
Kerutan di dahi Jian Chen bertambah setelah mendengar percakapan singkat dua orang berjubah itu, selain nama yang di panggilnya tidak terdengar asing ia juga mengenal suara keduanya.
Jian Chen menoleh ke arah dua orang berjubah itu yang bertepatan dengan keduanya menatapnya secara bersamaan.
Jian Chen memang tidak bisa melihat wajah mereka namun kedua orang itu jelas dapat melihat wajahnya.
Salah satu dari mereka segera membuka tudung kepala yang menutupi wajahnya, terlihat seorang gadis yang memiliki paras yang amat cantik, gadis itu adalah wanita yang Jian Chen kenal, Niu Meily.
"Saudara Jian!"
Meily, entah karena kerinduan atau sedang membutuhkan sosok perlindungan seperti Jian Chen sekarang, ia langsung berlari menghampiri pemuda itu sebelum berhambur memeluknya.
Jian Chen sampai mundur dua langkah menangkap pelukan gadis itu karena Meily begitu erat memeluknya.
Tidak lama kemudian, satu orang lainnya menghampiri Jian Chen, persis seperti dugaannya dia adalah Ye Ziyun.
Jian Chen sebenarnya ingin bertanya lebih jauh tetapi ia memilih diam terlebih dulu untuk melihat kondisi keduanya. Jian Chen menyadari dari obrolan mereka barusan, keduanya sedang dalam masalah, apalagi tangan Meily terasa bergetar memeluknya.
Jian Chen hanya mengelus pucuk kepala gadis itu dengan lembut, mencoba menenangkannya sementara Ziyun berdiri di samping keduanya.
Meily terus memeluk Jian Chen dengan waktu yang lumayan lama saat tiba-tiba gadis itu ambruk dan kehilangan keseimbangannya.
Jian Chen menangkap Meily sebelum tubuhnya jatuh ke lantai, gadis itu telah pingsan di pelukan Jian Chen.
Ziyun histeris melihatnya sementara Jian Chen langsung membawanya ke salah satu kamar. Meily di baringkan di tempat tidur yang empuk.
"Dia terlihat kelelahan baik fisik maupun mentalnya, tapi semuanya akan baik-baik saja saat dia sudah terbangun nanti..." Jian Chen menjelaskan pada Ziyun yang khawatir melihat Meily.
"Ini semua salahku..." Ziyun mengigit bibirnya.
Jian Chen tidak memahami perkataan Ziyun namun ia bisa melihat Ziyun juga sama kelelahannya seperti Meily. "Sebaiknya kau juga istirahat, aku juga bisa melihat kau sama kelelahannya..."
Perkataan Jian Chen memang benar, meski tidak menunjukkannya secara langsung tetapi Ziyun memang sudah pada batasnya, bahkan kondisi Ziyun lebih parah dari Meily hanya saja gadis itu mencoba menahannya.
Ziyun sebisa mungkin tetap tegar di depan Meily karena takut sahabatnya itu akan khawatir.
"Tapi Saudara Jian, aku..."
__ADS_1
"Aku mengerti..." Jian Chen mengangguk pelan, memotong ucapan Ziyun. "Selama kau beristirahat, aku akan melindungimu disini."
Ziyun yang ingin berkata lagi seketika menjadi urung, ia mengangguk patuh dengan perintah Jian Chen. Disisi yang sama detak jantungnya berdetak lebih cepat, meski tidak terlihat secara langsung ia senang bertemu orang yang disukainya.
"Terimakasih..."
Beban yang pikirkan Ziyun serasa terangkat saat ada Jian Chen, dia buru-buru berpaling wajah dengan pemuda itu, takut wajahnya ketahuan memerah.
Sebelum Jian Chen pergi, ia memberikan pada Ziyun sebuah pil yang membuatnya dapat pulih dengan cepat, selepas itu Jian Chen meninggalkan keduanya di kamar.
"Aku akan menyewa dua kamar, layani mereka dengan kemampuan kalian!" Jian Chen memberikan kantong kulit pada salah satu pelayan.
Pelayan yang di beri kantong itu langsung tersenyum antusias ketika melihat isinya. "Tuan muda tidak perlu khawatir, aku akan melayani mereka sekuat tenagaku..."
Jian Chen mengangguk, membiarkan para pelayan itu berjaga di depan pintu kamar Ziyun dan Meily sementara dirinya keluar dari penginapan untuk melihat sesuatu yang bergerak di tengah hujan seperti ini.
***
"Bos, aku menemukan penginapan tak jauh dari sini, mungkinkah kedua gadis itu berada di sana?"
"Pastinya, mereka tidak mungkin bisa berlari di kondisi dan cuaca seperti ini."
"Penginapan ini sepertinya sepi pengunjung, Bos, apa yang harus kita lakukan?"
