Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 212 — Rasa Ampun


__ADS_3

"Gadis cantik, jika itu yang kau pikirkan maka aku tidak akan menyalahkanmu." Pria itu tersenyum lebar.


Yue Lian menyipitkan matanya. "Bagaimana kalau aku mengatakan tidak?"


"Kau boleh mencobanya tetapi itu akan membuatmu terluka jadi selagi aku memintanya baik-baik serahkan kantong emas itu sekarang."


Yue Lian tersenyum tipis, "Apa kalian tidak takut aku melaporkan ini pada pemerintah?"


Pria itu tertawa mengejek. "Apa kau pikir pemerintah akan bertindak, mereka bahkan ketakutan mengatasi Penculikan yang kubuat."


Ekspresi wajah Yue Lian berubah menjadi waspada, ia langsung menarik dua pedangnya dan bersiap di posisi bertarung. "Jadi kalian yang menculik para warga belakangan ini? Dimana mereka sekarang?!"


Pria itu mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu, mungkin kondisinya masih hidup yang pasti mereka tak akan kembali."


Yue Lian menggenggam pedangnya lebih erat, walaupun ia telah mencurigai kelompok mereka namun mendengarnya secara langsung jelas berbeda.


Yue Lian mengerti bahwa kelompok mereka sama berbahayanya dengan perampok yang ia kejar kemarin. Yue Lian ingin bergerak menyerang namun perhatiannya tertuju pada Jian Chen yang masih duduk dengan tenang.


"Kau sepertinya ingin menggunakan kekerasan gadis cantik, kalau begitu aku tidak punya pilihan selain melawanmu..."


Tanpa menunggu lagi pria itu bergerak menyerang Yue Lian, satu hal yang pria itu tidak pikirkan kekuatan Yue Lian ternyata berada di atasnya.


Dengan kedua pedangnya Yue Lian dengan cepat mengambil alih posisi dan membuat situasinya berbalik.


Melihat kemampuan Yue Lian yang berada di Alam Kehidupan, empat pendekar dari kelompok pria itu mulai berdiri dan bersiap ikut pertarungan namun baru mereka ingin bergerak secara tiba-tiba suhu tubuh mereka menurun cukup drastis.


Gerakan keempatnya menjadi sedikit kaku dan kesulitan bergerak, satu pria yang bertarung dengan Yue Lian juga merasakan hal yang sama.


Bukan hawa dingin saja bahkan perlahan kulit mereka memunculkan serpihan es. Yue Lian yang sedang bertarung sedikit kebingungan dengan kondisi lawannya namun ia tidak berhenti menyerang.


Dari serangannya Yue Lian ia ingin pria itu diambil hidup-hidup sehingga ia menyerang untuk melumpuhkan pergerakannya. Di saat Yue Lian mengayunkan pedang kesekian kalinya tiba-tiba ada suara teriakan seseorang.


Yue Lian menoleh dan mendapati pelayan restoran sudah di sekap oleh salah satu dari mereka.


"Jika kau tidak ingin dia mati jatuhkan senjatamu!" Pria yang menyekap pelayan itu sudah menempelkan senjatanya di leher pelayan.


Yue Lian mengigit bibirnya, ia ingin mencari celah menyelamatkan pelayan itu tetapi situasinya di luar jangkauannya.


"Masih berpikir melawan! Dalam hitungan sepuluh detik jika kau tidak melepaskan senjata dan uangmu, kepala pelayan ini akan terlepas dari asalnya!"


"Baik aku akan menurutimu, jangan sakiti dia!" Yue Lian melemparkan dua pedangnya ke lantai sebelum mengeluarkan kantong uang dan melemparkan pada salah satu dari mereka.


Pria yang bertarung dengan Yue Lian sebelumnya sudah mengambil jarak sebelum menoleh dan menatap Jian Chen tajam.

__ADS_1


Jian Chen tersenyum tipis lalu melemparkan kantong emasnya juga.


"Kami sudah mengikuti kemauan kalian, lepaskan wanita itu!" Yue Lian berteriak geram.


Kelompok pria itu mendengus, ia memukul belakang leher pelayan itu yang membuatnya langsung tak sadarkan diri, tidak sampai di sana ia memberikan luka sayatan pada punggung pelayan itu sebelum mereka bergegas pergi meninggalkan restoran.


Yue Lian sebenarnya ingin mengejarnya namun melihat luka di punggung pelayan itu membuatnya harus menyelamatkan nyawanya terlebih dulu.


Yue Lian mengalirkan tenaga dalam pada sang pelayan untuk menghentikan pendarahan namun luka yang di toreh pria tadi lumayan dalam serta besar.


"Biar aku saja..." Jian Chen sudah berada di samping Yue Lian ketika ia berbicara lalu meletakan tangannya ke tubuh pelayan itu.


Dengan tenaga dalamnya Jian Chen dapat menyembuhkan luka pelayan itu dalam waktu yang relatif singkat. Yue Lian yang melihatnya sampai sulit berkata-kata, pandangannya kini berubah melihat Jian Chen.


"Apa kau sungguh seorang pemburu?" Yue Lian tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Jian Chen mengangguk pelan. "Aku memang seorang pemburu tapi juga sedikit belajar menjadi seorang pendekar."


Alasan Jian Chen sebelumnya tidak bertindak karena mempunyai rencana sendiri dalam menghadapi kelima orang itu, yang pasti dia tidak mau membunuh di restoran tengah kota seperti ini.


