Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 307 — Duel Dua Pedang


__ADS_3

Bukan Jian Chen saja yang terkejut tetapi gadis itu juga sama terkejutnya merasakan kekuatan Jian Chen.


Gadis itu bisa melihat Jian Chen begitu muda bahkan berada di bawah usianya namun kekuatannya sudah menyamainya.


"Siapa kau sebenarnya, kau bukan berasal dari benua ini bukan?" Tanya gadis itu, ia kini tidak lagi diburu emosi.


"Bukankah seharusnya aku yang berkata demikian, siapa dirimu, di Kekaisaran Naga tidak ada pendekar yang telah mencapai puncak Alam Raja?" Jian Chen cukup yakin gadis itu bukan berasal dari Kekaisaran Naga, sebab itu ia menjadi waspada.


"Kau benar-benar berasal dari sini?" Gadis itu menahan nafasnya. "Kau bilang kekaisaran Naga, apakah itu nama wilayah kepulauan ini?"


Gadis itu tidak menyembunyikan keterkejutannya dan itu diarahkan pada Jian Chen, setelah beberapa detik ia digantikan dengan menghela nafas panjang, menandakan gadis itu sudah mulai menenangkan dirinya.


"Aku cukup terkejut ada seorang jenius di benua ini tapi itu tidak masalah, aku menyadari betapa kecilnya pengetahuanku..." Gadis itu menatap Jian Chen. "Terlepas dari semuanya, karena kau telah mengintipku mandi, aku harus tetap membunuhmu disini."


Jian Chen ingin membantah tuduhan tersebut tetapi urung saat melihat gadis itu memancarkan nafsu membunuh yang kuat padanya.


"Elemental Api — Hembusan Bola Api."


Gadis itu kembali mengeluarkan bola api di mulutnya, Jian Chen langsung mencabut dua pedangnya dan menghisap bola api raksasa itu pada pedang aturan.


Di waktu yang sama gadis itu sudah melompat ke sisi lain, sama seperti Jian Chen dia juga mempunyai dua pusaka pedang di tangannya.


Satu pedang gadis itu berwarna biru sementara satu pedang lainnya berwarna merah, kedua pedangnya terayun dan menyerang Jian Chen.


Biarpun terlambat bereaksi Jian Chen masih bisa menahan ayunan pedang gadis itu. Pedang Jian Chen berbenturan, ia bisa merasakan dari serangan tersebut pusaka gadis tak kalah berkualitasnya dengan pedang Aturan dan pedang Hukum.


Gadis itu memainkan dua pedangnya yang sangat lincah dan cepat, terlihat dari penguasaannya dalam bermain pedang ia tak kalah hebat dari Jian Chen.


Jian Chen mengambil posisi bertahan beberapa saat sebelum mulai menyerang balik gadis itu dengan memainkan dua pedangnya tak kalah lincah lagi.

__ADS_1


Selintas kedua belah pihak terlihat seimbang dalam penguasaan pedang namun jika mereka yang memahami pedang melihatnya akan menemukan Jian Chen lebih mendominasi permainan pedangnya dibandingkan gadis itu.


"Teknik pedangmu tidak terlalu buruk hingga bisa mengimbangiku tetapi bagaimana dengan ini..."


Gadis itu mengayunkan pedangnya sangat kuat sampai Jian Chen yang menahannya sedikit terdorong beberapa langkah. Di waktu yang sama gadis itu membenturkan dua pedangnya yang mengeluarkan bunyi yang keras dan memekakkan telinga.


Jian Chen tidak siap dengan serangan suara tersebut sehingga ia hampir kehilangan keseimbangannya, gadis itu kembali membenturkan dua pedangnya berulang-ulang saat melihat serangannya sangat efektif untuk melawan Jian Chen.


"Kau benar-benar ingin membunuhku hanya karena kesalahan sepele!" Jian Chen berteriak sambil menutup kedua telinganya.


"Kalian laki-laki yang mengintip mungkin akan menganggap sepele tapi aku sebagai wanita tidak beranggapan demikian, aku sudah menjaga tubuhku seperti harta berhargaku, selain keluargaku, tidak ada yang pernah melihatnya." Emosi gadis itu kembali terpancing ketika Jian Chen menyinggung tentang soal mengintip.


"Sudah kubilang itu ketidaksengajaan, aku tidak berniat mengintipmu."