Ketua mereka terdiam beberapa saat, "Andai di dalamnya ada dua gadis yang kita cari, bunuh semua orang yang ada di penginapan itu tanpa tersisa."
"Tapi, Bos itu..." Anak buahnya tampak keberatan dengan perintah tersebut.
"Aku tahu ini berlebihan bahkan lebih kejam daripada orang jahat sekalipun tetapi pusaka yang di pegang salah satu gadis itu tidak boleh ada yang mengetahuinya. Ketua klan memerintahkan kita langsung membunuh mereka jika ada yang mengetahui pedang pusaka tersebut."
Delapan orang itu berasal dari sebuah klan, di perintahkan oleh Ketua klannya untuk mengejar seorang gadis dan merebut pusaka berharga miliknya.
"Apa kedua gadis itu juga harus kita bunuh, Bos?" Celetuk yang lain.
Kini Ketuanya tidak langsung menjawab. Membunuh? Sulit rasanya membunuh seorang perempuan yang begitu cantik seperti mereka berdua. Kedua gadis itu memiliki paras yang sulit dimiliki perempuan manapun.
"Kita tidak boleh membunuhnya, terlalu sayang. Kita lumpuhkan saja dan tangkap untuk kita nanti gunakan!"
__ADS_1
Mendengar itu tujuh bawahannya merasa berantusias, mereka sudah berhadapan dengan gadis-gadis itu beberapa kali yang membuat rekannya banyak yang terbunuh.
Kelompok itu tidak bisa melukai dua gadis incaran mereka setelah melihat kecantikannya, sebaliknya dua gadis itu justru menyerang mereka dengan sungguh-sungguh dan selalu berhasil membunuh rekannya serta meloloskan diri.
Kini mereka yakin, kedua gadis itu tidak mempunyai kemampuan untuk melawan lagi setelah mengalami banyak pertarungan.
Masing-masing mereka menjilat bibirnya dan mulai menghayal, tidak sabar untuk menangkap keduanya.
Di saat delapan pria itu berkomunikasi, tiba-tiba ada seseorang muncul di depan mereka secara tak kasat mata. Kedelapan orang itu terkejut dengan kedatangannya karena seperti muncul di ruang hampa bahkan berpikir bahwa orang itu adalah hantu.
Orang misterius itu memiliki mata emas yang bersinar di kala gelap malang melintang.
Ketua mereka yang pertama kali menyadari dan menatap orang misterius itu dengan penuh kewaspadaan. "Siapa kau, sebutkan identitasmu jika kami tidak mau membunuhmu?"
Orang itu, Jian Chen, tersenyum sinis mendengarnya. "Seharusnya aku yang bertanya kepada kalian demikian tetapi sayangnya aku sudah mengetahui alasan kenapa kalian disini?"
Jian Chen mengeluarkan 8 keping emas di cincin ruangnya lalu memainkannya di telapak tangan.
Melihat itu Ketua kelompok itu tersenyum mengejek. "Jika kau berpikir menyogok kami dengan uang agar tidak membahayakan kedua gadis itu, sayang sekali aku tak dapat melakukannya."
Ketua kelompok itu berpikir Jian Chen akan bernegosiasi padanya karena tidak percaya diri melawan mereka semua.
"Siapa yang akan memberikan ini padamu? Aku hanya akan membuatnya menjadi senjataku melawan kalian..."
Mendengar itu kedelapan orang tersebut menjadi waspada, mereka bisa melihat dari ekspresinya Jian Chen sungguh akan melawannya.
"Aku akan memberikan keringanan kepada kalian dengan kematian tanpa rasa sakit, siapa dan apa tujuan kalian disini?"
"Hmph! Kau terlalu arogan! Serang dia bersama-sama!"
Ketua mereka langsung melompat ke arah Jian Chen dan mengayunkan senjatanya, Jian Chen menggelengkan kepala pelan sebelum ia melemparkan koin emas di tangannya dengan secepat kilat.
Koin emas di lemparkan Jian Chen mengandung tenaga dalam yang besar dan mengarah pada dahi lawannya.
Mata kedelapan orang itu tidak dapat melihat serangan koin emas Jian Chen saat tiba-tiba pandangan mereka menjadi gelap sepenuhnya, tak lagi bernafas.
Jian Chen membunuh ketujuh pendekar itu seketika dan menyisakan satu orang yaitu ketuanya. Jian Chen tersenyum lebar melihat Ketua kelompok itu jatuh terduduk dengan ketakutan mendalam.
__ADS_1
Jian Chen memang sengaja menyisakan satu dari mereka untuk mengintrogasinya. "Baik, dimulai dari asalmu, siapa yang menyuruh kalian mengincar dua gadis yang kalian maksud?"