Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 196 — Penyesalan klan Liu


__ADS_3

"Siapa pemuda itu sebenarnya..." Jian Ya melihat ke atas langit tempat dimana Jian Chen hilang sebelumnya.


Meski Jian Ya tidak mengenalinya namun paras pemuda itu terasa akrab walau hanya setengah wajah yang terlihat.


Jian Ya memikirkan itu sebelum suara Jian Rou yang di gendongnya menangis, membuat lamunannya pecah. Disisi lain ia melirik Jian Wu yang perlahan mulai sadar.


"Dimana aku, apakah aku masih hidup?"


Yang pertama kali Jian Wu lakukan setelah terbangun adalah memeriksa tubuhnya yang sudah di tusuk, ia menemukan bukan hanya tusukan itu menghilang di tubuhnya tetapi luka lainnya juga sudah ikut menghilang.


Di saat kebingungan itu, Jian Ran langsung memeluk tubuh suaminya sambil menangis deras. Meski mengetahui luka Jian Wu sudah sembuh ia tetap khawatir saat suaminya belum terbangun.


"Maaf, kau pasti khawatir..." Jian Wu mengelus punggung istrinya, ia bisa merasakan begitu terpukulnya Jian Ran saat ia tak sadarkan diri.


"Tidak apa, selama kamu baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku..."


Jian Wu tersenyum, memeluk tubuh Jian Ran sebelum ia melihat situasi sekelilingnya, selain ada Jian Ya, ia menemukan kelompok pembunuh yang di lawannya sudah tewas dengan cara yang tak biasa.


"Sebenarnya apa yang terjadi ketika aku tak sadarkan diri?" Jian Wu terlihat kebingungan, terutama saat menyadari peperangan tidak lagi terdengar.


Jian Ran masih menangis di pelukannya sehingga Jian Ya berbaik hati menjelaskan bahwa ada pilar cahaya setelah Jian Wu tak sadarkan diri.


Di pilar cahaya itu kemudian muncul pendekar bertopeng misterius yang memiliki enam sayap perak di punggungnya. Orang yang sama langsung menyelamatkan mereka termasuk menghentikan peperangan klan Jian.


Wajah Jian Wu terkejut setelah mendengarnya, sulit mempercayai cerita besar itu yang terkesan seperti dongeng belaka namun karena melihat klan Jian kini sudah aman, percaya atau tidak ia tidak punya pilihan selain mempercayainya.


"Ketua Ya, terimakasih karena sebelumnya telah membantuku serta istriku, aku benar-benar tertolong olehmu..."


Jian Wu tidak melupakan pertolongan perempuan itu, jika tidak ada dirinya mungkin istri serta anaknya tidak ada lagi di sampingnya sekarang.

__ADS_1


"Senior Wu tidak perlu sungkan, kita berada di satu klan yang sama, sudah sepatutnya saling tolong menolong..." Jian Ya mengangguk pelan.


Jian Wu tidak berkata lagi lalu menoleh pada istrinya. "Ran'er, sudah jangan menangis, aku sudah tidak apa-apa..." Jian Wu membelai istrinya itu yang masih memeluk erat. "Apa kau tidak malu ada Ketua Ya disini, kau terlihat seperti gadis kecil saja..."


Mendengar itu tangisan Jian Ran terhenti sebelum melotot dan mencubit pinggang suaminya itu, selalu saja dalam segala situasi suaminya itu akan mencoba menggodanya.


"Nah, bukankah seperti ini kau semakin cantik?" Jian Wu tertawa, tentu saja niat awalnya adalah untuk menghiburnya.


Wajah Jian Ran memerah, antara malu dan sedikit kesal karenanya suaminya itu tidak berhenti menggoda padahal sudah jelas-jelas ada Jian Ya didepannya.


Jian Ya hanya tersenyum canggung sambil memalingkan wajah pura-pura tidak melihat mereka. Dari hati terdalamnya ia sangat iri dengan pasangan mesra keduanya.


Jian Ya mungkin adalah gadis yang cantik serta menawan, banyak laki-laki yang menyukainya namun tidak satupun dari mereka yang membuatnya tertarik.


Memikirkan itu entah kenapa pikiran Jian Ya teringat seseorang yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia buru-buru menggelengkan kepala, menganulir perasannya yang semakin merambat.


Jian Ya menyerahkan Jian Rou kembali pada ibunya, ia berpamitan untuk pergi karena ada banyak yang harus dilakukan termasuk memastikan keluarganya juga selamat.


