
Ilusi dibagi beberapa kategori dalam segi penggunaannya, ada ilusi yang dalam bentuk individu dimana hanya satu orang saja yang ditargetnya sementara kategori ilusi lainnya adalah ilusi mencangkup area, biasanya orang yang di sekeliling pengguna ilusi akan melihat ilusi tersebut dalam jarak radius tertentu.
Ada juga kategori ilusi yang ditanam, pengguna ilusi ini bisa menanamkan ilusi di panca indra seseorang layaknya jebakan dan bisa diaktifkan ketika keadaan tertentu. Jenis ilusi ini tergolong sangat sulit di bandingkan jenis ilusi lainnya karena memerlukan keterampilan yang rapih agar target tidak menyadarinya.
Bentuk ke 4 dari teknik pedang rembulan ini mencakup tiga jenis ilusi diatas sebelum menggabungkannya dengan seni permainan pedang.
Harus Jian Chen akui dibanding tiga bentuk teknik pedang rembulan lainnya teknik pedang Bulan Sirna jauh lebih sulit.
Jian Chen mempraktikkan satu persatu teknik pada Meily guna ia bisa memahaminya. Ziyun dari jauh menonton hanya bisa mengulum senyum penuh makna, keduanya terlihat begitu akrab ketika berlatih.
"Teknik Pedang Bulan Sirna — Debaran Cinta Lara!"
Meily langsung menggunakan teknik tersebut ketika Jian Chen menyuruhnya untuk mencoba, tubuh wanita itu terpecah menjadi dua belas, tentu saja sebelas diantaranya hanya sebuah ilusi.
Jian Chen tersedak nafasnya sendiri dan tersenyum kecut, dalam sekali coba saja gadis itu sudah bisa mempraktekkannya, meski belum sempurna tetap saja itu adalah prestasi yang sulit diraih.
Jian Chen kemudian beralih pada jurus lainnya, membutuhkan waktu hampir semalaman hingga gadis itu memahami dan menghafal gerakannya, sisanya ia bisa berlatih sendiri dan menyempurnakannya.
"Saudara Jian, terimakasih atas pelajarannya..." Meily mendekatkan tubuhnya pada Jian Chen hingga tersisa jarak sejengkal, gadis itu memainkan jari-jarinya dan terlihat menunggu sesuatu.
Tentu saja Jian Chen tidak mengerti kode gadis itu hingga Lily dari dalam berdecak kesal dan berteriak memberitahunya dengan hinaan.
Jian Chen dengan sedikit ragu mengangkat tangan kanannya dan mengelus pucuk kepala Meily dengan lembut, membuat gadis itu memejamkan mata dengan wajah memerah.
"Semua laki-laki itu sama, tidak ada yang peka kalau soal urusan wanita!" Lily mendengus kesal dengan melipat tangannya.
"Memang siapa yang menyuruh kau menyicip semua laki-laki?"
Lily melotot. "Apakah aku tidak boleh menggunakan perumpamaan!"
"Hm, tapi itu tidak terdengar perumpamaan bagiku, kau seperti bercerita pengalamanmu sendiri..."
__ADS_1
"Kau!" Lily mengumpat keras hingga terdengar seperti komat-kamit, gadis itu tidak bisa menahan kekesalannya atas kepintaran Jian Chen yang dikiranya kurang.
Jian Chen tertawa kecil dan menganggap angin lalu umpatan Tuan Puteri tersebut. Ziyun tak lama kemudian menghampiri keduanya.
"Kurasa latihan kalian sudah selesai bukan?"
Jian Chen mengangguk, setidaknya Meily telah menguasai Teknik Bulan Sirna sebesar 40% dan hanya soal waktu selama ia berlatih terus Meily bisa menguasainya dengan sempurna.
Pertanyaan Ziyun mengingatkan ia pada gadis tersebut, Jian Chen mengeluarkan sesuatu dari cincin ruang berupa pedang biru, terlihat pedang itu mempunyai sarung yang tak biasa, digagang pedangnya ada ukiran gambar yang berbentuk burung Feniks.
Sekali lihat saja Meily ataupun Ziyun langsung terkejut karena mereka samar-samar melihat aura aneh di pedang tersebut.
"Ini pedang yang kuceritakan sebelumnya yang ingin diberikan padamu..." Jian Chen menatap pedang biru itu lalu menyodorkannya pada Ziyun. "Namanya Pedang Dewa Es..."
"Saudara Jian, pedang ini terlalu berharga untukku terima, aku tak bisa menerimanya." Ziyun menolak cepat.
