
"Kenapa ada seseorang yang penting seprovinsi bisa kesini, apakah ia ingin memperluas pengaruh politiknya lagi?" Tanya Jian Chen.
Awalnya Jian Chen tidak peduli tetapi kisah saudara kembar yang memperebutkan tahta membuatnya tertarik. Tentu saja ia tidak akan terlibat dalam masalah mereka, cuma hanya mendengar saja.
"Tuan Muda, kupikir anda ke kota Daiji karena alasan yang sama dengan banyaknya pendekar yang berdatangan kesini. Pangeran Longxia juga ke kota Daiji karena alasan yang sama dengan pendekar yang berdatangan yaitu untuk menulusuri makam kuno..."
"Makam kuno?"
"Benar Tuan Muda, beberapa minggu yang lalu di kota Daiji, ada seorang penambang batu bara yang tanpa sengaja menemukan sebuah makam kuno..."
Di dunia persilatan, sudah hal umum makam-makam kuno diisukan dengan adanya harta yang terpendam didalamnya atau ada sebuah pusaka yang hebat.
Memang dari kebanyakan cerita-cerita tersebut ada sebagian yang benar tetapi kebanyakan justru sebaliknya. Selain tidak ada harta, mereka yang mencoba masuk malah jadi kehilangan nyawa.
Tetapi sekarang menurut Manager Li, kasus makan kuno ini benar-benar ada hartanya, itu karenakan ada sebuah tulisan-tulisan di sana seperti sebuah teka-teki. Dan para pendekar yakin jika berhasil lolos dari teka-teki itu mereka akan mendapatkan sebuah harta tak terkira.
"Bagaimana jika itu hanya jebakan?" Jian Chen mengangkat alisnya. "Tidakkah mereka berpikir kesana?"
Manajer Li menggelengkan kepala pelan, "Walaupun itu memang jebakan kenyataannya mereka cenderung lebih tertarik pada harta tersebut. Malah beberapa hari belakang ini sudah banyak pendekar yang kehilangan nyawa di makam itu tetapi tetap saja masih ada yang mencoba peruntungan untuk masuk kesana."
Jian Chen terdiam, ia bisa merasakan kasus makam kuno ini memang serius. Sejujurnya ia jadi tertarik untuk menulusuri makam tersebut setelah mendengarnya.
Manager Li kemudian menjelaskan bahwa Pendekar-pendekar yang berdatangan biasanya kumpul di restoran dekat Paviliun Kota, Jian Chen berniat pergi kesana untuk melihat situasi lebih jauh.
'Lebih baik aku mencari banyak informasi terlebih dulu, soal kesana atau tidak aku bisa memutuskannya nanti.'
Jian Chen menghela nafas pelan, ia memilih untuk menyelesaikan tulisannya sebelum bertanya kembali pada Manager Li. Jian Chen tidak membahas dua kembar politik itu karena merasa mereka dan masalahnya bukan urusan Jian Chen.
"Berapa hari jika aku mengirimkan surat disini hingga menerima surat lagi?" Jian Chen mengubah ke topik yang lain.
"Mungkin tiga hari Tuan Muda, itu paling cepat tetapi kalau ada halangan tertentu mungkin merpati bisa 4 sampai 5 harian."
Jian Chen menggaruk kepala, ia tak bisa menunggu selama itu di kota ini tetapi disisi lain ia tak bisa berbuat banyak. Jian Chen mungkin akan menginap beberapa hari di kota Daiji sampai surat Miou Lin terkirim.
__ADS_1
"Kalau begitu Tuan Muda, aku akan menghubungi penginapan Asosiasi tak jauh dari sini."
Jian Chen mengangguk, "Terimakasih, maaf harus merepotkanmu..."
"Tuan muda, ini sudah jadi kewajibanku."
Manager Li kemudian berpamitan untuk menghubungi Asosiasi yang lain dan memberitahukan ada seseorang penting Asosiasi yang sedang di kota.
Jian Chen memilih keluar ruangan untuk melihat-lihat toko tersebut, baru satu langkah ia membuka pintu para gadis pelayan langsung mengerumuninya.
"Tuan Muda, anda pasti lelah telah melakukan perjalanan yang jauh, aku punya air segar untukmu, minumlah..."
"Tuan Muda, apakah anda terluka, aku punya obat yang bisa menyembuhkanmu..."
"Tuan Muda, ini saputanganku, anda bisa menggunakannya jika anda sakit..."
