
"Teknik Pedang Bulan Separuh — Kesunyian Malam Terlarang..." Jian Chen menepuk pundaknya dengan pedang sambil tersenyum lebar lalu bergerak cepat secara tiba-tiba.
"Hah! Kemana dia?"
"Apa dia hantu?"
Pasukan klan Liu yang hendak menyerang Jian Chen terkejut saat tiba-tiba pemuda itu menghilang dari pandangan mereka, sebelum semua mencari tahu sebabnya, pandangan mereka secara mendadak menjadi gelap dengan nafas terhenti.
Jian Chen muncul kembali di belakang orang-orang itu dengan darah yang menetes di pedangnya, disisi lain orang yang dibunuhnya kehilangan kepalanya.
Pasukan klan Liu yang mengepung tersentak kaget dan lutut mereka terasa mendadak lemas.
Jian Chen tidak menunggu reaksi lawannya melainkan terus maju, menghabisi setiap lawannya dalam sekali serangan.
"Dia bukan manusia?!"
"Jangan takut, dia sendiri kita puluhan."
"Terus terang saja dia tidak mungkin melawan kita semua!"
Meski ketakutan mulai merasuki pasukan klan Liu tetapi mereka yakin Jian Chen tidak akan mengalahkan semuanya apalagi pasukan di pihaknya terus bertambah melihat ada sosok kuat di belakang mereka.
Tidak membutuhkan waktu lama Jian Chen di kepung puluhan orang musuhnya seperti sebuah gula yang dikerumuni semut.
Jian Chen menatap sekilas pasukan klan Liu dan melihat kemampuan yang mengepungnya, mereka rata-rata hanya berada di Alam Kehidupan dan Alam Jiwa.
"Serang dia bersama-sama!"
Setelah mendengar aba-aba tersebut seketika semua pasukan klan Liu langsung bergerak maju dan menyerang Jian Chen.
"Ingin melawanku dengan jumlah, tidak segampang itu!"
Jian Chen memainkan pedangnya dengan lincah diikuti dengan teknik tendangan yang mematikan, para musuhnya yang hendak menyerbu Jian Chen sedikit terkejut dengan gerakannya yang unik namun mereka juga tidak berhenti maju.
Jian Chen beradu jurus melawan puluhan orang itu, dalam waktu singkat ia mengimbangi kekuatan lawan-lawannya sekaligus memberikan serangan balik.
Setiap serangan Jian Chen sangat mematikan dan sulit di tebak apalagi pedang Asura yang tajam dapat membunuh musuhnya dalam sekali tebasan.
__ADS_1
Ketika Jian Chen membunuh salah satu dari mereka yang lain tidak menyadari, barulah ketika perlahan-lahan Jian Chen mengungguli, sudah seperempat dari jumlah mereka sudah terbunuh.
"Dia terlalu kuat, panggil yang lain kesini!"
Melihat Jian Chen masih bisa mendominasi pertarungan salah satu pasukan mundur dan memberitahu pada yang lain, tidak berselang lama bala bantuan datang dan ikut menyerang Jian Chen.
"Ini akan lebih merepotkan dari yang kukira..." Jian Chen kemudian menyerap seluruh cahaya di sekelilingnya.
Kegelapan yang lebih gelap dari malam segera menyelimuti pertarungan secara tiba-tiba, ketika pasukan klan Liu fokus dengan fenomena itu Jian Chen justru memanfaatkannya untuk membunuh mereka lebih banyak.
Kegelapan itu berangsur satu menit namun itu cukup bagi Jian Chen membunuh setengah dari jumlah mereka.
Ketika cahaya kembali terang mereka menemukan rekannya sudah tergelatak di sana, keterkejutan terpampang dari pasukan klan Liu diikuti ketakutan yang hebat menyelimuti hati mereka.
Ketakutan itu membuat tubuh mereka gemetar dan mundur beberapa langkah dari Jian Chen.
Sayangnya Jian Chen tidak menunggu semua itu dan langsung menyerang pasukan klan Liu lebih banyak lagi. Ia kemudian melepaskan hawa dingin agar mereka tidak berusaha mencoba lari.
Dengan pedangnya, Jian Chen menebas serta memotong musuhnya satu persatu, aksi tersebut perlahan berubah menjadi sebuah pembantaian.
Jian Chen ingin membunuh lawannya lagi saat tiba-tiba ada gelombang angin yang bergerak cepat ke arahnya.
