
"Sekarang semuanya aman, kau bisa membawa yang lain keluar." Jian Chen kembali memasang topengnya.
"Ini..."
Yue Lian meneguk ludah, kawasan pemerintahan yang biasanya bersih dari sampah sekalipun kini di penuhi banyak jasad, bau amis darah menyengat memenuhi udara sekitarnya.
"Aku tahu ini sedikit berlebihan tapi menurutku mereka pantas merasakannya, membiarkan mereka hidup justru akan membuat malapetaka bagi yang lain..." Jian Chen menggelengkan kepalanya pelan.
Yue Lian memejamkan matanya, mengatur nafasnya sekaligus menenangkan dirinya atas apa yang terjadi malam ini. Yue Lian kemudian bertanya rencana Jian Chen selanjutnya.
"Setelah ini aku akan pergi ke markas Organisasi Pedang Darah berada, kasus penculikan ini tidak akan berhenti kecuali dalang dari mereka di habisi."
"Kalau begitu aku ikut..."
Jian Chen menggeleng. "Di sana terlalu berbahaya, kau mungkin bisa meninggal sia-sia sebelum sampai datang ke markasnya."
Yue Lian mengigit bibirnya, ia yakin alasan sebenarnya adalah karena kekuatannya yang masih lemah, mengikuti Jian Chen mungkin akan menjadi beban baginya.
"Tapi bagaimana denganmu, bukankah peringatan yang sama juga berlaku untukmu?" Yue Lian tidak mau Jian Chen bertindak gegabah sehingga membahayakan nyawanya.
Jian Chen tersenyum tipis, ia yakin di Kekaisaran Naga ini akan sulit menemukan sesuatu yang bisa membunuhnya.
"Tenang saja, kekuatanku juga tidak terlalu buruk, andai aku tidak berhasil aku akan lari dengan cara rahasia."
Meski Jian Chen berkata dengan penuh percaya diri tetap saja Yue Lian merasa khawatir sekaligus bimbang, ada hal yang mengganjal pikirannya yaitu alasan kenapa Jian Chen harus bertindak sejauh ini hanya karena untuknya.
"Kalau begitu aku akan memberitahu walikota serta pemerintah yang lain agar mereka menyerbu markas Organisasi Pedang Darah."
Yue Lian sebelumnya sudah diberitahu letak markas Organisasi Pedang Darah dari Jian Chen sehingga tidak sulit menemukannya hanya saja ia membutuhkan waktu untuk pergi ke sana.
Jian Chen tidak melarang ide Yue Lian justru memang seperti itulah tindakan seharusnya, selama Yue Lian memberitahu yang lain Jian Chen akan terlebih dahulu pergi ke markas tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih, kata-kata saja tidak cukup untuk menggambarkan jasamu..."
Yue Lian sangat yakin Jian Chen masih menyembunyikan seluruh kekuatannya, meski pemuda itu belum sepenuhnya membantunya namun ia memiliki firasat yang baik terhadap apa yang Jian Chen lakukan.
Awalnya Yue Lian berpikir Jian Chen mempunyai rasa terhadap dirinya sehingga pemuda itu selalu beralasan agar bisa bersamanya.
Dugaan Yue Lian tidak sepenuhnya salah, alasan Jian Chen bertindak sejauh ini selain karena perasaannya ia juga ingin membuat lingkungan yang aman bagi Yue Lian.
"Bukankah kau meminta sesuatu padaku setelah berhasil menyusup kesini, apa itu?" Yue Lian masih ingat permintaan Jian Chen sebelum menerobos ke kawasan pemerintahan.
Jian Chen tidak langsung menjawab melainkan diam beberapa saat, ia menatap Yue Lian di balik topengnya dengan tatapan berbeda. "Apa kau membawa bola mutiara berwarna merah itu?"
Yue Lian terkejut, ia tidak menyangka Jian Chen mengetahui benda yang ada di dalam cincin ruangnya, memang seperti yang dikatakan Jian Chen, mutiara itu ada pada dirinya.
Yue Lian kemudian mengeluarkan mutiara merah tersebut dari cincin ruangnya, mutiara yang ukurannya hanya segenggam tangan dan bersinar kemerahan.
Jian Chen tersenyum tipis, bola mutiara yang ada di telapak tangan Yue Lian adalah mutiara elemen yang membuat Jian Chen diburu oleh organisasi 12 Shio Pemburu di kehidupan sebelumnya.