Jian Chen menepuk jidat, sejak kapan dirinya jadi magnet perempuan. Jian Chen yakin wajahnya tidak terlalu tampan sampai membuat wanita tergila-gila padanya tetapi statusnya di klan Asosiasi jelas membuat wanita itu merubah sikapnya.
Pelayan-pelayan gadis ini jelas memiliki pikiran yang sama untuk menarik perhatian Jian Chen.
***
Jian Chen membatalkan niatnya melihat-lihat toko Asosiasi setelah reaksi gadis-gadis itu.
Ia langsung memilih pergi dari sana dan menuju restoran dekat Paviliun Kota yang sudah diceritakan Manajer Li sebelumnya, Jian Chen ingin mencari informasi dan melihat situasi lebih jelas.
Restoran yang bernama Teratai Angsa itu kini dipenuhi banyak pelanggan dan semuanya rata-rata adalah pendekar. Restoran Teratai Angsa memiliki 4 lantai dan memiliki ukuran yang cukup besar.
Jian Chen masuk ke dalam restoran tersebut, ia tak memilih lantai teratas melainkan lantai dua agar bisa mencari banyak informasi dari mendengar desas-desus para pendekar di restoran.
Jian Chen duduk di dekat jendela restoran, tak lama kemudian pelayan datang untuk menanyakan pesanannya.
Berhubung dirinya memang belum makan hari ini Jian Chen memesan daging sapi panggang, pelayan itu mengangguk lalu kemudian mencatatnya.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama sang pelayan kembali, Jian Chen menyantap hidangan tersebut dengan lahap.
"Kudengar, Pangeran Longxia sudah kesini beberapa jam lalu, itu berarti tidak ada harapan lagi kita mendapatkan harta di makam kuno?"
"Hah, apa yang kau takutkan dari dia, aku mengerti kita harus menghormatinya tetapi tidak sampai takut seperti itu, kita juga adalah pendekar."
"Kalau kasusnya seperti itu mungkin aku juga berpikir demikian tetapi Pangeran Longxia kesini tidak sendiri, dia dikawal oleh seorang pendekar kuat klan Yun, Pendekar yang dijuluki sebagai Pedang Setan!"
"Apa! Tidak mungkin!? Bukankah dia pendekar yang sangat kuat, mencari masalah dengannya tidak beda jauh dengan mengantarkan nyawa..."
Jian Chen mendengar bisik-bisik itu dari meja sebelahnya yang diisi para pendekar, alis pemuda itu terangkat ketika mendengar nama julukan Pedang Setan.
Jian Chen menduga bahwa Pedang Setan yang di maksud adalah orang berjubah hitam yang sebelumnya bersama Longxia di kereta.
Setelah menghabiskan makanannya Jian Chen menunggu beberapa saat untuk mencari tahu lebih dalam tetapi tak ada yang berguna setelah itu.
Akhirnya Jian Chen memutuskan untuk naik ke lantai empat restoran dan menggunakan jalan pintas untuk mencari informasi.
Lantai empat memiliki harga khusus hanya untuk naik kesana, setidaknya Jian Chen harus merogoh gocek setidaknya 10 keping perak.
Di lantai empat, pengunjung lebih sedikit dari lantai dibawahnya karena memang tempat ini adalah VIP restoran. Namun tentu saja ada kelebihan di lantai termahal tersebut seperti ada pertunjukan musik dan tarian.
Setelah Jian Chen duduk, ia memanggil salah satu pelayan ke mejanya, sebelum pelayan itu berkata sesuatu Jian Chen melemparkan koin emas.
"Ceritakan padaku tentang makam kuno yang kalian dengar dari para pendekar."
Pelayan itu menatap koin emas di tangannya dengan tatapan tidak percaya, gajinya saja tidak sebesar ini perbulannya.
Melihat reaksi pelayan itu Jian Chen kembali memberikan koin emas padanya, "Kuyakin itu lebih cukup darimu, jadi apakah anda mengetahui banyak hal tentang makam kuno itu?"
Pelayan itu buru-buru mengangguk berulang kali, "Tentu saja Tuan, aku bisa bercerita ini sepuluh kali selama anda mau!"
Jian Chen tertawa kecil. "Tidak perlu, ceritakan yang penting saja."
__ADS_1
Pelayan itu kemudian menjelaskan garis penting tentang makam kuno dari para pendekar yang sempat ia dengar, alis Jian Chen naik turun ketika mendengarnya sebelum digantikan dengan helaan nafas.