Aroma mayat serta darah tercium memperburuk kualitas udara, tidak pernah terbayangkan klan Jian yang merupakan klan yang menjunjung tinggi kebersihan kini di penuhi lautan jasad.


Jian Ya juga melihat ada banyak rumah yang hancur akibat serangan ini juga beberapa jasad pendekar klan Jian.


Meski peperangan ini lebih sedikit yang gugur daripada penyerangan organisasi sebelumnya namun kekuatan klan Jian tetap menurun, setidaknya butuh beberapa bulan hingga klan Jian seperti semula lagi.


Gadis itu kemudian mencari keberadaan ayah dan kakeknya, setelah beberapa waktu ia menemukan kedua orang terdekatnya masih selamat meski Jian Fengxa mengalami beberapa luka di tubuh.


***


"Apa kau bilang? Penyerangan kita gagal!?"

__ADS_1


Liu Zhong yang berada di kediaman klannya langsung memukul lengan singgasananya setelah mendengar laporan dari salah satu utusannya yang mengabarkan penyerangan klan Jian telah di gagalkan.


"Ketua Zhong, bukan hanya itu, seluruh pasukan kita yang dikirimkan ke sana juga tewas semuanya tanpa tersisa sedikitpun..."


Dada Liu Zhong kembang kempis, jantungnya berdetak jauh lebih cepat, ia tidak menyangka akibat penyerangan ini jauh di luar dugaannya.


"Bukankah aku telah mengirim Tetua Zhi dan dua Pendekar Alam Langit ke sana! Bagaimana bisa penyerangan kita telah gagal!?"


Menurut Liu Zhong, walaupun pasukan yang dikirimkannya tidak melakukan persiapan yang matang seharusnya dengan jumlah serta kekuatannya sudah cukup membuat klan Jian rata.


"Tetua Zhi dan dua Ketua pendekar Alam Langit juga ikut tewas dalam penyerangan ini, menurut cerita kabar yang terdengar di klan Jian, ada sosok misterius yang memakai topeng serta bersayap yang menghabisinya."


Mendengar itu Liu Zhong bukan lagi terkejut bahkan sedikit ada rasa takut, tidak pernah terbayangkan di klan yang menurutnya hanya klan menengah biasa ada sosok rahasia yang melindunginya.


Kali ini Liu Zhong khawatir, klannya di ambang bahaya andai pemuda misterius itu membuat perhitungan pada klannya.


Akibat penyerangan tersebut, bukan hanya klan Liu mengalami kekalahan ia juga mengalami kerugian serta pengaruh yang tidak sedikit.


Mereka yang bersekutu bersama klan Liu ada kemungkinan meminta pertanggung jawaban atas kerugian ini atau yang paling buruk mereka akan berpaling pada klannya.


Kekuatan klan Liu juga berkurang drastis, ia ragu dengan kekuatannya sekarang klan Liu bukan lagi klan nomor 2 terkuat di Provinsi Naga Petir apalagi setelah kematian Liu Zhi.


Banyak hal yang Liu Zhong khawatirkan, ia kini mulai menyesali perbuatannya yang menganggap remeh klan Jian, andai waktu itu ia tidak memutuskan menyerang klan tersebut mungkin situasinya tidak akan seburuk ini.


Lagian ketidak dugaan Liu Zhong memang wajar, ia belum pernah mendengar seorang pendekar bisa membunuh orang yang sudah di ranah Alam Langit.


Bagaimanapun Alam Langit selalu punya trik untuk berhasil lolos atau mempertahankan hidupnya, jika saja benar Liu Zhi mati bersama dua pendekar Alam Langit di dekatnya, maka sosok misterius itu adalah jagoan yang lebih kuat dari jagoan nomor satu di Provinsi Naga Petir.


Liu Zhong adalah jagoan nomor urut dua yang terkuat di provinsi ini sebelum Chu Bian, kekuatan keduanya hanya berbeda tipis namun yang membuat Liu Zhong jadi nomor 2 karena umurnya yang lebih muda.

__ADS_1


Jika saja Liu Zhong diberi waktu tiga sampai empat tahunan maka tidak menutup kemungkinan ia jadi jagoan nomor satu di provinsinya.


Tidak pernah ia sangka ketika ia akan mencapai hal tersebut ada langit yang lebih tinggi darinya.


__ADS_2