"Tidak ada pencuri yang mengaku, begitu juga dengan seorang pengintip!" Gadis itu mendengus kesal. "Cukup pembelaannya, berapapun kau berbicara ataupun memohon aku sudah bulat untuk membunuhmu."


Gadis itu kemudian mengalirkan tenaga dalam pada dua pedangnya, pedang yang berwarna biru dan merah itu segera bersinar beberapa saat sebelum dua pedangnya membentuk sebuah energi.


Alasan Jian Chen sedikit terkejut karena pedang itu memiliki elemennya sendiri bukan karena gadis itu yang melakukan perubahannya. Jian Chen mengetahui pusaka yang memiliki elemen di dalamnya bukanlah sebuah pusaka sembarangan.


"Kualitas puasakanya sekelas dengan dua pedangku, ini benar-benar tidak bagus." Jian Chen menggenggam pedangnya lebih erat, ia harus bersiap menggunakan seluruh kekuatannya untuk bisa menang melawan gadis itu.


"Teknik Pedang Bunga — Tarian Mawar Merah!"


Gadis itu bergerak cepat tiba-tiba sudah ada di hadapan Jian Chen, dengan tekniknya ia kemudian mengujani Jian Chen dengan serangan yang bertubi-tubi.


Kecepatan pedang gadis itu sulit dilihat oleh mata, Jian Chen bahkan harus menggunakan mata langitnya agar melihat setiap ayunan pusaka gadis itu.


Biarpun bisa menghindar atau menangkisnya namun melakukannya adalah hal berbeda. Pedang es dan pedang api gadis itu benar-benar menganggu Jian Chen.

__ADS_1


Tangan Jian Chen yang satu sudah terasa kebas karena kedinginan sementara tangan kanannya yang tersisa merasat terbakar oleh api.


Menyadari situasi tidak diuntungkan jika terus bertahan Jian Chen memainkan satu pedangnya dan melakukan teknik pedang gerhana.


"Teknik Pedang Gerhana — Dua Cahaya Bintang!"


Teknik pedang gerhana adalah teknik pedang yang diperuntukkan untuk satu tangan, sehingga Jian Chen hanya menggunakan salah satu pusakanya.


Biarpun satu pedang yang terayun kenyatannya Jian Chen dapat mengimbangi gadis itu.


Dengan tekniknya, Jian Chen memfokuskan permainan pedangnya pada kecepatan yang meningkat tajam selama dua puluh satu tebasan pertama.


Ayunan kedua akan lebih cepat dari ayunan pertama, ayunan ketiga akan bertambah berkali-kali lipat dari kecepatan ayunan kedua dan begitu seterusnya sampai ayunan pedang Jian Chen sampai tampak tidak terlihat karena begitu cepatnya.


Gadis itu terkejut dengan peningkatan kecepatan pedang Jian Chen yang begitu naik tiba-tiba, gadis itu tidak melanjutkan memainkan pedangnya lagi melainkan memilih menahan ayunan serangan Jian Chen.


Biarpun diposisi bertahan gadis itu tidak sanggup menahan serangan Jian Chen sepenuhnya, garis luka terukir dari pundak gadis itu usai Jian Chen berhasil mendaratkan serangan.


Gadis itu mengambil jarak dengan ekspresi campur aduk, teknik yang ia banggakan selama beberapa tahun terakhir ini dapat dikalahkan oleh teknik pedang pemuda dihadapannya.


Bisa dibilang gadis itu sangat percaya diri dengan permainan dua pedangnya, selain diberikan dua pusaka dewa dari orang tua, ia juga mempelajari teknik tingkat tinggi dari klannya.


Tidak dia sangka di tempat yang menurutnya kecil tersebut gadis itu justru menemukan seorang pendekar yang lebih jenius, usianya bahkan lebih muda dari ia.


Gadis itu menarik nafasnya perlahan sebelum mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar pada dua pusakanya, seketika pedang api dan esnya menjadi kuat beberapa kali lipat.


Jian Chen mendengus kesal, tidak kalah dengan gadis itu ia melakukan hal serupa dengan melakukan perubahan jenis pada pedangnya.


Pedang Jian Chen seketika terbalut api yang membara begitu juga pedang lainnya yang dibalut serbuk es biru.

__ADS_1


Mata gadis itu melebar menyaksikan dua pedang Jian Chen yang berubah. "Kau, jangan bilang-..."


"Hmph! Kau bukan satu-satunya disini yang bisa melakukan demikian." Jian Chen mendengus kesal.


__ADS_2