
"Maaf harus mengganggumu, kau terlalu berbahaya jika dibiarkan disini..."
Jian Chen mengambil tumpukan batu roh yang ada di dalam gua, secara otomatis serigala berkepala tiga itu langsung membuka mata dan bangkit dari tidurnya.
Serigala berkepala tiga itu menatap Jian Chen buas sampai air liurnya menetes ke tanah. Melihat Jian Chen mencuri batu roh miliknya Serigala itu langsung menerjangnya.
"Hm, kau tidak mau berbasa-basi dulu, langsung menyerang begitu saja..." Jian Chen menggeleng pelan sebelum mengalirkan tenaga dalam pada tangannya lalu mengubahnya menjadi sebuah energi.
Debu biru muncul di telapak tangan Jian Chen sebelum memadat dan membentuk pedang es. Jian Chen ikut bergerak bersamaan dan menyerang serigala itu.
Dengan kecepatan serta terbangnya Jian Chen bergerak lincah memberikan sayatan-sayatan pada kulit serigala itu, meski menorehkan banyak luka itu tidak cukup untuk mengalahkannya.
"Kulitnya sangat keras, apa dia terbuat dari batu?" pedang es Jian Chen di penuhi retakan sesudah melukainya beberapa waktu.
Serigala berkepala tiga meraung marah, karena tubuhnya terlalu besar serta Jian Chen yang bergerak cepat membuatnya tak bisa menyerang atau menangkapnya.
Jian Chen tak peduli dengan itu, ia terus memberikan beberapa sayatan pada kulitnya secara terus-menerus. Tidak membutuhkan waktu lama pedang es Jian Chen pecah berkeping-keping karena terus berbenturan dengan kulit serigala.
Jian Chen melihat pedang es yang tersisa gagangnya saja sambil tersenyum tipis. Sebelum ia memunculkan pedang es lainnya kaki serigala sudah terayun dan menginjak tubuhnya.
Serigala itu berpikir Jian Chen sudah jadi gumpalan daging akibat hantaman kuat tersebut namun nyatanya Jian Chen masih hidup dan berdiri kokoh.
Jian Chen mengubah tangannya menjadi besi yang kuat hingga bisa menahan kekuatan kaki serigala. Ia kemudian mengalirkan tangan satunya lalu merubahnya menjadi cakar besi.
"Elemental Besi — Cakaran Tangan Besi!"
Dengan cakarnya, Jian Chen melukai kaki serigala itu membuatnya meraung kesakitan dan mundur beberapa langkah.
Jian Chen tidak berhenti di sana, ia mengumpulkan tenaga dalam pada mulutnya dan melakukan perubahan jenis lagi.
"Elemental Air — Hembusan Nafas Air!"
Dengan elemennya, Jian Chen mengeluarkan jumlah air di dalam mulutnya yang cukup besar, membuat gua di tempatinya menjadi banjir serta tubuh serigala itu terdorong menjauh.
"Elemental Petir — Sambaran Halilintar!"
Sembari berdiri di atas genangan air yang di buatnya, Jian Chen menambahkan elemen petir pada air tersebut.
Sebelum Serigala itu bangkit dari air yang membasahinya ia tersetrum seketika saat ada petir yang merambat ke arah tubuhnya yang basah. Tubuh serigala itu langsung berhenti bergerak setelahnya meski tidak tewas.
Jian Chen berjalan ke arah serigala itu lalu mengeluarkan pedang asura di tangannya, ia bisa melihat serigala itu sudah tak bisa lagi melawan dengan luka bakar yang memenuhi tubuhnya.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, kau terlalu berbahaya jika terus ada disini, sebelum itu terjadi aku harus menghabisimu..." Jian Chen melompat dan mendarat di salah satu dari tiga kepala serigala.
Dengan pedang Asura yang sangat tajam, Jian Chen mulai menebas kepala serigala itu satu persatu. Pedang Asura dapat memotong kulit keras serigala itu seperti memotong tahu.
Tidak lupa Jian Chen juga mengambil permata siluman, karena umurnya yang hampir setara raja atau ratu siluman membuat permatanya jadi lebih besar.
Jian Chen bernafas lega, ia mengibaskan pedang asura dari darah lalu menyarungkan kembali. Pedang Asura benar-benar sudah tak bisa diukur ketajamannya semenjak ia telah mencapai Dewa Cahaya Bintang.
Tenaga dalam Jian Chen sudah sepuluh ribu lingkaran membuat tenaga dalam yang di ambil pedang itu sepuluh lingkaran per detik.
Sesudah mengosongkan gua dan mengambil semua batu rohnya, Jian Chen keluar dari gua, terlihat di mulut gua ada gurunya yang berdiri menunggunya.
"Chen'er, apakah sudah?"
"Sudah Guru, aku telah membunuhnya."
"Hm, bukankah kau terlalu cepat..." Guru Jian Chen tersenyum tipis. "Baiklah, karena semuanya telah selesai mari kita pulang..."
Jian Chen mengangguk, keduanya kemudian terbang ke tempat gubuknya semula. Sudah beberapa waktu terlewati ia hampir melupakan tempat tinggal kecil itu.
"Aku sudah memasakkan beberapa makanan untukmu, mungkin kau akan menyukainya."
"Tidak apa, anggap saja ini makanan perpisahan kita sebelum berpisah."