Sebelum Yue Lian meninggal, ia memberikan mutiara itu pada Jian Chen.
"Aku tidak tahu bagaimana kau mengetahui benda ini tapi jika kau memintanya aku tidak keberatan..."
"Terimakasih, benda ini adalah benda yang di cari oleh organisasi rahasia, membawanya bisa membawa malapetaka untukmu." Jian Chen kemudian mengeluarkan kantong kecil pada Yue Lian dan memberikannya. "Aku tidak akan memintanya gratis, sebagai bayarannya aku memberikan ini padamu."
Yue Lian awalnya menolak karena ia memberikan itu dengan ikhlas namun setelah Jian Chen memaksanya dan Yue Lian membuka kantong kulit tersebut, sulit rasanya untuk gadis itu menolak.
"Ini... Batu roh yang melegenda itu, bagaimana kau bisa memilikinya?"
Jian Chen tidak memberi penjelasan lebih jelas pada Yue Lian, ia mengerti gadis itu terlalu syok melihatnya. Jian Chen mengatakan agar Yue Lian menyimpannya sekaligus berlatih dengan batu roh tersebut agar kultivasinya naik lebih kuat.
Setelah pembicaraan yang cukup panjang Jian Chen berpamitan pergi, ia tidak bisa menunda perjalanan terlalu lama.
__ADS_1
"Kuharap kau selamat, jika itu berbahaya maka tunggu aku atau pasukan pemerintah datang..."
Jian Chen mengangguk, ia melambaikan tangan sebelum berbalik dan pergi ke sebelah utara. Yue Lian menatap kepergian Jian Chen sampai akhirnya pemuda itu hilang di kegelapan malam.
"Kau benar-benar menyembunyikan semua ekspresi mu dengan baik?" Lily yang menyaksikan percakapan Jian Chen dan Yue Lian akhirnya membuka suara.
"Aku tidak ingin dia melihat tatapanku padanya, dia akan menyadari sesuatu jika melihatnya..."
Alasan Jian Chen memakai topeng karena tidak mau Yue Lian melihat wajahnya ketika berbicara dengan gadis itu. Di sisi lain Lily justru menyadari hal tersebut.
"Aku tidak mengerti alasanmu tapi apa kau rela dengan tindakanmu ini?"
"Aku sudah memutuskannya sejak awal saat aku kembali di kehidupan kedua ini, meski tidak bersamanya aku berharap dia mendapatkan kehidupan yang aman disini."
Lily menghela nafas, menurutnya Jian Chen bisa saja terus bersama Yue Lian jika ia masih mencintainya namun pemuda itu justru bertindak sebaliknya, tindakan itulah yang membuat Lily keheranan.
Lily tidak membahas lebih jauh, ketika Jian Chen sudah melewati pembatas kota ia melanjutkan perjalanannya dengan terbang.
Untuk menuju markas Organisasi Pedang Darah jaraknya sangat jauh jika melalui darat, memerlukan waktu yang lama namun dengan terbang, Jian Chen dapat memangkas waktu tersebut.
***
Butuh dua hari tanpa istirahat, Jian Chen akhirnya tiba di markas Organisasi Pedang Darah.
Markas organisasi tersebut didirikan di tengah hutan tepat di sekeliling rawa-rawa.
Mereka membuat dinding yang tinggi di sekitarnya yang di jaga beberapa pos, penjaga-penjaga memantau sekitar dan melindungi jikalau ada hewan buas atau siluman yang mendekat.
"Siapa yang cukup gila mendirikan sebuah markas disini..." Jian Chen menggelengkan kepalanya pelan. Mendengar dan melihatnya secara langsung jelas berbeda.
Jian Chen kemudian memilih berjalan kaki ketika jaraknya dengan markas tersebut sudah dekat.
__ADS_1
Seseorang mungkin akan di sangka gila menemui markas yang sangat berbahaya seperti yang Jian Chen lakukan. Markas Organisasi Pedang Darah terkenal juga dengan organisasi para pembunuh bersarang.
Jian Chen terus berjalan hingga akhir ia tiba di depan pintu gerbang markas, Tidak membutuhkan waktu lama hingga keberadaan Jian Chen di sadari oleh salah satu penjaga mereka.