
Meski Jian Chen telah mengurangi rasa panas dari racun api dengan serpihan es nyatanya racun tersebut tetap berbahaya.
Racun itu kini telah berada di area jantungnya, Jian Chen terus merasakan rasa sakit yang hebat setiap detiknya hingga pandanganya perlahan memudar. Jian Chen tidak mengetahui apakah ini tanda ia pingsan atau mati.
‘Aku tak bisa mati disini, keluargaku masih dalam bahaya…’ Nafas Jian Chen terputus-putus, pandangannya terpaku menatap langit malam yang gelap.
Saat di kondisi kritisnya ada seseorang yang tiba dan berdiri di dekat Jian Chen, walau sedikit kabur pandangannya masih bisa melihat orang itu.
Dia adalah seorang wanita, bergaun putih serta memiliki paras yang amat cantik. Jian Chen tidak mungkin tidak mengenal gadis itu karena dia adalah ketua klannya yaitu Jian Ya.
Gadis itu tampak terkejut dengan situasinya saat tiba, menoleh ke kanan, dia menemukan ada sisa pertarungan Jian Chen melawan Tangan Besi, daun yang terbakar serta bongkahan es yang besar.
Jian Ya juga sangat terkejut menemukan jasad Tangan Besi tak jauh Jian Chen berbaring, namun yang paling membuat gadis itu terkejut adalah ketika melihat paras Jian Chen.
Kini Jian Chen tidak lagi memakai topeng putihnya, menyisakan wajahnya yang pucat dengan mata emas yang bersinar.
“Chen’er, kau tidak apa-apa?”
Jian Ya sadar ini bukan waktunya untuk memikirkan banyak hal terutama identitas Jian Chen yang merupakan pendekar bertopeng sebelumnya. Saat ini Jian Ya harus membantu Jian Chen yang terlihat terluka parah.
Jian Chen ingin menjawab namun tubuhnya tak mengikuti keinginannya sehingga ia hanya tergeletak lemas.
Ada luka besar di dada Jian Chen yang terselimuti serpihan es serta dikulitnya berubah warna jadi biru, tanpa harus pemeriksaan lebih jauh gadis itu langsung mengetahui bahwa Jian Chen tengah keracunan.
“Racun ini benar-benar berbahaya, aku harus menyembuhkannya…”
Jian Ya mungkin bisa meminta pertolongan pada Miou Lin, dia pasti bisa membantu hanya saja di kondisi yang seperti ini sulit untuk menemukan Miou Lin apalagi racun di dalam diri Jian Chen sudah ada di area jantungnya.
Meski berhasil menemukannya pun Jian Ya takut nyawa Jian Chen sudah tidak tertolong.
Jian Chen masih dalam keadaan sadar dan memandang Jian Ya dengan lemah, ia bisa melihat kepanikan ketua klannya itu.
__ADS_1
‘Mungkinkah aku mati disini…’ Jian Chen tersenyum tipis.
Dengan kedatangan Jian Ya kesini ada kemungkinan peperangan di dekat gua sudah stabil atau setidaknya memihak klan Jian. Jika begitu, keluarganya baik-baik saja dan mungkin Jian Chen masih bisa tenang untuk melepaskan nyawanya.
Lagi pula dia yakin Jian Ya tak bisa berbuat banyak untuknya terutama racun di dalam dirinya sudah menyebar terlalu dalam sedangkan untuk menawarkannya butuh seorang tabib yang hebat.
Jian Ya menoleh ke kanan dan kekiri berharap ada seseorang datang atau tepatnya keajaiban yang datang. Jian Ya semakin panik ketika tubuh Jian Chen mulai begetar.
‘Ayah, ibu maap aku tidak bisa pulang lagi…’ air mata muncul di sudut mata Jian Chen.
Pandangan Jian Chen mulai gelap, tubuhnya sudah tidak terasa lagi. Di detik ia kehilangan kesadaran, samar-samar Jian Chen melihat Jian Ya mendekatkan dirinya ke wajahnya, sangat dekat sampai terlihat ia ingin melakukan sesuatu.
Jian Chen kemudian merasakan ada yang menempel di bibirnya, bersamaan dengan itu ada cairan masuk lewat tenggorokan.
Sensasi hangat yang nyaman menyelimuti tubuh Jian Chen ketika cairan tersebut diminumnya dan dalam sekejap luka-luka dari tangan besi sembuh diikuti api racun ditubuhnya menghilang.