Mendengar itu ekspresi Jian Chen menjadi sedih, sudah dua tahun semenjak ia bertemu gurunya dan kini ia harus berpisah besok hari.
Guru Jian Chen memang hanya bisa mengajarkan 2 tahun di kehidupan kedua ini karena telah mengetahui masa depan yang terjadi dari muridnya. Hal itu membuatnya harus pergi lebih awal.
Meski hanya dua tahun saja tetapi sudah cukup mengajari Jian Chen banyak hal dan yang paling terpenting kekuatan Jian Chen sekarang sudah menyamai mereka yang ada di Alam Raja.
Disisi lain Jian Chen juga tak bisa bersama gurunya lebih lama, ia tidak bisa berlatih tertutup seperti ini terus karena boleh jadi ada marabahaya yang menghampiri keluarga serta klannya.
Satu hal yang pasti, klan Jian tidak mungkin di serang lagi berkat dirinya dua tahun yang lalu. Menyerang klan Jian harus berpikir dua kali atau nasibnya akan sama dengan klan Liu.
Malam itu Jian Chen tidak tidur, setelah makan ia duduk bersama gurunya yang sedang melihat langit malam di luar gubuknya.
"Chen'er, kau tidak tidur?"
Jian Chen menggeleng, ia tidak mau esok datang lebih cepat karena saat itu gurunya akan berpamitan pergi. Meski hanya 2 tahun namun bagi Jian Chen yang telah bersamanya di kehidupan pertama waktu itu terasa lama.
"Ah, kau pasti sedih perpisahan besok bukan?"
__ADS_1
Jian Chen mengangguk, "Waktu terasa lebih cepat ketika bersama orang-orang terdekat."
"Yeah, kau benar. Meski begitu waktu akan tetap berjalan walau kau enggan menyambutnya." Guru Jian Chen kemudian melemparkan cincin ruang berwana hitam pada Jian Chen. "Apa kau tahu cincin itu?"
Jian Chen mengangguk, di kehidupan pertama ia telah di beri cincin ruang berjenis permata hitam dari gurunya juga. Cincin ruang permata hitam bisa dibilang adalah jenis cincin ruang yang paling tinggi di antara 4 cincin ruang lainnya.
Cincin itu memiliki kegunaan lain seperti dapat menghisap benda dari jarak jauh selama berkosentrasi. Ada lagi kegunaan yang lain, bahkan cincin ruang permata hitam lebih cocok disebut pusaka di banding hanya sekedar alat.
"Murid tidak bisa membalas kebaikan Guru, seandainya ada sesuatu yang murid bisa lakukan mungkin murid akan berusaha mendapatkannya..." Jian Chen membungkukkan badannya, entah sebab karena perasaan haru atau besok akan berpisah dengan gurunya ia tak bisa menahan air matanya untuk keluar.
"Ah, Chen'er kenapa kau menangis, kau membuat Guru jadi serba salah..." Guru Jian Chen menggaruk kepala sebelum mengelus kepala muridnya itu.
"Jika kau mau membalas, maka cukuplah menjadi baik, membela yang benar, menumpas kejahatan. Itu sudah cukup bagi Guru."
Jian Chen menyeka air matanya sebelum mengangguk pelan. Ia akan ingat hal itu.
Keesokan harinya Guru Jian Chen untuk terakhir kali berpamitan, ia membuat Jian Chen terkejut ketika menjelang perpisahan gurunya tiba-tiba membuat sebuah portal.
"Ah, kau baru melihat portal bukan?" Guru Jian Chen tertawa kecil. "Portal di gunakan untuk berteleportasi jarak jauh atau berpindah dimensi dan dunia. Melihat kemampuanmu mungkin kau akan terbiasa melihat ini."
Guru Jian Chen baru melangkah saat tiba-tiba terhenti ketika mengingat sesuatu. "Satu hal sebelum aku pergi, berapa usiamu sekarang Chen'er?"
"Usiaku delapan belas tahun, Guru."
"Hm, bahkan di dunia lain tidak banyak anak seusiamu yang memiliki kekuatan seperti ini dan mungkin saja suatu hari nanti, kau akan bertemu guru lagi."
Jian Chen mengangguk dan berharap itu terjadi.
"Kalau begitu aku pamit, dengan kekuatanmu sekarang setidaknya kau bisa lebih mempertahankan dirimu. Lalu... Sampai jumpa lagi."
Selepas berkata demikian, guru Jian Chen masuk ke portal yang di buatnya. Ketika gurunya telah masuk kedalam, portal itu langsung mengecil sebelum akhirnya menghilang tersisa.
Jian Chen menghela nafas sesaat, kini orang yang ingin dijumpainya tidak bisa bertemu lagi. Jian Chen melihat gubuk gurunya sesaat sebelum berbalik dan terbang ke udara. Ia melesat pergi menjauhi kediamannya selama dua tahun terkahir itu.
"Jadi apa tujuanmu setelah sekuat ini?" Lily bertanya dari dalam.
"Melakukan sesuatu yang belum kulakukan di kehidupan pertama, menghabisi organisasi 12 Shio Pemburu."
Jian Chen terus melesat cepat ke arah utara, dengan kekuatannya yang sekarang ia bisa merubah dunia yang seperti diinginkannya.
*Arc. 2 ~ Kultivasi Dewa Cahaya ~ Meraih Kekuatan Baru.
__ADS_1