
Jian Chen meneruskan perjalanannya kembali, seperti biasa ketika hari mulai gelap ia akan menghentikan rombongannya dan membuat api unggun untuk bermalam nanti.
Malam kian larut, hari ini Jian Chen menawarkan dirinya untuk bertugas berjaga sementara kelima gadis itu tertidur di dekat api unggun.
Jian Chen menatap wajah kelima perempuan yang seiras itu sesaat sebelum menutup matanya perlahan, Jian Chen mulai berlatih menyerap permata siluman persediannya.
"Sepertinya kau sudah lebih akrab dengan mereka sekarang?"
Suara merdu dari seorang perempuan membuat Jian Chen membuka matanya dengan ekspresi terkejut, ia jelas mengenal suara itu.
"Lily, kamu sudah bangun?!" Jian Chen berantusias.
"Lily? Siapa yang kau panggil, Hah?!" Lily berdecak kesal.
Jian Chen tersenyum canggung sebelum masuk ke alam dantiannya, terlihat ketika sudah ada di sana gadis bergaun merah itu tengah menatap Jian Chen kesal.
"Kupikir kau akan lama sampai tertidur hingga bertahun-tahun?"
Lily menatap Jian Chen tajam. "Kau tidak senang aku terbangun sekarang?!"
"Bukan seperti itu..." Jian Chen menggaruk kepalanya. "Karena kau mengerahkan banyak tenaga ketika bertarung sebelumnya kupikir kau membutuhkan waktu lama untuk memulihkan kekuatanmu."
Lily menyipitkan matanya sebelum membuang wajah, "Ya memang benar, aku memang membutuhkan waktu untuk sembuh lagi tapi aku tidak harus pulih sepenuhnya hingga harus terbangun."
Kekuatan Lily memang belum sepenuhnya kembali namun dengan tenaganya yang sekarang sudah cukup ia membuka mata dari tidur panjangnya.
Lily bisa melihat Jian Chen senang ketika ia terbangun, pemuda itu sepertinya memang menunggunya hingga tersadar.
"Jadi apa yang kau mau tanyakan, bukankah itu yang membuatmu kesini?" Lily melipat tangannya di dada.
Jian Chen nyengir lebar, merasa pikirannya telah di baca oleh gadis itu. Selama ini Jian Chen penasaran dengan kekuatan Lily yang dia keluarkan di makam kuno.
"Aku mendengar kau menyebut teknik-teknikmu itu adalah sebuah elemen, tapi aku tidak pernah melihat ada elemen seperti itu?"
"Elemen mempunyai banyak jenisnya di alam semesta ini..." Lily tidak sungkan memberi tahu Jian Chen tentang yang di ketahuinya. Ia kemudian menjelaskan bahwa elemen sekiranya terdapat 25 jenis.
"Dua puluh lima elemen? Bukankah itu terlalu banyak?" Jian Chen terkejut.
"Bukan terlalu banyak tapi kau yang tidak mengetahui jumlah aslinya, mungkin dari yang kau tau elemen hanya api, air, petir tanah dan sebagainya namun itu hanya elemen umum yang dimiliki oleh seorang pendekar."
__ADS_1
Elemen yang berjumlah 25 itu ternyata di bagi kelasnya masing-masing di mulai dari elemen kelas biasa, kelas menengah, kelas tinggi, dan terkahir elemen kelas langka.
Kelas-kelas tersebut dibedakan berdasarkan dengan kekuatan elemennya serta jumlah yang memilikinya, biasanya semakin kuat sebuah elemen semakin langka ia.
Salah satu contoh dari elemen kelas biasa adalah elemen api, angin dan sejenisnya yang umum dimiliki pendekar sementara elemen kelas langka yang seperti digunakan Lily, elemen malam, kematian dan seterusnya. Elemen cahaya Jian Chen juga termasuk elemen langka.
Jian Chen termenung beberapa saat, ini menandakan bahwa kekuatan Lily memang sangat tinggi seperti yang dibanggakannya.
Lily bahkan menjelaskan bahwa dia mempunyai elemen lainnya yang lebih kuat lagi.
"Jika aku serius membunuh Pangeran itu, satu ayunan tanganku sudah cukup membunuh mereka semua dengan elemen takdirku!" Ucap Lily dengan bangga.
"Takdir adalah elemen juga?"
"Hmph! Tentu saja, kau hanya mengetahui hal terkecil dari alam semesta ini."
Jian Chen menggaruk kepalanya, mencoba menghiraukan kesombongan gadis itu. "Satu hal lagi yang ingin kutahu, bagaimana kau mempunyai banyak elemen di tubuhmu?"
Senyuman Lily semakin lebar persis dengan kebanggaannya. "Tentu saja aku punya banyak elemen, jangan bilang Tuan Puteri ini mempunyai satu elemen seperti orang-orang di dunia kalian."
