
“Aku bukan siapa-siapa, setidaknya untuk sekarang jika kau tidak macam-macam dengannya.” Jian Chen melirik Meily.
“Oh, kau sama dengan yang lainnya, jatuh hati pada gadis ini dan bersiap merelakan semuanya demi dia agar terkesan jadi pahlawannya.” Liu Yanyi tersenyum mengejek. “Harus kuakui, penampilan memang bisa melindungi seseorang.”
Liu Yanyi melancarkan sebuah tendangan yang mengarah ke kepala Jian Chen membuat pemuda itu harus melepaskan pergelangan tangannya sebelum bisa menghindari serangan Liu yanyi.
Jika dilihat tidak ada yang berbeda dengan tendangan Liu Yanyi barusan tetapi Jian Chen bisa menyaksikannya dengan jelas.
Tendangan Liu Yanyi menggunakan elemen angin sehingga menciptakan pisau udara yang tipis, andai Jian Chen terlambat menghindari serangan itu mungkin wajahnya akan tergores luka.
“Kau ternyata hebat juga…”
Liu Yanyi menjaga jarak untuk melihat situasi lebih jauh. Menyaksikan Jian Chen bisa menghindari serangannya dengan jarak sedekat itu membuat dirinya sadar dengan kekuatan lawannya.
Menyadari pertarungan tak bisa dihindari sebagian pengunjung mengambil jarak, mereka juga tak melerai karena sebagian pelanggan disini bukan pendekar, kalaupun ada mereka tidak berani apalagi kekuatan Liu Yanyi mencapai Alam Kehidupan Tahap 1.
“Tak kusangka kau menyerangku dengan tendangan di jarak sedekat itu? Jujur saja aku tak menduganya.” Jian Chen tersenyum tipis.
“Hmph! Kuakui kau memang hebat tetapi tidak cukup untuk mengalahkanku.”
Jian Chen merasakan Liu Yanyi begitu percaya diri bisa melawan dirinya, kini dia sedang bersiap mengumpulkan tenaga dalam untuk menyerang kembali.
‘Sepertinya dia berpikir bahwa dirinya merupakan jenius paling berbakat di provinsi ini sampai tidak mau ada yang mengungguli bakatnya...’ Jian Chen menggelengkan kepala pelan lalu tatapannya tertuju pada Meily dan Ziyun untuk menjaga jarak di pertarungan ini.
Menyadari Jian Chen tidak sedang fokus padanya, Liu Yanyi menanggapi hal ini sebagai kesempatan sehingga ia bergerak cepat dan muncul di hadapan Jian Chen sambil melakukan jurus tendangan.
“Kalau kau terus melanjutkan serangan ini lebih jauh maka teknik tendanganmu bisa menghancurkan restoran ini, kau bisa kena masalah dan denda ganti rugi yang tidak sedikit untuk membayarnya…” Jian Chen mengingatkan Liu Yanyi setelah melihat kerusakan yang di timbulkan oleh pisau udaranya.
__ADS_1
“Tidak perlu khawatir, aku mempunyai uang yang cukup untuk membeli 3 restoran ini lagi!” Liu Yanyi merapatkan giginya kesal.
Liu Yanyi semakin geram karena tendangan-tendangannya masih belum ada yang melukai Jian Chen. Liu Yanyi mengalirkan lebih banyak tenaga dalam kali ini ia menggunakan kedua tangannya.
“Ilmu tangan kosongmu tidak buruk tetapi tetap saja ada beberapa kekurangan, setidaknya kau harus mengatur pernafasan juga…” Jian Chen bahkan menceramahi Yanyi.
Liu Yanyi semakn kesal, dia menciptakan pusaran angin pada kepalan tangannya lalu ketika ia memukul maka muncul energi angin yang menembak.
Jian Chen refleks menghindar dan membiarkan tembakan angin itu melewatinya, energi angin tersebut menembus dinding restoran dan membuatnya berlubang.
Semua yang melihat meneguk ludah, tidak menyangka pukulan Liu Yanyi bisa menembak jarak jauh seperti itu apalagi serangannya sangat cepat dan bisa membunuh seseorang jika mengenainya.
