
Wuming Sha sampai sulit berkata-kata melihat teknik es tersebut, Bukan hanya klannya berubah menjadi dataran es, suhu di sekitar klan Wuming juga menurun drastis.
Seolah belum selesai keterkejutannya, Jian Chen kemudian melepaskan aura kematian yang pekat di tubuhnya.
Aura itu membuat siapapun yang merasakannya akan merinding hebat dan rasa mengancam menyelimuti hatinya. Aura yang sama membuat orang-orang di sekitarnya mengalami kesulitan bernafas.
Dengan aura kematian yang begitu pekat tersebut membuat Wuming Sha menyadari kesalahannya, ia seharusnya tidak menyinggungnya sosok Jian Chen dari awal, pemuda itu adalah seseorang yang sebaiknya ia hindari dari membuat masalah.
Wuming Sha kini khawatir Jian Chen akan melakukan pembantaian pada klannya, mengingat aura kematian sepekat itu seharusnya mengetahui jelas karakter Jian Chen sebenarnya.
Tidak mau ambil resiko lebih jauh, Wuming Sha, dengan kultivasinya yang tinggi meloloskan tubuhnya dari serpihan es Jian Chen.
Ketua klan itu kemudian berjalan dan berhenti di hadapan Jian Chen, ia berlutut seraya meminta belas kasihan padanya.
"Tuan Pendekar, aku lah yang salah disini karena telah menyinggung sosok seperti anda keluar. Anda bisa membunuhku tetapi biarkan yang lain tetap hidup..." Wuming Sha bersiap untuk menyerahkan hidupnya jika itu berurusan dengan keselamatan klan.
Dia mungkin masih bisa digantikan dengan yang lain tetapi klan Wuming tidak boleh hilang dari peradaban.
"Apa kau tahu kesalahanmu, jika bukan karena kedua gadis yang kalian kejar tidak bertemu denganku tepat waktu, mungkin nasibnya akan berbeda sekarang..." Jian Chen berkata dengan nada dingin, nafasnya sedikit memburu ketika mengingat nasib Ziyun dan Meily saat pertama kali bertemu di penginapan.
Andai Jian Chen tidak ada di sana, mungkin ia juga tidak akan bertemu dua gadisnya untuk selamanya.
Tentu saja Jian Chen ingin menghabisi bahkan menghancurkan klan Wuming sekarang juga tetapi ia masih memikirkan yang lain.
Andai ia menghancurkan klan Wuming mungkin dampaknya akan sampai ke Kekaisaran karena bagaimanapun klan tersebut banyak berkontribusi pada pemerintah terutama soal ekonomi dan perdagangan.
Jian Chen juga tidak bisa membunuh orang yang tidak bersalah, beberapa Pendekar dari klan Wuming bahkan tidak tahu menahu alasan dirinya menyerang klan ini.
Jian Chen mengatur nafasnya dengan pelan, mencoba menekan emosinya yang hampir keluar.
__ADS_1
"Lupakan saja, aku disini hanya ingin memperingatkan kalian agar jangan mengusik kedua gadis itu lagi. Jika kau melanggarnya..."
Jian Chen tersenyum dingin sebelum melepaskan gelombang pedang yang dahsyat di ke salah satu tempat yang tidak ada penduduknya.
Ketika gelombang pedang itu mengenai targetnya, seketika ledakan besar tercipta dan menghancurkan bangunan didekatnya.
"Tidak hanya membunuhmu, aku juga akan menghancurkan klan Wuming menjadi debu!"
Lutut Wuming Sha menjadi lemas ketika melihat gelombang pedang Jian Chen yang menghancurkan belasan bangunan klannya dalam waktu singkat.
Wuming Sha sadar yang dilakukan Jian Chen tidak dapat dilakukan pendekar Kekaisaran Naga manapun, jika satu serangan saja sudah sekuat ini maka ancaman Jian Chen sangat serius, klannya bisa hancur kapan saja jika Jian Chen mau.
Para pendekar yang lain juga beraksi sama, bahkan wajah mereka berubah pucat saat bagian klannya hancur dalam sekali serangan.