"Beraninya kau membunuh anggota klan Liu?!" Seorang pria tua yang berada di Alam Bumi menatap Jian Chen dengan tajam.
Pria tua itu tidak sendiri melainkan ada dua orang di sampingnya dan kedua orang itu adalah pendekar Alam Bumi.
Pria paruh baya tidak menyangka ketika mendengar laporan ada serangan di arah belakang, semua pasukan klan Liu yang berasal dari klan Liu sudah banyak yang terbunuh ketika ia tiba disini.
"Hah, kau sedang becanda atau hanya ingin menghibur? Kau menyerang pendekar klanku sementara aku tidak boleh menyerang pasukanmu! Sungguh lucu!" Jian Chen tersenyum dingin.
"Kau berani memakiku! Bagus-bagus, aku akan membuatmu terbunuh disini."
Pria paruh baya itu mengeluarkan senjata dan memberi instruksi pada dua orang lainnya untuk menyerang Jian Chen bersama.
Ketiganya bergerak cepat mendekati Jian Chen namun ketika ketiganya berada di dekatnya, Jian Chen melepaskan aura kematian yang di gabungkan hawa dingin, membuat ketiga pendekar Alam Bumi itu mematung di tempat.
"Teknik Pedang Bulan Sabit — Garis Benang Malam!"
__ADS_1
Jian Chen mengayunkan pedangnya yang memotong udara, menciptakan pisau angin yang tipis seperti benang namun sangat tajam.
Ketiga pendekar Alam Bumi itu tidak bisa melihatnya apalagi di tengah gelapnya malam, mereka hanya tahu leher mereka secara mengalami luka yang serius.
"Erk!"
Tiga pendekar Alam Bumi buru-buru menghentikan pendarahan di lehernya yang mengalami luka parah namun Jian Chen tidak membiarkan itu terjadi.
"Dentingan Kegelapan Malam!"
Dalam satu kedipan mata, Jian Chen bergerak cepat sebelum tiba-tiba muncul di belakang lawannya dan memotong leher mereka.
Ketiga pendekar Alam Bumi itu belum mengeluarkan jurus-jurusnya dan mati dengan cara yang mereka tidak sangka, mata mereka masih melotot ketika kepala mereka jatuh, menandakan ketiganya tidak menerima kematian tragis yang menimpanya.
Melihat Jian Chen dengan mudah melawan para petinggi mereka, sebagian yang mengepungnya tidak berdiam diri lagi dan langsung lari meninggalkan kawasan klan Jian.
Mereka takut Jian Chen bakal mengejarnya kalau berada di klan Jian terus menerus sehingga mereka lebih memilih angkat kaki dari sana.
Di sisi lain Jian Chen tidak mengejar yang meninggal klan, hal itu adalah yang ia harapkan.
Meski begitu sebagian besar pasukan klan Liu masih terbilang sangat banyak, Jian Chen kemudian bergerak ke tempat kedua orang tuanya berada terlebih dulu, hal itu adalah yang ia khawatirkan.
***
Jian Chen memilih berlari di atas genteng, di perjalanan menuju kediamannya ia menemukan banyak sekali pertarungan dan pasukan klan Liu mendominasi semua penyerangan ini.
Jian Chen tidak bisa tinggal diam begitu saja ketika ada beberapa pendekar klan Jian yang terpojok. Ia akhirnya membantu serta membunuh pasukan klan Liu sebelum melanjutkan langkahnya lagi.
Hal itu terulang beberapa kali sehingga aksi Jian Chen mulai dilirik pasukan klan Liu sebelum menghadang langkahnya.
"Jangan halangi aku!" Kemarahan Jian Chen sudah tersulut dan semakin emosi ketika ada yang menghadang langkahnya.
Orang yang menghadang Jian Chen berpikir akan menahannya beberapa waktu sehingga pasukan klan Liu yang mengejarnya bisa menyusul Jian Chen.
Sayangnya kali ini Jian Chen berbeda, ia mengalirkan tenaga dalamnya untuk membuat pedangnya bercahaya, dengan sekali ayunan pedang Jian Chen memotong tubuh orang yang menghadangnya seperti tahu.
Semua yang melihat meneguk ludah serta ketakutan, bukan hanya klan Liu para pendekar klan Jian juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Menurutnya tindakan Jian Chen terlalu berlebihan, bahkan para pembunuh tidak sesadis itu dalam menyerang lawannya.