Yue Lian ingin bertanya lagi namun pelayan yang ada di pangkuannya sudah terbangun sementara Jian Chen juga tidak menjelaskan lebih jauh.


"Kau mau kemana?" Tanya Yue Lian bingung saat tiba-tiba Jian Chen hendak menuruni tangga.


Yue Lian mengangguk, ia tidak bisa membatalkan pesanan yang sudah ia bayar.


Jian Chen kemudian menuruni anak tangga sebelum keluar dari restoran, tentu saja ia ke bawah bukan karena uang kembalian melainkan ingin mengejar perampok tadi. Dengan gerakannya yang cepat tidak sulit menemukan mereka.


***


Lima orang yang mencuri uang Jian Chen dan Yue Lian tidak berlari ke tempat Serikat Petualang melainkan ke tempat rumah kosong yang sudah tidak terpakai.


Dari sini saja sudah terlihat mereka yang diculik di tempatkan di sana.


"Apa yang kalian lakukan sampai membuatku menunggu, Hah?!"


Kedatangan lima orang yang mencuri uang Jian Chen tidak disambut baik oleh pemimpinnya. Bahkan pemimpinnya itu terlihat marah serta memaki bawahannya.


"Maaf Bos, ternyata perempuan itu mempunyai keahlian yang tinggi jadi kami sedikit kesusahan merampas uangnya." Lapor bawahannya itu.


"Dasar tidak berguna, mengurusi satu perempuan saja tidak becus!"


Bawahannya tidak berani membantah lalu memberikan dua kantong emas dicurinya pada pemimpinnya itu.

__ADS_1


Ekspresi pemimpin mereka berubah ketika melihat koin emas di kantong kulit tersebut. "Bagus, dengan ini penghasilan kita bisa terpenuhi selama beberapa hari kedelapan. Bersiap untuk meninggalkan kota, kita tidak bisa disini terus."


Para bawahannya yang berjumlah dua puluh orang mengangguk pelan, mereka memahami ada banyak masyarakat yang mulai curiga pada kelompoknya sehingga mereka harus berpindah kota lagi sebelum mulai menculik kembali.


"Kalian ingin pergi? Kenapa tidak bertanya lebih dulu apakah aku memperbolehkannya atau tidak?"


Di saat mereka sedang tertawa-tawa dengan koin emas yang didapatkan, suara seseorang terdengar dari atap rumah, terlihat seorang anak muda sudah berdiri di sana.


Anak muda itu, Jian Chen, langsung turun dan mendarat di tengah-tengah mereka.


"Siapa kau, apa urusanmu kesini?" Pemimpin kelompok itu berseru tajam.


"Urusanku? Tentu saja untuk mengambil uangku yang telah kalian rampas, itu bukan milik kalian..." Jian Chen tertawa kecil.


Berbeda dengan pemimpinnya yang bereaksi tajam, lima orang yang merampas uang Jian Chen bereaksi berbeda, mereka tidak merasakan Jian Chen ternyata membuntutinya.


"Hmph, kulihat kau mempunyai nyali muncul dihadapanku, jangan salahkan aku jika harus mencabut nyawamu!"


"Kau boleh mencobanya dan kuyakin nyawamu yang sebagai imbalannya..."


"Kurang ajar!"


Pemimpin kelompok itu langsung menyerang dengan senjata goloknya, kekuatannya yang berada di Alam Bumi membuat setiap serangannya begitu besar dan kuat tetapi di depan Jian Chen serangan yang di keluarkannya tidak berarti apa-apa.


"Apa bagaimana bisa?!"


Pemimpin kelompok itu tampak sulit mempercayai gerakan goloknya yang terkenal gesit dan tajam kini dihindari mudah oleh Jian Chen


Ia menaikan tempo kecepatannya namun semuanya sia-sia, tidak ada yang mengenai tubuh Jian Chen samasekali.


Jian Chen yang terus menghindar akhirnya menyerang balik, ia menangkap golok lawannya dengan kedua jari sebelum memberikan serangan lutut pada perut lawannya membuat ia meringis dan jatuh berlutut.


Jian Chen mengayun tendangan lainnya kali ini membuatnya jadi terpental mengenai tembok, sebelum lawannya mengambil nafas tubuh Jian Chen sudah menghilang dan muncul di depannya, tangannya langsung bergerak cepat dan mencekik pemimpin kelompok itu.


"Lepas... A-ku..." Pemimpin kelompok itu meronta dan mulai kesulitan bernafas saat Jian Chen mencekiknya keras.


"Kau terlalu banyak mengambil nyawa, menculik orang-orang bahkan merampok. Tidak ada alasan untukku agar membiarkan kau hidup..." Jian Chen menggeleng pelan sebelum mengeraskan cekikannya.


Tak lama kemudian suara tulang patah terdengar membuat pemimpin kelompok itu tewas seketika.


Para bawahannya yang melihat sejak tadi meneguk ludah dengan lutut yang tiba-tiba terasa lebih lemas, mereka kini memandang Jian Chen dengan penuh ketakutan.


Sebelum mereka hendak memohon ampun, Jian Chen tiba-tiba melepaskan aura kematian yang pekat membuat mereka kesulitan bernafas.

__ADS_1


"Jangan memohon apapun, aku sudah bertekad membunuh kalian disini..." Jian Chen berkata pelan namun sorot matanya berubah menjadi dingin.


__ADS_2