Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 322 — Kemampuan Jian Chen IV


__ADS_3

Delapan pendekar tingkat tinggi yang tersisa terperanjat melihat aura Jian Chen yang terkesan berbeda dari sebelumnya. Bukan hanya itu tetapi auranya kekuatannya juga meningkat berkali-kali lipat.


Mata emas Jian Chen tampak bersinar beberapa saat, tubuhnya terasa jauh berbeda dan ia merasakan kelima inderanya menajam termasuk pendengaran dan penglihatan.


Jian Chen kemudian mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya dan melakukan perubahan jenis, seketika pedang Asuranya terselimuti elemen api hitam yang jauh lebih panas.


Aksi Jian Chen cukup membuat delapan pendekar lawannya menahan nafas, mereka baru pertama kali melihat sebuah api bisa memiliki warna hitam seperti itu.


Pasukan kekaisaran Qilin juga tidak jauh berbeda, mereka hanya bisa merasakan panasnya walau dari jarak jauh sekalipum.


"Ah, memang terasa berbeda perbedaannya..." Ketika Jian Chen menggunakan tenaga dalam Yin, ia bisa merasakan kekuatannya jauh meningkat.


Tatapan Jian Chen kini teralih pada delapan pendekar lawannya, senyuman lebar menghiasi wajahnya.


"Bukankah kalian ingin mengetahui kekuatanku, akan kutunjukkan kekuatanku sebenarnya..."


Jian Chen langsung bergerak cepat menuju ke delapan lawannya dan mengayunkan pedang asura, bukan hanya teknik elemennya tetapi kecepatan serta kekuatan Jian Chen meningkat dengan menggunakan tenaga dalam Yin.


Delapan pendekar tingkat tinggi itu terkejut dengan kecepatan Jian Chen yang meningkat tiba-tiba, tidak bisa menghindar mereka buru-buru mengangkat senjata.


Berbeda dengan sebelumnya, kini Jian Chen mengubah posisinya yang menekan lawan-lawannya. Pedang api Jian Chen membuat delapan musuhnya sedikit ragu untuk menyerang balik sehingga memudahkan Jian Chen menyerang mereka dengan buas.


Biarpun serangannya di tahan, pusaka mereka secara perlahan mulai mengalami kerusakan setiap kali pedang Jian Chen berbenturan.


Jian Chen kemudian menggunakan teknik pedang gerhana yang digabungkan dengan sebuah tarian, gerakannya berubah jadi lebih rumit dan sulit ditebak.


Dengan teknik yang sama, ia membuat lawannya semakin kewalahan. Sedikit demi sedikit luka goresan akhirnya memenuhi tubuh lawannya.


Dua pendekar Alam Dewa mengumpat, ia menyesal telah datang kesini dan berurusan dengan Jian Chen, walaupun kekuatannya berada di ranah yang sama tetapi ada jarak yang signifikan antara ia dan Jian Chen.

__ADS_1


Dua pendekar Alam Dewa itu menyadari kedelapannya menggunakan kekuatan penuh sekalipun tidak akan mengalahkan Jian Chen yang sekarang.


"Apa yang kalian tonton, cepat bantu aku-!"


Salah satu pendekar dari delapan orang yang Jian Chen lawan berteriak pada pasukan kekaisaran Qilin yang semenjak tadi hanya menonton.


Para pasukan Qilin meneguk ludah, mereka tidak yakin bisa menang melawan Jian Chen. Jika pendekar tingkat tinggi saja sudah dibuatnya terpojok apalagi mereka yang hanya akan datang untuk mengantarkan nyawa.


Meski mengetahui hal tersebut kenyataannya mereka tidak berani membantah, dalam waktu seketika Jian Chen kembali di serbu dari berbagai arah.


Jian Chen berdecak kesal ketika ia harus kembali direpotkan oleh pasukan-pasukan Kekaisaran.


Disisi lain ketika Jian Chen disibukkan dengan lawannya, dua pendekar Alam Dewa memanfaatkan kejadian tersebut untuk melepaskan diri dari Jian Chen.


Yang dipentingkan dari keduanya adalah menyelamatkan nyawa mereka sendiri.