Alasan Lily selalu menyebut dunia Jian Chen sebagai dunia yang kecil dengan gaya merendahkan karena faktor elemen tersebut.
Sementara di dunia Jian Chen hanya satu elemen saja perorang, dari sini sudah menunjukkan kualitas dunia keduanya berbeda jauh. Lily bahkan cukup yakin, orang yang mempunyai dua elemen seperti Jian Chen termasuk sangat amat langka disini.
Jian Chen sungguh baru mengetahui informasi tersebut, hal ini membuatnya terdiam cukup lama sampai merenungkan berbagai hal.
Jian Chen tidak bertanya lagi setelahnya melainkan pergi ke alam sadarnya, Ia memandang ke atas langit sebelum menghela nafas panjang, senyuman tipis terukir di bibirnya "Dunia ini... Seberapa luas sebenarnya..."
***
Ketika waktu sudah siang kembali, Jian Chen melanjutkan perjalanannya hingga akhirnya langkah kuda mereka harus terhenti saat di depannya ada sebuah sungai.
Untuk menuju kota Meishan memang seseorang harus menyelusuri sungai ini, Jian Chen dan kelima gadis kembar berdiam di tepi sungai munggu sebuah kapal datang.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga satu kapal besar terlihat dari kejauhan, kapal itu cukup menampung lima sampai enam puluh penumpang di atasnya.
Pemilik kapal tampak bersemangat ketika melihat penumpang lainnya, ia menyuruh bawahannya untuk menepikan kapal.
"Kami membawa kuda, apakah tidak masalah?"
__ADS_1
Pemilik kapal mengangguk. "Kuda dihitung dengan dua penumpang, untuk harga perorangnya kami mengambil tarif satu perak per individu..."
Jian Chen mengangguk pelan, melemparkan kantong kulit berisi beberapa koin emas.
Wajah pemilik kapal menjadi antusias melihat cahaya emas itu menyinari matanya, ia kemudian memerintahkan bawahannya untuk memasukan kuda rombongan Jian Chen ke dalam kapal.
Tidak ada penumpang di kapal itu, pemilik kapal kemudian menghampiri dan menawari makanan pada rombongan Jian Chen.
"Boleh, beri aku makanan terenak kalian, harga bukan masalah..." Jian Chen melemparkan kantong kulit emas lainnya, ia juga membayar makanan yang akan di pesan kelima gadisnya.
"Saudara Jian, kami punya uang..." Lan Qiaoqiao tampak tidak enak hati terus di beri oleh Jian Chen.
"Tidak apa, simpan saja untuk perjalanan kalian nanti."
Jian Chen duduk di salah satu meja sementara gadis kembarnya menempati meja yang lainnya.
Tak lama kemudian masakan di hidangkan oleh kru kapal, sebuah daging panggang yang mengepul tercium menggiurkan. Jian Chen menjilati bibir sebelum mulai menyantapnya.
Berbeda dengan meja Jian Chen yang hanya memesan beberapa pesanan saja, kelima saudara Lan justru sebaliknya, meja mereka terlihat penuh oleh banyak makanan hingga meja itu menjadi penuh.
Kelima gadis kembar itu memang mempunyai nafsu makan yang banyak.
"Kak Qiao, kenapa anda makan sedikit?"
Lan Lingling merasa heran karena saudara tertuanya itu tiba-tiba berhenti makan setelah habis satu piring sayuran, padahal porsi perut mereka biasanya lebih dari itu.
Mengikuti pertanyaan Lan Lingling, saudari-saudarinya menoleh ke arah Lan Qiaoqiao dengan pertanyaan yang sama di benak pikiran mereka.
Lan Qiaoqiao tersenyum canggung. "Aku berpikir sebaiknya aku mengurangi porsi makanku..."
Keempat saudarinya saling pandang sesaat, tidak mengerti kenapa Lan Qiaoqiao berkata demikian.
"Ehm! Aku harus mengatur porsi makanku, aku tidak mau perutku jadi gendut."
Empat saudara Lan seketika tersedak makanannya sendiri, mereka buru-buru mengambil air minum.
Keempatnya jelas terkejut karena mereka tidak pernah menyinggung soal urusan fisik apalagi mereka kembar, lagian meski mereka makan banyak tubuh gadis-gadis itu masih terbilang ramping dan ideal untuk seorang gadis.
Satu-satunya masalah ini adalah penampilan Lan Qiaoqiao, keempat saudarinya seketika menoleh ke meja Jian Chen yang sedang makan, mereka cukup yakin hal ini berkaitan dengan pemuda itu.
__ADS_1
Ketika mereka makan, kapal yang sedang melaju kemudian berhenti kembali karena ada penumpang lain, terlihat 30 orang naik ke atas kapal.