Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 233 — Dua Shio


__ADS_3

"Apa kau yakin menggunakan cara ini? Bukankah lebih mudah untuk mengambilnya sekarang?" Shio Macan bertanya heran dengan perempuan di sampingnya yaitu Shio Kelinci.


Keduanya kini sudah tiba di kota besar tempat tujuannya berada namun Shio Kelinci tidak langsung masuk ke sana melainkan memikirkan ide yang lain.


"Mengambil kitab itu adalah hal yang mudah bagi kita, seperti membalikan telapak tangan namun akan membosankan jika langsung menyelesaikan misinya begitu saja. Tidak ada tantangan..." Shio Kelinci berekspresi cemberut.


"Jadi sebab itu kau menggunakan cara sulit daripada yang mudah?" Shio Macan mengerutkan dahinya.


"Hm, bukankah ini lebih seru. Sudah dua tahun ini kita tidak pernah bertarung serius, hanya melawan ikan teri saja, sebab itu misi kita selalu membosankan." Keluh gadis itu.


Shio Macan menggaruk kepalanya frustasi, pria itu yakin andai ia menolak ide gadis di sampingnya belum tentu dituruti olehnya. "Terserah kau sajalah..."


Shio Kelinci tersenyum lebar sebelum kemudian menghilang dan pergi dari pandangan Shio Macan.


Shio Macan hanya menghela nafas, meski ia bersama seorang perempuan di Organisasi Shio Pemburu namun kekuatan dirinya dengan Shio Kelinci itu sangat berbeda dengan Shio Kelinci lebih kuat darinya.


Shio Kelinci terlihat seperti gadis manis berusia 20-an, tentu saja itu hanya topeng belaka, jika didasari umur wanita itu bahkan sudah jadi nenek tua sekarang.


Shio Kelinci bisa terlihat imut dan manis karena kekuatan yang tinggi serta memiliki teknik khusus yang membuatnya terlihat lebih awet muda.


Meski dia tampak lugu namun di Organisasi Shio Pemburu tidak ada yang lebih kejam darinya. Dikatakan Shio Kelinci selalu meminum darah gadis yang cantik untuk menahan kecantikannya.


Ide Shio Kelinci sebenarnya tidak terlalu buruk bagi Shio Macan hanya saja ia tidak terbiasa dengan tingkah gadis itu.


Shio Macan dan Shio Kelinci sebenarnya di utus oleh pimpinan organisasi yaitu Shio Naga untuk mengambil sebuah kitab langit yang ada di Provinsi Kekaisaran.


Sebenarnya Shio Macan tidak terlalu memahami yang di maksud kitab langit tersebut namun ia meyakini bahwa kitab itu berisi ilmu teknik yang tinggi.


Kitab itu sekarang berada di Walikota tempat kota di depannya, bagi keduanya tidak sulit mengambilnya dengan kekuatan mereka namun Shio Kelinci tidak mau hal itu terlalu mudah untuk menjalankan misinya.


Shio Kelinci berencana untuk menyebarkan kabar kitab itu ke dunia persilatan agar semua orang pendekar dapat mengetahuinya.


Dengan begitu akan terkumpulnya banyak pendekar ke kota besar tersebut, baik itu dari yang sangat kuat sampai biasa saja atau dari pendekar lurus sampai pendekar para kriminal, hal tersebut akan memicu banyak pertarungan bahkan peperangan untuk merebutkan kitab tersebut.

__ADS_1


Masalahnya Shio Kelinci juga memanggil organisasi-organisasi jahat yang ada di bawah para Shio untuk ikut bergabung dan mengambil bagian dalam aksinya, bukan hanya merebutkan kitab tersebut, mereka juga berniat untuk menghancurkan kotanya sekaligus.


Shio Kelinci pergi beberapa jam sampai akhirnya ia kembali ke tempat Shio Macan berada. Shio Macan tengah duduk di dekat api unggun beberapa menit lalu.


"Apa kau sudah selesai dengan rencanamu?" Tanya Shio Macan setelah melihat Shio Kelinci tiba.


"Sudah, kini kita tinggal menunggu proses dari para organisasi kecil bekerja. Aku tidak sabar semoga para pendekar yang berdatangan di kota itu memiliki kekuatan yang sepadan dengan kita, lebih-lebih kalau mereka wanita cantik..." Shio Kelinci menjilat bibirnya.


Shio Macan menghela nafas sebelum bangkit dari dekat api unggun yang dibuatnya dan berjalan ke kota itu.


"Eh? Kau mau kemana?" Shio Kelinci menggembung pipinya kesal melihat Shio Macan pergi begitu saja.