"Ini adalah peringatan pertama dan terakhir bagi kalian, sekali lagi kalian mengusik dua gadis itu, percayalah klan Wuming tidak akan pernah ada lagi di dunia ini..." Jian Chen berkata demikian sambil mulai melayang terbang.
"Aku mengerti Pendekar, terimakasih karena telah memberikan kami kesempatan..." Wuming Sha memberikan rasa hormatnya.
Daratan es yang dibuat Jian Chen perlahan menghilang menjadi butiran debu biru, suhu disekitarnya juga kembali normal dan pendekar klan Wuming bisa menggerakkan tubuhnya kembali.
"Ketua, bagaimana dengan pendekar tadi, apa kita akan melaporkan ini pada pemerintah Kekaisaran?"
Wuming Sha menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, kita tidak boleh berurusan dengannya lagi, aku yakin dengan kekuatan sehebat itu Kekaisaran pun tidak cukup menghentikannya. Sebaiknya kita rahasiakan ini dari siapapun dan jangan usik dua gadis yang kita incar sebelumnya..."
Keberadaan Jian Chen berhasil membekas di ingatan para pendekar klan Wuming, seumur hidup mereka, baru pertama kali bertemu dengan seseorang yang memiliki aura pembunuh sepekat itu.
***
Jian Chen kembali ke penginapan dengan masuk melewati jendela, saat ia di kamarnya Jian Chen mendapati Ziyun sedang menunggunya di sana.
__ADS_1
"Saudara Jian, anda kembali?" Ziyun tersenyum canggung saat Jian Chen muncul tiba-tiba di ruang kosong, setidaknya itu yang ia lihat.
"Belum tidur? Ini sudah larut malam, kenapa kau tidak berisitirahat..." Jian Chen mengelus pipi Ziyun yang membuat gadis itu tersipu malu.
"Aku hanya ingin bersamamu..." Ziyun berkata seperti itu dengan memainkan jari-jarinya.
Jian Chen tersenyum canggung , ia tidak keberatan bersama Ziyun lebih lama tetapi berduaan di tengah malam seperti ini jelas berbeda.
"Besok kita akan berangkat ke Akademi, soal klan Wuming mereka sepertinya sudah tidak berminat lagi tentang pusaka ini..." Jian Chen mengeluarkan Pedang Dewa Es lalu menyerahkannya kembali pada Ziyun.
"Kenapa anda bisa berbicara seperti itu?"
Setelah diam beberapa saat Jian Chen akhirnya memilih menceritakan kejadian sebenarnya, Ziyun tampak terkejut dan ia yakin Jian Chen tidak sedang berbohong sekarang.
"Saudara Jian, anda tidak membunuh semua orang di sana bukan?"
"Aku tidak membunuh mereka, hanya memberikan peringatan kecil saja pada Ketua klan itu..."
Ziyun langsung memeluk Jian Chen, gadis itu tidak menduga kepergian Jian Chen sebelumnya berhubungan dengan masalahnya disini. Sekarang tidak ada lagi yang akan membahayakan dirinya maupun Meily.
"Aku tidak bisa berkata-kata lagi mengenai pertolonganmu kecuali hanya ucapan terimakasih, aku berharap suatu saat nanti bisa membalasnya..."
Jian Chen tersenyum lembut. "Selama kalian bahagia itu sudah cukup sebagai balasanmu padaku..."
Wajah Ziyun memerah, ia mengecup pipi Jian Chen sekilas sebelum buru-buru menyembunyikan wajahnya di dekapan dada pemuda itu kembali.
"Saudara Jian, kuharap suatu saat nanti aku bisa bersamamu selamanya. Juga bersama Meily, atau gadis lainnya..."
Jian Chen batuk pelan, sedikit terkejut mendengarnya. "Ziyun, aku..."
__ADS_1
"Aku mengerti Saudara Jian..." Ziyun tertawa kecil, senang dengan respon Jian Chen. "Kami berdua tidak bisa egois merebutkan perasaanmu seorang, aku hanya berharap bisa berteman dengan gadis lain yang anda sukai juga..."
Jian Chen yang ingin mengatakan sesuatu akhirnya menutup mulutnya, wajahnya sedikit memerah.