
Meily terus menyudutkan Yanyi, dalam beberapa jurus saja laki-laki itu sudah di pukul mundur beberapa langkah hingga ketika kakinya sudah berada di tepi arena Yanyi tak punya pilihan selain menyerang balik.
Ia mengalirkan tenaga dalam yang besar ke pedangnya sebelum mengayunkannya dengan kuat. Sebuah gelombang angin yang dahsyat berhembus, memaksa Meily menahan serangan tersebut sampai terdorong ke tengah arena.
Liu Yanyi tak berhenti sampai di sana, dirinya terus melepaskan gelombang-gelombang angin selanjutnya membuat gadis itu berubah di posisi bertahan.
Setiap gelombang angin yang di tahan pedang Meily membuat tubuhnya terdorong satu langkah, masalahnya jika di posisi ini terus berlanjut ia bisa terdorong hingga ke tepi arena dan terjatuh kalah.
Bibir Meily tiba-tiba keluar uap putih dari sudut bibirnya menandakan ia akan menggunakan teknik pedang pernafasan.
"Teknik Pedang Bulan Sabit — Getaran Badai Samudera!"
Satu ayunan pedang Meily menghasilkan angin besar bagai hebatnya badai, angin tersebut segera memecah gelombang angin yang Yanyi lepaskan.
Di waktu yang sama Meily sudah bersiap menggunakan teknik pedang rembulan lainnya.
"Teknik Pedang Bulan Separuh — Dentingan Kegelapan Malam!"
Dengan satu kedipan mata Meily langsung berada dihadapan Yanyi dan mengayunkan pedangnya, Yanyi berhasil menahan serangan itu tetapi tubuhnya langsung terdorong ke belakang.
Liu Yanyi masih berada di tepi arena dan belum sempat bergerak maju, alhasil serangan Meily sekarang membuat tubuhnya terdorong keluar arena.
Semua orang sudah menganggap Yanyi kalah karena kakinya akan menginjak tanah namun sesuatu tiba-tiba terjadi, para penonton melotot seolah tak percaya ketika tubuh Yanyi tidak jatuh melainkan melayang di udara.
"Apa ini, apakah sebuah ilusi?"
"Tidak mungkin, dia jelas jelas berada di Alam Kehidupan, kenapa dia bisa melayang seperti pendekar di Alam Langit?!"
Semua penonton mulai bereaksi setelah melihat aksi mengesankan itu, mereka menggosok matanya untuk memastikan tidak terjebak ilusi namun kenyataannya semua orang benar-benar melihatnya.
Mereka yang awam mungkin akan beranggapan demikian, melihat Yanyi melayang di udara namun mereka yang memahami serta teliti akan menemukan trik alasan Yanyi bisa melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Jian Chen mengaktifkan mata langitnya, membuat sebelah mata kirinya bersinar keperakan, ia melihat ke arah Liu Yanyi sebelum akhirnya memahami situasinya.
'Jadi begitu... Dia menggunakan elemen angin untuk mendorong tubuhnya hingga melayang di udara.' Jian Chen berdecak kagum sebelum dirinya kemudian teringat sesuatu di kehidupan sebelumnya yang berkaitan dengan teknik Liu Yanyi tersebut.
"Aku pernah mendengar rumor bahwa klan Liu mempunyai sebuah kitab rahasia yang hebat, diwariskan secara turun temurun setiap generasinya. Kitab itu berisi tentang teknik-teknik tinggi dalam menggunakan elemen angin, sepertinya fakta itu memang benar adanya..." Jian Chen mengelus dagunya sambil matanya tak henti-henti melihat Yanyi yang terbang.
Jika Yanyi saja bisa menggunakan teknik ini, Jian Chen bisa merasakan bagaimana hebatnya teknik dalam Kitab klan Liu itu.
Meski di dunia persilatan ada banyak pendekar yang mempunyai elemen angin di tubuhnya tetapi kenyataannya tidak ada yang sampai terbang seperti yang Yanyi lakukan. Hal ini menunjukkan bahwa teknik itu sangat langka.
Meily mengerutkan dahinya, matanya sedikit melebar walau reaksi gadis itu masih terlihat tenang.
"Kau pikir bisa mengalahkanku hanya dengan menjatuhkanku dari arena, maap tapi kau harus mendapat kenyataan pahit sekarang..." Liu Yanyi tersenyum mengejek lalu terbang tinggi di atas arena.
Karena menyadari beradu teknik pedang akan kalah ia memilih untuk menyerang lawannya dari jarak jauh, Yanyi kemudian menghunuskan pedangnya ke arah Meily yang ada di bawahnya.
Sebuah pusaran angin kemudian perlahan muncul dan berkumpul di ujung pedang Yanyi, angin itu mengumpul lalu kemudian membentuk sebuah bola angin.