Jian Chen tersenyum sinis melihat aksi tersebut, ia kemudian melepaskan hawa dingin di tubuhnya kembali.


Radius dua puluh meter disekitarnya akan merasakan suhu dingin tersebut, kulit mereka perlahan memunculkan serpihan es yang membuat pasukan kekaisaran Qilin jadi tidak bisa bergerak.


Jian Chen juga mengarahkan elemen esnya pada dua pendekar Alam Dewa, ia tidak berniat membiarkan keduanya lolos.


Jian Chen mengayunkan pedangnya yang masih diselimuti elemen api lalu mengayunkannya secara vertikal yang ditujukan pada dua pendekar Alam Dewa tersebut.


Ayunan pedang Jian Chen menciptakan gelombang api hitam yang membelah udara.


Gelombang api itu seketika membunuh semua yang berada di jalurnya dan merubahnya menjadi debu, gelombang api yang sama menuju salah satu pendekar Alam Dewa yang tidak menduga Jian Chen bisa menggunakan serangan jarak jauh.


Salah satu pendekar Alam Dewa itu tidak punya waktu untuk menghindar sehingga ia menggunakan senjatanya untuk bertahan.

__ADS_1


Nyatanya gelombang api Jian Chen tetap berhasil menerobos pertahanannya, ketika ia mengenai serangan Jian Chen seketika api itu merambat dan membakar tubuhnya hingga menjadi abu.


Pendekar Alam Dewa disampingnya menjerit ngeri, ia buru-buru melanjutkan langkahnya namun baru beberapa detik berjalan ia menemukan Jian Chen sedang mengejarnya dengan cepat.


Tubuh Jian Chen terus melepaskan hawa dingin sehingga pasukan kekaisaran Qilin yang di lewatinya menjadi tidak berdaya karena tubuh mereka tidak bisa bergerak.


"Kenapa kau lari, bukankah kau cukup percaya saat melawanku tadi?!"


"Aku tidak mau berurusan denganmu lebih jauh, sebaiknya kau lupakan saja tentang tadi..." pendekar Alam Dewa itu menjerit ketika Jian Chen sudah ada di dekatnya.


"Oh, kenapa aku harus melupakannya, bukankah lebih baik kita menyelesaikan ini sampai akhir." Jian Chen menyeringai lebar.


Pendekar Alam Dewa itu berkeringat dingin sebelum meneruskan langkahnya lebih cepat lagi.


Jian Chen tersenyum sinis sebelum menaikan kecepatannya tiba-tiba, pendekar Alam Dewa yang tersisa hanya bisa merasakan dadanya sudah tertusuk pedang Jian Chen.


"Kau terlalu banyak mengambil nyawa, meski aku tidak mengenalmu tapi aku yakin kau telah menghabisi banyak orang tak bersalah..." Jian Chen tersenyum dingin sebelum mencabut pedangnya, pendekar Alam Dewa itu terbunuh dengan mata masih terbuka, jelas ia tidak menerima kematian tragis yang akan menimpanya.


Jian Chen baru pertama kali merasakan aura pembunuh sepekat itu dari pendekar Alam Dewa yang ia bunuh barusan. Sebab itu Jian Chen tidak membiarkan pendekar tersebut lolos atau melarikan diri


Jian Chen pikir kematian dua pendekar Alam Dewa cukup menghentikan pasukan kekaisaran untuk menyerangnya namun ternyata mereka tetap ingin mengepung Jian Chen.


Sementara enam pendekar Alam Raja yang sebelumnya sudah tidak mempunyai minat lagi untuk bertarung ketika melihat Jian Chen mampu membunuh pendekar Alam Dewa.


Jian Chen menghela nafas sebelum mengayunkan pedangnya yang menciptakan gelombang api-gelombang api lainnya. Dalam sekali serangan tersebut Jian Chen langsung membunuh puluhan dari mereka dan mengubahnya menjadi debu.


Tidak sampai di sana Jian Chen juga menciptakan naga cahaya dari elemen cahayanya untuk menunjukkan kekuatannya.


Naga cahaya Jian Chen berwarna hitam, ia menghabisi pendekar di sekitarnya dalam sekali lahap dan memakannya ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


*Besok saya libur ya, saya ingin istirahat dulu soalnya...


__ADS_2