“Akan kuperingatkan padamu, kau sebaiknya menyerah sebelum aku tak sengaja membunuhmu dan berlubang seperti dinding itu.” Liu Yanyi tersenyum lebar melihat ekspresi Jian Chen yang mengerutkan dahi.
“Terimakasih atas peringatannya tetapi tidak perlu khawatir, aku masih bisa melindungi diriku sendiri.” Jian Chen memberi tanda dengan jarinya agar Liu Yanyi maju.
“Hmph! Kalau begitu jangan salahkan aku karena membunuhmu…”
Dampak serangan semakin meluas membuat para penonton tidak minat lagi di restoran, mereka takut ada serangan Liu Yanyi yang menyasar dan membuatnya terbunuh.
Melihat restoran itu semakin rusak dan bisa saja roboh Jian Chen melepaskan sebuah tinju.
Liu Yanyi menerima tinju Jian Chen tersebut, berpikir akan bisa menahannya justru membuatnya melotot. Liu Yanyi langsung terpukul mundur belasan langkah akibat menahan tinju itu.
“Bagaimana dia bisa mempunyai kekuatan fisik sekuat ini?” Liu Yanyi merasakan lengan yang menahan serangan itu masih bergetar hebat.
Dia menjadi waspada sekaligus siaga namun baru ia bersiap-siap Jian Chen sudah berada di dekatnya. Liu Yanyi sama sekali tidak melihat kecepatan Jian Chen.
__ADS_1
Dengan mengalirkan tenaga dalam pada jari tengahnya, Jian Chen menyentil kening Liu Yanyi dengan kuat membuat pria itu terpental keras hingga mengenai dinding restoran.
Liu Yanyi merasakan sakit yang hebat di kepalanya, pandangannya perlahan mulai kabur sebelum akhirnya ia tak bisa mempertahankan kesadaran dan jatuh pingsan.
Meily dan Ziyun yang masih tetap di sana, sama-sama menutup mulut dengan perasaan terkejut, tidak pernah dipikirkan sedikitpun Jian Chen bisa mengalahkan Liu Yanyi hanya dengan sentilan saja.
Jian Chen tersenyum tipis sebelum berjalan ke arah keduanya, karena situasi terlanjur seperti ini Jian Chen, Meily dan Ziyun tidak lagi berminat melanjutkan makan. Sebelum meninggalkan restoran Jian Chen memberikan koin emas pada pemilik restoran tersebut untuk mengganti rugi kerusakan yang timbul.
***
“Mengingat kau maniak akan pembunuhan, kenapa kau tidak membunuhnya?” Lily bertanya dengan wajah cemberut ketika Jian Chen sudah di Akademi.
“Dia belum berusia 20 tahun.” jawab Jian Chen.
“Hah, apa katamu?! Kau tak bisa membunuh seseorang karena berusia 20 tahun ke bawah, bukankah di kehidupan pertama orang itu hampir memotong tanganmu?”
“Itu kehidupan dulu, aku dan dia tidak memiliki ikatan dendam di kehidupan yang sekarang.”
Lily masih tidak percaya dengan alasan Jian Chen yang terkesan seperti dibuat-buat.
“Aku mengerti kau tidak percaya tapi alasanku memang demikian, setidaknya dia masih bisa di didik. Lagi pula aku tidak bisa membunuhnya begitu saja, bisa-bisa klan Liu membunuhku dan bahkan dapat membahayakan klan Jian.”
Liu Yanyi merupakan putera dari Ketua klan Liu, mencelakainya sama saja dengan mengantarkan nyawa.
“Begitu ya, aku tidak menyangka juga kau masih berbaik hati.”
Jian Chen berdecak kesal, “Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku orang jahat?”
__ADS_1
“Aku tidak pernah mengatakan demikian tetapi disisi yang sama kau juga terlalu sulit dikatakan orang baik mengingat begitu haus darahnya dirimu.” Lily mengangkat bahu tidak peduli.
Jian Chen menggeleng pelan, ia tidak tertarik melanjutkan ucapannya dengan Lily dan memilih fokus pada turnamen yang sebentar lagi akan dimulai.