Bola angin yang ada di ujung pedang Yanyi tiba-tiba menembak cepat bagai halilintar, Meily hampir terlambat menghindarinya saat tiba-tiba bola angin itu meledak mengenai lantai arena.
Semua penonton tertegun bahkan menahan nafas, mereka tidak bisa melihat serangan cepat itu saat secara mendadak muncul ledakan didekat Meily berdiri.
Bola angin yang dikeluarkan Yanyi benar-benar membuat orang lain berdecak kagum atas tekniknya yang tinggi. Jian Chen yang mengamati juga sama terkejutnya.
"Meily menghindar karena refleksnya yang kuat, andai ini pertarungan serius maka Yanyi bisa membunuh lawannya dalam sekali serangan," Jian Chen menghela nafas. "klan Liu ini benar-benar tak bisa diremehkan..."
Yanyi adalah salah satu putera dari Ketua klan Liu, jurus-jurus yang kuat pasti telah di ajarkan ayahnya padanya.
Menyadari serangan Yanyi dapat menembak jarak jauh, Meily memusatkan perhatiannya pada kecepatan apalagi Yanyi ternyata tak berhenti disana, ia menciptakan bola angin lagi namun kini lebih banyak.
Bola angin kembali melesat, bola-bola itu seketika meledak ketika mengenai lantai arena sehingga menciptakan debu yang beterbangan.
__ADS_1
Yanyi terus menerus menciptakan bola angin tanpa tahu arena yang kini sudah tak terlihat akibat debu yang tebal, penonton ataupun dirinya sama sekali tidak melihat tubuh Meily di arena.
Hampir puluhan jurus dikeluarkan akhirnya Yanyi menyudahi serangan, setelahnya nafas ia memburu karena terlalu banyak menggunakan tenaga dalam.
Ia tersenyum lebar sambil menunggu asap di arena menghilang, Yanyi yakin Meily sudah pingsan atau terluka parah.
"Kau sepertinya percaya diri dengan teknik elemen anginmu..."
Jantung Yanyi hampir berhenti ketika Meily ternyata sudah ada di atasnya, Yanyi buru-buru menjauh dan turun kembali ke arena, dirinya sama tidak mengetahuinya kalau Meily ternyata bisa melayang juga.
Ketika pandangan Yanyi masih berfokus pada Meily yang terbang, satu sosok Meily yang lain muncul di kepulan debu yang masih menghalangi pandangan. Meily serentak mengayunkan pedang menyerang Yanyi.
"Bagaimana bisa?! Kau!" Liu Yanyi terlambat menyadarinya saat melihat ke atas dan ternyata tubuh Meily perlahan menghilang.
Meily ternyata menggunakan sebuah ilusi agar Yanyi bergerak turun serta berada dalam jangkauan serangannya. Karena sekarang Yanyi sudah terkuras tenaga dalamnya ia hanya bisa bertahan ketika Meily mengayunkan pedangnya.
"Dari awal kau tak mempunyai peluang untuk menang dariku..." Meily mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedangnya. "Kita akhiri pertandingan ini. Teknik Pedang Bulan Purnama — Dua Cahaya Bintang!"
Serangan Meily selanjutnya sangat jauh lebih cepat, mata Yanyi tidak bisa mengikuti gerakan pedang Meily saat secara perlahan tubuhnya tergores banyak luka.
Awalnya luka itu berupa goresan namun seiring dari serangan Meily yang cepat, luka tersebut mulai melebar hingga menjadi luka yang besar.
Wasit tak bisa tinggal diam meski Yanyi tak menyerah walau sudah terpojok seperti itu, dia tak bisa melanjutkan pertandingan karena kalau dibiarkan Yanyi dapat mengalamj cedera yang serius.
"Cukup, cukup! Kau adalah pemenangnya..."
Wasit harus muncul di tengah keduanya karena Meily terlihat emosional untuk melukai Yanyi lebih dalam. Kemarahan gadis itu tercipta atas ulah Liu Yanyi pada faksinya beberapa waktu lalu.
Yanyi tak bisa mempertahankan kesadarannya akibat banyak darah yang keluar, wasit segera mengalirkan tenaga dalam untuk menyembuhkannya. Ia kemudian di bawa ke ruang kesehatan.
Meily menghembuskan nafas lega sebelum menyarungkan pedangnya kembali, tak lama kemudian wasit datang menghampirinya dan mengumumkan kejuaraan turnamen ini.
__ADS_1
Para penonton bersorak serta bertepuk tangan, pertandingan sebelumnya merupakan hal yang seru untuk ditonton. Kedua-duanya sama-sama memiliki teknik yang unik ketika bertanding, seperti Yanyi yang bisa terbang atau Meily yang bisa menggunakan ilusi.