
Shio Tikus tidak mengetahui berapa lama ia tak sadarkan diri namun yang pasti ketika ia membuka matanya langit sudah menjadi gelap.
Tubuh Shio Tikus terikat di dahan pohon dengan rantai besi melilitnya, tidak jauh darinya disekap ada sebuah api unggun yang menyala terang. Shio Tikus melihat di dekat api unggun tersebut ada dua orang yang duduk di dekat api unggun, satunya adalah laki-laki sementara satu lainnya merupakan seorang wanita, keduanya tampak sedang membakar sesuatu.
Shio Tikus kemudian mencoba melepaskan rantai besi dengan kekuatannya tetapi entah kenapa tubuhnya seperti tidak ada tenaga bahkan terasa lemas. Detak jantung Shio Tikus berdebar kencang saat menyadari tenaga dalamnya hampir tidak ada di dalam tubuhnya.
Pandangan Shio Tikus jatuh pada laki-laki di dekat api unggun, ia mengerti laki-laki itulah yang membuatnya jadi di kondisi demikian.
"Kau... Kau melumpuhkan ilmu beladiriku..." Shio Tikus berkata lemas.
Laki-laki itu akhirnya menoleh dengan sepasang mata emas yang bersinar di gelapnya malam. Laki-laki itu kemudian tersenyum lebar menyadari tawanannya sudah siuman kembali.
***
Jian Chen tidak membawa jauh Shio Tikus dari kota Hene, ia hanya membawanya kembali ke tempat danau sebelumnya.
Sebelum mengikatnya, Jian Chen melepaskan pusaka baju pelindung yang ada di tubuh Shio Tikus, tidak lupa dengan cincin ruang serta terakhir melumpuhkan kultivasinya.
Selama Shio Tikus pingsan, Jian Chen mencoba pusaka baju pelindung itu, pusaka itu segera menyesuaikan diri dengan lekuk tubuh Jian Chen ketika ia memakainya.
Pusaka yang terbuat dari giok emas tersebut memang terasa nyaman di pakai, ringan, dan menyesuaikan suhu tubuh penggunanya.
Jian Chen juga mencoba kekuatan baju pelindung itu, seperti yang dikatakan Shio Tikus ia bisa menyerap setiap hantaman ke dalam tubuhnya termasuk goresan pedang juga, hanya saja kelemahannya terletak pada serangan energi, pusaka itu tidak bisa menahannya.
Meski begitu Jian Chen tetap memakai baju pelindung tersebut karena manfaatnya yang bisa menghadapi hantaman kuat.
Setelah beberapa jam menunggu bersama Lily, akhirnya Shio Tikus terbangun dari pingsannya. Jian Chen segera mengintrogasi pria itu untuk memberi tahu markas Shio Pemburu berada.
"Apa yang membuatmu berpikir aku akan mengatakannya?" Shio Tikus tersenyum sinis.
"Aku akan menyiksamu sampai kau mengatakannya, percayalah jika aku melakukannya, kau akan berharap untuk mati..."
Shio Tikus tertawa keras. "Mati? Kau pikir aku ingin hidup setelah kau melumpuhkan kultivasiku?!"
Jian Chen mendengus sebelum menciptakan pedang petir di tangannya lalu mendekatkannya pada leher pria itu.
__ADS_1
"Silahkan bunuh aku!" Pria itu semakin tertawa keras. "Dengan begitu kau akan kesulitan menemukan markas kami, kau tidak akan menemukannya bahkan sampai tua sekalipun." Shio Tikus semakin tertawa.
Ketika Jian Chen ingin menanggapinya, suara Lily terdengar terlebih dulu. Gadis itu menggerutu kesal mendengar tawa Shio Tikus.
"Berisik! Apa tidak ada yang pernah mengatakan suara tawamu sangat menganggu!" Lily mendengus kesal lalu berjalan mendekati Shio Tikus yang diikat.
Mata merah Lily kemudian bersinar beberapa saat, Jian Chen mengerutkan dahi saat melihat mata Shio Tikus juga ikut berubah merah.
"Sekarang, dimana markas organisasi kalian?" Lily bertanya dingin.
Tanpa Jian Chen mengerti, Shio Tikus menjawab pertanyaan Lily dan memberitahukan markas Organisasi para Shio.
Shio Tikus menjawabnya dengan jelas agar Jian Chen menemukannya dengan mudah, markas tersebut berada di gua yang ada di tengah pada gurun tak jauh dari Kota Hene, mereka membangun markas rahasia di sana untuk melakukan rapat besar.
"Rapat besar? Apa yang mereka bahas hingga berkumpul di sana?" Jian Chen menoleh ke arah Lily, gadis itu menghela nafas sebelum bertanya hal yang serupa pada Shio Tikus.
Shio Tikus kemudian menjelaskan tentang rencana Organisasi para Shio yang membahas tentang pendekar misterius, Jian Chen yakin yang di maksud pendekar misterius itu adalah dirinya sendiri.