Bukan hanya itu saja, satu meridian di tubuh Jian Chen yang tersisa langsung terpenuhi dengan cepat, kini 8 meridian Jian Chen telah sempurna di tingkatkan.
***
Setahunya tidak ada yang bereaksi seperti itu ketika Jian Ya melakukannya, lihatlah, bukan hanya melayang namun secara perlahan ada percikan petir emas di sekeliling tubuh Jian Chen.
Sebuah naga emas yang besar dan panjang muncul dari percikapan petir yang terkumpul, naga itu kemudian bergerak di sekitar tubuh Jian Chen layaknya naga hidup sungguhan.
Mata Jian Ya melebar, bahkan ia harus menggosoknya untuk memastikan yang dilihatnya sungguhan.
‘Chen’er, siapa dirimu sebenarnya?’
Jian Ya sedikit menyadari bahwa petir itu adalah tanda penerobosan seseorang dalam berkultivasi. Hanya saja ia baru melihat petir penerobosan bisa berbentuk seperti ini apalagi bentuknya bisa hidup.
“Rawerrrr….!!”
__ADS_1
Naga itu meraung, Jian Ya harus menutup telinganya karena suara naga itu memekakan telinga. Beberapa saat naga yang mengelilingi Jian Chen akhirnya bergerak dan masuk ke dalam tubuh Jian Chen.
Nafas Jian Ya tertahan, walau hanya sesaat melihat naga tersebut, itu sudah cukup membuat lututnya terasa lemas. Jian Ya baru pertama kali merasakan ketakutan seperti ini.
Usai naga menghilang petir di sekeliling Jian Chen juga menghilang, tubuh Jian Chen perlahan kembali ke tanah, diwaktu yang sama ia langsung tersadar dan membuka matanya, pandangannya seketika tertuju pada Jian Ya.
Jian Ya maupun Jian Chen saling pandang beberapa menit, keduanya sama-sama mengetahui apa yang terjadi di antara keduanya.
Beberapa detik sebelum Jian Chen hampir tak sadarkan diri, dia bisa menyaksikan Jian Ya mendekatkan bibirnya dengan bibir Jian Chen secara langsung, dan tentu saja sampai bersentuhan.
Apa yang diminumnya tadi yang tak lain adalah darah di bibir Jian Ya.
Wajah Jian Ya memerah begitu juga dengan Jian Chen, keduanya sama-sama dalam kondisi canggung dan tidak tahu harus bertindak seperti apa.
Ketika pandangan Jian Chen tertuju pada bibir Jian Ya, walau sekilas ia melihat ada darah dibibirnya, ya, Jian Ya mengigit bibirnya untuk membuat Jian Chen bisa meminum darahnya.
Bukan itu saja, warna darah Jian Ya tidaklah merah pada umumnya melainkan berwarna emas. Jian Chen sungguh terkejut melihat itu dan ia baru pertama kali melihat seseorang mempunyai darah emas.
“Ketua, anda…”
“Chen’er, kuharap kau merahasiakan ini.” Jian Ya memotong cepat.
Jian Chen terdiam beberapa saat sebelum mengangguk, meski dia tidak mengerti tentang darah emas tersebut namun ia yakin gara-gara darah tersebut ia langsung bisa sembuh cepat dan dapat menerobos ke alam dewa cahaya selanjutnya.
Siapa yang menduga darah emas Jian Ya adalah sumber berharga bagi kultivasi Jian Chen, dan itu baru beberapa tetes di ditelannya bagaimana kalau lebih banyak dari itu.
Tingkatan setelah Dewa Cahaya Emas adalah Dewa Cahaya Kristal, Jian Chen kini sudah berada di ranah itu.
Kekuatan Jian Chen meningkat pesat dan ia yakin kini kekuatannya setara dengan mereka yang di Alam Bumi Tahap Tiga.
Kalau tidak ada Jian Ya mungkin ia akan melompat saking bahagianya karena tidak menyangka bisa menerobos di usia yang belum genap enam belas tahun.
__ADS_1
Jian Chen kemudian menatap Jian Ya lagi, gadis itu memilih untuk berpaling dan melihat ke yang lain, sepertinya Jian Ya masih malu untuk perihal ini apalagi mengingat antara dirinya dan Jian Chen.
Biarpun tidak secara jelas, Jian Chen juga sebenarnya gugup, dia belum pernah sama sekali berciuman bersama seorang gadis apalagi gadis itu secantik Jian Ya.