada Vey harus segera dituntaskan. Dia tidak suka melihat Vey tersenyum bahagia. Sedangkan dia harus pontang panting mencari pekerjaan demi mendapatkan uang.
"Kau harus membayar semuanya, Vey!!" ucap wanita itu, dia masih menunggu Vey di dalam mobil rentalnya.