Jian Chen menggaruk kepala sebelum menjelaskan bahwa pedang yang di pegangnya juga tidak berguna untuknya karena gagang pedang tersebut tidak bisa ditarik.
Ziyun menoleh ke arah Meily yang mengangguk pelan padanya, dengan sedikit keraguan gadis itu mengambil pedang yang memiliki panjang lebih dari satu meter tersebut.
"Aku sudah beberapa kali mencobanya, menggunakan tenaga bahkan seluruh kekuatanku tetapi hasilnya selalu nihil, pedang itu tidak bisa tercabut seolah memang menyatu dengan sarungnya." Jelas Jian Chen. "Kalaupun kau tidak menerima Pedang Dewa Es, aku akan menyimpan atau menghancurkannya lain waktu, pedang ini tidak boleh di pegang oleh orang yang salah."
Ziyun tidak terlalu mendengar penjelasan Jian Chen karena perhatiannya tertuju pada pedang yang di pegangnya.
Pedang itu membuat tangan Ziyun dingin namun masih terasa nyaman, Ziyun mengambil nafas sebelum menarik pelan pedang itu.
Sebuah cahaya kebiruan muncul dari mata pedang Dewa Es yang tertarik dari sarungnya, meski tidak menyilaukan namun itu terlihat jelas, Jian Chen dan Meily bahkan tidak lepas untuk memandangnya.
Ketika pedang sempurna tercabut, cahaya biru meredup lalu menampilkan bentuk mata pedang biru yang tajam serta mengkilap bagai cermin.
Mata Jian Chen berkedip beberapa kali, ia yang sudah bersusah payah mencabut pedang itu masih sulit percaya ketika menemukan Ziyun menariknya dengan mudah tanpa tenaga yang berarti.
__ADS_1
'Menurut Ye Ao, pedang Dewa Es merupakan pusaka Klan Ye sejak dulu namun tak bisa digunakan kecuali oleh keturunannya yang terpilih, apa ini berarti Ziyun adalah keturunan yang dimaksud... '
Jian Chen tengah memutar otaknya saat sesuatu terjadi pada pedang Ziyun, pedang itu mengeluarkan debu biru dari ujungnya lalu merambat ke tangan hingga ke tubuh Ziyun.
Debu biru itu berkilauan dan berputar-putar di sekeliling tubuh Ziyun, menyaksikan hal tersebut Ziyun menjadi panik dan ingin melepaskan pedang itu namun tubuhnya tidak bisa mengikuti keinginannya.
Jian Chen hendak bertindak sesuatu saat Lily tiba-tiba berkata dari dalam.
"Jian Chen, bersiaplah menerima benturan!"
"Hah-! Benturan apa yang-... " Belum selesai Jian Chen bicara sebuah angin besar menyapu semua daratan di sekitarnya yang membuat Jian Chen terdorong mundur puluhan meter.
Angin itu begitu kuat, Jian Chen bahkan harus menancabkan pedangnya agar tidak terbawa namun masalahnya Meily sama sekali tidak siap dengan angin itu sehingga tubuhnya terdorong cukup jauh.
Jian Chen bergerak cepat sebelum muncul di belakang gadis itu dan menangkap tubuhnya.
"Meily, kau baik-baik saja?"
Wajah Meily memerah karena Jian Chen kini menggendong tubuhnya seperti tuan puteri, ia tersipu malu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, gadis itu seolah lupa dengan keadaan sekelilingnya yang tidak stabil.
Setelah melihat, angin kencang itu bersumber dari Ziyun, debu biru yang sebelumnya mengelilingi tubuhnya secara perlahan-lahan memadat dan membentuk sebuah baju jirah es.
"Ini..."
Jian Chen tak bisa berkata-kata, didepan matanya ia bisa melihat tubuh Ziyun perlahan melayang di udara.
Baju jirah es yang dikenakan ditubuhnya tidak bisa menutupi kecantikan Ziyun, gadis itu terlihat lebih menawan dari biasanya dengan pakaian tersebut.
"Pusaka yang kau berikan pada gadis itu bukanlah pusaka biasa! Sejujurnya aku lebih terkejut bagaimana pedang itu bisa ada di dunia yang kecil ini tetapi sebaiknya sekarang kau bersiap menghadapi gelombang selanjutnya..." Ucap Lily dari dalam.
Jian Chen tanpa harus di peringatkan Lily pun sudah melakukannya, dia menghentakkan kakinya ke tanah seketika serpihan es muncul lalu menutupi sekeliling Jian Chen dan Meily yang melindunginya dari terpaan angin kencang.
__ADS_1