"Menunggu rencanamu membuatku bosan, aku akan berjalan-jalan di kota itu sebentar..." Shio Macan melambaikan tangannya tanpa menoleh ke Shio Kelinci.


Shio Kelinci mengangkat bahunya kemudian duduk di tempat Shio Macan sebelumnya. Shio Kelinci akan menunggu di luar kota untuk memastikan semua rencananya berjalan sempurna.


***


"Hm, kota ini tidak terlalu buruk..."


"Aku akan main-main sebentar dengan mereka, ini lebih baik dari pada hanya sekedar menunggu."


Dua petugas itu mendekat ke arah Shio Macan saat tiba-tiba dua penjaga tersebut merasakan ada sesuatu di punggungnya yang menimpanya membuat mereka tak bisa bergerak.


Tanpa penjelasan yang lebih jelas dua penjaga itu langsung jatuh berlutut ke tanah sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


"Hei! Apa yang kau lakukan!"


Lima penjaga yang lain datang melihat rekannya pingsan tanpa sebab, mereka hendak menghentikan Shio Macan namun saat di dekatnya kondisi mereka tidak jauh berbeda seperti petugas sebelumnya.


Kelimanya merasakan seperti ada sebuah batu besar yang bersemayam di punggung mereka yang membuat mereka jatuh berlutut dan kehilangan kesaran.


Menyadari ada sebuah ancaman dari seorang misterius yang hendak masuk, petugas sudah memanggil yang lain dan menghadang langkahnya. Mereka mengangkat senjata tombaknya lalu mengacungkan pada Shio Macan.

__ADS_1


"Berhenti! Jika kau terus maju maka jangan salahkan kami menggunakan kekerasan!"


Shio Macan mendengus dingin, ia mengibaskan tangannya membuat para penjaga yang mengepungnya seketika terpental ke berbagai arah.


Shio Macan kembali melakukan tekniknya yang membuat para petugas itu tak sadarkan diri.


Para petugas yang tersisa meneguk ludah, lutut mereka terasa lebih lemas melihat rekan-rekannya dilumpuhkan tanpa perlawanan yang berarti.


"Berani-beraninya menyerang petugas, kau akan dihukum berat oleh pemerintahan?!" Seorang pemimpin dari para petugas sudah datang setelah mendengar kabar dari bawahannya.


Ketua petugas itu berada di ranah Alam Hampa Tahap 8, bukan hanya dia tetapi ada dua rekannya yang berada di Alam Hampa meski kekuatannya di bawahnya.


Shio Macan tersenyum lebar, "Bagus, kupikir akan melawan ikan teri saja tetapi ada yang lebih kuat sepertinya, pasti kau mempunyai jabatan penting di kota ini bukan?"


Ketua petugas itu menjadi waspada, dia tidak menjawab melainkan mengeluarkan senjatanya.


"Kebetulan aku ingin mengenal kota ini, kuharap kau dapat menjelaskan yang memuaskan."


Sebelum Ketua Petugas itu hendak melakukan sesuatu tiba-tiba tubuhnya merasakan ada tekanan yang menumpuk di pundaknya, ia masih kuat berdiri namun tubuhnya sulit sekali di gerakan.


Dua rekan Alam Hampa disampingnya juga bersaksi demikian bahkan sedikit lebih buruk, nafas mereka terasa lebih sesak.


Berbeda dengan ketiganya, para petugas yang berada di bawah Alam Hampa tak bisa berkutik dengan teknik tersebut. Alam Bumi langsung jatuh berlutut sementara kultivasi di bawahnya langsung tak sadarkan diri seketika.


Ketua Petugas memegang erat senjatanya sambil berkeringat dingin, ia menyadari betapa kuatnya sosok pria di depannya.


"Kau masih bisa bertahan, menarik, lalu bagaimana dengan yang ini?"


Tekanan tersebut tiba-tiba meningkat dua kali lipat, dua rekannya tak bisa bertahan lagi sebelum akhirnya jatuh pingsan sementara Ketua Petugas berlutut dengan nafas yang kian berat.


"Kau sepertinya memiliki fisik yang kuat, tidak mengherankan bisa bertahan di tekanan seperti ini tapi sayangnya itu tidak cukup untuk menjadi lawanku..."


Shio Macan kembali meningkatkan tekniknya jauh lebih-lebih kuat, Ketua Petugas itu hanya bertahan dua detik sebelum pandangan menjadi gelap sempurna.

__ADS_1


Shio Macan mendengus pelan, ia jadi sedikit terbawa suasana. Shio Macan tidak memikirkan hal tersebut lebih jauh, melihat semua petugas sudah tak sadarkan diri, ia kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kota.


__ADS_2