Setelah beberapa penjelasan, Shio Tikus tidak bisa mengatakan lebih detail lagi mengenai pembahasan markas tersebut karena dirinya juga sedang menuju ke sana.
Merasa sudah cukup Lily melepaskan tekniknya membuat mata merah Shio Tikus menghilang sekaligus dengan kesadarannya juga.
"Semua ras peri bisa melakukannya..." Lily tidak membahas lebih jauh, ia kembali duduk di dekat api unggun dan melanjutkan membakar daging bakarnya.
Jian Chen menggaruk kepala, terlalu banyak yang ia tidak ketahui mengenai gadis itu. Jian Chen tidak langsung mencari markas para Shio tersebut melainkan memilih bermalam di sana. Jian Chen akan mencari markas mereka saat matahari sudah terang.
Ketika matahari mulai terbit, Jian Chen mengeluarkan pedang asuranya sebelum menebaskannya pada rantai yang melilit Shio Tikus.
"Kau yakin tidak membunuhnya?" Lily sedikit heran dengan tindakan Jian Chen.
"Tidak perlu, dia yang akan membunuh dirinya sendiri..." Jian Chen melirik Shio Tikus yang masih tidak sadarkan diri akibat ilusi Lily.
Jian Chen tidak membunuhnya karena yakin Shio Tikus tidak berbahaya, lagipula pria itu akan sangat tersiksa dengan keadaannya mengingat kultivasinya yang bertahun-tahun kini telah hilang, bagi seorang pendekar, kehilangan kultivasi tidak lebih buruk dari kematian sekalipun.
Jian Chen dan Lily kemudian mulai terbang menuju markas Shio berada. Setidaknya mereka membutuhkan tiga jam terbang hingga sampai ke tujuan.
__ADS_1
"Kurasa ini adalah tempatnya..." Lily melihat sekitar, tidak ada gua di sekelilingnya selain gua yang berada di hadapannya.
Meski disebut gua namun gua tersebut ditutupi sebuah batu besar.
Jian Chen mendarat tak jauh dari gua tersebut sebelum berjalan mendekati batu besarnya, jelas sekali batu itu sengaja di taruh di sana.
Dengan mengalirkan sedikit tenaga dalam pada tangannya, Jian Chen memukul batu besar tersebut hingga hancur berkeping-keping. Jian Chen dan Lily kemudian masuk ke dalam.
Gua itu ternyata menuju bawah tanah yang dalam, lorongnya lumayan panjang dan juga gelap.
Setelah berjalan lima belas menit lamanya, Jian Chen dan Lily akhirnya sampai di ruangan yang cukup luas, di ruangan itu terdapat beberapa kursi dan meja besar di tengahnya.
"Kursinya masih terasa hangat, apa mereka baru pergi dari gua ini?" Lily memeriksa salah satu kursi batu di ruangan itu.
Jian Chen ingin menjawabnya saat tiba-tiba gua itu bergetar dengan cukup hebat.
Lily mengerutkan dahinya, "Mereka sepertinya sudah menyadarinya, mereka memancing kita untuk masuk ke dalam gua sebelum menjebak dan mengubur kita di dalamnya..."
Jian Chen menghela nafas, perkataan Lily memang benar adanya, gua itu perlahan mulai bergetar diikuti atap bebatuannya roboh dan berjatuhan. Jian Chen mengangkat tangannya sebelum mengalirkan tenaga dalam.
***
Shio Naga dan lima Shio lainnya sudah berada di luar gua saat Jian Chen berjalan masuk, lewat jalan rahasia, mereka bisa lebih tiba ke permukaan sebelum menghancurkan gua markas mereka dari luar.
Shio Naga sadar Jian Chen bukankah Shio Tikus atau sosok yang berada di pihaknya, batu yang Jian Chen hancurkan adalah bukti bahwa pemuda itu bukan berasal dari pihak mereka.
Batu itu adalah sebuah kode, seharusnya jika mereka sesama Shio akan memindahkan batu itu menggunakan formasi khusus alih-alih menghancurkan seperti Jian Chen.
"Ketua Lin, apakah dia akan mati dikubur di gua itu?" Tanya salah satu Shio.
Shio Naga mengangguk. "Seharusnya demikian, seberapapun kuatnya mereka jika tidak ada nafas, mereka akan mati."
"Ketua Lin, apa menurutmu dia adalah pendekar misterius itu?"
Lin Xiazhi terdiam sebelum mengangguk pelan. "Aku tidak mengetahui bagaimana bisa ia mengetahui markas kita namun kedatangannya kesini jelas bukan niat yang baik."
__ADS_1
Shio naga hendak mengatakan sesuatu lebih jauh lagi saat dari dalam gua tiba-tiba ada ledakan yang meletus keluar.
Shio Naga dan para Shio yang lain terkejut ketika dari ledakan tersebut ada dua orang yang muncul dari dalam tanah, salah satu dari mereka memancarkan aura pembunuh yang sangat kelam.